Archive for ‘whos who’

December 21, 2013

Laily Prihatiningtyas Resmi Jadi Bos BUMN Termuda

 

Feby Dwi Sutianto – detikfinance
Sabtu, 21/12/2013 17:17 WIB
 
 
 
 
https://i0.wp.com/images.detik.com/content/2013/12/21/4/171948_laily320.jpg
Jakarta -Menteri BUMN Dahlan Iskan telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan Laily Prihatiningtyas sebagai Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (PT TWC). 

Wanita berusia 28 tahun ini mengatakan tidak ada acara serimonial saat dirinya dilantik menjadi dirut, di Kementerian BUMN tanggal 16 Desember 2013 lalu.

“Tidak ada pelantikan secara serimonial tapi dilakukan penyerahan SK penugasan. Sejak penyerahan SK tersebut secara legal formal sudah harus melaksanakan tugas. Penyerahan Senin kemarin,” kata Tyas sapaan dirut BUMN termuda ini kepada detikFinance Sabtu (21/12/2013).

Saat ini, Tyas telah melepaskan sementara profesinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian BUMN. “Saya sudah di Jogja tapi kemarin memang saya di Jakarta untuk RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham),” jelasnya.

Masa awal kepemimpinannya di PT TWC, Tyas akan melakukan konsolidasi dengan jajaran manajemen PT TWC. Langkah ini dilakukan untuk menjaring aspirasi dan mengetahui persoalan yang dihadapi BUMN pengelola obyek wisata di Jawa Tengah dan Jogjakarta ini.

“Saya bersama dengan BoD (board of director) sudah bertemu dengan karyawan juga dalam tahap audiensi dengan berbagai stakeholder,” sebutnya.

Saat dilantik, Tyas resmi menyandang sebagai bos BUMN termuda di Indonesia. Wanita yang pernah menempuh pendidikan S2 di Belanda ini siap membawahi 1.000 orang karyawan di PT TWC yang terdiri dari dua kategori status karyawan.

“Yang tetap PKWTT (Perjanjian Kerja untuk Waktu Tidak Tertentu) 320 orang, PKWT (Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu/kontrak) 780 orang,” jelasnya.

 

(feb/hen) 

November 23, 2013

Daftar Lengkap 50 Orang Indonesia Paling Kaya

HomeBisnisBisnis
JUM’AT, 22 NOVEMBER 2013 | 10:10 WIB
Daftar Lengkap 50 Orang Indonesia Paling Kaya

TEMPO.CO, Jakarta – Majalah Forbes merilis daftar 50 orang paling tajir se-Indonesia. Di antara nama-nama tersebut, ada nama Chairul Tanjung di posisi 5 dengan nilai kekayaan US$ 4 miliar. Ada pula nama Hary Tanoesoedibjo di posisi ke-22. Pria yang hendak mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden dari Partai Hanura ini memiliki nilai kekayaan US$ 1,35 miliar. Nama Hashim Djojohadikusumo masuk di posisi ke-42. Adik Prabowo Subianto ini memiliki nilai kekayaan US$ 700 juta.

Berikut daftar lengkap 50 orang paling tajir se-Indonesia versi Forbes:

1. R. Budi & Michael Hartono, nilai kekayaan US$ 15 miliar
2. Eka Tjipta Widjaja & family, nilai kekayaan US$ 7 miliar
3. Anthoni Salim & family, nilai kekayaan US$ 6,3 miliar
4. Susilo Wonowidjojo & family, nilai kekayaan U$ 5,3 miliar
5. Chairul Tanjung, nilai kekayaan US$ 4 miliar
6. Sri Prakash Lohia, nilai kekayaan US$ 3,7 miliar
7. Boenjamin Setiawan & family, nilai kekayaan US$ 3 miliar
8. Peter Sondakh, nilai kekayaan US$ 2,7 miliar
9. Mochtar Riady & family, nilai kekayaan US$ 2,5 miliar
10. Sukanto Tanoto, nilai kekayaan US$ 2,3 miliar
11. Putera Sampoerna & family, nilai kekayaan US$ 2,15 miliar
12. Tahir, nilai kekayaan US$ 2,05 miliar
13. Bachtiar Karim, nilai kekayaan US$ 2 miliar
14. Theodore Rachmat, nilai kekayaan US$ 1,9 miliar
15. Martua Sitorus, nilai kekayaan US$ 1,85 miliar
16. Murdaya Poo, nilai kekayaan US$ 1,75 miliar
17. Ciliandra Fangiono & family, nilai kekayaan US$ 1,7 miliar
18. Achmad Hamami & family, nilai kekayaan US$ 1,5 miliar
19. Kartini Muljadi & family, nilai kekayaan US$ 1,42 miliar
20. Eddy Katuari & family, nilai kekayaan US$ 1,4 miliar
21. Low Tuck Kwong, nilai kekayaan US$ 1,37 miliar
22. Hary Tanoesoedibjo, nilai kekayaan US$ 1,35 miliar
23. Ciputra & family, nilai kekayaan US$ 1,3 miliar
24. Edwin Soeryadjaya, nilai kekayaan US$ 1,2 miliar
25. Djoko Susanto, nilai kekayaan US$ 1,17 miliar
26. Eka Tjandranegara, nilai kekayaan US$ 1,15 miliar
27. Harjo Sutanto, nilai kekayaan US$ 1,14 miliar
28. Soegiarto Adikoesoemo, nilai kekayaan US$ 1,04 miliar
29. Kusnan & Rusdi Kirana, nilai kekayaan US$ 1 miliar
30. Garibaldi Thohir, nilai kekayaan US$ 960 juta
31. Sjamsul Nursalim, nilai kekayaan US$ 950 juta
32. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, nilai kekayaan US$ 940 juta
33. Kuncoro Wibowo & family, nilai kekayaan US$ 910 juta
34. Husain Djojonegoro & family, nilai kekayaan US$ 875 juta
35. Sudhamek, nilai kekayaan US$ 830 juta
36. Eddy Kusnadi Sariaatmadja, nilai kekayaan US$ 820 juta
37. Benny Subianto, nilai kekayaan US$ 790 juta
38. Aksa Mahmud, nilai kekayaan US$ 780 juta
39. Jogi Hendra Atmadja, nilai kekayaan US$ 760 juta
40. Santosa Handojo, nilai kekayaan US$ 750 juta
41. Prajogo Pangestu, nilai kekayaan US$ 745 juta
42. Hashim Djojohadikusumo, nilai kekayaan US$ 700 juta
43. Kiki Barki, nilai kekayaan US$ 680 juta
44. Alexander Tedja, nilai kekayaan US$670 juta
45. The Nin King, nilai kekayaan US$ 650 juta
46. Winato Kartono, nilai kekayaan US$ 590 juta
47. Sandiaga Salahuddin Uno, nilai kekayaan US$ 460 juta
48. Trihatma Haliman, nilai kekayaan US$ 450 juta
49. Arifin Panigoro, nilai kekayaan US$ 420 juta
50. Sutjipto Nagaria, nilai kekayaan US$ 390 juta

AMIRULLAH | FORBES

October 29, 2013

Adiguna Sutowo dan Jejaring Bisnisnya

SELASA, 29 OKTOBER 2013 | 15:07 WIB

 

Adiguna Sutowo dan Jejaring Bisnisnya

Adiguna Sutowo memberikan keterangan kepada media perihal perusakan rumahnya di Cafe De Hub, Jakarta, (28/10). Adiguna Sutowo mengaku bahwa dialah yang mengamuk di rumahnya sendiri yang dihuni bersama istri keduanya, Vika Dewayani. Tempo/Dian Triyuli Handoko

 

TEMPO.COJakarta – Nama Adiguna Sutowo kembali mencuat. Kali ini terkait peristiwa perusakan yang terjadi di rumahnya di kawasan Pulomas Jakarta Timur. Adiguna Sutowo dikenal sebagai pengusaha. Namun, tahukah Anda, jenis usaha apa saja yang dia geluti? Putra mantan Direktur Utama PT Pertamina Ibnu Sutowo ini merajai bisnis farmasi, pertanian, bahan peledak, pesawat terbang, properti, perhotelan, sampai tempat hiburan dan otomotif.

Adiguna yang lahir pada 31 Mei 1958 sempat memperdalam sekolah bisnis di University of Southern California. Dia tercatat sebagai bos PT Suntri Sepuri yang berdiri pada 1998 dan bergerak di bidang farmasi. Perusahaan ini memproduksi tablet, kapsul, sirup dan suspensi, sirup kering/serbuk injeksi beta laktam. Ada juga perusahaan PT Adiguna Mesin Tani (agricultural). 

Selain itu, pada September 1985, Adiguna patungan dengan Tommy Soeharto dan Sutikno Sudaryo di PT Mahasarana Buana (Mabuha). Bidang usahanya antara lain sebagai agen pesawat Fokker yang pernah menjual 15 pesawat untuk Sempati dan Pelita Air Service milik Tommy Soeharto. 

Perusahaan lainnya berjualan dinamit untuk keperluan industri. Khusus dinamit Mabua, Adiguna mengelola gudang penyimpan bahan peledak di Pulau Momoi, dekat Batam, sebelum didistribusikan kepada para pelanggan. 

Bisnis Adiguna semakin menggurita setelah pada 1992 bersama Soetikno Soedardjo dan Onky Soemarno mendirikan Hard Rock Cafe. Joint venture ini menghasilkan grup usaha PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Group. Ketika itu joint venture terdiri atas Sutikno Sudaryo, Irwan Subiarto, Ongky Sumarno (Direktur Eksekutif Grup Humpuss) dan Yapto Suryosumarno. Saham mayoritas sebsar 70 persen dimiliki Adiguna dan Sutikno. 

Grup MRA terdiri atas lima divisi (Food & Beverage, Media, Otomotif, Hotel & Properti, serta Gaya Hidup & Hiburan). Kelompok ini sedikitnya memiliki 35 perusahaan, antara lain: Zoom Bar & Lounge, BC Bar, Cafe 21, Radio Hard Rock FM (Jakarta, Bandung, Bali), i-Radio, majalah Kosmo, majalah FHM, Four Seasons Hotel dan Four Seasons Apartement di Bali, dealership Ferrari dan Maserati, Mercedes Benz, Harley Davidson, Ducati, B&0, dan Bulgari.

Bukan kali ini saja Adiguna melibatkan istri keduanya, Vika Dewayani Widyapurna, berurusan dengan polisi. Pada Januari 2005, Vika yang dikabarkan dinikahi Adiguna tahun 1990 harus menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus penembakan di Fluid Club & Lounge, Hotel Hilton.

Ketika itu Adiguna dituduh menembak Yohannes Brataman Haerudin alias Rudy Natong hingga tewas. Adiguna divonis 7 tahun penjara dari tuntutan seumur hidup. Dari pernikahan dengan Vika, dia memiliki dua orang anak, yakni Herwinto dan Cecile Seruni.

Kini Vika kembali berurusan dengan polisi. Dia melaporkan seorang wanita yang telah menabrak pagar rumahnya hingga roboh, Sabtu dinihari, 26 Oktober 2013. Selain merusak pagar, perempuan itu juga merusak tiga mobil Adiguna yang diparkir di kediamannya.

October 27, 2013

Gurita Bisnis Kel Thohir

Kompas, Jumat, 25 Oktober 2013 | 09:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bisnis keluarga Thohir kian menggurita. Setelah berhasil mengempit 35 persen saham operator 3, PT Hutchison CP Telecommunications, konsorsium yang dipimpin Erick Thohir akhirnya sepakat membeli 70 persen klub FC Internazionale Milano S.p.A atau Inter Milan.
Garibalidi Thohir atau yang kerap disapa Boy Thohir mengatakan, pembelian saham klub sepak bola berjuluk Nerrazzuri itu bukan atas nama perusahaan keluarga, yakni PT Trinugraha Thohir (TNT). “Tapi, sebelumnya (kami) sudah punya DC United dan 76ers, jadi kemungkinan akan dikonsolidasikan,” ujarnya belum lama ini.
Sayang, ia tidak bilang nama anak usaha yang mewadahi klub-klub olahraga tersebut. Begitu pula terkait kepemilikan sahamnya. Seperti diketahui, keluarga Thohir yang dipimpin Erick menggandeng sejumlah kerabatnya. Mereka adalah Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo. Sebelumnya, pendiri dan chairman Mahaka Group ini juga menggandeng Rosan saat mengakuisisi saham DC United, klub yang berlaga di Major League Soccer, Amerika Serikat.
Dengan Handy Soetedjo, Erick membeli saham klub basket AS Philadelphia 76ers bersama Erick pada tahun 2011. Sekadar informasi, Bisnis keluarga Thohir yang berada di bawah naungan TNT antara lain bergerak di sektor sumber daya alam (SDA), otomotif, restoran, properti, dan media.
Di SDA, TNT memiliki PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Surya Essa Perkasa Tbk (ESSA). Di bidang otomotif, TNT punya PT Wahanaartha Harsaka. Sementara di bisnis restoran, keluarga Thohir punya Restoran Hanamasa, Pronto Restaurant, dan Yakun Kaya Toast.
Selanjutnya, di sektor properti, TNT memiliki Taman Laguna, Cibubur Residence, Permata Kranggan, Taman Arcadia Mediterania, Permata Arcadia Cimanggis, dan Hotel Amaris Bogor. Di bisnis media, keluarga Thohir menguasai saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) dan memiliki 4,19 persen saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) melalui Thohir Media Partner. (Amailia Putri Hasniawati)

October 4, 2013

Chairunisa Bendahara MUI Ditangkap Bersama Akil

Manteb. Kapan ya keuangan MUI diaudit  ?   Keuangan MUI serem banget pastinya, bendahara nya ketangkep basah kasus Korupsi, belum lagi ada kasus investasi bodong PT GTIS.

 
KAMIS, 03 OKTOBER 2013 | 16:58 WIB
Chairunisa Bendahara MUI Ditangkap Bersama Akil

TEMPO.CO, Jakarta – Chairunnisa, politikus Partai Golkar yang ditangkap bersama Ketua Mahkamah Konstitusi, merupakan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia tercatat sebagai bendahara majelis dalam kepengurusan 2010-2015.

Ketua Majelis Ulama Indonesia Makruf Amin menyatakan masih mengecek kebenaran informasi itu. Namun, ia membenarkan bahwa Chairunnisa yang tercantum dalam kepengurusan harian MUI merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Beringin. “Kalau itu benar orang yang sama. Kegiatan Bu Chairunisa tidak dilakukan atas nama MUI,” kata Makruf kepada Tempo, Kamis, 3 Oktober 2013.

Selain termasuk dalam kepengurusan harian, Chairunnisa juga merupakan pengurus Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI. Dalam laman lembaga itu, ia pun tercatat sebagai bendahara.

Chairunisa ditangkap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi di rumah dinas Ketua Mahkamah Konstitusi, Rabu malam, 2 Oktober 2013. Ia diduga sedang menyerahkan uang untuk Akil. Menjadi anggota Dewan empat periode, Chairunnisa kini duduk di Komisi Pemerintahan. Pada pemilihan umum tahun depan, ia masuk dalam calon legislator dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah nomor urut 1.

BUDI S

Berita Terpopuler:
KPK Tangkap Akil Mochtar dan Politikus Golkar
KPK Tangkap Ketua MK Akil Mochtar?
Begini Sengketa Pemilu Gunung Mas
Ini Pernyataan Keras Akil Mochtar Soal Korupsi
Akil Mochtar Sudah Diincar KPK

Komentar (12)

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
djamintan d pakpahan
22 MINUTES AGO
Saya sangat yakin Golkar akan cuci tangan dgn kasus Akil Mochtar dan Cahirun Nisa, mungkin MUI ( Majelis Ulama Indonesia ) akan Cuci tangan juga dengan tertangkapnya Chairun Nisa yg punya jabatan Bendahara Majelis. Pastilah kedua Institusi ini tidak setuju dgn kadernya.
0
0
agung budiono
1 HOUR AGO
Baca juga tanaman yang jadi resep rahasia obahorok, kepala suku dani papua sehingga mampu melayani 40 orang istrinya plus 1 orang istri bule dari amerika di http://www.gogreen.web.id
0
0
sederhana ajjah
2 HOURS AGO
jadi teringat kasus warga negara malaysia TAUFICK MICHAEL OONG pura pura mualaf menipu MUI dan bekerjasama dengan MUI dengan investasi bodongnya mengakibatkan masyarakat indonesia di 4 kota besar tertipu jakarta, bandung,semarang, medan dan surabaya juga kota lainnya tertipu dengan investasi emas bodongnya atas rekomendasi MUI…teringat kasus Sasa dan Ajinomoto bagaimana dng MUI mengeluarkan fatwah haram karan Ajinomoto tidka setor uang label halal….kasihan umat ini terus saja ditipu dengan kebohongan kebohongan baru ala abad ke 7…selamat merenungkan
1
0
amal budi
3 HOURS AGO
@anticorps…yang ini juga…http://www.huffingtonpost.com/tag/vatican-corruption
0
0
amal budi
3 HOURS AGO
@karedokku…silahkan dibaca…http://us.politik.news.viva.co.id/news/read/25082-fatwa_mui__korupsi_haram…
Selanjutnya

+++++++++++++++++++

 

Jum’at, 04 Oktober 2013 | 14:42 WIB

Curhat Chairun Nisa saat Terseret Korupsi Al-Quran

Curhat Chairun Nisa saat Terseret Korupsi Al-Quran

Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar daerah pemilihan Kalimantan Tengah, Chairun Nisa Radhi. Foto: facebook.com/chairunnisaradhi

TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Pemenangan Golkar Kalimantan Ahmadi Noor Supit tak percaya Chairun Nisa menjadi perantara kasus suap Akil Mochtar karena motif finansial. Ketika namanya terseret dalam kasus Al-Quran, Chairun Nisa sempat menangis karena merasa dimanfaatkan.

“Dia ketakutan betul ketika disebut namanya dalam kasus Al-Quran,” kata Noor Supit saat dihubungi, Jumat, 4 Oktober 2013. Noor Supit bercerita ketika kasus Al-Quran mencuat, Chairun Nisa langsung curhat ihwal kasus ini padanya. Ketika itu dia merasa dimanfaatkan oleh koleganya di Komisi Agama DPR. (Baca: Profil Chairun Nisa yang Ditangkap Bersama Akil)

Kasus korupsi Al-Quran melibatkan politikus Golkar di Komisi Agama Zulkarnaen Djabar. Ketika kasus korupsi ini terjadi, Chairun Nisa masih menjadi Wakil Ketua Komisi Agama. Dia beberapa kali diminta menjadi saksi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus ini. Zulkarnaen akhirnya divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Ketika kasus ini mencuat, Chairun Nisa sempat bercerita sambil menangis ke Supit. Dia sangat ketakutan sehingga minta dipindahkan dari Komisi Agama. Atas permintaan ini, politikus dari Kalimantan Tengah ini dipindahkan ke Komisi Pemerintahan Dewan. Menurut Noor Supit, Chairun Nisa bukanlah tipikal anggota Dewan yang kerap memainkan anggaran. “Dia minta pindah karena pengin menenangkan diri,” kata Supit.

 

Chairun Nisa ditangkap bersama Ketua MK Akil Mochtar di rumah dinas Akil Jalan Widya Chandra, Jakarta. Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap. Selain dua politikus ini, KPK juga menetapkan Bupati Gunung Mas Himbit Bintih sebagai tersangka.

WAYAN AGUS PURNOMO

 

September 27, 2013

Para Pakar Pesawat Indonesia Yang Sukses Di Perusahaan Pesawat Boeing

Selasa, September 20, 2011
IDB

0

BANTEN-(IDB) : Dari 30-an orang Indonesia yang bekerja di Boeing, banyak yang menduduki posisi vital. Siapa saja mereka?
Mimpi buruk itu menghampiri Agu­ng H Soehedi seiring dengan ter­jadinya serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Pria kelahiran Te­manggung, Jawa Tengah, 8 Mei 1963 tersebut harus kembali ke­hi­langan pekerjaan.
Ya, tragedi yang menewaskan lebih da­ri tiga ribu jiwa itu membuat banyak orang menghindari transportasi udara. Aki­batnya, permintaan pesawat me­nurun drastis dan itu memaksa Boeing, pabrik pesawat tertua di dunia yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat, tem­pat Agung bekerja selepas dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nu­santara, kini PT Dirgantara Indonesia-red), mesti merumahkan banyak kar­yawan. Agung termasuk salah satunya.
Karena sudah membawa istri dan em­­pat anaknya boyongan ke Seattle, Agung pun mesti memutar otak untuk bertahan hidup. Alumnus Itenas, Ban­dung, yang keluar dari IPTN sebelum pabrik pesawat terbang satu-satunya di Asia Tenggara itu kolaps akibat krisis moneter, itu pun akhirnya rela bekerja apa saja untuk menafkahi keluarga.
Menjadi tukang cuci mobil, sopir shuttle bus, pengatur dan pembuat taman, tukang memperbaiki rumah, hingga mendirikan perusahan perumahan, semuanya pernah dia jalani. Nah, pada usaha terakhirnya itu Agung menemukan peruntungan. “Usaha saya dan partner maju,” katanya.
Tapi, tetap saja kesuksesan itu tak mampu meng­hapus kecintaan Agung kepada dunia aeronautika. Meski dua kali menga­lami pengalaman pahit, ketika pada 2006 Boeing menawarinya untuk bekerja lagi se­iring pulihnya pasar pesawat, Agung tak butuh waktu panjang untuk mengiya­kan. “Partner saya tak mau melepas, tapi saya bersikeras kembali ke Boeing,” ujarnya.
Pilihan itu terbukti tepat. Di industri pe­sawat yang didirikan William Boeing itu karir Agung terus menanjak, meski bis­nis bersama sang partner tadi tetap di­jalankan. Kini alumnus SMAN 3 Ban­dung tersebut menduduki jabatan struc­tural analysis engineer. Pesawat produksi Boeing yang pernah ditangani sektor stress analysis-nya adalah Boeing 737 dan Boeing 757.
Agung adalah satu di antara sekitar 30 orang Indonesia yang kini berkarir di Boeing. Mayoritas jebolan IPTN alias PT DI. Mereka tersebar di berbagai depar­temen. Bukan hanya di urusan teknis, tapi ada juga yang bekerja di bagian keuangan.
Dari ke-30 orang itu, tak sedikit pula yang menduduki posisi bergengsi atau berpengaruh karena skill yang mereka miliki. Agung, misalnya, ketika hendak dipindah ke pembuatan Boeing 777, dengan tegas menolak. “Saya bilang mau keluar kalau dipaksa pindah,” kisahnya. “Bos saya bilang, sama sekali tak ter­pikir­kan Anda keluar dari Boeing,” lanjutnya.
Itu menunjukkan kapasitas dan kualitas Agung yang sangat dihargai di Boeing. Sama halnya dengan Tonny Soeharto. Lulusan ITB 1982 itu menduduki posisi lead engineer-MB production support engineering Boeing 777. Pada pembuatan pesawat berbadan lebar untuk pener­bangan lintas benua yang sangat diminati pasar itu, Tonny dipercaya menjadi pim­pinan di salah satu bagian yang vital. “Tak terbayangkan kita orang Indo­nesia mem­bawahi orang-orang Amerika di Boeing. Alhamdulillah, itu bisa kami capai di sini,” kata Tonny dengan mata ber­kaca-kaca.
“Mereka respek dan menghargai ke­mampuan kita, orang Indonesia. Saya juga dengan bangga bilang sebagai alum­nus IPTN,” lanjut pria yang mem­persunting gadis asal Bangkalan, Madura, itu.
Agung dan Tonny memang sama-sama mengakui bahwa apa yang mereka capai saat ini tak lepas dari latar belakang pengalaman mereka di IPTN. Bekerja di perusahaan yang identik dengan mantan Pre­siden BJ Habibie itu sangat berjasa dalam pembentukan kualitas dan ka­pa­bilitas. Dengan kata lain, IPTN telah menempa mereka hingga memiliki kualitas dunia untuk bidang teknologi pembuatan pesawat. “Di sini (Boeing), menyebut IPTN tidak meragukan. Memudahkan untuk diterima,” kata Agung dan Tonny yang ditemui di tempat terpisah di Seattle.
Bukan alumnus IPTN pun tak kalah mem­banggakan prestasinya. Misalnya, Bramantya Djermani. Dia kini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang terlibat dalam pembuatan pesawat Boeing tercanggih, Boeing 787 Dreamliner.
Dreamliner menggunakan bahan dasar komposit. Pesawat itu paling ringan di antara semua jenis pesawat komersial yang pernah ada dan paling hemat bahan bakar. Meski belum dilepas ke pasaran, pesanan kepada Boeing sudah menum­puk, mencapai 800-an. “Untuk saat ini masih dalam tahap persiapan,” kata Bram yang langsung bekerja di Boeing be­gitu lulus dari University of Foledo, Ohio.
Dalam pembuatan pesawat berjuluk Boeing Next Generation itu, Bram me­me­gang jabatan industrial engineer. “Saya berusaha menjalankan tugas de­ngan sebaik-baiknya. Untuk karir saya, dan mudah-mudahan menyumbang bagi nama baik Indonesia,” katanya.
Atas kemampuan masing-masing, orang-orang Indonesia di Boeing rata-rata sudah hidup mapan di negeri Paman Sam. Gaji pokok mereka berkisar USD 200.000 per bulan (sekitar Rp 1,86 miliar). Itu belum termasuk tunjangan dan penghasilan tambahan lain-lain.
Agung, contohnya, punya dua rumah yang megah. “Rumah saya seperti jadi tempat berkumpul mahasiswa asal In­donesia dan tempat penitipan barang-barang mereka,” katanya saat menjamu penulis di salah satu rumahnya di ka­wasan Way, Kent, Washington.
Tonny juga sudah berhasil menuntaskan kuliah anak tertuanya di University of Washington (UW), Seattle. Si sulung yang beristrikan perempuan Vietnam itu kini mengikuti jejak ayahnya sebagai engineer. Anak kedua memilih jurusan arsitek di perguruan tinggi yang sama. “Alhamdulillah, kami juga terus berusaha mem­bantu siapa saja anak Indonesia yang kuliah di sini (Seattle dan sekitar­nya),” ujar Tonny.
Di luar Agung, Tonny, dan Bram, masih ada Kholid Hanafi yang berada di bagian pembuatan Boeing 737 dan Maurita Sutedja yang berkarir di departemen ke­uangan. Sulaeman Kamil, mantan direktur teknologi IPTN dan pernah menjadi asisten Menristek, kepala BPPT, juga bekerja di Boeing. “Intinya, kami semua bangga,” kata Bram. “Kami mem­buktikan bahwa orang Indonesia tidak kalah dengan warga Amerika atau bang­sa-bangsa lain di dunia,” lanjutnya.
Namun, di balik kebanggaan itu juga tersembul kegundahan. “Sedih karena semua kemampuan iptek yang kami mi­liki tak bisa dikembangkan atau dipakai di Tanah Air,” kata Tonny.
“Potensi dan kemampuan anak-anak Indonesia tak kalah. Sayang ndak bisa diaplikasikan di Tanah Air. Tidak ada ruang dan wadah yang cocok bagi pe­ne­rapan dan pengembangan teknologi dir­gantara di Indonesia,” tambah Bram.
Kalau saja IPTN tak kolaps dan konsistens mengem­bangkan produksi seperti CN315, N250, dan N2130, Agung yakin perusaha­an pelat merah itu akan menguasai pasar yang kini dikangkangi ATR. ATR adalah anak perusahaan saingan Boeing, Airbus, yang bermarkas di Toulouse, Prancis.
Sumber: RadarBanten
September 1, 2013

Bisnis T.P Rachmat: Menanti Kiprah ‘Astra Dua’ di Lantai Bursa

Tuesday, August 27, 2013       11:01 WIB
JAKARTA – “Sering, ketika saya ngomong kerja di Triputra, orang banyak yang tidak tahu. Tetapi, kalau sudah menyebut nama Pak T.P Rachmat, semua langsung mengenal,” cerita Direktur Keuangan Triputra Group, Erida Djuhandi.

T.P Rachmat yang dimaksud Erida yakni Theodore Permadi Rachmat alias Teddy Rachmat, mantan Presiden Direktur (Presdir) PT Astra International Tbk yang juga tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Globe Asia pada Juni 2013 menempatkan T.P Rachmat di baris ke-13 dari 150 orang kaya Indonesia dengan aset tak kurang dari US$2 miliar.

Setelah pensiun dari Astra pada 2002, T.P Rachmat mulai membesarkan grup bisnis yang dibangunnya sejak 1998, Triputra. Kini, bisnis Triputra berada di bawah bendera Triputra Investindo Arya.

Menarik dicermati, lini bisnis Triputra Group dengan 14 subholding company di seluruh penjuru negeri, hampir sejalan dengan bisnis yang ditekuni kelompok Astra.

Triputra mempunyai 4 kelompok bisnis utama seperti agribisnis, pertambangan, manufaktur, dan perdagangan jasa.

Dari lini agribisnis, Triputra memiliki anak usaha yang bergerak di bisnis crumb rubber processor, perkebunan sawit, karet, dan kayu.

Bahkan, Erida berani menyebut bahwa perusahaan crumb rubber processor yang berada di bawah PT Kirana Megantara merupakan pemain kedua terbesar di dunia.

“Agrobisnis kami punya sekitar 15 pabrik dengan market share di Indonesia sekitar 18% dan produk yang dihasilkan hampir 100% untuk ekspor,” katanya.

Selain itu, bisnis perkebunan Triputra berjalan di bawah bendera PT Triputra Agro Persada (TAP) yang awal Juli lalu memperoleh suntikan dana US$470 juta dari 14 bank lokal dan asing.

Tahun lalu, TAP juga mendapatkan suntikan dana US$200 juta lewat Goverment of Singapore Investment Corporation dan Northstar Equity Partners. Keduanya saat ini tercatat sebagai pemegang saham minoritas di TAP.

Northstar merupakan perusahaan investasi milik Patrick Waluyo yang tak lain menantu dari T.P Rachmat.

Masih di bisnis perkebunan, Triputra juga merupakan pemegang 27,04% saham di PT Dharma Satya Nusantara Tbk, perusahaan yang resmi melantai bursa baru-baru ini.

Bisnis Triputra juga cukup mapan di sektor pertambangan. Meski bukan yang paling dominan, Triputra memiliki saham di PT Adaro Energy Tbk, selain mengendalikan bisnis tambang lain melalui PT Padang Karunia, Bhakti Energy Persada, dan Pesona Khatulistiwa Nusantara.

Salah satu putra T.P Rachmat, Christian Ariano Rachmat saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur di Adaro Energy.

Total cadangan batu bara dari bisnis tambang Triputra itu mencapai 6 miliar ton di wilayah Kalimantan.

Jika ada yang menyebut Triputra sebagai ‘Astra Kedua’ rasanya itu menjadi wajar saja. Sebagai orang yang pernah di belakang kendali Astra, TP. Rachmat benar-benar membangun Triputra dengan ‘roh’ Astra.

Banyak alumni Astra yang saat ini berada di balik kemudi Triputra.

Harus diakui, Astra tumbuh besar sebagai perusahaan raksasa di Indonesia yang sampai Juni 2013 memiliki aset sebesar Rp197,16 triliun dengan pendapatan Rp94,23 triliun.

Triputra sendiri, akhir 2012 berhasil membukukan pendapatan Rp38 triliun dengan target sampai 2015 mendatang mengantongi pendapatan hingga Rp56 triliun.

Beberapa bisnis di bidang manufaktur Triputra, memiliki koneksi langsung dengan Astra. Melalui anak usaha Pako, Triputra menggandeng PT Astra Otoparts Tbk sebagai strategic partner.

Demikian halnya di bidang perdagangan jasa. Lewat PT Daya Adicipta, Triputra menguasai 10% pangsa pasar penjualan produk kendaraan bermotor merek Honda di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku.

Mereka juga tercatat sebagai penguasa pasar penyedia persewaan mobil melalui PT Adi Sarana Armada Tbk atau ASSA [260 15 (+6,1%)] Rent yang kini memiliki armada lebih dari 12.000 unit.

Jika Astra memiliki bisnis bank melalui PT Bank Permata Tbk yang dimiliki secara bersama dengan Standard Chartered Bank, Triputra memiliki Bank Sahabat Purba Danarta.

Bank Sahabat yang memilih terjun di sektor mikro dalam waktu dekat akan memperoleh pendanaan dari PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk.

Erida mengaku pengembangan bisnis Triputra dilakukan dengan berbagai cara, seperti strategic partner, pinjaman perbankan, maupun penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

“Ada beberapa [perusahaan] yang saat ini dalam proses strategic partner. Perkiraan selesai tahun depan, tetapi karena masih proses belum bisa dijelaskan rincinya. Semua dilakukan untuk pertumbuhan perusahaan,” kata Erida.

Selain itu, ada pula beberapa perusahaan lain di bawah Triputra yang siap melantai di bursa.

Menjadi penantian yang cukup berarti, jika akhirnya satu per satu perusahaan Triputra Group hadir dan menyemarakan pasar bursa Indonesia. Setidaknya, perusahaan mapan yang memiliki bisnis sekuat Astra.

http://bisnis.com/bisnis-tp-rachmat-menanti-kiprah-astra-dua-di-lantai-bursa

August 26, 2013

Kris Taenar Wiluan, Pemain Global Minyak hingga Bumbu Masak

  • Senin, 26 Agustus 2013 | 10:07 WIB
Kris Taenar Wiluan | KOMPAS
0
0


Oleh: Kris Razianto Mada

KOMPAS.com – Dengan bendera Citramas Group dan KS Energy, Kris Taenar Wiluan menjadi pemain global dengan inti bisnis pada logistik dan pengeboran minyak dan gas bumi. Pernah tiga kali nyaris bangkrut, kini bisnis peraih Indonesia Ernst & Young Entrepreneur of The Year 2009 itu tersebar di banyak negara dengan ribuan karyawan. Bahkan, Forbes memasukkan ayah tiga anak itu dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia pada 2007 hingga 2009.

Unit-unit usaha sarjana komputer terapan dari Universitas London itu tidak hanya bergerak di bidang perminyakan. Kelompok usahanya juga mengelola kawasan wisata hingga industri perfilman dengan pelanggan sebagian besar dari mancanegara.

Tulang punggung utama bisnisnya memang tetap pada industri minyak dan gas. Citramas Group yang berbasis di Batam, Kepulauan Riau, terutama memproduksi aneka pipa dan peralatan penunjang pengeboran migas. Lebih dari 70 persen produksinya diekspor ke banyak negara.

Melalui KS Energy yang berpusat di Singapura, Kris memasok anjungan pengeboran dan menyediakan layanan pendukung industri migas di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, hingga Laut Utara. Dengan jaringan bisnis yang tersebar di banyak negara, ia tidak pernah memadamkan mimpi berkiprah lebih dalam di industri migas Indonesia.

Ia juga mengendalikan perusahaan keluarga, Citra Bonang. Dari perusahaan yang bergerak di bidang bumbu masak, Citra Bonang sekarang mengembangkan sayap ke bisnis distribusi suku cadang otomotif dan minyak pelumas

Berikut petikan wawancara dengan Kris Wiluan pada 22 Agustus 2013

Mengapa lebih fokus ke luar negeri?

Dengan ekspor, bisa membuktikan produk Indonesia kompetitif secara harga, kualitas, dan ketepatan waktu.

Citra Turbindo (anak usaha Citramas yang memproduksi aneka pipa dan pipa selubung untuk pengeboran migas) selalu membuktikan bagus dan kompetitif. Namun, itu relatif susah karena berhadapan dengan broker-broker produk impor. Mereka sering bilang bahwa produsen dalam negeri seperti Citra Turbindo lebih mengandalkan proteksi, harganya mahal. Lama-lama lelah juga melayani yang seperti itu. Akhirnya, sejak 1990, saya putuskan harus ekspor.

Saya katakan kepada teman-teman di sini, kita harus punya reputasi baik di luar negeri. Jadi, waktu masuk kembali ke Indonesia karena kualitasnya bagus.

Saya kira bukan hanya Citra Turbindo yang berpikiran untuk menjadi (pemain) global.
Kita tidak bisa lepas dari pengaruh global. Jadi, Indonesia harus belajar menjadi (pemain) global.

Bagaimana respons industri migas global terhadap Citramas dan KS Energy?

Kami diterima sebagai pemasok untuk Exxonmobil, Shell, Total, BP, Chevron, Premier Oil, ConocoPhillips, Aramco, dan berbagai perusahaan di banyak negara.

Tahun 2007, Citra Turbindo mendapat penghargaan sebagai pemasok terbaik dari segi harga, kualitas, dan ketepatan waktu pengiriman. Citra juga dapat akreditasi untuk menjadi pemasok ExxonMobil di seluruh dunia.

Apakah respons mereka selalu seperti itu?

Tahun 1987, Citra Turbindo menang tender pengadaan casing untuk LNG Arun. ExxonMobil, waktu itu masih Exxon, tidak yakin kami bisa bikin casing. Walau kami menang tender, mereka tidak mau beli dari kami karena dinilai Citra tidak punya teknologi untuk buat pesanan mereka. Mereka maunya impor.

Saya dipanggil ke Sekretariat Negara. Mereka bilang, kami mau kasih kamu. Bisa enggak kepala kamu dipegang? Saya bilang, saya siap mati asal pesanan terpenuhi, ha-ha-ha….

Exxon bukan satu-satunya yang tidak percaya kami mampu.

Saya pernah tiga kali nyaris bangkrut gara-gara perusahaan-perusahaan migas tidak mau beli produk kami. Mereka tidak yakin Citra mampu buat produk-produk itu. Ada saja cara mereka mengelak beli dari kami. Seperti hari ini tender, terus ditanya bisa enggak barangnya sampai. Ya, jelas enggak bisa. Mereka sudah siap barang impor di negara tetangga, tinggal dibawa masuk.

Dulu, tidak ada yang percaya perusahaan Indonesia mampu buat peralatan industri minyak. Dianggap hanya perusahaan asing yang mampu dan punya teknologi membuat itu. Pelan-pelan kami buktikan Indonesia mampu.

Sekarang relasi dengan ExxonMobile seperti apa?

Selain penghargaan di 2007, mereka memercayai kami membuat rig untuk Lapangan Banyu Urip yang disebut menjadi penghasil terbesar kedua di Indonesia.

Bukan rig biasa, ini diakui sebagai rig advance. Bisa dipindah tanpa bongkar menara. Biasanya rig untuk operasi di darat harus dibongkar dulu sebelum dipindah. Jadi, efisien sekali. Pekerjaan selesai dalam lima hari dari seharusnya 10 hari.

Kami buat sepenuhnya di Batam oleh orang-orang Indonesia. Selain penghargaan dari ExxonMobil, rig itu kebanggaan saya. Dengan itu bisa ditunjukkan Indonesia sanggup buat produk berkualitas dan maju.

Pertamina juga mengakui dan bangga dengan rig itu. Pejabat-pejabat Pertamina bilang rig seperti itu harus dipakai lebih banyak di Indonesia.

Dalam perjalanan bisnis, apakah tidak pernah mendapat fasilitas khusus?

Fasilitas sewajarnya saja. Saya selalu menekankan, kalau mau ikut tender, harus karena kemampuan baik. Ikut tender jangan mengandalkan relasi.

Di awal merintis usaha, memang ada kebijakan khusus dari pemerintah untuk mengutamakan perusahaan dalam negeri untuk proyek-proyek sumber daya alam. Bukan hanya saya yang memanfaatkan kebijakan itu. Perusahaan-perusahaan lain juga memanfaatkan kebijakan itu.

Sistem seperti itu ternyata ditiru negara-negara lain. Di tahun 1990-an, Malaysia dan Vietnam mencontoh kebijakan Indonesia. Belakangan Amerika Serikat juga. Mereka sepakat pengolahan sumber daya alam mereka harus oleh perusahaan dalam negeri.

Eropa dan Amerika Serikat sudah stop impor pipa dan casing untuk pengolahan migas dalam negeri.

Tahun ini tepat 30 tahun Citramas bergerak di industri migas, ada mimpi yang belum tercapai?

Saya ingin Indonesia menghasilkan peralatan pengeboran yang lebih efisien dan menghasilkan lebih banyak. Dahulu Indonesia bisa memproduksi 1,6 juta barel, sekarang kurang dari 900.000 barrel.

August 25, 2013

“Pertamina Mampu Kalahkan Petronas”

Dirut PT Pertamina Karen Agustiawan:

Dia minta Dirut Pertamina jangan dipanggil siapapun, kecuali Presiden.

ddd
Minggu, 18 Agustus 2013, 23:13 Mohamad Teguh
Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan

Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan (Pertamina)

VIVAnews – Belakangan ini PT Pertamina (Persero) mengalami penjarahan BBM di pipa-pipa penyaluran wilayah Sumatera.

Menurut Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, penjarahan ini juga berpotensi mengganggu pasokan BBM di wilayah Sumatera, karena Pertamina jadi harus menghentikan untuk sementara aliran minyak di pipa-pipa tersebut. Lebih gawat lagi, selain mengganggu terget lifting minyak yang telah di tetapkan negara, aksi kriminal ini juga amat berbahaya karena bisa mengakibatkan ledakan dan kebakaran hebat.

Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan Karen, salah satu dari 50 pebisnis wanita paling tangguh dunia versi Fortune, di sela-sela kunjungan dinasnya ke Jambi, 26 Juli 2013 lalu, tentang masalah tersebut dan rencana pengembangan Pertamina ke depan:

Sebenarnya seberapa serius masalah penjarahan BBM di pipa-pipa milik Pertamina?

Yang mencemaskan kami, penjarahan ini sebetulnya sudah berlangsung sejak 2010 lalu. Dalam kurun waktu tiga tahun itu penjarahan BBM ini telah merugikan Pertamina sekitar Rp400 miliar.

Tahun ini, dalam jangka waktu enam bulan saja, aksi penjarahan telah merugikan Pertamina hampir Rp280 miliar. Kami sepakat ini bukan semata soal kerugian tapi bisa membahayakan warga.

Kami mengharapkan bantuan masayarakat dan aparat pemerintah, baik di daerah maupun pusat, karena ini merupakan obyek vital nasional. Kami tidak ingin persoalan ini merembet ke pipa-pipa kontraktor asing.

Permintaan ini sudah pernah diajukan ke aparat keamanan?

Sudah, sejak 2010 lalu. Sudah dilakukan berkali-kali, tapi hingga kini belum ada tindakan yang signifikan. Kali ini kami ingin memberikan shock therapy kepada para penjarah. Kami hentikan aliran BBM di pipa-pipa tersebut. Ini memang butuh tindakan ekstrem supaya para penjarah kapok. Kami harus melawan mereka.

Penghentian aliran BBM di pipa-pipa tersebut bukankah merugikan Pertamina?

Memang. Tapi tidak apa-apa, tindakan ini harus kami lakukan. Sebagai korporasi, yang dilihat kan tidak keuntungan semata. Yang penting ke depan akan lebih baik bagi Pertamina.

Secara korporasi, Pertamina bisa masuk Fortune 500 pada peringkat 122. Bisa Anda jelaskan bagaimana hal itu bisa tercapai?

Ada beberapa hal yang membuat suatu perusahaan bisa masuk Fortune 500. Kestabilan negara bisa menjadi suatu faktor. Tapi faktor yang terpenting adalah perusahaan ini lima tahun berturut-turut bisa meraih laba dan terus menujukkan tren yang meningkat. Pertamina di-review selama lima tahun terakhir khususnya dalam hal laba.

Sebagai CEO, Anda menargetkan Pertamina pada peringkat berapa?

Begini, di Asia sudah ada Shinocem Group (China) pada peringkat 119 dan Petronas Malaysia pada peringkat 75. Saya menargetkan Pertamina harus mampu meraih peringkat 50 pada Fortune 500 di tahun 2025.

Saya di tahun itu sudah pensiun, tapi prinsipnya sudah dibuat, frame-nya sudah dibuat, dan juga target-targetnya. Untuk meraih posisi tersebut Pertamina harus mampu memproduksi 2,2 juta barrel oil equivalent pada 2025. Saat ini baru mencapai 451 juta barrel oil equivalent. Jadi, masih pada level seperempat dari total produksi yang kami targetkan.

Bagaimana strategi yang akan Anda lakukan untuk mencapai itu?

Prinsipnya ada tiga pilar utama. Pertama, Pertamina harus menjadi pemimpin dalam bisnis inti yang sekarang. Untuk itu Pertamina harus mampu memproduksi 2,2 juta barrel oil equivalent dengan penguasaan pasar domestik 50 persen.

Kami akan mengembangkan industri gas terintegrasi dari hulu ke hilir dengan infrastruktur Trans Sumatera dan Trans Jawa. Jadi, semua hasil gas dari lapangan Pertamina akan di jual ke anak perusahaan, PT Patragas. Tidak seperti selama ini, dijual ke PT Perusahaan Gas Negara.

Selain itu Pertamina akan mempertahankan posisi market share di BBM industri dan pelumas sebesar 50 persen.

Kedua, dengan pertumbuhan bisnis-bisnis baru. Pertamina harus menjadi perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia dengan market share 35 persen.

Selain itu, Pertamina akan mengembangan industri, biofuel, panas bumi (geotermal) dan menjadi salah satu perusahaan pembangkit listrik terbesar (Independent Power Plan/IPP) di Indonesia dengan kapasitas 3-5 gigawatt.

Ketiga, meningkatkan efisiensi dalam public service obligation (mengelola BBM bersubsidi) dengan market share 60 persen, mengoptimalkan infrastruktur LPG dan dalam bidang perkapalan Pertamina akan mengembangkan model pelayanan pihak ketiga.

Anda tentu menargetkan posisi 50 di Fortune 500 dengan asumsi Petronas dan perusahaan lain tidak akan diam saja. Anda yakin mampu mengalahkan Petronas?

Ya, betul Petronas tentu tidak akan diam saja. Tapi, bagi Pertamina itu masalah di kapitasi saja. Asal kapitasinya tidak diganggu saya yakin bisa.

Kapitasi tidak diganggu itu maksudnya bisnis Pertamina boleh untung. Artinya, bisnis Pertamina harus marked to market (minyak dijual dengan harga pasar, tidak ada subisdi) dan tidak ada sinergi BUMN, yang “mengakibatkan Pertamina merugi”. Saya yakin bisa.

Itu semua kan sama dengan perlakuan pemerintah Malaysia terhadap Petronas. Dan kalau bisa, CEO Pertamina tidak bisa dipanggil siapapun, kecuali oleh Presiden.

Jadi, selama ini banyak pihak yang memanggil Dirut Pertamina?

Lha, sebagai pembantu umum bagaimana sih? Hahaha…

Banyak pihak meragukan kemampuan Pertamina mengambil alih Blok Mahakam dari Total. Argumennya, Pertamina belum pernah mengerjakan proyek besar sendirian. Selain itu, ketika mengambil alih West Madura Offshore (WMO) dari Kodeco, produksinya malah turun. Tanggapan Anda?

Begini, justru apa yang terjadi d WMO jangan sampai terjadi di Blok Mahakam. Kenapa? Kalau saya berpikir sebagai orang Total maka jika hingga 2017 pemerintah belum memberi kepastian, saya akan hentikan semua investasi di Blok Mahakam. Toh, Total tidak akan mendapat manfaatnya setelah 2017. Pada saat dia pergi maka sumur ditutup semua.

Orang berpikir saat sumur dibuka kembali, katakanlah oleh Pertamina, maka minyak akan langsung mengalir lagi. Faktanya tidak begitu. Sekali sumur ditutup, maka harus ada investasi lagi untuk membuat sumur itu mengalir kembali. Itulah yang terjadi di WMO.

Apakah pada kontrak-kontrak selama ini, posisi Indonesia sedemikian lemahnya sehingga kontraktor asing boleh-boleh saja “menurunkan kualitas” dengan sengaja? Bukankah semua biaya akan diklaim lagi dalam bentuk cost recovery?

Masalahnya cost recovery hanya sampai 2017. Kalau Total mengeluarkan biaya sekarang kan dia bisa mendapat manfaatnya setelah 2017. Jadi, pasti dia akan berpikir: lebih baik saya perkecil investasi saya.

Masalah WMO sebenarnya bukan masalah teknis. Itu karena tidak diputuskan secara cepat saja. Sebenarnya, sebelum setahun sebelum diambil alih Pertamina, kami sudah berniat untuk sole risk (risiko ditanggung sendiri), untuk top-up. Tapi, tidak dikasih sama pemerintah.

Produksi suatu lapangan kan tergantung pengeboran sumur-sumur baru, jadi perlu top-up untuk mengantisipasi penurunan produksi secara natural.

Jadi, setahun sebelum diambil alih Pertamina sudah menyadari situasi tersebut. Kami menawarkan: Pertamina saja yang menyewa rig, yang mengebor. Kalau gagal, Pertamina yang bertanggung jawab, kalau berhasil ya nanti dibayarkan.

Namun, tawaran Pertamina ditolak pemerintah. Akhirnya perundingan berlarut-larut, penyewaan rig tidak jelas dan penyewanya akhirnya pergi. Kemudian barulah diputuskan Pertamina mengambil alih secara resmi. Itulah yang menyebabkan produksi turun, karena selama setahun tidak ada kegiatan pengeboran sama sekali di sana.

Artinya, secara teknis sebetulnya Pertamina mampu?

Iya. Yang harus saya luruskan, soal teknologi sebetulnya perusahaan minyak tidak memilikinya. Teknologi pengeboran itu yang punya ya sebangsa Schlumberger, Halliburton, dan lain-lain. Perusahaan minyak hanya menyewa mereka.

Jadi, selama perusahaan minyak mampu bayar, mereka yang akan mengerjakannya. Makanya saya bingung kalau dibilang Pertamina tidak menguasai teknologinya. Lha, semua perusahaan minyak melakukan hal yang sama. Total itu punya teknologi apa?

Di Industri minyak dan gas, eksekutif perempuan sangat langka. Bagaimana Anda bisa survive, bahkan berhasil menempati posisi puncak di Pertamina?

Begini, saya pernah bekerja tapi pernah juga berhenti karena keluarga membutuhkan saya. Jangan sekali-sekali pernah berpikir bahwa posisi sebagai ibu rumah tangga merupakan posisi yang tidak terhormat. Saya bisa seperti saat sekarang karena dukungan suami dan anak-anak.

Jadi, pada saat-saat tertentu saya harus bisa memutuskan untuk berhenti. Kemarin waktu diputuskan untuk diperpanjang saya tidak mau. Saya memilih berhenti untuk menemani anak-anak saya.

Yang harus disadari, menduduki posisi seperti saya ini ada hal-hal yang harus dikorbankan. Satu, melayani suami harus dikorbankan. Terus kedua, kapan saya bisa ketemu anak-anak saya?

Terus terang saja, saya kemarin memutuskan untuk mengurus keluarga. Tapi kemudian ada kompromi, boleh mengurus keluarga sambil jadi Dirut Pertamina. Jadi, saya jadi Dirut itu sambilan, lho, utamanya ngurus keluarga… hahaha. (kd)

August 23, 2013

Moeldoko si ” jendral tajir”

Harus dicek lagi..apakah harta ini memang memang pemberian atau warisan mertua kaya . Jangan kita percaya saja dari statement /pernyataan yang bersangkutan. Dulu Jendral Sutiyoso yang menjadi gub DKI, juga mengaku berasal dari keluarganya yang kaya ruaya.. Belakangan mulai terungkap tidak demikan..  Tapi asal dari keluarga yang tajir tidak menjadi jaminan memiliki prilaku yang bersih dan lurus. Lihat penerima suap macam si Prof Rudi, gaji dan prestasi akademis    setinggi langit tidak menjadi jaminan tidak doyan menerima uang cash dollar
Kamis, 22 Agustus 2013 | 08:20 WIB

Punya Mertua Kaya, Jenderal Moeldoko: Alhamdulilah

Punya Mertua Kaya, Jenderal Moeldoko: Alhamdulilah

Jenderal TNI Moeldoko. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta – Panglima TNI Jenderal Moeldoko akhirnya angkat bicara soal kekayaannya yang terbilang besar. Setidaknya berdasar laporan harta kekayaan penyelenggara negara yang dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Moeldoko punya harta sebesar Rp 36 miliar.

Menurut Moeldoko kekayaan yang dia miliki bisa dibuktikan asal-muasalnya. “Memangnya tentara tidak boleh kaya? Yang penting kan dari mana memperoleh kekayaan,  benar tidak,” kata Moeldoko saat ditemui wartawan saat uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI di DPR, Rabu, 21 Agustus 2013.

Moeldoko beralasan kekayaannya ia peroleh selama bertugas sebagai tentara dan sebagian warisan keluarga. Ketika berdinas, dia mengaku sering bertugas ke luar negeri. “Itu operasi ke luar negeri seharinya US$ 125 (Rp 1,25 juta), kan besar,” katanya.

Dari warisan keluarga, Moeldoko terang-terangan mengaku mempunyai istri dari keluarga kaya. “Kalau saya dikasih orang tua saya harta warisan kan boleh saja, masa tidak boleh?”

Dia pun bercerita seusai menikah, mertua Moeldoko berpesan agar dia fokus mengabdi sebagai prajurit TNI. Mertua Moeldoko berjanji akan mengurus masalah kesejahteraan dia dan istri. “Ya Alhamdulillah kan itu,” katanya.

Harta Moeldoko senilai Rp 36 miliar terdiri dari harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan sebesar Rp 22,133 miliar, harta bergerak berupa alat transportasi mobil Toyota Land Cruiser senilai Rp 1,7 miliar, peternakan Rp 1,2 miliar, serta logam mulia dan batu mulia senilai Rp 4,6 miliar. Harta bergerak lain berupa giro sebesar Rp 2,8 miliar dan 450.000 dollar Amerika Serikat (Rp 4,5 miliar). Moeldoko memiliki utang Rp 300 juta.

INDRA WIJAYA

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers