Posts tagged ‘Barito Pacific’

February 14, 2011

Chandra Asri Bangun Terminal LPG di Cilegon US$ 150 Juta

Senin, 14/02/2011 13:31 WIB
Chandra Asri Bangun Terminal LPG di Cilegon US$ 150 Juta
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) akan membangun terminal Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Cilegon, Banten. CAP menggandeng perusahaan Singapura, Vopak Asia Pte. Ltd. Singapore (Vopak), melalui suatu perusahaan patungan/joint venture untuk realisasinya.

Nota kesepahaman (MOU) untuk proyek tersebut telah ditandatangani pada Januari 2011. Terminal LPG ini akan dibangun di lokasi pabrik CAP di Cilegon, Banten, dengan nilai investasi sebesar US$ 150 juta, yang akan ditanggung oleh CAP dan Vopak.

Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk Erwin Ciputra mengatakan, saat ini CAP tengah mempelajari lebih lanjut kajian teknis, kelayakan lingkungan, lokasi dan perizinan yang diperlukan untuk membangun terminal LPG tersebut. Pembangunan fisik terminal LPG tersebut akan dimulai pada akhir 2011, dan direncanakan sudah dapat beroperasi pada 2014.

“Kapasitas penyaluran dan distribusi LPG dari terminal ini direncanakan sebesar 1 juta ton per tahun. Selain sangat strategis untuk CAP, keberadaan terminal ini juga dapat digunakan untuk distribusi LPG bagi sektor industri lainnya,” ujar Erwin Ciputra dalam siaran persnya, Senin (14/2/2011).

CAP menilai proyek tersebut sangat strategis bagi operasional pabrik olefins CAP, karena akan mendukung upaya perseroan dalam usaha diversifikasi bahan baku. Pabrik olefins CAP saat ini membutuhkan bahan baku berupa naphtha dengan total kebutuhan 1,7 juta ton per tahun. Dengan beroperasinya terminal ini, diharapkan pabrik CAP dapat menggunakan LPG sebagai bahan baku alternatif sebesar 10% hingga 15 % dari total kebutuhan. Sehingga operasional pabrik dapat lebih fleksibel dengan tidak tergantung pada pasokan naphtha saja.

Erwin menambahkan, selain sebagai bahan baku alternatif pengganti naphta, pasokan LPG dari terminal ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk aktifitas produksi dan operasional pabrik CAP. Terminal LPG ini juga dapat digunakan untuk melayani distribusi LPG bagi keperluan industri dan sektor usaha lainnya. Dengan demikian distribusi pasokan LPG, terutama untuk daerah Banten dan sekitarnya diharapkan akan lebih lancar dan tercukupi.

Untuk proyek ini, bentuk partisipasi CAP berupa penyediaan lahan, fasilitas jetty/pelabuhan, utilitas dan infrastruktur lain yang dimiliki CAP. Dari tiga pelabuhan yang saat ini dimiliki CAP, salah satunya akan dijadikan sebagai terminal LPG tersebut.

Sementara, pembangunan tempat penimbunan LPG sementara dan infrastruktur yang terkait langsung dengan kilang, akan dilakukan Vopak. Selanjutnya operasional terminal tersebut akan dikelola perusahaan patungan antara CAP dan Vopak yang entitas bisnisnya saat ini dalam proses pembentukan dan akan selesai dalam waktu dekat.

Bagi CAP, pembangunan terminal LPG tersebut merupakan bagian dari rencana strategis perseroan dalam melakukan ekspansi usaha serta meningkatkan kapasitas produksi. Saat ini perseroan tengah melakukan program debottlenecking produksi polypropylene dengan menambah mesin baru untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 360 ribu ton menjadi 480 ribu ton per tahun. Perseroan mengganggarkan biaya investasi sebesar Rp 300 miliar dan direncanakan dapat beroperasi pada April 2011.

Selain itu, CAP juga berencana meningkatkan kapasitas produksi ethylene dari 600 ribu ton menjadi 1 juta ton per tahun dan polyethylene dari 320 ribu ton menjadi 540 ribu ton dalam kurun waktu 3 sampai 5 tahun mendatang. Untuk menyambung mata rantai produksi petrokimia dari hulu ke hilir, pada Juni 2011 perseroan akan membangun pabrik butadiene pertama di Indonesia yang diharapkan selesai pada pertengahan 2013.

“Pembangunan terminal LPG ini merupakan salah satu upaya kami dalam mendukung ekspansi usaha CAP, sebagai perusahaan petrokimia terintegrasi,” imbuh Erwin.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. adalah perusahaan petrokimia terintegrasi yang resmi beroperasi pada 1 Januari 2011. Perusahaan ini merupakan hasil merger vertikal antara dua perusahaan petrokimia terafiliasi yang merupakan anak usaha dari PT Barito Pacific Tbk., yakni PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Struktur kepemilikan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, sebesar 66,36% sahamnya dimiliki PT Barito Pacific Tbk. Apleton Investment Ltd menguasai 22,87% saham, dan Marigold Resources Pte. Ltd memiliki 5,52% saham. Sebesar 5,25% sahamnya dikuasai publik.
(qom/dnl)

Advertisements
December 3, 2010

Perusahaan Plastik Mulai Produksi Plastik Mudah Urai

Perusahaan Plastik Mulai Produksi Plastik Mudah Urai
JUM’AT, 03 DESEMBER 2010 | 19:10 WIB
Besar Kecil Normal
sxc.hu

TEMPO Interaktif, Bandung – Perusahaan- perusahaan pembuat bijih plastik dan produk turunannya mulai beralih ke pembuatan plastik polyethylene degradable yang diklaim bisa terdegradasi dalam 4 bulan dan dalam 2 tahun bisa terurai di lingkungan setelah terkena sinar matahari.

“Kebutuhan Polyethylene atau bijih plastik Indonesia mencapai 1,2 juta sampai 1,5 juta ton per tahun,” ujar Suhat Miyarso Corporate Secretary PT Chandra Asri seusai Seminar Plastik Degradable di Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/12).

Ia menegaskan, dari kebutuhan tersebut, perusahaan nasional baru bisa memproduksi sekitar 30 persenya saja. Untuk sisanya masih diimpor dari luar negeri. PT Chandra Asri sendiri sebagai salah satu produsen bijih plastik per tahunnya baru memproduksi sekitar 320 ribu ton.”Dalam tiga tahun mendatang penjualan bijih platik ramah lingkungan bisa mencapai 5 ribu ton per bulan,” kata Suhat.

Suhat menyatakan, paling tidak saat ini produksi bijih plastik yang ramah lingkungan atau polyethylene degradable yang diproduksi perusahaan -perusahaan plastik baru 20 persen dari kapasitas kebutuhan plastik nasional. Sisanya masih menggunakan bahan polyethylene biasa dan daur ulang.”Diperusahaan kami penjualan polyethylene degradable baru sekitar 1.000 sampai 2.000 ton perbulan.”

November 22, 2010

Andalan Baru Taipan Barito

Dari Majalah Tempo : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/10/11/EB/mbm.20101011.EB134799.id.html
11 OKTOBER 2010
Andalan Baru Taipan Barito
TEKAD itu dinyatakan Prajogo Pangestu tiga tahun lalu. Dalam satu pertemuan dengan Tempo, sang taipan berusia 66 tahun ini berikhtiar menyatukan semua unit bisnisnya, yang sempat tercerai-berai, agar kembali di bawah pangkuan Barito Pacific Tbk.-kerajaan bisnis yang dirintisnya sejak 1979.

Kini, satu demi satu, mimpi Prajogo tampaknya akan menjadi nyata. Tidak cuma itu. Barito malah akan menyatukan Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia, dua unit petrokimia papan atas, yang sejak dua tahun lalu menjadi tulang punggung perseroan. Jika akhirnya bermerger, kedua perusahaan itu melebur jadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Rencana merger itu berembus sejak dua pekan lalu. Tujuannya, “Supaya bisnis petrokimia kami bisa bersaing dalam skala global,” kata Agus Salim Pangestu, putra tertua Prajogo, kepada Tempo di kantornya Rabu pekan lalu. Langkah merger ini bagian dari tekad Barito bersaing dengan pemain petrokimia asing. Chandra Asri, ujar Agus, harus berekspansi menjadi pemain kelas dunia. Masalahnya, kapasitas produksi Chandra Asri saat ini 600 ribu ton per tahun. Padahal, di luar negeri, dengan produk turunan yang lengkap, kapasitas pabrik petrokimia berkisar tiga-empat juta ton. “Semakin besar kapasitas, biaya produksi semakin kecil,” kata ahli waris imperium bisnis keluarga Prajogo itu.

Dengan menjadi perusahaan terbuka, penggabungan ini sejatinya memudahkan Chandra Asri mencari alternatif pembiayaan buat melebarkan sayap. Apalagi, setelah merger, perusahaan gabungan ini berencana tancap gas. “Kami akan terlebih dulu menaikkan kapasitas pabrik Tri Polyta dari 300 ribu ton menjadi 350 ribu ton,” kata Agus. Penambahan kapasitas itu ditargetkan rampung pada kuartal pertama tahun depan. Dalam tiga tahun ke depan, perusahaan hasil merger ini akan mendiversifikasi produk turunan nafta. (Lihat “Plastik Mengalir sampai Hilir”.)

Menurut Agus, ekspansi dibutuhkan buat menyaingi derasnya impor produk petrokimia yang membanjiri pasar domestik. Meski Chandra Asri dan Tri Polyta menguasai pasar dalam negeri, tidak kurang dari 49,9 persen kebutuhan produk ethylene di Tanah Air dipenuhi melalui impor. Impor propylene dan polypropylene merangsek 31,68 persen dan 40,6 persen pangsa pasar dalam negeri. Sebaliknya, produk Chandra Asri dan Tri Polyta sulit menembus pasar negara lain karena tingginya bea masuk yang diberlakukan.

l l l
AKSI korporasi Barito Pacific mencuatkan kembali nama Prajogo Pangestu alias Phang Djun Phen, yang pernah lama tenggelam. Tonggak kebangkitan taipan yang gemar makan mi ini ditandai oleh aksi Barito mengakuisisi 62,76 persen saham Chandra Asri, berikut anak usahanya, PT Styrindo Mono Indonesia, senilai Rp 9,7 triliun pada Oktober 2007. Setahun kemudian, Barito mengakuisisi 77,93 persen saham Tri Polyta Indonesia Tbk., senilai US$ 180 juta.

Dua pabrik petrokimia itu terlepas dari genggaman Barito setelah bisnis Prajogo remuk redam digulung krisis ekonomi 1997-1998. Akibat krisis itu, beban utang Barito bengkak menjadi US$ 400 juta. Sedangkan kapitalisasi pasarnya di lantai bursa ambles dari US$ 5 miliar menjadi tinggal US$ 3 juta. Dia juga harus kehilangan hartanya berupa saham Astra International Tbk. yang bernilai US$ 150 juta.

Pada saat yang sama, ia harus menanggung utang Chandra Asri. Perusahaan yang didirikan pada 1991 di daerah Cilegon, Banten, itu punya utang US$ 250 juta ke sindikasi perbankan lokal dan US$ 1,8 miliar ke kreditor asing. Dari jumlah itu, US$ 581 juta dipinjam dari Marubeni. Jika dirupiahkan, total utang itu berkisar Rp 38 triliun. “Saya seperti menghadapi kiamat,” ujar Prajogo kepada Tempo tiga tahun lalu. “Sebab, saya tidak cuma menanggung utang jutaan dolar Amerika, tapi miliaran dolar Amerika.”

Untuk membereskan utang tersebut, kepada Marubeni, Prajogo menawarkan penukaran utang dengan kepemilikan saham. Marubeni ditawari aset Tanjung Enim Lestari dan Musi Hutan Persada. Tawaran yang diajukan pada 2003 itu baru kelar 2005. Itu pun setelah Marubeni dan Commerzbank International Trust Singapura mencapai kesepakatan penukaran utang bersama Prajogo.

Commerzbank terlibat karena menjadi pemegang surat utang yang diterbitkan Barito Pacific. Surat utang itu bisa dikonversi menjadi 40 persen saham Tanjung Enim Lestari, 39,5 persen saham Musi Hutan Persada, dan piutang US$ 80 juta. Dalam kesepakatan penukaran utang itu, saham Marubeni di Chandra Asri beralih ke Commerzbank. Sebagai gantinya, Marubeni mendapat surat utang Barito.

Setelah penyelesaian utang tersebut, perusahaan Jepang itu kini menguasai 85 persen saham Tanjung Enim dan 60 persen Musi Hutan. Prajogo sendiri, selain kehilangan dua perusahaan tadi, jadi tinggal memiliki 14,6 persen saham di Chandra Asri. “Saya tidak mau mengingat-ingat masa itu lagi,” ujar Prajogo.

Padahal Tanjung Enim salah satu perusahaan yang melambungkan namanya menjadi salah satu raja kayu di Indonesia pada 1990-an. Pabrik bubur kertas dan kertas itu didirikan Prajogo bersama Siti Hardijanti Rukmana, putri sulung bekas presiden Soeharto, serta Marubeni Corporation, Nippon Paper Industries, dan Japan’s Overseas Economic Cooperation Fund. Pabrik seluas 1.250 hektare itu didirikan pada 1989 di Muara Enim, Sumatera Selatan. Mereka memodalinya dengan fulus US$ 1,29 miliar. Sebagian didanai dengan utang. Adapun Musi Hutan Persada merupakan perusahaan pengelola hutan tanaman industri seluas 220 ribu hektare yang memasok kayu buat Tanjung Enim.

l l l
PENGGABUNGAN Chandra Asri dan Tri Polyta menjadi langkah awal buat mensinergikan bisnis Barito Pacific dari hulu hingga hilir. “Pak Prajogo ingin membuat perusahaan petrokimia kelas dunia di Asia,” kata Erwin Ciputra, Presiden Direktur Chandra Asri. Apalagi setelah dia tahu semua industri petrokimia di luar negeri juga terintegrasi. Temasek Holdings menyetujui rencana ini. Perusahaan investasi milik pemerintah Singapura itu punya 30 persen saham di Chandra Asri.

Sektor usaha petrokimia memang menjadi tulang punggung pendapatan Barito. Merujuk laporan keuangan perseroan 2009, hampir 99,17 persen pendapatan Barito disumbang dari sektor ini. Adapun pendapatan dari sektor kehutanan cuma menyumbang 0,54 persen. “Bisnis kayu bukan lagi andalan Barito,” kata Agus Salim Pangestu.

Menurut Agus, Barito sudah mengurangi eksposur bisnis kayunya. Industri bubur kertas dan kertas sudah tutup buku sejak Tanjung Enim Lestari dilepas ke Marubeni. Adapun industri kayu lapis (plywood) ditutup untuk sementara waktu. “Kami tutup karena nilai ekonomisnya tidak ada,” ujarnya. Dua pabrik pengolahan kayu di Maluku Utara tidak beroperasi sejak tiga tahun lalu. Padahal, dalam portofolionya, Barito masih punya 94 ribu hektare hutan tanaman industri dan 375 ribu hektare hak pengusahaan hutan.

Tak cuma menarik kembali perusahaan yang dulu tercerai-berai, Barito melakukan ekspansi ke perkebunan kelapa sawit serta minyak dan gas. “Fokus kami ke industri padat modal,” ucap Agus. Pada Mei lalu, Barito membeli 49 persen saham PT Petrogas Pantai Madura. Badan usaha milik daerah itu punya 10 persen saham di Blok Madura Offshore. Santos, perusahaan asal Australia, menjadi operator di blok ini. Posisi Barito, kata Rudy Suparman, lebih sebagai investor keuangan. Rudy, Chief Operating Officer PT Star Energy, merupakan salah satu orang kepercayaan Prajogo.

Pada bulan yang sama, Barito-dengan menerbitkan obligasi dolar senilai US$ 25 juta-mengakuisisi PT Royal Indo Mandiri, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang 100 persen sahamnya dimiliki Prajogo. Royal memiliki dua anak usaha, yakni PT Grand Utama Mandiri dan PT Tintin Boyok Sawit Makmur. Adapun Tintin punya anak usaha bernama PT Tintin Boyok Sawit Makmur Dua. Tiga perusahaan ini memiliki izin 29 ribu hektare lahan di Kalimantan Barat.

Royal Indo berniat membangun tiga pabrik minyak kelapa sawit: satu di Sumatera Utara, dua pabrik lain di Kalimantan Barat. Namun pembangunan pabrik di Sumatera Utara masih menunggu proses akuisisi perkebunan kelapa sawit seluas 12 ribu hektare di provinsi tersebut. Pabrik yang direncanakan memiliki kapasitas produksi 60 ton per jam itu butuh biaya Rp 120 miliar. Adapun dua pabrik di Kalimantan Barat, yang masing-masing berkapasitas 30 ton per jam, perlu investasi Rp 150 miliar.

Barito berharap minyak kelapa sawit diproduksi pada akhir 2012. Proyeksinya: sekitar tiga ton per hektare untuk satu tahun atau setara dengan 20-25 persen dari panen tandan buah segar. “Kami sadar di bisnis ini kami relatif pemain kecil,” kata Agus. Dalam lima tahun ke depan, Barito berikhtiar memiliki 250 ribu hektare lahan dengan area tertanam 100 ribu hektare.

Di mata Syaiful Adrian, penyatuan bisnis petrokimia Barito itu cuma penggabungan di atas buku. “Tidak mempengaruhi apa pun karena struktur bisnisnya sama saja,” kata analis Ciptadana Sekuritas itu. Alhasil, saham Barito di lantai bursa adem-ayem saja.

Menurut Syaiful, integrasi yang dilakukan Barito di sektor petrokimia masih setengah hati. “Akan lebih bagus bila Barito punya minyak mentah sendiri,” katanya. Selama ini, pasokan nafta buat Chandra Asri masih bergantung pada impor. Padahal tingginya fluktuasi harga dan tersendatnya pasokan nafta bisa membuat margin di bisnis petrokimia tergerus.

Terbukti, laba Barito dari bisnis petrokimia pada semester pertama tahun ini turun 94 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Itu sebabnya Barito harus melakukan diversifikasi, salah satunya ke sektor energi. “Atau melanjutkan integrasi vertikal lebih panjang hingga ke bawah, semisal mengakuisisi industri kemasan makanan,” ujar Syaiful.

Syaiful menduga semua perusahaan keluarga Prajogo akan ditarik, satu per satu, di bawah payung Barito-termasuk Star Energy. Star merupakan perusahaan yang 60 persen sahamnya dimiliki Prajogo. Selain mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi Wayang Windu di Pangalengan, Bandung, perusahaan ini sudah memproduksi 8.000 barel minyak mentah per hari di Blok Kakap, Laut Natuna. (Lihat “Ambisi di Panas Bumi”.)

Prajogo pernah memberikan sinyal itu. “Semua perusahaan yang masih di luar grup itu suatu saat nanti akan disatukan,” katanya. “Tapi itu butuh waktu.”

Yandhrie Arvian, Retno Sulistyowati, Nieke Indrietta

++++++++++++

11 OKTOBER 2010
Ambisi di Panas Bumi
UNTUK urusan caplok-mencaplok saham, Prajogo Pangestu tak banyak bicara. Tiga tahun lalu, lewat Star Energy Investment Limited, Prajogo diam-diam menguasai saham Star Energy, pengembang pembangkit listrik tenaga panas bumi Wayang Windu. Dana yang dirogoh ketika itu US$ 300 juta. Kini, tanpa gembar-gembor, Prajogo makin menancapkan kuku. “Pak Prajogo menambah kepemilikan sahamnya,” kata Rudy Suparman, Chief Operating Officer Star Energy, Rabu pekan lalu.

Prajogo Pangestu, raja kayu pada 1980-an dan 1990-an, semula menguasai 42 persen saham Star Energy. Kepemilikannya di Star Energy menanjak sejak dia mengambil alih saham Agus Projosasmito, mitra bisnisnya. Alhasil, sejak pertengahan tahun ini, Prajogo adalah penguasa mayoritas Star Energy dengan 60 persen saham. Sisanya dimiliki Ashmore Investment, perusahaan investasi yang berbasis di London, Inggris.

Langkah akuisisi itu kian menegaskan penetrasi Prajogo di sektor energi. Terlebih Star Energy hendak mengembangkan unit tiga pembangkit Wayang Windu berkapasitas 173 megawatt, yang targetnya beroperasi pada 2012. Sejauh ini, total kapasitas pembangkit yang sudah beroperasi 227 MW, terdiri atas 110 MW pembangkit unit satu dan 117 MW pembangkit unit dua.

Pembangkit yang terletak di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ini kelak berkapasitas total 400 MW. Itu berarti Wayang Windu merupakan pembangkit panas bumi swasta terbesar di Indonesia. Listrik produksi pembangkit ini disalurkan buat memasok kebutuhan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). Harga jual yang disepakati US$ 4,94 sen per kilowatt-jam (kWh).

Didirikan tujuh tahun lalu, Star Energy menguasai pembangkit panas bumi Wayang Windu setelah mencaplok saham Magma Nusantara Limited pada 2004. “Ketika kami masuk, potensi panas bumi belum banyak dilirik,” kata Rudy Suparman.

Star Energy juga melangkah ke timur. Akhir tahun lalu, Star Energy memenangi tender mengembangkan pembangkit panas bumi Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat. “Sekarang dalam tahap eksplorasi buat mengetahui seberapa besar potensi panas bumi di sana,” ujar Rudy.

Star Energy berharap potensi panas bumi di Jailolo cukup besar sehingga bisa digunakan untuk memasok listrik buat pertambangan nikel di sana. Kapasitas produksi awal pembangkit ini direncanakan 75 MW dan akan ditambah 190 MW, sehingga kapasitas totalnya 265 MW. Proyek pembangkit di Jailolo dan unit tiga Wayang Windu tadi masuk program 10 ribu MW tahap kedua.

Lima tahun ke depan, Star Energy berikhtiar mengembangkan pembangkit panas bumi hingga 600 MW. Dana yang dibutuhkan tak kurang dari US$ 400 juta. Dari mana sumber duitnya? “Kalau tidak dari pemegang saham, ya dari publik,” kata Rudy. Artinya, menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di lantai bursa merupakan salah satu opsi bagi Star Energy kelak.

Menurut Rudy, Star Energy tertarik masuk sektor panas bumi karena Prajogo punya visi yang kuat terhadap proyek infrastruktur. “Belajar dari krisis 1997, Pak Prajogo percaya bahwa penguatan sektor infrastruktur dapat mempercepat pemulihan ekonomi,” kata Rudy.

Tak cuma itu. Star Energy juga mengelola empat blok minyak dan gas, yakni Blok Sekayu di Sumatera Selatan; Blok Sebatik di Tarakan, Kalimantan Timur; Blok Banyumas di Jawa Tengah; dan Blok Kakap di Laut Natuna. Dari empat blok itu, baru Blok Kakap yang sudah berproduksi, sekitar 8.000 barel minyak per hari dan 60 juta kaki kubik gas alam. Blok lain masih dalam tahap eksplorasi. Dana yang sudah digelontorkan buat eksplorasi sekitar US$ 100 juta.

Sejak imperium bisnis kayunya remuk, Prajogo memang putar haluan. Dia kini lebih berfokus di bisnis petrokimia dan energi. Proyek panas bumi serta minyak dan gas tadi menjadi pertaruhan baru buat mewujudkan mimpinya.

Dia juga bermimpi menjadikan Barito Pacific-perusahaan yang dirintisnya sejak 1970-an-sebagai perusahaan yang bergerak di industri berbasis sumber daya alam yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Itu sebabnya Barito Pacific pernah berencana mengakuisisi setidaknya 51 persen Star Energy, yang bernilai sekitar US$ 500 juta. Dengan Prajogo menjadi pemegang saham mayoritas di Star Energy, bukan tidak mungkin langkah Barito Pacific mengakuisisi Star menjadi lebih enteng.

Yandhrie Arvian
++++
11 OKTOBER 2010
Plastik Mengalir sampai Hilir
AGUS Salim Pangestu mondar-mandir dari satu ruang ke ruang rapat lain di kantor Grup Barito, Wisma Barito Pacific, di kawasan Slipi, Jakarta, Rabu sore pekan lalu. Putra mahkota Prajogo Pangestu itu memang sedang supersibuk karena ikut mempersiapkan hajatan penting: menggabungkan usaha dua perusahaan petrokimia, Tri Polyta Indonesia dan Chandra Asri.

Chandra Asri akan melebur ke dalam Tri Polyta dan berganti nama menjadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Mulai 1 Januari tahun depan, Chandra Asri Petrochemical akan menjadi perusahaan petrokimia terintegrasi dari hulu ke hilir, memproduksi bahan baku kimia hingga bijih plastik. “Merger dilakukan agar lebih efisien,” kata Agus kepada Tempo di Jakarta.

Tri Polyta merupakan produsen bijih plastik polypropylene dengan kapasitas produksi 360 ribu ton per tahun. Polypropylene adalah bahan baku kemasan makanan, perabot rumah tangga, komponen otomotif, dan peralatan elektronik. Barito Pacific menguasai 77,03 persen saham Tri Polyta, yang berdiri sejak 1988. Dengan pangsa pasar 46 persen, total aset Tri Polyta saat ini US$ 280 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun.

Adapun Chandra Asri merupakan perusahaan petrokimia satu-satunya yang memproduksi olefin (naphtha cracker)-cikal bakal plastik dan kemasan plastik-di Indonesia. Produk kimia yang dihasilkannya antara lain ethylene 600 ribu ton, propylene 320 ribu ton, pygas 280 ribu ton, dan C4 campuran 220 ribu ton. Sejak 13 Desember 2007, sebanyak 70 persen saham Chandra Asri dikuasai Barito Pacific. Saat ini total asetnya US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 10 triliun.

Pabrik kedua perusahaan berada dalam satu kompleks di Cilegon, Serang, Provinsi Banten. Tak aneh jika muncul niat mengawinkan kedua perusahaan agar lebih efektif dan efisien. Keduanya akan bermerger secara vertikal, sehingga ada jaminan pasokan bahan baku, distribusi, fasilitas produksi, keberagaman produk, dan sumber pendapatan. Merger akan dilakukan dengan mekanisme pertukaran saham (share swap).

Niat meleburkan kedua perusahaan itu sudah dijajaki sejak beberapa tahun lalu. Tapi realisasinya terganjal mahalnya pajak merger. Bagi Direktorat Jenderal Pajak, merger sama saja dengan jual-beli barang yang dikenai pajak 10 persen. Angin segar baru berembus sekitar Oktober tahun lalu, saat Dewan Perwakilan Rakyat menghapus pajak merger perusahaan dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Manajemen Tri Polyta mendaftarkan rencana merger dengan Chandra Asri kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan serta para kreditornya, Senin dua pekan lalu. Akhir bulan ini, rapat umum pemegang saham luar biasa bakal digelar.

Presiden Direktur Chandra Asri Erwin Ciputra menjelaskan, penyatuan akan memperkuat posisi Chandra Asri dan Tri Polyta agar bisa bersaing dengan barang impor. Apalagi setelah berlakunya penerapan pasar bebas dengan bea masuk nol persen.

Merger juga akan membuat pencarian dana ekspansi lebih mudah. Apalagi, tiga tahun ke depan, kata dia, ada rencana Chandra Asri Petrochemical akan memproduksi butadiene-bahan baku ban-dan benzene dengan biaya investasi US$ 80-100 juta, serta peningkatan kapasitas produksi polyethylene dari 300 ribu menjadi 350 ribu ton pada 2011 dan menjadi 450 ribu ton pada 2012.

Mendapat restu internal bukan berarti tak ada kendala. Komisi Pengawas Persaingan Usaha khawatir bakal terjadi monopoli bila Chandra Asri dan Tri Polyta jadi kawin. Ketua Komisi Pengawas, Tresna P. Soemardi, mengingatkan rencana merger mesti dilaporkan ke lembaga antipersaingan tak sehat itu. “Kami berhak membatalkan merger jika ada potensi praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat,” ujarnya.

Manajemen Tri Polyta bergerak cepat. Belum lama ini, mereka buru-buru memberikan klarifikasi kepada Komisi Pengawas. Menurut Presiden Direktur Tri Polyta Andry Setiawan, kemungkinan terjadinya monopoli sangat kecil karena persaingan di pasar petrokimia sangat ketat dengan produk impor dari Singapura, Taiwan, Malaysia, dan Thailand. Pangsa pasar Chandra Asri dan Tri Polyta juga baru mencapai 35-40 persen.

Sejauh ini, Komisi Pengawas Persaingan Usaha tak mempermasalahkan lagi rencana tersebut. Tampaknya, rencana dua perusahaan milik Prajogo itu akan mulus, apalagi jika akhir bulan ini para pemegang saham menyetujuinya.

Nieke Indrietta, Retno Sulistyowati