Posts tagged ‘biogas’

August 4, 2011

Lebih 3.000 Unit Reaktor Biogas Rumah Dibangun

Lebih 3.000 Unit Reaktor Biogas Rumah Dibangun
Rabu, 27 Juli 2011 | 12:46 WIB
Besar Kecil Normal
foto

TEMPO/Prima Mulia

Berita terkait

Grup Bakrie Incar Enam Sumur Gas Sengkang
Terminal Gas Alam Cair Jawa Barat Mulai Dibangun
Lapangan Tangguh Pasok Gas Cair untuk FSRU Belawan
PLN Jajaki Impor Gas
Program City Gas Warga Miskin Digulirkan di Cibinong

TEMPO Interaktif, Denpasar – Program Biogas Rumah (BIRU) telah membangun 3.143 unit reaktor biogas rumah yang tersebar di tujuh provinsi hingga Juni 2011, yakni di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah & DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Program untuk mengejar energi mandiri itu menargetkan membangun 8.000 unit reaktor pada akhir 2012.

”Di Bali sendiri terdapat 96 unit reaktor di tujuh kabupaten, yaitu Buleleng, Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, dan Klungkung,” ujar Ni Nyoman Ramiati, Biogas Promotion Officer, Rabu, 27 Juli 2011. Program kerja-sama antara Pemerintah Indonesia dan Belanda yang dimulai pada Mei 2009 itu menargetkan pembangunan 8.000 unit reaktor pada akhir tahun 2012 di seluruh Indonesia.

Program ini ditangani oleh Hivos, sebuah lembaga kemanusiaan untuk kerja-sama pembangunan yang berbasis di Belanda. Melalui program BIRU, Hivos memberikan subsidi senilai 2 juta rupiah per reaktor berupa peralatan, bukan berupa uang tunai.

BIRU dalam pelaksanaan programnya bekerja-sama dengan sejumlah organisasi lokal seperti lembaga swadaya masyarakat, koperasi, dan pihak swasta lainnya yang berperan sebagai mitra pembangun.

Di Bali, program ini menggandeng lima mitra pembangun, yakni Yayasan BOA, Yayasan Manikaya Kauci, Yayasa IDEP, Yayasan Sunari, dan CV Mitra Usaha Mandiri. BIRU juga sedang menjajagi kemitraan dengan lembaga keuangan mikro untuk penyediaan kredit berbunga rendah bagi masyarakat calon pengguna BIRU.

Untuk mengevaluasi program ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyelenggarakan workshop koordinasi di Hotel Inna Sindhu Bali, Kamis, 28 Juli 2011. Workshop ini akan dihadiri oleh dinas pemerintahan terkait dari Pusat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, serta sejumlah lembaga penyedia kredit dan pihak swasta. Workshop membahasan kemajuan program serta tantangan yang dihadapi selama proses implementasi.

Advertisements
Tags:
February 21, 2011

Industri Kecil Butuh Dukungan Teknologi Biogas

Senin, 21/02/2011 14:47 WIB
Industri Kecil Butuh Dukungan Teknologi Biogas
Romika Junaidi – detikFinance

Jakarta – Industri Kecil dan Menengah (IKM) membutuhkan pemanfaatan aplikasi biogas sebagai sumber energi utama sektor ini. Penerapan biogas bisa menjadi solusi dalam penggunaan energi yang efisien bagi sektor IKM untuk menopang proses produksi.

“Perlu dukungan dari permerintah untuk merealisasikan hal ini, serta perlu adaptasi teknologi penggunaan serta instalasi yang kompleks,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah dalam acara Seminar Series on Green Productivity Theme: Biogas is the best renewal energy alternative for Indonesia? di Jakarta, Senin (21/02/11)

Menurutnya dengan kondisi wilayah Indonesia yang terdiri dari kepulauan, mempersulit transmisi dan distribusi listrik maupun BBM. Hal ini membuat jangkauan antar pulau menjadi sebuah masalah dalam bidang energi.

Ditambah lagi interkoneksi jaringan listrik hanya bisa ekonomis untuk pulau-pulau besar dan sejumlah pulau-pulau relatif kecil di dekatnya.

“Untuk itulah gunanya biogas agar menghemat efisiensi daya masyarakat,” tambahnya.

Ia juga mengatakan sejumlah besar pulau harus bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan bahan bakar dan listriknya sendiri. Biogas adalah solusi yang tepat, efisien, serta ramah lingkungan.

Hal ini karena banyak propinsi dan pulau tak memiliki cadangan bahan bakar fosil yang memadai sedangkan biomassa tersedia di semua pulau.

“Perlu adanya sosialisai lebih lanjut dalam rangka memasarkan produk biogas yang ramah lingkungan kepada masyarakat khususnya IKM sehingga tercipta desa
mandiri,” tandasnya

Biogas menjadi solusi pengehematan bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Ia juga menambahkan isu Hemat Energi untuk IKM menjadi titik sentral pemenuhan melalui Biogas menjadi penting dan tak terbantahkan.

”Pengembangan Biogas belum diarahkan kepada dukungan terhadap pemenuhan eksistensi dan peningkatan 3,8 juta IKM , Padahal pengembangan Biogas sangat
sesuai dengan karakter IKM yang terpisah-pisah pada skala kecil dan berdiri sendiri,” tuturnya.

Jumlah IKM saat ini lebih dari 3,8 juta unit usaha yang menyerap sekitar 8,75 juta tenaga kerja. Komposisi skala IKM masih 90% adalah industri kecil dan sisanya industri menengah dengan pengelompokan sektor pangan, kimia bahan bangunan, sandang, kerajinan dan logam serta elektronika.

IKM sub-sektor pangan, kimia bahan bangunan dan logam merupakan kelompok IKM yang pemakaian energi atau BBM dalam kapasitas besar atau lahap energi.

Adapun jenis energi BBM yang banyak digunakan oleh IKM adalah minyak tanah, batu bara, elpiji dan kayu bakar. Langkah substitusi minyak tanah ke gas dan batubara telah dilakukan mulai tahun 2008 dan diikuti penyesuaian teknologi dan investasi.

Secara khusus, IKM belum mengggunakan biogas untuk produksi, masih dalam penggunaan keperluan rumah tangga.

”Penggunaan biogas oleh IKM lebih mudah diterapkan pada sentra IKM di pedesaan dengan populasi ternak sebagai pasokan bahan baku biogas”, tambahnya.

Di sentra IKM produk sapi dan olahan daging sapi yaitu abon, dendeng dan susu dapat menggunakan biogas hasil olahan kotoran ternak sapi di Bandung dan Boyolali.

Sentra penyulingan minyak atsiri di biasanya di daerah pedesaan dapat menggunakan biogas dari kotoran ternak di sekitar lokasi Garut, Kuningan dan Banyumas.

”Pembangunan unit biogas di sentra IKM dilaksanakan dengan sistem pemanfaatan bersama. Kemudian pemanfataan biogas secara simultan akan menumbuhkan IKM pupuk organik,” tegasnya.

(hen/hen)

Tags: