Posts tagged ‘dunia militer penerbangan’

November 24, 2010

DPR Tolak Hibah Pesawat F-16 Bekas

BIAYA PERAWATAN PESAWAT BEKAS JAUH LEBIH MAHAL
DPR Tolak Hibah Pesawat F-16 Bekas

KAMIS, 11 NOVEMBER 2010 | 09:29 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Jakarta – Anggota Komisi Pertahanan dan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat menolak rencana Kementerian Pertahanan untuk menerima hibah pesawat tempur bekas seri F-16 dari Amerika Serikat.

“Jangan sampai Amerika Serikat bingung buang sampah, dan kita siap menerima,” kata Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Mahfudz Sidik kepada Tempo, Kamis (11/10)

Meski harga 24 pesawat tempur F-16 bekas itu setara dengan 6 pesawat F-16 baru, tapi menurut Mahfudz, biaya pemeliharaan pesawat bekas akan jauh lebih mahal. Apalagi Amerika banyak menggunakan pesawatnya untuk operasional perang di Timur Tengah dan Afganistan. Sementara pemerintah bersama dewan sudah bertekad mulai 2010 memodernisasi alat utama sistem persenjatan militer. “Jadi aneh kalau pemerintah tergiur untuk pesawat bekas,” kata anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini. Padahal Dewan siap untuk membantu penganggaran

Ketimbang membeli pesawat bekas, ia menyarankan, pemerintah membeli pesawat F-16 baru secara bertahap seperti pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. “Pola (pembelian) Sukhoi bisa dipakai,” katanya

Menurut Juru Bicara Kementrian Pertahanan Brigadir Jenderal I Wayan Midhio, jika melihat kebutuhan Indonesia, menerima 24 pesawat bekas Amerika lebih tepat. “Kita itu sedang membutuhkan banyak pesawat. Apalagi sekarang banyak pesawat kita yang sudah rusak. Karena keterbatasan itulah lebih baik kita ambil yang 24 (pesawat),” kata dia kemarin.

Mahfudz mengakui sudah berbicara secara informal dengan kementerian. “Saya usulkan agar duduk bersama untuk membicarakan ini,” katanya. Tapi berhubung, dewan memasuki periode reses, maka pembicaraan akan ditunda hingga 22 November mendatang.

Anggota Dewan dari Fraksi Golongan Karya, Tantowi Yahya juga menolak rencana kementerian tersebut. “Kenapa tak beli barang baru, tapi memilih barang rongsokan,” katanya yang dihubungi terpisah.

Sikap tersebut, diakuinya, juga disepakati sejumlah anggota meski belum jadi sikap resmi komisi. Keberadaan pesawat tempur memang diperlukan, tapi pemerintah menurutnya harus mempertimbangkan biaya perawatan dan retrofit (perbaikan). “Komitmen Komisi I untuk meningkatkan anggaran alusista sangat nyata, pemerintah tak usah khawatir,” jelas Tantowi.

Fokus pemerintah dan dewan dalam pertahanan sebenarnya adalah peningkatan pertahanan maritim. Karena 10 dari 13 batas wilayah Indonesia adalah laut. “Itu ancaman utama,” ujar Tantowi. Tapi bukan berarti keberadaan F-16 tidak dibutuhkan. Pesawat F-16 masih dibutuhkan, selama anggaran memungkinkan dan tidak merepotkan.

Advertisements
November 18, 2010

Lapan Riset Desain Pesawat Tempur

Tuesday, November 16, 2010
Lapan Riset Desain Pesawat Tempur
Konsep jet tempur K-FX akan dikembangkan Korsel dan Indonesia. Turki diundang bergabung dalam proyek K-FX.

16 November 2010, Serpong — Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional mengembangkan riset desain dan teknologi supersonik pesawat tempur untuk menunjang pertahanan dalam negeri. Realisasi produksinya bekerja sama dengan Korea Selatan.

”Riset ini untuk pengembangan keahlian Lapan, sekaligus memanfaatkan potensi industri penerbangan yang sudah dimiliki PT Dirgantara Indonesia,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Adi Sadewa Salatun dalam konferensi pers Seminar Penerbangan dan Antariksa 2010 di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong, Tangerang, Senin (15/11).

Lapan saat ini berhasil mengembangkan produksi roket dan satelit, di antaranya roket pengorbit satelit RX 550 yang akan diuji statis pada Desember 2010 di instalasi pengujian Pantai Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

”Untuk mencapai kemampuan mengorbitkan satelit di luar angkasa, roket harus teruji mampu memiliki kecepatan delapan kilometer per detik dalam keadaan meluncur secara horizontal. Kita lihat hasil pengujiannya nanti,” kata Adi.

Lapan juga merancang satelit kembar Lapan-A2 dan Lapan- Orari. Masing-masing berfungsi untuk menunjang pengamatan permukaan Bumi dan komunikasi pada saat bencana alam terjadi. Satelit ini akan diluncurkan pada November 2011 dari stasiun pengorbit di India.

Audit penerbangan

Dalam pembukaan seminar, juga dilaksanakan serah terima nozzle (moncong) roket RX-550 dari Direktur Utama PT Krakatau Steel Fazwar Bujang kepada Kepala Lapan. RX-550 akan digunakan sebagai Roket Pengorbit Satelit (RPS) buatan Lapan. Kepala Lapan menjelaskan, Lapan mengembangkan roket untuk kebutuhan sipil. “Nantinya RPS akan meluncurkan satelit buatan kita sendiri,” ia mengatakan. Adi menambahkan, serah terima ini juga menandai kerja sama antara Lapan dengan PT Krakatau Steel. (Foto: LAPAN)

Pada kesempatan itu, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata menekankan pentingnya audit potensi teknologi penerbangan dan antariksa. Selanjutnya, agar didorong kerja sama antarindustri maupun lembaga riset untuk mengembangkan teknologi penerbangan dan antariksa tersebut. ”Pemerintah akan menyediakan panggung kolaborasi,” ujar Suharna.

Suharna mengatakan, panggung kolaborasi tetap berbasis pada kebijakan masing-masing institusi.

KOMPAS

November 11, 2010

DPR Tolak Hibah Pesawat F-16 Bekas

Maunya beli baru..biar dapet komisi…, dasar DPR busuk..

++++
DPR Tolak Hibah Pesawat F-16 Bekas
F-16C USAF, AS tidak lagi mengembangkan jet tempur F-16 untuk Angkatan Bersenjatanya, tetapi Lockheed Martin mengembangkan untuk sejumlah negara. (Foto: f-16.net)

11 November 2011, Jakarta — Anggota Komisi Pertahanan dan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat menolak rencana Kementerian Pertahanan untuk menerima hibah pesawat tempur bekas seri F-16 dari Amerika Serikat.

“Jangan sampai Amerika Serikat bingung buang sampah, dan kita siap menerima,” kata Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Mahfudz Sidik kepada Tempo, Kamis (11/10)

Meski harga 24 pesawat tempur F-16 bekas itu setara dengan 6 pesawat F-16 baru, tapi menurut Mahfudz, biaya pemeliharaan pesawat bekas akan jauh lebih mahal. Apalagi Amerika banyak menggunakan pesawatnya untuk operasional perang di Timur Tengah dan Afganistan. Sementara pemerintah bersama dewan sudah bertekad mulai 2010 memodernisasi alat utama sistem persenjatan militer. “Jadi aneh kalau pemerintah tergiur untuk pesawat bekas,” kata anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini. Padahal Dewan siap untuk membantu penganggaran

Ketimbang membeli pesawat bekas, ia menyarankan, pemerintah membeli pesawat F-16 baru secara bertahap seperti pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. “Pola (pembelian) Sukhoi bisa dipakai,” katanya

Menurut Juru Bicara Kementrian Pertahanan Brigadir Jenderal I Wayan Midhio, jika melihat kebutuhan Indonesia, menerima 24 pesawat bekas Amerika lebih tepat. “Kita itu sedang membutuhkan banyak pesawat. Apalagi sekarang banyak pesawat kita yang sudah rusak. Karena keterbatasan itulah lebih baik kita ambil yang 24 (pesawat),” kata dia kemarin.

Mahfudz mengakui sudah berbicara secara informal dengan kementerian. “Saya usulkan agar duduk bersama untuk membicarakan ini,” katanya. Tapi berhubung, dewan memasuki periode reses, maka pembicaraan akan ditunda hingga 22 November mendatang.

Anggota Dewan dari Fraksi Golongan Karya, Tantowi Yahya juga menolak rencana kementerian tersebut. “Kenapa tak beli barang baru, tapi memilih barang rongsokan,” katanya yang dihubungi terpisah.

Sikap tersebut, diakuinya, juga disepakati sejumlah anggota meski belum jadi sikap resmi komisi. Keberadaan pesawat tempur memang diperlukan, tapi pemerintah menurutnya harus mempertimbangkan biaya perawatan dan retrofit (perbaikan). “Komitmen Komisi I untuk meningkatkan anggaran alusista sangat nyata, pemerintah tak usah khawatir,” jelas Tantowi.

Fokus pemerintah dan dewan dalam pertahanan sebenarnya adalah peningkatan pertahanan maritim. Karena 10 dari 13 batas wilayah Indonesia adalah laut. “Itu ancaman utama,” ujar Tantowi. Tapi bukan berarti keberadaan F-16 tidak dibutuhkan. Pesawat F-16 masih dibutuhkan, selama anggaran memungkinkan dan tidak merepotkan.

November 8, 2010

TNI AU Beli Dua Unit Pesawat Boeing 737-400

TNI AU Beli Dua Unit Pesawat Boeing 737-400
Pikiran Rakyat 08 November 2010

Garuda Boeing 737 400 (photo : styo)

JAKARTA, (PRLM).- TNI Angkatan Udara dan PT Garuda Indonesia mengadakan penandatangan nota kesepahaman tentang pengalihan dua unit pesawat Boeing 737- 400, yang ditandatangai oleh Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat dan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar, di Mabesau Cilangkap, Senin (8/11).

Penandatanganan nota kesepahaman ini adalah salah satu tahapan dalam mewujudkan proses pembelian 2 unit pesawat Boeing 737-400 dari PT Garuda Indonesia (Persero) kepada pihak TNI Angkatan Udara, selanjutnya akan dilaksanakan proses pengadaan barang/jasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu penyusunan dokumen kontrak jual beli.

Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, dalam Rencana Strategis Tahun 2010-2012, TNI Angkatan Udara telah memprogramkan dan menganggarkan untuk meningkatkan kemampuan alutsista agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai penangkal, penindak, dan pemulih dalam rangka menegakkan kedaulatan negara di udara yang dilaksanakan salah satunya dengan OMSP.

“TNI Angkatan Udara mengharapkan bahwa kegiatan penyusunan dokumen kontrak pembelian pararel dengan kegiatan pelatihan di bidang pemeliharaan, dan tim teknis, agar supaya pesawat tersebut dapat dioperasikan di TNI Angkatan Udara dengan segera”, ungkapnya.

Sementara itu, Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar menyatakan, sebagai “national flag carrier” selain menjalankan misi sebagai salah sebagai suatu entitas bisnis, Garuda memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan aspek perekonomian , sosial dan budaya, serta pertahanan dan keamanan negara.

Dikatakan, sejalan dengan peranannya tersebut, maka Garuda Indonesia senantiasa berupaya untuk dapat menjalin kerja sama serta memberikan dukungan bagi berbagai lembaga dan intitusi agar tercipta sinergi yang dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dan pada umumnya bagi negara dan bangsa. (Mun/A-147)***

August 31, 2010

TNI AU Tambah Tiga Pesawat Sukhoi

TNI AU Tambah Tiga Pesawat Sukhoi
Jakarta | Tue 31 Aug 2010 23:29:10
KEPALA Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan TNI AU akan menambah tiga pesawat tempur jenis Sukhoi. “Insya Allah akan didatangkan dua pesawat (Sukhoi) pada tanggal 5 September dan satu pesawat lagi pada tanggal 15 September 2010,” kata Marsekal TNI Imam Sufaat usai buka puasa bersama di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (31/8) malam.
KSAU juga mengatakan pesawat tempur jenis F5 masih bisa dioperasikan. “Memang diharapkan tahun 2011-2014 diadakan pergantian pesawat tempur jenis F5, tapi tidak tahun ini,” katanya.
Pengawasan Perbatasan
Pada kesempatan itu, KSAU juga mengatakan untuk pengawasan di wilayah perbatasan melalui pengawasan udara merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh TNI AU. Selain itu, beberapa radar di wilayah perbatasan akan dioperasionasikan dan diintegrasikan dengan radar sipil.
Menurutnya, untuk mengawasi perbatasan, selain mengoperasikan beberapa radar, juga mengoperasi kuadron maritim. Friederich Batari

June 5, 2010

Skuadron Tanpa Awak Segera Beroperasi

PERTAHANAN
Skuadron Tanpa Awak Segera Beroperasi
Sabtu, 5 Juni 2010 | 03:29 WIB

Pontianak, Kompas – Untuk pertama kali, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berencana mengoperasikan empat pesawat tanpa awak pada 2011. Skuadron tanpa awak itu ditempatkan di Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

Demikian diungkapkan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat di Lanud Supadio, Jumat (4/6), seusai melakukan kunjungan kerja ke Brunei. ”Pesawat tanpa awak yang akan ditempatkan di Supadio itu akan mendukung fungsi intelijen udara untuk seluruh wilayah Indonesia,” kata Imam.

Menurut Imam, pengamanan udara melalui kegiatan intelijen pesawat tanpa awak akan sangat terbantu. ”Tak hanya mendeteksi melintasnya pesawat-pesawat asing tanpa izin, pesawat itu juga bisa digunakan untuk pengawasan kegiatan pembalakan ilegal, pencurian ikan, dan kegiatan ilegal lain yang sulit dideteksi oleh pesawat biasa,” kata Imam.

Radar militer

Selain menyiapkan skuadron udara tanpa awak, peningkatan kemampuan intelijen TNI AU juga akan dilakukan dengan pengoperasian radar militer pada 2012. ”Radar militer yang paling dekat dengan Kalimantan ada di Pulau Natuna, tetapi tidak bisa menjangkau wilayah Kalimantan. Rencananya, radar militer yang baru itu akan dibangun di Singkawang, Kalimantan Barat. Harganya memang sangat mahal,” ujar Imam.

Selain Singkawang, pengoperasian radar militer yang akan menggunakan anggaran 2011 itu juga akan dibangun di wilayah timur, yaitu Merauke, Timika, Jayapura, Saumlaki, Tambolaka, dan Morotai. ”Pengoperasian radar militer itu jelas akan meningkatkan kemampuan deteksi, terutama untuk pengamanan wilayah udara di perbatasan,” tutur Imam. Sebelumnya, di wilayah-wilayah yang belum memiliki radar militer, TNI AU menggunakan fasilitas radar sipil milik swasta yang ada di bandar udara. (AHA)


Site Meter

June 3, 2010

PT DI & Xian Aircraft kembangakan N-235 baru

Kamis, 03/06/2010 06:45:16 WIB
PT DI & Xian Aircraft kembangakan N-235 baru
Oleh: Firman Hidranto
AMSTERDAM (Bisnis.com): PT Dirgantara Indonesia dan Xian Aircraft akan mengembangkan N-235 New Generation jenis pengangkut penumpang dan kargo sebagai bagian negosiasi lanjutan penyelesaian pembelian 15 unit MA 60 yang sempat menjadi sengketa Indonesia dan China.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan kerja sama industri pesawat kedua negara itu untuk mengembangkan jenis pesawat menengah dengan kapasitas 30 tempat duduk – 50 tempat duduk “Tercapainya kesepakatan itu merupakan bagian dari negosiasi penyelesaian pembelian pesawat MA-60 buatan Xian Aircraft untuk memenuhi kebutuhan PT Merpati Nusantara Airline. Dari negosiasi itu, pemerintah bisa melakukan penghematan US$90 juta,” ujarnya hari ini.

Menurut dia, rencana pengembangan N-235 New Generation antara PTDI dan Xian Aircraft itu meliputi riset dan pengembangan (R&D), desain pesawat hingga produksi pesawat. Nantinya, lanjutnya, produksi dari industry dirgantara Indonesia dan China itu juga memenuhi pasar kelas 30-50 tempat duduk di kawasan Asia, juga memenuhi kebutuhan dalam negeri terutama MNA.

Berkaitan dengan hasil negosiasi dengan Xian Aircraft, Mustafa mengemukakan itu tidak terlepas dari etikad kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah pembelian pesawat tersebut.
Kasus ini berawal dari ketika Merpati berencana membeli 15 unit pesawat dari Xian Aircraft, namun dibatalkan karena diduga terjadi penggelembungan (mark up) harga, dan ketidakjelasan spesifikasi pesawat yang akan dipesan.

Kontrak kerja sama dilakukan pada 7 Juni 2006. Dua dari 15 pesawat pesanan telah tiba di Jakarta pada 6 September 2006, tetapi sampai sekarang Merpati belum mengambil 13 pesawat lainnya.

Belakangan, harga pesawat yang ditawarkan senilai US$15 juta per unit dinilai terlalu mahal, dari harga normal pesawat sejenis yakni sekitar US$11 juta. Bahkan, ketika ada transaksi pembelian MA-60 disebut-sebut merupakan bagian dalam klausul perjanjian program pembangunan pembangkit listrik 10.000 megawatt antara pemerintah Indonesia dan China.

“Yang jelas, kita telah menyelesaikan negosiasi itu. Bahkan, PTDI dan Xian Aircraft bisa bekerja sama untuk mengembangkan pesawat jenis menengah, termasuk yang dipesan oleh MNA tersebut,” ujar Mustafa.

Sebelumnya, MNA pada tahun ini dipastikan mengoperasikan sebanyak 15 unit pesawat MA-60 produksi Xian Aircraft setelah rencana itu sempat tertunda sejak tahun lalu. “Kondisi keuangan Merpati hingga Mei masih cukup parah, sehingga dia menyambut baik kepastian datangnya armada baru Xian MA-60 itu, guna mempertajam penetrasi di pasar penerbangan,” kata Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo.

Adapun, saat ini jumlah armada Merpati yang aktif sebanyak sembilan unit pesawat jet (termasuk dua unit MA-60) dan delapan unit pesawat baling-baling. Mulai Juli, sebanyak tiga unit MA-60 akan datang, Agustus dan September juga tiga unit, dan pada Oktober ada empat unit.

“Untuk operasi di rute mana saja, akan kami bahas lebih lanjut. Yang jelas, salah satu cara mendongkrak kinerja Merpati adalah dengan pengadaan armada,” katanya. (mrp)


Site Meter

June 3, 2010

Indonesia-Korsel Buat Pesawat Tempur

Indonesia-Korsel Buat Pesawat Tempur
THURSDAY, JUNE 3, 2010
T/A-50 Golden Eagle buatan KAI. (Foto: DID)

03 Juni 2010, Jakarta — Tahun ini, Indonesia diharapkan bisa menandatangani perjanjian kerja sama dengan Korea Selatan untuk pembuatan pesawat tempur. Dengan demikian, Indonesia diharapkan tak akan bergantung kepada negara lain dalam hal penyediaan pesawat tempur.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Erris Herryanto, Rabu (2/6). ”Kemungkinan besar tahun ini sudah ditandatangani,” kata Erris. Kesepakatan untuk studi kelayakan ditandatangani tahun lalu.

Kementerian Pertahanan menerima hasil studi kelayakan pada Juli 2009. Dalam studi itu disebutkan, Indonesia layak untuk berpartner membuat pesawat tempur. Spesifikasi pesawat tempur dengan kode KFX ini kira-kira berada di atas F-16, tetapi di bawah spesifikasi F-35.

Menurut Erris, langkah tersebut merupakan suatu kemajuan karena tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat tempur. Apabila memiliki pabrik pesawat tempur, Indonesia tidak akan bergantung lagi kepada negara lain.

Menurut Erris, masalah komitmen dan perjanjian secara rinci tengah dibahas. Namun, tidak ada perbedaan yang mencolok. Saat ini tengah disusun redaksional perjanjian di antara kedua belah pihak. Erris belum bisa merinci beberapa hal yang tertuang dalam perjanjian itu, termasuk apa saja yang akan diperoleh Indonesia dan apa saja yang harus disediakan. ”Yang jelas, kita punya PT Dirgantara Indonesia dan tenaga ahli,” kata Erris.

Kebutuhan biaya yang diajukan sekitar 8 miliar dollar Amerika Serikat dengan jangka waktu kerja hingga tahun 2020. Pada tahun 2020 diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe. Dari keseluruhan anggaran itu, Indonesia diharapkan menanggung sebesar 20 persen. Akan tetapi, ujar Erris, belum ada kesepakatan soal keuangan tersebut.

Super Tucano

Mengenai pengadaan pengganti pesawat OV-10 Bronco, Direktur Pengadaan Direktorat Jenderal Sarana Pertahanan Marsekal Pertama Mukhtar Lubis mengatakan belum ada kepastian. Mabes TNI masih mengevaluasi masukan dari TNI AU. Menurut Mukhtar, pihaknya belum bisa memastikan bahwa pesawat yang akan dibeli adalah Super Tucano dari Brasil. ”Masih harus diteliti dulu spesifikasi dan juga prosedurnya,” katanya.

Soal Sukhoi, kata Mukhtar, pihaknya tengah mengirim sejumlah personel untuk mengikuti pelatihan. Hal itu dilakukan untuk persiapan kedatangan lagi tiga pesawat Sukhoi Su-27SKM yang diharapkan tiba pada September mendatang. ”Soal persenjataan, kita beli dengan paket yang berbeda,” kata Erris.


Site Meter

March 24, 2010

TNI Ajukan Super Tucano

TNI Ajukan Super Tucano

Rabu, 24 Maret 2010 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Markas Besar Tentara Nasional Indonesia telah mengajukan usulan pembelian pesawat Super Tucano sebagai pengganti pesawat tempur OV 10-Bronco yang habis masa pakainya.

Hal ini dikatakan Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen, Senin (22/3) di Jakarta. Setelah dikaji Dewan Penentu Kebijakan Mabes TNI, usulan itu diteruskan ke Kementerian Pertahanan untuk diproses lebih lanjut.

Super Tucano adalah opsi pertama. Di bawahnya ada dua opsi lain. ”Tinggal bagaimana nanti pemerintah, dalam hal ini eksekutif dan legislatif, memikirkan pendanaannya,” katanya.

Sagom menekankan, pesawat Super Tucano asal Brasil ini akan memiliki tugas yang sama dengan OV 10-Bronco, yaitu untuk kontra insurgensi. Spesifikasi untuk terbang rendah dengan kecepatan rendah yang dimiliki Super Tucano dianggap sesuai dengan kebutuhan akan pesawat tempur taktis. Kecepatan rendah itu berguna untuk menghadapi obyek yang berkecepatan rendah juga, misalnya kapal pencuri ikan dan perambahan hutan liar.

”Untuk patroli, kita sudah punya pesawat CN-235 dan pengintai sudah ada pesawat Boeing 737,” kata Sagom.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Bambang Samoedro mengatakan, sesuai dengan minimum essential force, TNI AU berharap, penambahan Super Tucano itu sebesar satu skuadron yang terdiri dari 12 pesawat. Kalau ada dua masalah di dua tempat terpisah di Indonesia, ada dua kelompok yang terdiri dari empat pesawat yang menghadapinya, satu kelompok dalam proses perawatan dan sekelompok lainnya untuk patroli. (edn)

February 13, 2010

Boeing Tawarkan Kerjasama Pesawat Militer

11 Februari 2010, Jakarta — Menteri Perthanan RI, Purnomo Yusgiantoro , Rabu (10/02), menerima kunjungan Presiden Boeing Int’l Corp Asia Tenggara, Mr. Ralph L Boyce, beserta pendampingnya Senior executive Director S.E. Asia Region, Richard M. Hutehinson dan Vice President Asia Pasific, Joseph H.Song di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.

Maksud kedatangan Mr. Ralph L Boyce yang merupakan matan duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia tahun 1999-2002, adalah untuk menawarkan kerjasama untuk penjualan pesawat terbang bagi kepentingan pertahanan.

Perusahaan penerbangan Boeing adalah perusahaan milik Amerika Serikat yang telah menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan pesawat internasional, termasuk salah satunya dengan PT DI. Bentuk kerjasama dengan perusahaan pembuatan pesawat terbang beberapa Negara tersebut, yaitu memberi kesempatan membuat bagian tertentu dari pesawat Boeing.

Menanggapi maksud dari kunjungan ini, Menhan RI menjelaskan bahwa Indonesia membutuhkan pesawat dengan sistem multi fungsi tidak hanya digunakan untuk tujuan perang (Strike), tetapi pesawat ini juga digunakan untuk operasi selain perang seperti contohnya adalah untuk angkutan logistik, sehingga Menhan mengharapkan agar dapat dikirimkan prototipe yang dihimpun dalam list penawaran.

Pada kesempatan ini juga Menhan saat menerima tamunya menjelaskan tentang adanya rencana pelaksanaan pameran Indo Defence pada akhir tahun 2010, untuk itu Menhan mengharapkan pihak Boeing juga dapat ikut berpartisipasi di dalam pemeran tersebut.