Posts tagged ‘Economy-bussiness’

March 26, 2011

Mahasiswa di Indonesia Cuma 4,8 Juta

Mahasiswa di Indonesia Cuma 4,8 Juta , dan kualiasnya?

Ilustrasi: Adapun bila dihitung terhadap populasi usia 19-30 tahun, angka partisipasi kasar mahasiswa baru 23 persen. Jumlah ini masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju.
SABTU, 26 MARET 2011 | 13:20 WIB
WELLINGTON, KOMPAS.com – Jumlah mahasiswa Indonesia saat ini baru 4,8 juta orang. Bila dihitung terhadap populasi penduduk berusia 19-24 tahun, maka angka partisipasi kasarnya baru 18,4 persen.

Adapun bila dihitung terhadap populasi usia 19-30 tahun, angka partisipasi kasarnya baru 23 persen. Jumlah ini masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju.

“Karena itu Indonesia menargetkan bisa mencapai angka partisipasi kasar (APK) mahasiswa 30 persen pada 2014,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh dalam sambutan tertulisnya saat Kongres Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Selandia Baru di Wellington, Selandia Baru, Sabtu (26/3/2011).

Sambutan Mendiknas tersebut dibacakan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Selandia Baru, A Agus Sriyono. Menurut Mendiknas, APK 30 persen artinya, 30 persen dari penduduk berusia 19-23 tahun bisa menikmati bangku perguruan tinggi. Ia mengatakan, dengan APK 30 persen itu kualitas bangsa akan meningkat dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih baik dari angka sekarang yang mencapai 6 persen.

“Bahkan, pada 2045 mendatang Indonesia bisa meraih pendapatan per kapita 46.900 dollar AS. Pendidikan merupakan mesin mobilitas vertikal sosial ekonomi dan budaya,” kata Nuh.

Duta Besar Agus Sriyono mengatakan, kualitas pendidikan di Selandia Baru sangat baik. Namun, jumlah pelajar dan mahasiswa yang belajar di Selandia Baru masih sedikit, baru sekitar 300 orang. Karena itu, Kedubes RI di Selandia Baru memprioritaskan pengembangan bidang pendidikan agar semakin banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di Selandia Baru, baik melalui beasiswa maupun biaya sendiri.

Tri Harijono
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/26/13202052/Mahasiswa.di.Indonesia.Cuma.4.8.Juta

Advertisements
March 25, 2011

Peringkat Investasi RI di Urutan 111

Urusan peringkat apapun kita paling bawah kecuali index korupsi

++++
Peringkat Investasi RI di Urutan 111
Editor: Erlangga Djumena
Jumat, 25 Maret 2011 | 14:51 WIB


KOMPAS/RIZA FATHONI
Perawatan Sumur Minyak Pekerja memasang scraper (perangkat pembersih pipa) di menara reparasi sumur H-25 Lapangan Tempino, sumur TPN-211 yang dikelola Pertamina EP di Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (12/1/2011).
TERKAIT:
Indonesia Tujuan Utama Investasi Jepang
RI Jajaki Investasi Migas di Timor Leste
China Garap Dua Pabrik Gula
Indonesia Bisa Tumbuh Seperti China
Proyek RI-Jepang Bisa Terganjal Tsunami
GramediaShop: Kaya Dengan Cepil
GramediaShop: Cara Cepat Jadi Agen Asuransi Hebat
JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat perminyakan, Kurtubi, mengatakan, saat ini peringkat investasi Indonesia di bidang perminyakan berada di level 111 dari sekitar 133 wilayah di seluruh dunia (All Inclusive Composite Index Word). Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh Center for Petrolium and Energy Economic Studies (CPEES) pada tahun 2010. Posisi ini sebenarnya naik dibandingkan tahun 2009 yang berada di urutan 114.

”Kondisi investasi Indonesia sangat buruk dibandingkan dengan negara regional di ASEAN,” ujarnya saat ditemui di Fraksi PPP gedung DPR, Jumat (25/3/2011).

CPEES yang melakukan survei terkait hal ini menguraikan beberapa penyebabnya. Pertama, banyaknya lembaga terkait yang melakukan korupsi. Kedua, saat investor ingin bekerja sama dengan Indonesia, investor harus melakukan kontrak dengan pemerintah, seperti dengan Kementerian BUMN. ”Inilah yang menghambat investasi di Indonesia karena masih berkonsep business to government,” katanya .

Ketiga, peraturan yang tidak mendukung. Salah satunya, yakni UU Nomor 22 Tahun 2001 yang secara garis besar menyebutkan pada saat investor ingin mencari sumber minyak, investor harus membayar pajak terlebih dahulu sebelum menemukan sumber minyak itu. ”Faktor-faktor itulah yang menghambat investor ingin berinvestasi di Indonesia,” ujar Kurtubi. Dia lantas menyarankan ke DPR agar segera merevisi UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas.

Hanya sekadar informasi, peringkat investasi Indonesia saat ini berada di bawah Malaysia, Vietnam, Thailand, juga Papua Niugini. (Mohamad Jumasri/Kontan)

March 21, 2011

Indonesia harus kerja keras capai investment grade

Dari Kontan online : http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/nasional/62174/Menkeu-Indonesia-harus-kerja-keras-capai-investment-grade
Nasional
HOME|KEBIJAKAN |

Kamis, 17 Maret 2011 | 11:18 oleh Dwi Nur Oktaviani

PERINGKAT UTANGMenkeu: Indonesia harus kerja keras capai investment grade

JAKARTA. Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengatakan pemerintah harus bekerja keras untuk bisa mencapai peringkat utang investment grade. Menurutnya, Indonesia mempunyai peluang untuk bisa mencapai level investment grade tersebut karena kondisi perekonomian cukup baik.

Agus menjelaskan, rasio utang terhadap GDP Indonesia pada 2010 lalu dibawah 26%. Selain itu, dia mengatakan, defisit anggaran pada 2010 di bawah 2% dan neraca perdagangan surplus US$ 30 miliar.

Bukan hanya itu, Agus memaparkan, Indonesia memiliki industri perbankan dan industri pasar modal yang sehat. “Kita juga punya exchange rate selama 2010 itu apresiasinya 4 sampai 6 %. Kita juga melihat masuknya dana-dana Foreign Direct Investment (FDI) mengalir,” tegas mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini usai menghadiri Fitch Rating Indonesia Credit Briefing 2011, Kamis (17/3). .

Bahkan, Agus mengatakan, gejolak harga minyak tidak berpengaruh terhadap fiskal Indonesia. “Rasanya Indonesia semakin baik,” tegasnya.

Nah, yang terpenting menurut Agus, Indonesia harus bekerja lebih baik lagi dengan menunjukan apa yang sudah direncanakan sebelumnya. “Apa-apa yang kami rencanakan bisa diimplementasikan. Bisa saja nanti ratingnya bisa menjadi lebih baik,” katanya.

Seperti diketahui, Fitch Ratings menilai peluang Indonesia untuk mendapat peringkat utang investment grade terbuka lebar dalam 12-18 bulan mendatang. Asal tahu saja, saat ini peringkat utang Indonesia masih satu notch dibawah investment grade.

+++++++++++
OUTLOOK RATING INDONESIAFitch upgrade outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif
JAKARTA. Lembaga rating internasional, Fitch Ratings, menaikkan outlook peringkat utang (sovereign rating) Indonesia. Sebelumnya, rating Indonesia yang semula BB+/stable di-upgrade menjadi BBB-/positive.

Difi Ahmad Johansyah, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia (BI) menyampaikan, perbaikan profil kredit Indonesia menjadi penentu dari upgrade atas outlook sovereign rating RI.

Difi menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dan investasi yang tinggi di Indonesia saat ini diiringi juga oleh peningkatan tabungan domestik dan kinerja neraca pembayaran, dan peningkatan cadangan devisa yang menandakan terus terjaganya stabilitas ekonomi makro. “Upgrade oleh Fitch juga merefleksikan optimisme terhadap perekonomian Indonesia,” kata Difi.

Selain itu, hasil BB+/positive ini, sekaligus memberikan kepercayaan lembaga rating terhadap kredibilitas, serta kemampuan otoritas perekonomian tanah air dalam mengatasi berbagai tantangan yang tengah dihadapi, termasuk peningkatan tekanan inflasi serta besarnya arus modal masuk (capital inflow).

Sementara, analis Fitch yang berkantor di New York Amerika Serikat menyatakan, outlook positif peringkat utang Indonesia merefleksikan probababilitas yang lebih besar bagi sovereign rating Indonesia untuk mendapatkan upgrade dalam jangka waktu 12 sampai 18 bulan ke depan.

Fitch mencatat, di 2010, perekonomian Indonesia tumbuh 6,1% setelah melambat 4,6% di 2009. Pertumbuhan ekonomi Indonesia disokong oleh permintaan domestik serta adanya kenaikan tingkat rata-rata inflasi menjadi 32,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) di 2010.

Kendati begitu, tingkat inflasi Indonesia menunjukkan adanya resiko jangka pendek terhadap prospek Indonesia. Asal tahu saja, Indeks Harga Konsumen Indonesia pada akhir 2010 melampaui target yang ditetapkan Bank Indonesia di range 4%-6%. Namun, langkah BI menaikkan suku bunga acuan memberikan sinyal keseriusan BI dalam menahan laju inflasi.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Definisi investment grade :
Investopedia explains Investment Grade
Investors should note that government bonds, or Treasuries, are not subject to credit quality ratings. These securities are considered to be of the very highest credit quality. In the case of municipal and corporate bond funds, fund company literature, such as the fund prospectus and independent investment research reports will report an “average credit quality” for the fund’s portfolio as a whole.


Investors should be aware that an agency downgrade of a company’s bonds from ‘BBB’ to ‘BB’ reclassifies its debt from investment grade to “junk” status with just a one-step drop in quality. The repercussions of such an event can be highly problematic for the issuer and can also adversely affect bond prices for investors. Safety-conscious fund investors should pay attention to a bond fund’s portfolio credit quality breakdown.

++++++++++++++++

Senin, 21/03/2011 13:31 WIB
Wow! Cadangan Devisa RI Tembus US$ 103,3 Miliar
Herdaru Purnomo – detikFinance

Foto: dok.detikFinance

Jakarta – Cadangan devisa Indonesia terus menggelembung hingga per 18 Maret 2011 telah mencapai US$ 103,3 miliar. Melonjak US$ 1 miliar dibandingkan pekan sebelumnya atau 10 Maret 2011 yang sebesar US$ 102,2 miliar.

Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Agus Sarwono kepada detikFinance di Jakarta, Senin (21/3/2011).

“Per 18 Maret 2011 cadangan devisa RI itu mencapai US$ 103,3 miliar atau setara di atas 7 bulan impor dan pembayaran utang jangka pendek pemerintah,” ujar Hartadi.

Dari sisi penempatan asing di instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada periode yang sama tercatat sebesar Rp 71,6 triliun atau mencapai 31,1% dari total SBI. “Untuk kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) per 18 Maret 2011 mencapai Rp 204,2 triliun atau 29,9% dari total SUN,” jelasnya.

Lebih jauh Hartadi mengatakan minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia masih sama walaupun belakangan terjadi teror bom yang melanda.

“Untuk ancaman bom sejauh ini tidak ada pengaruhnya, hanya krisis Libya saja yang berdampak pada pasar terutama minyak,” terangnya.

(dru/dnl)

March 21, 2011

Menanti Kelas Menengah yang Berkualitas

Menanti Kelas Menengah yang Berkualitas

SENIN, 21 MARET 2011 | 03:27 WIB
Pertambahan jumlah penduduk yang tergolong kelas menengah di Indonesia dianggap sebagian kalangan belum bermutu. Partisipasi kelas ini dalam pembangunan tidak saja diharapkan melalui kegiatan konsumsi yang menggerakkan perekonomian. Akan tetapi, lebih jauh dari itu juga diharapkan berperan sebagai agen perubahan.

Sulit memang menemukan definisi yang mampu secara tuntas menggambarkan kelas menengah. Pun, tak ada standar yang bisa diklaim sebagai batasan yang tepat untuk golongan menengah.

Sejarah di Eropa memperlihatkan, kelas menengah merujuk pada lapisan antara kaum bangsawan dan kaum petani. Peneliti dari bidang yang berbeda mendefinisikan dengan cara lain, yaitu berdasarkan pendidikan dan pekerjaan. Dalam ekonomi, biasanya para ahli menggunakan pola pendapatan atau pola pengeluaran sebagai acuan.

Pendekatan yang populer digunakan adalah penghampiran absolut, khususnya dengan batasan pengeluaran per orang sebesar 2-20 dollar AS setiap hari. Laporan yang menggunakan acuan ini, seperti yang dipublikasikan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), menunjukkan adanya peningkatan distribusi populasi kelompok menengah di negeri ini dari sekitar 25 persen pada tahun 1999 menjadi 43 persen atau sejumlah 93,3 juta jiwa pada tahun 2009.

Informasi dari Bank Dunia yang menganut batasan yang sama juga menunjukkan kenaikan signifikan golongan menengah Indonesia. Pada 2003, kelompok ini berjumlah 81 juta jiwa. Dengan adanya tujuh juta penduduk yang setiap tahunnya ”naik kelas” dari golongan miskin, lapisan tengah Indonesia menggelembung menjadi 131 juta pada 2010.

Catatan dari Badan Pusat Statistik pun menunjukkan kenaikan jumlah lapisan antara ini seiring dengan penyusutan jumlah penduduk miskin sejak 1999. Pada 2010, tercatat hanya ada 13,33 persen penduduk miskin atau setara 31,02 juta jiwa. Bandingkan dengan kondisi 1999 dengan angka kemiskinan yang mencapai 23,4 persen atau sama dengan 47,9 juta jiwa.

Sayangnya, sampai saat ini kelas menengah di Asia, termasuk Indonesia, belum punya ”gigi”. Laporan ADB dan Bank Dunia menunjukkan sekitar 70 persen warga lapisan sela di negeri ini atau 69 juta jiwa (2009) rawan jatuh kembali ke perangkap kemiskinan. Hanya sebagian kecil yang hidup di atas tingkat subsisten dan mampu menabung.

Jika kelas menengah berkualitas, ia tidak hanya memiliki posisi kuat secara ekonomi. Anggota kelas ini nantinya harus mampu mendorong terciptanya inovasi, produk murah, bahkan membuka lapangan kerja.

Selain itu, kekritisan anggota kelas ini akan melahirkan suara vokal yang menginginkan pelayanan publik yang lebih baik dan efisien. Pemikiran-pemikiran yang tajam juga akan menjadikan kelompok tengah sebagai sumber pemimpin dan aktivis yang bergerak untuk menciptakan pemerintahan dengan akuntabilitas tinggi. (RATNA SRI WIDYASTUTI/Litbang Kompas)

March 18, 2011

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan Pertama 6,5 Persen

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan Pertama 6,5 Persen
KAMIS, 17 MARET 2011 | 20:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Menteri Keuangan Agus Martowardojo memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan pertama 2011 mencapai 6,5 persen. “Kita lihat masing-masing sektor, kita lihat masing-masing pengeluaran, kemudian kita memperkirakan 6,5 persen,” ujarnya seusai rapat di Kantor Presiden, hari ini (17/3).

Pendorongnya yang paling besar ada tiga. Yakni, konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor. Belanja pemerintah tak besar sehingga tak signifikan dalam mengerek pertumbuhan ekonomi.

Ia berpendapat ekspor Indonesia masih cukup kompetitif meski rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Buktinya, pada tahun lalu, negara masih bisa mengeruk surplus US$ 30 miliar dari ekspor.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto nasional selama 2010 tumbuh 6,1 persen. Pertumbuhan ini lebih baik ketimbang 2009 yang hanya 4,5 persen.
Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 13,5 persen.


Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi di sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan yang cuma 2,9 persen. Rendahnya pertumbuhan di sektor tersebut disebabkan masalah musim paceklik.

Tingginya pertumbuhan selama 2010 menurut BPS ditopang oleh pertumbuhan triwulan keempat tahun itu yang sebesar 6,9 persen. Pertumbuhan tersebut tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

BUNGA MANGGIASIH | MUNAWWAROH

March 17, 2011

30.000 Toko eceran tutup

30.000 Toko eceran tutup
Pembelian perawatan pribadi meningkat 20%
BISNIS INDONESIA
16 Maret 2011

Jumlah to ko eceran modern dan tradisional di Indonesia turun 1,3% dari 2,55 juta pada 2009 menjadi
2,52 juta atau susut 30.000 toko pa da tahun la lu, di luar gerai tekstil,
pe nyedia ja sa makanan minum an, buah dan sayuran serta elektronik.

Pertumbuhan negatif toko eceran itu terjadi di daerah perdesa
an yang turun 5,2% dari 886.000 gerai menjadi 840.000
gerai. Penurunan disumbang dari anjloknya toko eceran tradisional
1,5% dari 2,54 juta menjadi 2,50 juta.

Namun, untuk gerai toko eceran modern, jumlahnya justru meningkat 38% dibandingkan dengan 2009. “Yakni
da ri 13.199 pa da 2009 menjadi 18.152 pada 2010,” je las Teguh Yunanto, Exe cutive Director of Re tail Measurement Service, Nielsen kepada wartawan di Ja karta, kemarin.
Menurut dia, pertumbuhan ge rai eceran
modern itu langsung memengaruhi pertumbuhan ge rai
ecer an tradisional, tetapi tidak ber arti gerai
mo dern mematikan gerai tradisional. “Karena masyarakat Indonesia memiliki karakter
yang sa ngat detail. Misalnya konsumen lebih memilih warung
un tuk pembelian sampo eceran mau pun rokok.”

Selain mengalami penurunan jumlah, gerai tradisional
juga meng alami penurunan jumlah kun jungan
dan omzet total di berbagai wilayah. Secara umum kunjungan
per hari mengalami pe nu runan dari 39 konsu –
men pa da 2009 menjadi 38 konsumen per hari pada
2010. Omzet harian tu run 8% dari 559.000 per hari
pa da 2009 menjadi 516.000 per ha ri pada 2010.

“Walaupun berkurang, tetapi jum lah kunjungan
pada pasar dan toko tradisional masih yang pa ling
ting gi, tidak perlu ada keraguan karena per be daan
yang sig nifikan,” katanya.

Data Nielsen menunjukkan 84% konsumen di pedesaan Pulau Jawa dan 54% konsumen di lima
ko ta besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) masih memilih berbelanja di gerai tradisional.
Teguh menjelaskan untuk menghindari kerugian akibat
per tumbuhan yang negatif tersebut, peritel sebaiknya mem per –
ha ti kan diferensiasi dan kenyamanan bagi konsumen untuk
me raih pa sar yang berbeda.

Saat ini, diferensiasi yang dinilai cukup berhasil adalah gerai
kos metik dan gerai semieceran, yaitu gerai yang menjual secara
eceran sekaligus juga dalam partai besar serta menjadi pemasok
ba gi peritel lain.
Gerai semieceran tumbuh 5% dari 52.500 pada 2009 menjadi
55.100 gerai pada 2010. Gerai kosmetik tumbuh lebih tinggi ka –
rena jumlahnya masih relatif kecil menjadi 6.780 pada 2010 atau
tum buh 17,3% dibandingkan 2009 dengan 5.782 gerai. (13)
(redaksi@bisnis.co.id)

March 16, 2011

Jumlah Penumpang Pesawat Tahun Ini Ditargetkan 55 Juta Orang

Jumlah Penumpang Pesawat Tahun Ini Ditargetkan 55 Juta Orang
RABU, 16 MARET 2011 | 15:40 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO/wahyu setiawan

TEMPO Interaktif, Bandung – Jumlah penumpang pesawat di Indonesia pada tahun lalu mencapai 50 juta penumpang. Pertumbuhan kenaikan penumpang pesawat antara 15-17 persen per tahun. “Tahun ini (targetnya) 55 juta penumpang,” kata Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, Ditjen Perhubungan Udara Yurlis Hasibuan di Bandung, Rabu (16/3).

Dengan pertumbuhan itu, tahun depan targetnya mencapai 60 juta sampai 65 juta penumpang.

Dari jumlah penumpang itu, paparnya hanya 3 – 4 persen merupakan pasar Service Airlines seperti Garuda. Sisanya, lanjut Yurlis, didominasi oleh Low Cost Carrier. “Termasuk pesawat kecil, kita kategorikan low cost,” katanya.

Jumlah maskapai dan penerbangan di Indonesia terhitung masih kecil dibandingkan negara lain. Dia mencontohkan, di Amerika dan Cina misalnya, jumah penerbangan bisa menembus 15 ribu hingga 20 ribu penerbangan dalam sehari. “Take off kita hanya 2.500 sehari,” katanya.

Hitungan lainnya, papar Yurlis, baru 1/5 penduduk Indonesia yang bepergian menggunakan pesawat. Sedangkan di luar negeri, setiap orang bisa naik pesawat 5 kali dalam setahun. Malaysia misalnya, dari 26 juta penduduknya, jumlah penumpangnya setahun mendekati 50 juta orang.

Menurut Yurlis, pengembangan industri penerbangan di Indonesia, terkendala distribusi kegiatan ekonomi. ”Ekonomi kita baru tumbuh,” katanya.

Saat ini hanya 53 maskapai yang beroperasi di Indonesia. Dari jumlah itu hanya 16 maskapai yang mengoperasikan layanan reguler penerbangan terjadwal dan kargo. ”Sisanya itu kecil-kecil,” katanya.

Pemerintah menargetkan kondisi itu bisa berubah dengan pemberlakuan Undang-Undang Penerbangan Nomor 1 tahun 2009. Yurlis mengatakan, setiap maskapai yang punya penerbangan terjadwal minimal harus mempunyai 10 pesawat, separuhnya harus pesawat milik sendiri dan sisanya boleh sewa. Sementara maskapai yang tidak mempunyai layanan terjadwal minimal memiliki 3 pesawat. ”Itu nanti, Januari 2012,” katanya.

AHMAD FIKRI

March 16, 2011

Kontribusi Industri Luar Jawa Meninggi Hingga 35% di 2014

Selasa, 01/03/2011 17:33 WIB

Kontribusi Industri Luar Jawa Meninggi Hingga 35% di 2014

Suhendra : detikFinance

detikcom – Jakarta, Pemerintah secara perlahan akan menggeser dominasi Pulau Jawa sebagai pusat kegiatan industri di Indonesia. Pada tahun 2014 porsi kegiatan industri di Jawa hanya akan mencapai 65% sementara luar Jawa akan menggeliat hingga 35%.

Berdasarkan bahan rapat kerja kementerian perindustrian yang dikutip detikFinance, Selasa (1/3/2011). Saat ini porsi kegiatan industri di Pulau Jawa masih mencapai 72,81% sementara luar Jawa hanya 27,19%.

Sementara itu berdasarkan target tahun 2025 saat Indonesia menjadi negara industri maju, porsi Jawa akan semakin menciut hanya menjadi 40%. Sementara kegiatan  industri di luar Jawa akan semakin mendominasi dengan porsi hingga 60%.

Mengenai kinerja industri, pada tahun 2010 lalu pertumbuhan industri mencapai 5,1% sedangkan pada tahun 2014 ditargetkan mencapai 8,95% hingga pada tahun 2025 akan mencapai 9%. Hal ini jika dilihat dari sisi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi (GDP), tahun 2010 masih mencapai 21,6% sementara tahun 2014 ditargetkan mencapai 24,21% dan tahun 2025 mencapai 29,6%.

Pada periode yang sama pada tahun 2010 tingkat kemampuan PDB perkapita Indonesia sudah mencapai US$ 2.963 per kapita, sementara tahun 2014 ditargetkan naik menjadi US$ 4.803 per kapita dan tahun 2025 menembus US$ 12.855 per kapita.

March 16, 2011

Cadangan Devisa Tembus US$ 102,2 Miliar

Cadangan Devisa Tembus US$ 102,2 Miliar
RABU, 16 MARET 2011 | 08:55 WIB
Besar Kecil Normal
Gubenur Bank Indonesia Darmin Nasution. TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO Interaktif, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution memastikan bahwa cadangan devisa negara saat ini mencapai US $ 102,2 miliar. Meningkat dari tahun lalu yang sebesar US $ 95 miliar. Hasil minyak dan gas bumi memberikan sumbangan terbesar pada cadangan devisa Indonesia sepanjang tahun 2010 sebesar US$ 19 miliar.


Sedangkan, cadangan devisa naik sekitar US$ 29 miliar sejak Desember 2009 lalu, dari US$ 66 miliar ke US$ 95 miliar. Kenaikan tersebut bukan semata dari derasnya aliran dana asing (capital inflow). “Tapi dari sumbangan minyak dan gas serta intervensi bank sentral,” kata Darmin Nasution saat memberikan pidato di rapat koordinasi Tim Pengendali inflasi Daerah II di Hotel Borobudur, Rabu (16/3).

Tren cadangan devisa cenderung terus meningkat. Pada Mei 2010 cadangan devisa dilaporkan naik US$ 6,8 miliar. Hingga akhir April 2010 cadangan devisa US$ 78,6 miliar, atau meningkat 9,4 persen dibandingkan dengan akhir 2010 di US$ 71,8 miliar. Pada akhir November 2010 cadangan devisa dilaporkan US$ 91,8 miliar

March 11, 2011

Capital Inflow ke RI Bisa Capai US$15 Miliar

Capital Inflow ke RI Bisa Capai US$15 Miliar
11 Mar 2011
Ekonomi Media Indonesia
Capital Inflow ke RI Bisa Capai US$15 Miliar

BANK Indonesia (BI) melihat ketidakpastian ekonomi global pada 2011 masih lebih tinggi daripada 2010. Namun, tren arus masuk modal asing (capital inflow) tahun ini masih lebih besar ketimbang tahun lalu.

Menurut Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo di Nusa Dua, Bali, kemarin, selisih suku bunga dengan negara maju yang relatif besar masih menjadi pendorong capital infloiu ke negara berkembang. The Institute of International Finance (HF) memperkirakan akan ada capital inflow US$800 miliar menuju emerging market di tahun ini. Separuh di antaranya mengarah ke Asia. “Untuk Indonesia masih relatif besar sekitar US$13 miliar-US$15 miliar. Prediksi HF, tahun lalu sekitar US$16 miliar.” (*/E-3)