Posts tagged ‘Food’

October 23, 2010

Impor Beras dari Vietnam, RI Memalukan

Pasti krn ada fee / komisi dr importir. KPK hrs periksa Bulog..
++++

Detik.comSabtu, 23/10/2010 13:54 WIB

Impor Beras dari Vietnam, RI Memalukan

Wahyu Daniel : detikFinance

detikcom – Jakarta, Pemerintah memutuskan untuk kembali melakukan impor beras sebanyak 300 ribu ton dari Vietnam. Namun sebagai salah satu negara produsen beras, memalukan jika Indonesia masih harus terus mengimpor beras.

Hal ini dismapaikan oleh Anggota Komisi IV Rofi Munawar dalam siaran pers kepada detikFinance, Sabtu (23/10/2010).

“Ironis memang ketika Angka Ramalan II BPS memperkirakan produksi padi mencapai 65,15 juta ton atau setara dengan 38,3 juta ton beras. Kebutuhan nasional untuk tahun 2010 mencapai 32,7 juta ton bisa diartikan ada surplus 5,6 juta ton, alur logika inilah yang tidak nyambung ketika produksi beras nasional surplus namun impor tetap dilakukan,” tuturnya.

Menurut Rofi, Bulog seakan tidak bekerja serius, padahal Inpres No. 07 Tahun 2009 memberikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) maksimal di tahun 2010 pada angka Rp 5.060, dengan HPP itu seharusnya Bulog dapat berkompetisi secara lebih progresif guna menjemput beras dari petani.

“Harus ada evaluasi yang sangat besar dan mendasar kepada kinerja Perum Bulog sebagai pelaksana program subsidi pangan, bukan tidak mungkin anggaran serta fungsi yang selama ini di jalankan oleh Bulog secara bertahap dipindahkan kepada BUMN lain yang memungkinkan memiliki performance kerja yang lebih baik,” kata Rofi.

Ancaman terhadap adanya permainan jual beli yang bisa menjatuhkan harga beras nasional perlu diwaspadai, apalagi Kementerian Perdagangan dan Bulog sangat fleksibel dan tidak memberikan kuota maksimal terhadap berapa besaran impor beras yang akan dilakukan, hal ini bisa menyebabkan overstock.

Advertisements
Tags:
October 6, 2010

Impor produk pangan naik 28%

Malaysia pemasok produk impor terbesar
Impor produk pangan naik 28%
Bisnis Senin, 04/10/2010 11:56:57 WIB
Oleh: Dwi Wahyuni & Maria Y. Benyamin
JAKARTA: Impor produk makanan dan minuman sepanjang Januari-Agustus mencapai US$137,6 juta, meningkat 28,13% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Produk yang mengalami lonjakan impor di antaranya saus dan olahannya, campuran bumbu dan campuran bahan penyedap, tepung moster dan tepung kasar moster, serta moster olahan, permen, hingga produk serealia.

Malaysia menjadi pemasok produk makanan dan minuman impor terbesar dengan nilai impor mencapai US$23,8 juta atau 17,36% dari total produk pangan yang masuk Indonesia.

Sementara itu, China menempati posisi kedua dengan impor mencapai US$20,4 juta atau 14,85%, disusul Thailand sebesar US$18,9 juta atau 13,78%.

“Produk makanan dan minuman impor terbesar berasal dari Malaysia, bukan China,” kata Ketua Bidang Regulasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Franky M. Sibarani, pekan lalu.

Impor makanan dan minuman ini dilakukan oleh 599 pemilik status importir terdaftar (IT) produk tertentu makanan dan minuman. Pemerintah memang menerbitkan 774 importir terdaftar, tetapi 175 importir terdaftar telah dicabut izinnya.

“Itu [evaluasi] bagian dari pengawasan impor. Kami ingin agar yang melakukan kegiatan importasi ini adalah importir terdaftar. Ini sebagaimana yang diatur dalam Permendag No.56/M-DAG/PER/12/2008 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu,” kata Franky.

Permendag No.56/2008 mengatur impor lima produk tertentu, yang kemudian disempurnakan dalam Permendag No.23/M-DAG/PER/5/2009 tentang impor lima produk tertentu, ditambah dua produk lainnya yakni jamu dan kosmetik.

Melalui permendag tersebut, pemerintah memperketat pengawasan terhadap masuknya produk tertentu melalui pelabuhan laut dan udara yang ditentukan, untuk mencegah banjir produk ilegal.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah mulai 1 Oktober 2010 mewajibkan pencantuman label berbahasa Indonesia pada produk selain pangan dan obat-obatan. “Sosialisasinya sudah cukup lama.”

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim mengancam menjatuhkan sanksi kepada perusahaan yang masih memakai bahasa asing pada produk impor, terkait dengan Permendag No. 62/M-DAG/PER/12/ 2009 jo No. 22/M-DAG/PER/5/2010.

“Sanksi tidak hanya dijatuhkan pada produk impor, karena yang wajib menggunakan label bahasa Indonesia adalah semua produk,” ujar Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Jatim Arifin T Hariadi.

Sanksi akan diberlakukan bertahap, dimulai dari pemanggilan terhadap importir, peringatan keras, hingga pencabutan izin usaha.

Franky menilai sejauh ini permendag itu cukup efektif menahan lonjakan arus impor. Namun, dia mengharapkan pengawasan tersebut harus ditingkatkan lagi sehingga produk dalam negeri terlindungi.

Ekspor nonmigas

Secara keseluruhan, arus masuk barang nonmigas pada Agustus turun 4,79% dibandingkan dengan angka bulan sebelumnya menjadi US$10,01 miliar.

Akan tetapi, secara kumulatif selama Januari-Agustus, impor nonmigas melonjak 43,56% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu menjadi US$70,35 miliar.

China masih mengukuhkan diri sebagai negara pemasok nonmigas terbesar senilai US$12,89 miliar atau memangsa pasar 18,32%. Adapun impor dari negara-negara Asean mencapai 22,42%.

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan mengatakan semua golongan barang mengalami kenaikan impor, di mana impor barang konsumsi naik 52,37%, bahan baku/penolong naik 51,25%, dan barang modal naik 31,20%. “Peran terbesar masih didominasi oleh bahan baku/penolong 72,7%, disusul barang modal 19,84%.”

Sementara itu, ekspor nonmigas selama Januari-Agustus 2010 mencapai US$81,73 miliar atau meningkat 36,25% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Khusus pada Agustus, ekspor meningkat 32,35% menjadi US$11,77 miliar.

Kenaikan itu disokong oleh batu bara dan minyak sawit yang mengalami kenaikan harga.(er)

Tags:
September 24, 2010

Panen muda, kualitas rumput laut Indonesia tak seragam

Kontan Online Jumat, 24 September 2010 | 10:26 oleh Raka Mahesa W INDUSTRI RUMPUT LAUT

Panen muda, kualitas rumput laut Indonesia tak seragam
JAKARTA. Importir rumput laut China masih mengeluhkan kualitas rumput laut Indonesia yang tak seragam. Mereka bilang, rumput laut Indonesia masih banyak yang dipanen terlalu muda.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Ketua Komisi Rumput Laut Indonesia Farid Ma’ruf tak menampik hal ini. Selama ini masih banyak pembudidaya rumput laut tidak terintegrasi dengan para eksportir. Dus, saat eksportir sudah meneken kontrak dengan China dan tak mampu memenuhi kuotanya, mereka akan mencari tambalan beragam sumber, termasuk yang belum siap panen.

Sebab itu, daya tawar Indonesia di China masih lemah. “Kalau kualitas kita sudah terintegrasi maka kita punya bergaining power untuk menentukan harga,” katanya.

Menurut Farid, untuk mengatasi masalah kualitas ini, harus ada sistem cluster yang terintegrasi mulai dari pembudidaya hingga ekportir. Dus, semua proses dapat terkontrol dengan baik.

KKP pun tak tinggal diam. KKP berupaya untuk meningkatkan pembinaan kepada pembudidaya melalui Dinas Kelautan dan Perikanan di daerah.

Tahun ini tak kurang dari 12 kluster rumput laut telah dikembangakan oleh KKP dari 60 luster yang ditargetkan semula. Di antaranya di Sumenep, Gorontalo, Pangkel, Dompu, Serang, Kepulauan Riau, Minahasa, Parigi Mountong, Polewalimandar, dan Bau Bau.

Sementara produksi rumput laut dipatok mencapai 7,6 juta ton pada tahun 2015; naik dari produksi rata-rata saat ini 2,6 juta ton per tahun. Untuk menggenjot produksi rumput laut ini, KKP memanfaatkan 4,5 juta hektare laut untuk digunakan sebagai lahan budidaya.

Tags:
September 3, 2010

Ekspansi Wilmar & lanskap pergulaan nasional

Jadi solusinya adalah jual pabrik gula BUMN yang tidak efisien
++++
Bisnis Indonesia Jumat, 03/09/2010 08:45:52 WIB
Ekspansi Wilmar & lanskap pergulaan nasional
Oleh: Bastanul Siregar

Awal Juli lalu, raksasa komoditas global yang berbasis di Singapura, Wilmar International Ltd, melalui anak usahanya Wilmar Australia Pty Ltd, mencaplok 100% saham Sucrogen Ltd, Australia yang dimiliki CSR Ltd senilai US$1,47 miliar atau Rp13,2 triliun.

Akuisisi itu dengan sendirinya menandai masuknya Wilmar ke bisnis gula terutama di Asia dan Australia, secara lebih agresif. Maklum dalam 3 tahun terakhir ini Wilmar terlihat lebih memfokuskan ekspansinya ke bisnis minyak kelapa sawit mentah dan produk turunannya.

Di Indonesia, nama Sucrogen memang tak populer. Dia bukan ‘samurai gula’. Namun, Sucrogen adalah pemain gula terbesar kelima dunia yang menjalankan bisnis gula dengan nyaris seluruh mata rantai produk turunannya. Prototipe inilah yang absen di Indonesia.

Di lini pertama yakni gula mentah (raw sugar), Sucrogen melalui anak usahanya Queensland Sugar Ltd, adalah yang terbesar di Australia dengan tujuh pabrik berkapasitas 2,1 juta metrik ton per tahun. Queensland Sugar juga pemimpin pasar ekspor gula mentah di Asia.

Rantai berikutnya adalah gula rafinasi (refined sugar), di mana Sucrogen menjadi produsen terbesar di Australia dengan tiga unit pabrik berkapasitas 970.000 metrik ton per tahun. Gula rafinasi Sucrogen yang bermerek CSR dan Chelsea dijual di pasar domestik dan diekspor.

Selain dua merek itu, melalui perusahaan patungannya dengan Mackay Sugar Ltd, Sucrogen juga memiliki hak eksklusif distribusi pemanis buatan dengan merek Equal. Wilayah pasarnya terbentang di seluruh daratan Australia dan Selandia Baru.

Di luar itu, perusahaan yang terdaftar di negara bagian Queensland ini, merupakan pemasok terbesar untuk produk turunan yang lain, ethanol. Untuk bioethanol, Sucrogen merupakan produsen terbesar kedua di Australia.

Bioetanol produksi Sucrogen yang berasal dari ampas tebu itu juga menghasilkan listrik sebanyak 171 megawatt, melebihi kebutuhan total 10 unit pabriknya. Sucrogen menjual surplus listriknya itu ke pemerintah negara bagian Queensland.

Bagi para pemain gula di Indonesia, selain bahwa transaksi itu merupakan yang terbesar dalam industri gula global sepanjang tahun ini, sebetulnya tidak ada yang mengejutkan dari akuisisi Sucrogen. Wilmar toh bukan pemain baru di bisnis gula.

Waktu eksekusinya juga tepat, karena sesuai dengan siklus musim. Pada tengah tahun itu, harga gula internasional mulai menurun, ke level US$500-an per ton untuk gula mentah dan US$560-an per ton untuk gula rafinasi, menyusul masuknya masa panen Brasil.

Apalagi, sejak tahun lalu, rumor bahwa perusahaan yang didirikan duo taipan William Kuok (Malaysia) dan Martua Sitorus (Indonesia) itu berencana mengembangkan perkebunan tebu dan membangun pabrik gula di Merauke sudah bertiup ke Jakarta.

Wajar apabila dalam mengintegrasikan bisnis gulanya, Wilmar mencaplok Sucrogen, setelah sebelumnya mengumumkan rencana membuka 200.000 hektare lahan dan membangun pabrik gula berkapasitas 8.000 ton per hari di Merauke pada 2011 dan ditargetkan beroperasi 2013.

Skenario besar

Yang mengejutkan dari aksi korporasi tersebut tak lain adalah langkah Wilmar berikutnya. Hanya beberapa pekan setelah akuisisi itu, pada akhir Agustus lalu, melalui anak usahanya Wealth Anchor Pte Ltd, Wilmar mencaplok 100% saham PT Jawamanis Rafinasi.

Bersamaan dengan itu, Wilmar juga mencaplok satu broker gula di Singapura, Windsor & Brook Trading. Transaksinya ditargetkan rampung akhir tahun ini. Windsor, meski perannya tak terlalu dominan, juga tercatat sebagai salah satu pedagang yang masuk ke Indonesia.

Sayang, kecuali menyebutkan akuisisi Jawamanis diharapkan rampung kuartal IV/2010 karena menunggu sejumlah persyaratan legal formal, Wilmar tak menginformasikan nilainya. Namun, seorang pelaku pasar gula nasional menyebutkan, nilainya sekitar US$300 juta.

Jawamanis adalah salah salah satu dari empat produsen gula rafinasi terbesar yang berlokasi di Cilegon, Banten. Perusahaan tertutup modal asing ini memiliki lisensi produksi hingga 1.600 ton per hari. Saat ini, produksinya baru 1.000 ton per hari.

Gula rafinasi Jawamanis, sesuai dengan peraturan, tidak diedarkan ke konsumen akhir, tetapi dilemparkan ke pasar industri. Pelanggannya perusahaan farmasi serta produsen makanan dan minuman domestik atau multinanasional.

Perlu diingat, Indonesia adalah satu-satunya negara yang membedakan pengertian gula rafinasi dengan refined sugar. Rumusan yang diikuti pembedaan nomor HS produk itu termasuk peruntukan pasarnya. Tujuannya untuk melindungi petani dari fluktuasi harga.

Sekitar 2 bulan sebelum akuisisi tersebut, Wilmar meneken kesepakatan pembentukan perusahaan patungan dengan Elevance Renewable Sciences Inc (Inggris). Perusahaan itu akan membangun fasilitas biorefinery yang berskala global di Surabaya, Jawa Timur.

Sekadar informasi, Wilmar yang paruh pertama lalu membukukan laba bersih US$745,9 miliar, tengah membangun kompleks pabrik terintegrasi di Surabaya senilai Rp5 triliun. Di kompleks itulah nanti instalasi biorefinery tersebut akan dipasang.

Dalam kerja sama joint venture itu sendiri, Elevance menyediakan teknologi biorefinery yang menghasilkan produk oleokimia dan biofuel dengan performa kimiawi bernilai tinggi seperti antimikrobia, pelumas, surfactant, serta biodiesel dan bahan bakar jet terbarukan.

Menurut rencana, kapasitas awal biorefinery itu 180 kMT atau sekitar 400 juta pon, dan kelak akan ditingkatkan menjadi 360 kMT atau setara 800 juta pon. Fasilitas itu dibangun 2011, dan akan menyerap berbagai produk nabati seperti sawit, kedele, jarak, dan tentu saja, tebu.

Akuisisi Jawamanis, yang diikuti Windsor, juga proyek biorefinery di Surabaya yang disusul pembelian Sucrogen, dengan sendirinya merangkai skenario besar Wilmar dalam menggarap bisnis gula di Indonesia. Sebuah langkah awal yang paling mudah ditebak.

“Akuisisi Jawamanis adalah bagian dari rencana integral Wilmar untuk membangun masa depan bisnis gula di Indonesia. [Jawamanis] sekaligus menjadi unit pengolah dan distributor terkait dengan rencana proyek kami di Papua,” demikian pernyataan resmi Wilmar.

Sampai di sini, kita tahu, dibandingkan dengan grup lain seperti Salim, Bakrie, Rajawali, atau BUMN, Wilmar yang didukung lebih dari 300 unit bisnis dan jaringan distribusi di lebih dari 50 negara adalah korporasi yang paling siap menjemput masa depan bisnis gula Indonesia.

Karena itu, pertanyaannya di sini, apakah kehadiran Wilmar di kancah pergulaan nasional kelak mengubah lanskap oligopoli perdagangan gula petani (white sugar plantation) yang berpijak pada inefisiensi, ilusi produktivitas, serta paradoks harga gula internasional?

Ilusi produktivitas

Sebelum terlalu jauh, mungkin baik apabila pokok menyangkut inefisiensi, ilusi, dan paradoks tersebut dielaborasi terlebih dahulu. Perlu segera ditambahkan, white sugar plantation adalah definisi pemerintah untuk gula konsumsi publik seperti halnya refined sugar di luar negeri.

Harus diakui, meski tak bisa dikatakan signifikan, kebijakan tata niaga gula yang diluncurkan 8 tahun silam memang mendongkrak produksi gula pabrik BUMN. Kali pertama kebijakan itu diluncurkan, produksi gula baru 1,8 juta ton, dan kini sudah 2,2 juta ton.

Namun, prestasi itu berpijak pada insentif harga, baik melalui pematokan harga terendah maupun larangan impor saat panen. Pijakan lain yang justru inti pengembangan kebun dan produksi gula, yakni reorganisasi tanam dan revitalisasi pabrik, tidak mendapat tempat.

Yang terjadi kemudian adalah kian ketatnya kompetisi lahan kering. Peningkatan produksi gula yang berhasil dicapai itu akhirnya lebih didorong oleh perluasan areal lahan tebu, yang otomatis menurunkan luas area tanaman kering lain, terutama padi.

Tentu saja itu tidak salah. Namun, situasi inilah yang menjelaskan kenapa dalam rezim tata niaga gula, tingkat rendemen atau kadar gula dalam tebu masih berfluktuasi ±1% di level 6%-8%, sementara produksi white sugar plantation justru naik 15%-20%.

Absennya perbaikan reorganisasi tanam dan revitalisasi di pabrik gula BUMN itu pula yang ikut menyebabkan kenapa dari tahun ke tahun biaya produksi pabrik BUMN terus meningkat, bahkan nyaris 100% lebih tinggi dari pabrik swasta seperti Sugar Group Companies.

Sementara itu, pabrik gula swasta dapat menjaga biaya produksinya di level rendah hingga terus mengakumulasi laba, karena atas nama kebijakan tata niaga, pabrik swasta bisa menjual gulanya pada harga tinggi sesuai dengan harga yang dibentuk inefisiensi pabrik BUMN.

Di sisi lain, insentif harga dari tata niaga yang ongkosnya ditalangi sepenuhnya oleh para pedagang gula di rantai pertama-karena pemerintah tak mau menyubsidi-mengakibatkan struktur perdagangan gula nasional menjadi oligopolis alias miskin koreksi.

Sebaliknya, manajemen pabrik gula BUMN yang bekerja sama dengan para ‘samurai gula’, beroleh lisensi impor gula dan menikmati marginnya tanpa harus banyak kerja. Pemerintah, di ujung sana, bisa duduk tenang karena petani tidak ribut dan produktivitasnya tidak menurun.

Struktur yang dibentuk lingkaran inilah yang akhirnya menjelaskan paradoks kenaikan harga gula internasional sebagai faktor pengerek harga gula dalam negeri. Sebab faktanya saat harga gula internasional turun seperti sekarang, harga gula dalam negeri tetap saja tinggi.

Kebijakan tata niaga gula, singkatnya, adalah solusi ad hoc praktis yang menguntungkan petani, pabrik BUMN, pedagang, dan pemerintah-di tengah kegamangan mengambil risiko untuk memutuskan kebijakan pergulaan yang langsung menusuk ke inti persoalan.

Dalam lanskap seperti ini-ketika pokok menyangkut reorganisasi tanam dan revitalisasi pabrik tidak diselesaikan dan struktur oligopoli perdagangan gula masih dipertahankan-apa yang bisa dimainkan Wilmar? Ada tentu, meski mungkin tidak banyak.

Wilmar, Salim, Bakrie, atau Rajawali, niscaya tidak berbeda dengan Sugar Group. Mereka akan cenderung untuk mengambil jarak dengan hiruk pikuk tata niaga, dan memilih sibuk menimbun laba. Mereka hanya akan memperbanyak contoh naifnya policy pergulaan kita. (bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Tags:
August 31, 2010

Batan: Indonesia Sudah Bisa Swasembada Kedelai

Batan: Indonesia Sudah Bisa Swasembada Kedelai
Jakarta | Tue 31 Aug 2010 23:15:47
MASALAH defisit komoditi kedelai yang dialami Indonesia saat ini diyakini bukan disebabkan oleh teknologi produksi kedelai yang belum dikuasai.
Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, Taswanda Taryo, misalnya, menyatakan saat ini Indonesia telah menguasai teknologi yang memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional.
“Bukannya kita belum kuasai teknologinya. Teknologi sudah ada. Kita siap misalnya produksi kita digenjot sampai setara dengan kebutuhan. Hanya saja kan masalahnya tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah,” ujarnya, di Gedung Pertemuan Pusat Aplikasi Teknologi Isotop da Radiasi (PATIR) Batan, Pasar Jumat-Ciputat, Jakarta, Selasa (31/8).
Salah satu hal yang cukup menjadi pertimbangan Kementerian Pertanian (Kementan) sejauh ini, menurut Taswanda, adalah tingginya biaya investasi untuk budidaya kedelai varietas unggul yang memungkinkan produksi ditingkatkan.
Hingga saat ini, produksi kedelai nasional hanya mampu mencapai 1 juta ton per tahun.Sedangkan kebutuhan konsumsi kedelai dalam negeri diperkirakan mencapai 2 juta ton lebih per tahun. “Celah kekurangan tersebut harusnya sudah bisa diisi dengan adanya varietas baru kita, yaitu Kedalai Mutiara 1. Bila varietas lama potensi hasilnya hanya rata-rata 1,5 ton per hektare, varietas baru ini mampu mencapai 4,1 ton per hektare. Jadi harusnya celah kebutuhan tersebut bisa tertutupi,” jelasnya.
Keuntungan lain dari varietas baru, lanjut Taswanda, masa panen yang relatif lebih cepat dibanding varietas lama. Dengan keuntungan tersebut, harusnya hambatan tentang besarnya biaya investasi yang dibutuhkan untuk upaya budidaya varietas baru harusnya dengan sendirinya bisa teratasi.
“Dengan proses produksi yang cepat, otomatis factor ekonomi kan juga diuntungkan. Jadi walau pun memang biaya investasinya tinggi, namun harusnya bisa tertutupi dengan keuntungan ekonomi tersebut. Tapi ini versi kami yang hanya peneliti. Sedang pemerintah kan pertimbangannya pasti lebih kompleks,” tegasnya.
Dengan telah dikuasainya teknologi yang memungkinkan kemampuan produksi kedelai nasional diperbesar, TAswanda ebrharap Indonesia tidak lagi tergantung pada produk kedelai impor yang selama ini didatangkan dari Amerika. Sebagai negara agraris, banyak pihak menilai sudah seharusnya Indonesia bsia berswasembada kedelai dan tidak lagi tergantung pada produk impor.

Tags:
August 27, 2010

Harga Beras RI Termahal di Dunia

Jumat, 27/08/2010 13:26 WIB
Harga Beras RI Termahal di Dunia
Suhendra – detikFinance

Jakarta – Gejolak harga beras di pasar dalam negeri yang terjadi belakangan ini perlahan-lahan telah menempatkan harga beras Indonesia tertinggi dari negara-negara produsen beras dunia lainnya seperti Vietnam maupun Thailand.

Padahal tahun 2009 lalu ketiga harga beras dunia bergejolak justru harga beras di dalam negeri sangat stabil tak terpengaruh gejolak harga.

Direktur Utama PT Alam Makmur Sembada Ayong Suherman Dinata yang merupakan salah satu pedagang beras terbesar, mengatakan harga beras Indonesia untuk jenis medium sudah lebih tinggi 50-60% dari harga beras Vietnam dan Thailand.

“Harga beras Vietnam US$ 380 per metrik ton kalau sudah sampai di Indonesia hanya Rp 4.000 per kg, harga beras disini sudah Rp 6.000-7.000 per kg,” kata Ayong saat dihubungi detikFinance, Jumat (27/8/2010).

Ayong menuturkan tren posisi harga beras Indonesia diatas harga beras dunia sudah mulai terjadi sejak dua bulan lalu. Ia pun tak bisa memastikan sampai kapan harga beras di dalam negeri tetap tinggi.

“Penyebabnya karena cuaca tak bersahabat, panen mundur, tidak cukup matahari, hama makin mengganas, produksi turun, ya harga naik,” katanya.

Sehingga kata dia kenaikan harga beras di dalam negeri saat ini tidak terlepas dari faktor permintaan dan penawaran. Tudingan adanya permainan pasar terutama para pedagang, menurutnya hal itu tak benar.

“Kita tertinggi dibandingkan dengan negara-negara produsen beras di dunia, kecuali Jepang (premium),” katanya.

July 28, 2010

Industri Terigu Tak Permasalahkan Pengembangan Sorgum

Industri Terigu Tak Permasalahkan Pengembangan Sorgum

Kontanonline
JAKARTA. Industri terigu domestik tak mempermasalahkan langkah pemerintah untuk mengembangkan sorgum sebagai sunstitusi gandum.

Wakil Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk., induk usaha Bogasari Franciscus Welirang mengungkapkan, pihaknya siap-siap saja kalau memang produksinya mencukupi dan sudah ada spesifikasi sorgum yang tepat untuk bahan panganan.

“Pemerintah harus membuat dulu standar spesifikasinya, mana yang food grade, mana yang industrial grade dan mana yang cocok untuk pakan ternak, jangan disamakan, kalau itu sudah terbentuk dan volumenya besar, kita siap menyarap,” tandasnya.

Sorgum merupakan tanaman serelia atau biji-bijian yang biasa digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industri. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO) sorgum berada di urutan ke lima sebagai bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi di dunia setelah gandum, padi, jagung dan barley.

Selama ini, Indonesia mengimpor gandum sedikitnya 5 juta ton saban tahun. Dari 5 juta ton itu, sebanyak 4,5 juta ton diimpor oleh perusahaan pengolah (dari gandum ke terigu) dan sisanya, 500.000 ton diimpor langsung oleh produsen mie di Indonesia.

Tags:
July 28, 2010

Sagu Jadi Cadangan Pangan

Sagu Jadi Cadangan Pangan
Rabu, 28 Juli 2010 19:45 WIB | Ekonomi & Bisnis | Makro | Dibaca 260 kali
Ambon (ANTARA News) – Sagu berpotensi menjadi cadangan pangan di Maluku karena memiliki nilai karbohidrat cukup tinggi dibandingkan beras, demikian Menteri Pertanian Suswono, di Ambon, Rabu.

“Sagu sebagai pangan lokal sumber karbohidrat ini perlu dikembangkan karena Maluku mempunyai potensi sagu cukup besar,” kata Suswono.

Menurutny, Maluku yang sejak dulu dikenal penghasil sagu harus diperkuat kembali statusnya itu karena ke depan persoalan pangan menjadi masalah yang sangat pelik.

“Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah perubahan iklim, karena itu kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya beras menjadi pangan pokok untuk dikonsumsi,” katanya.

Saat ini Maluku memiliki sekitar 3,1 juta pohon sagu di tujuh kabupaten dan kota dengan tingkat produktivitas rata-rata 25 ton per hektar per tahun, sedangkan masa panennya sepuluh tahun setelah ditanam.

“Dengan produktivitas yang cukup tinggi serta potensi besar, sagu sangat berpotensi menjadi cadangan pangan di Provinsi ini,” katanya.(*)

Tags:
July 10, 2010

IPB Rintis Pakan Ikan Mandiri

IPB Rintis Pakan Ikan Mandiri
Bogor | Fri 09 Jul 2010 23:45:00
LEMBAGA Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor akan membantu petani untuk merintis pembuatan pakan ikan gurami secara mandiri, khususnya di desa sekitar kampus perguruan tinggi ini.
Wakil Kepala Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM-IPB) Bidang Pengabdian Masyarakat Dr Ir Prastowo, di Bogor, Jumat (9/7), menjelaskan upaya itu dilakukan untuk merespon keluhan petani ikan gurami, karena sering terjadi kelangkaan pakan ikan tersebut.
Ia mengatakan pada kegiatan Jumat keliling (Jumling) di Desa Dramaga, di rumah ketua kelompok tani Nugraha di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, seorang petani ikan gurami, Ading menyampaikan keluhannya bahwa pakan ikan di desanya langka. Akibat kelangkaan tersebut, kata dia, menyebabkan produktivitas petani menurun.
Menurut dia, banyak orang mengakui ikan gurami dari Bogor memiliki kualitas istimewa dibandingkan dengan ikan dari Lampung maupun Purwakarta (Jabar).
“Kualitas kita nomor satu, namun sayang semakin hari ketersediaan pakan semakin langka. Hal ini yang menyebabkan produktivitas kami menurun,” kata Ading.
Ia juga mengatakan pada 1997 produktivitas petani ikan di Darmaga bisa menghasilkan 500-700 kilogram (kg) per hari, dan sebulan bisa mencapai 20 ton.
Namun, kata dia, lain dulu lain sekarang, karena langkanya pasokan pakan, produktivitas mereka menurun, dan bahkan berpengaruh kepada harga jual.
“Jika dulu kita bisa bersaing harga dengan Lampung dan Purwakarta, sekarang tidak. Kita sekarang bisa menjual dengan harga Rp22.000 per kg, namun kalah dalam persaingan harga dengan Lampung dan Purwakarta yang bisa menjual hanya Rp18.000 per kg,” katanya.
Menanggapi masalah itu, Prastowo mengatakan persediaan pakan ikan gurami di Desa Dramaga akan diprioritaskan. “Sekecil apa pun produksinya, akan kita rintis untuk menjadi mandiri dalam pakan ikan,” katanya, di depan para petani yang juga dihadiri Kepala Desa Dramaga Yayat Supriatna, dan Sekretaris Camat Dramaga Suma.

Tags:
June 15, 2010

Panen Padi Banyak Gagal

Panen Padi Banyak Gagal
Penggilingan Padi Berhenti Beroperasi
Selasa, 15 Juni 2010 | 04:51 WIB

Jakarta, Kompas – Panen padi tahap kedua pada tahun 2010 tidak menggembirakan. Biasanya pada panen kedua kualitas beras selalu bagus, tetapi sekarang ini kurang bagus. Bulir beras banyak yang menguning, bahkan terdapat sejumlah noda hitam pada bulir-bulir beras.

Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir, Senin (14/6) di Jakarta, kualitas gabah yang kurang baik pada panen kali ini tidak semata karena gangguan iklim yang ekstrem, tetapi juga karena serangan wereng coklat, penggerek batang, dan hama tikus.

”Buruknya musim tanam padi kali ini terjadi merata dan nasional. Diperkirakan berdampak penurunan produksi padi 5-8 persen,” katanya. Produksi gabah kering giling Indonesia tahun 2010 diperkirakan 64,9 juta ton.

Harus ada upaya khusus yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi terus meluasnya serangan hama penyakit, baik berbentuk wereng coklat, penggerek batang, maupun hama tikus.

Tikus memakan tanaman padi muda sehingga terlambat pertumbuhannya dan membuat panen tidak merata. Adapun wereng coklat dan penggerek batang mengakibatkan gagal panen.

Penggilingan berhenti

Pengusaha penggilingan beras di Tegal, Jawa Tengah, Tan Ing Djie, saat dihubungi di Tegal memutuskan untuk menghentikan produksi beras karena kualitas gabah buruk. Ing Djie bahkan tidak membeli gabah untuk sementara waktu.

”Maunya terus berproduksi, tapi kualitas gabah kurang baik,” katanya. Kadar rendemen gabah kering panen saat ini hanya 40-42 persen. Biasanya pada musim panen seperti ini rendemen beras bisa 58-60 persen.

”Dengan kata lain, untuk tiap 60 kilogram beras terjadi kehilangan hasil 15-20 kilogram karena gabah rusak dan banyak yang hampa,” katanya. Biasanya Ing Djie membeli gabah 150-200 ton per hari, tetapi sekarang hanya membeli 15-20 ton.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Pengusaha Beras dan Penggilingan Padi Jakarta Nellys Sukidi juga menyatakan produksi beras kualitas bagus dengan kadar patahan maksimal 10 persen berkurang.

Nellys menyatakan, gangguan iklim dan hama mengakibatkan kualitas beras bagus turun dan memenuhi pasar beras kualitas medium. Akibatnya, pasokan beras kualitas medium naik, sementara kualitas bagus merosot.

Indikasinya harga beras kualitas bagus mulai naik senilai Rp 200-Rp 300 per kg menjadi sekitar Rp 6.800 per kg.

Pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Billy Haryanto, mengungkapkan, beras kualitas bagus menjadi rebutan. Biasanya harga beras dengan kadar patahan maksimal 10 persen sekitar Rp 6.000 per kg atau Rp 500 lebih mahal dari harga pembelian pemerintah (HPP) beras. ”Yang terjadi sekarang harga beras kualitas yang sama Rp 7.000 per kg, itu pun barangnya terbatas karena jadi rebutan,” katanya. Billy biasa mengambil beras kualitas bagus 200 ton per hari, tapi kini hanya Rp 100 ton.

Billy meminta Kementerian Pertanian agar tidak berpangku tangan. Harus ada langkah tertentu menyelamatkan hasil panen petani. Harga sekarang bagus, tetapi kondisi seperti ini rawan fluktuasi harga.

Winarno meminta pemerintah memberikan subsidi obat-obatan dalam memerangi hama penyakit secara serentak. Melawan serangan hama penyakit tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi per kawasan secara serentak.

”Dulu dalam menanggulangi hama penyakit pemerintah selalu memberikan subsidi obat-obatan, sekarang tidak ada,” katanya.

Wakil Menteri Pertanian Bayu menyatakan, serangan wereng coklat terus meluas. Harus ada gerakan bersama petani, pemerintah pusat, dan daerah. Meluasnya serangan wereng akibat perubahan iklim, introduksi padi hibrida, pola tanam tidak serempak, dan petani sudah lupa cara penanggulangan. (MAS)

Tags: