Posts tagged ‘Indonesia Edane’

February 21, 2015

Iklan Revolusi Mental = Rp 149 M

Advertisements
February 12, 2011

MUI Terima Konsultasi Orang Stres

Apa kagak makin stress tuh diberi pesan pesan keagamaan ?
Basic rule no 1. Org lagi stress jangan disiram pesan agama..
MUI Terima Konsultasi Orang Stres
MINGGU, 09 JANUARI 2011 | 12:51 WIB
Besar Kecil Normal
sxc.hu

TEMPO Interaktif, Jakarta – Banyaknya peristiwa bunuh diri yang terjadi belakangan ini membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta membuka konsultasi kejiwaan. Warga yang mau konsultasi dapat menyambangi Kantor MUI Jakarta di Kompleks Jakarta Islamic Center Jakarta Utara saat hari dan jam kerja.

“Kami dengan senang hati melayani masyarakat yang frustasi. Kami terbuka dari Senin sampai Jumat,” ujar Robi nurhadi, selaku Peneliti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta, Ahad (9/1) siang.

Robi menerangkan, layanan konsultasi ini tidak harus orangnya yang depresi yang menghubungi MUI. Termasuk jika pihak keluarga atau kolega mendeteksi ada orang terdekatnya stres, langsung bisa menghubungi MUI terlebih dulu. “Bisa telepon ke nomor saya langsung di 081399027129 atau nomor sekretariat JIC (021) 4413069,” jelasnya.

Majelis ulama sudah memiliki kelompok kerja dalam bentuk komisi-komisi yang menangani masalah kemasyarakatan seperti ini. Penanganan orang stres ini akan dibimbing dengan pesan-pesan keagamaan serta pembangunan karakter sebagai seorang muslim. “Tidak masalah jika orang non muslim juga ingin konsultasi. Datang saja,” lanjutnya.

Menurut Robi, MUI amat prihatin dengan pilihan orang depresi untuk melakukan bunuh diri. Padahal, Islam amat melarang keras tindakan keji itu. “Saya berharap masyarakat meningkatkan silaturahmi dengan saling menyapa. Dengan begitu semoga yang tadinya pusing jadi sedikit tersenyum,” tulisnya lewat pesan singkat.

HERU TRIYONO

February 7, 2011

Warga Ahmadiyah Ditelanjangi Massa Penyerang

Barbarisme mulai lagi ! SBY- Kapolri “bingung” lihat kebiadaban ini…
++++
Warga Ahmadiyah Ditelanjangi Massa Penyerang
SENIN, 07 FEBRUARI 2011 | 13:44 WIB
Besar Kecil Normal
Aminah, salah satu orang tua korban melihat lokasi kejadian pascapenyerangan warga yang diduga menganut aliran Ahmadiyah di Cikeusik-Banten (7/2). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO Interaktif, Jakarta -Penyerangan terhadap Jemaah Ahmadiyah oleh sekelompok orang di Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten, Minggu (6/2) menewaskan tiga orang, enam orang luka berat. Tak hanya itu, beberapa rumah serta tempat ibadah Ahmadiyah juga rusak serta dua kendaraan roda empat hancur dibakar massa.

Menurut juru bicara Ahmadiyah Zafrullah Pontoh, kepada pers di YLBHI, Senin (7/2), sebelum kejadian sekitar enam polisi berjaga dilokasi sejak pagi. Sekitar pukul 09.00 datang bantuan satu pick up dan dua kendaraan Dalmas pengendali. Mereka melakukan dialog dengan warga Ahmadiyah. Kepada Jemaah Ahmadiyah, polisi meminta mereka meninggalkan lokasi. Namun Jemaah Ahmadiyah memilih bertahan dengan alasan bahwa kompleks tersebut milik mereka.

Rupanya tak lama setelah itu atau sekitar pukul 10.46 sekitar 1.500 orang yang diduga berasal dari warga sekitar datang dan langsung menyerang. Massa mempersenjatai dirinya dengan golok, pedang dan tombak. Mereka langsung menyerang dari berbagai arah.

Massa menyerang siapa saja yang berada di lokasi itu. Sambil berteriak-teriak dan mengacungkan golok massa menyerang membabi buta. “Ahamadiyah hancurkan, Ahmadiyah bubarkan. Polisi minggir kami yang berkuasa di sini,” kata juru bicara Ahmadiyah Zafrullah Pontoh menirukan teriakan masa pada saat penyerangan.

Mendapat serangan itu, menurut Zafrullah, para Jemaah Ahmadiyah melawan. Lemparan batu yang dilakukan warga dibalas lemparan batu oleh Jemaah Ahmadiyah. Namun karena jumlah mereka kalah banyak dibanding massa yang menyerang, massa Ahmadiyah langsung berlarian menyelematkan diri.

Melihat warga Ahmadiyah berlarian, massa yang datang semakin besar. Mereka datang dari berbagai arah ke lokasi dan bertindak semakin beringas dan tak terkendali. Polisi yang berada dilokasi tak mampu berbuat banyak, bertahan dan hanya berdiam diri.

Massa penyerang mengejar siapa saja yang berada di lokasi. Massa langsung menelanjangi, memukul, dan menghajar dengan batu Jemaah Ahmadiyah yang tertangkap hingga tewas. Tak puas dengan pemukulan, massa penyerang juga menyayat merek ayang tertangkap.

Warga Ahmadiyah yang berhasil menyelamatkan diri pun juga terluka.

JAYADI SUPRIADIN

++++

Kapolrinya memang harus diganti oleh Tukul Arwana
kapolri timur p

February 3, 2011

Di China, Investor seperti Dewa

kapan ya pemerintah daerah indonesia bisa berubah spt China ? Di mata pejabat Indonesia pengusaha itu bukan dewa tapi sapi , object untuk diperas susunya dan kemudian dipotong.

Di China, Investor seperti Dewa
Shutterstock
RABU, 2 FEBRUARI 2011 | 14:03 WIB
KOMPAS.com – ”Di sini ada dua yang ditakuti, yaitu polisi dan investor asing. Persoalannya, warga takut sama polisi. Sementara jika warga ada masalah dengan investor asing, warga memilih mengalah karena merasa polisi pasti akan membela pengusaha,” kata Iskandar Tanuwidjaya, Direktur Utama Great Orient Chemical (Tai Cang) Co Ltd di Shanghai.

Iskandar adalah warga Indonesia yang sudah 11 tahun bekerja di China. Ini adalah kisah serupa yang juga pernah diutarakan seorang investor asal Taiwan saat Kompas berkunjung ke China tahun 2004. Pernyataan positif para pengusaha tak kunjung berhenti.

”Itu benar, sepanjang Anda bisa membawa keberuntungan dan jangan terlibat politik, China adalah lahan investasi menarik. Mereka melayani dengan baik,” kata Kepala Perwakilan Garuda di China Pikri Ilham K, yang sudah sembilan tahun bertugas di sana.

George Gozalie, Manajer Pembelian dari Dephaner, importir sarang burung walet dari Indonesia juga sependapat. ”Saya punya kenalan pengusaha asing di sini yang ditipu sebesar Rp 70 juta. Saat berurusan dengan polisi, si penipu langsung dikenai tindakan,” kata George, yang juga sudah lama tinggal di China. Ia juga tengah belajar di sebuah universitas di Chongqing.

Iskandar bertutur, terutama di awal-awal reformasi, para pejabat pemerintah daerah (pemda) seperti berebutan mendekati pengusaha. ”Intinya, yang ada di pikiran pemda lokal, bagaimana agar aktivitas perekonomian di daerahnya berkembang,” kata Iskandar, yang pernah ditunjuk langsung oleh seorang wali kota untuk memimpin sebuah organisasi bisnis.

Bukan itu saja, pemda-pemda di China, yang memang berpacu untuk saling memajukan daerahnya, sudah siap dengan program-program pembangunan daerah yang akan ditawarkan sebelum bertemu dengan pengusaha. Pemda di China, misalnya, sudah mendirikan beberapa lokasi industri sesuai dengan kategori sektor industri. Para pengusaha tinggal memilih. ”Mereka siap dengan program dan konsep pembangunan daerahnya. Bahkan, ada kasus, sebuah pagar bagi perusahaan sengaja dibangun pemda setempat,” ujar Iskandar.

Dasar pemikiran pejabat pemda di China, jika kegiatan perekonomian daerah berkembang, pemerintah akan mendapatkan pajak. Bisnis yang dijalankan investor asing akan melahirkan serangkaian kegiatan ekonomi lainnya. Jika investor hadir, akan lahir industri perhotelan, hiburan, makanan, transportasi, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Kedatangan investor asing juga menjadi kriteria utama bagi kenaikan pangkat para pejabat di China. Tidak heran jika seorang pejabat bisa menjemput langsung tamu asing di bandara.

”Anak emas”

Kini, China sedang mendorong kedatangan investor berteknologi tinggi, teknologi ramah lingkungan, teknologi informasi, pendorong inovasi. ”Perusahaan saya tergolong sebagai perusahaan berbasis teknologi tinggi, dan saya mendapatkan fasilitas pembebasan pajak,” kata Frederic Montier, Manajer Umum Bull Information Systems, sebuah perusahaan teknologi informasi asal Perancis.

”Saat mendapatkan pembebasan pajak itu, saya tidak perlu mengisi berbagai formulir dan mendatangi kantor perpajakan. Pengembalian pajak yang dibebaskan itu akan otomatis masuk ke rekening perusahaan tepat pada waktunya,” kata Montier.

Investor kategori ini memang menjadi anak emas. Namun, perusahaan asing yang bisa memahami cara bergaul dan paham dengan guangxi (perkawanan) tetap mendapatkan layanan yang mirip dengan penumpang kelas satu maskapai penerbangan.

Jack Leblanc, eksekutif asal Belgia, sudah 22 tahun tinggal di China. Ia sependapat dengan semua itu. Namun, ia mengingatkan, ada juga kasus di mana pengusaha asing tertipu. ”Hal yang paling tidak saya sukai dari peliputan media, mereka menulis keadaan yang baik-baik saja. Saya tidak membantah, tetapi jangan lupa, ada juga kasus negatif,” kata Leblanc, yang menulis buku berjudul Business Republic of China: Tales from the Front Line of China’s New Revolution.

Leblanc mengingatkan, ada sejumlah pengusaha yang menjalankan bisnis mirip aksi petualangan dan tak sedikit yang rugi, bahkan tertipu. Leblanc mengingatkan bahwa para investor harus tahu kiat-kiat bisnis agar tidak mengalami hal itu.

Meski demikian, data investasi China menunjukkan arus investasi asing yang masuk ke China sudah mencapai 100 miliar dollar AS pada tahun 2010. Ini adalah rekor yang tidak pernah dicapai negara berkembang lain.

Ekonom dari Universitas Zhejiang, Dr Yan Jianmao, di Hangzhou menegaskan, kemajuan ekonomi China memang terutama didorong oleh keberadaan investor asing. Bagi kalangan di China, melayani asing adalah standar. Bagi mereka, asing membawa manfaat ekonomi dan selayaknya dilayani. (MON)

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2011/02/02/14033369/Di.China.Investor.seperti.Dewa

January 31, 2011

FPI Thugs Hound Ahmadiyah in South Sulawesi

FPI Thugs like Hitler SS , and protected by the police (chief)
++++
FPI Thugs Hound Ahmadiyah in South Sulawesi
Rahmat | January 31, 2011

Members of the Ahmadiyah community in Makassar, including 36 women and children, being forcibly evacuated from their provincial office by police on Saturday. (Antara Photo/Yusran Uccang)

Related articles
Hard-line Muslims Plan Show of Force at Ariel Sex Tape Verdict 12:00am Jan 31, 2011
Raging FPI Mob Disrupts Annual Ahmadiyah Prayers in Makassar 8:25am Jan 29, 2011
Hundreds Protest in W. Java Over Clerics’ ‘Ahmadiyah’ Objections 8:46am Jan 28, 2011
The Thinker: The Tolerant Many 8:22pm Jan 27, 2011
Rally Rages Outside Bogor Court Trial on Ahmadiyah Village Attack 11:46am Jan 27, 2011
Share This Page

Post a comment
Please login to post comment

Comments
Be the first to write your opinion!
Makassar. Dozens of members of the Ahmadiyah sect were forcibly moved by police on Saturday after Muslim hard-liners blockaded their provincial office in South Sulawesi’s capital.

The Ahmadiyah center had since Friday been the subject of demonstrations by members of the Islamic Defenders Front (FPI), who demanded that the sect disband within 24 hours or risk the group’s wrath.

The protest came as Ahmadiyah members were holding an annual prayer gathering called Jalzah Salanah.

After hours of protests on Friday, the mob returned on Saturday evening, led by local FPI head Habib Reza, and repeated their demands for the Ahmadiyah to disband, calling members of the minority Islamic sect kafir (nonbelievers) and deviants.

They also attempted to break into the center but were held back by a 100-strong riot squad sent to the scene by the Makassar Police.

Fearing the protest would turn violent, South Sulawesi Police Chief Insp. Gen. Johny Waenal Usman ordered his officers to evacuate the Ahmadis sheltered inside the center.

However, the Ahmadis refused to leave and barricaded the doors from the inside, prompting extensive negotiations.

Finally, at 10 p.m., the group of four men, 25 women and 11 infants agreed to be bused back to their homes in police vans.

The FPI mob, however, demanded to be let inside to ensure no one was hiding in the center, which the police consented to.

Once inside, Habib and several of his followers seized items including accounts ledgers, miniDV video tapes and compact discs. They also tore down a signboard that read “ Jamaah Ahmadiyah ” (“Ahmadiyah Congregation”) — all without police intervention.

The FPI’s vigilantism and the police’s perceived complicity were lambasted by religious freedom advocates.

Qasim Mathar, a commissioner with the provincial branch of the Interreligious Communication Forum (FKUB), called the acts regrettable.

“The police failed to protect citizens of this country,” he said. “This is unacceptable because it now gives certain groups the notion that they hold sway over the police. The police should have gotten tough and ordered the FPI to leave the scene.”

Qasim also took the FPI to task for “always committing violence against humanity.”

He said the group’s intimidation of others to follow its extreme religious interpretations was in truth forbidden and would only sully the image of Islam.

The FPI has previously said that its demands for the Ahmadiyah to disband are based on a 2005 edict issued by the Indonesian Council of Ulema (MUI) and a 2008 joint ministerial decree that deems Ahmadiyah a deviant Islamic sect and restricts its religious activities.

Mainstream Muslims reject the Ahmadis’ belief that the sect’s founder, Mirza Ghulam Ahmad, was a prophet. Mirza established the Ahmadiyah movement in Qadian, northern India, in 1889.

Qasim said the MUI’s rulings were not legally binding, while the joint ministerial decree could not be used as a basis to disband the Ahmadiyah.

“Even if it was signed by 10 ministers, it would still not give anyone the legal standing to do this,” said Qasim, who is also the director of postgraduate programs at Makassar’s Islamic State University.

“To dissolve an organization, there are certain procedures to follow.”

On Sunday, a day after the forced evacuation, the Ahmadiyah center appeared empty, while its ground-floor office and second-floor mosque were in a state of disorder.

According to Ismail Hasani, from the Setara Institute for Democracy and Peace, there were about 50 recorded cases of violence or intim

January 29, 2011

Tunggu Ibas dan Anas, Garuda telat terbang

Mirip petinggi Orde Baru !

Home » Indonesia Headlines » Tunggu Ibas dan Anas, Garuda telat terbang
Tunggu Ibas Dan Anas, Garuda Telat Terbang
Oleh Agust Supriadi E-mail Print PDF
Published On: 28 January 2011
KENDARI : Penerbangan pesawat komersial Garuda GA604 dari Jakarta ke Makasar tertunda hampir 30 menit dari rencana keberangkatan karena harus menunggu rombongan politisi Partai Demokrat, a.l. Putra Presiden SBY Edy Baskoro dan Ketua Umum Anas Urbaningrum.
“Maaf atas keterlambatan penerbangannya karena kami harus menunggu sejumlah penumpang lainnya,” ujar Kapten Pilot Garuda L. Komajah, hari ini.
Dalam rombongan telat tersebut tampak, Edy Baskoro atau yang biasa dipanggil Ibas menempati kursi paling depan No.1A di kelas eksekutif. Sebelah Ibas, kursi No.1B, diduduki oleh Fungsionaris DPR Partai Demokrat Johny Allen Marbun dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum berada di kursi No.1E.
Berdasarkan jadwal, pesawat Garuda No. GA604 seharusnya lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta pada pukul 06.55. Namun karena kejadian tersebut, pesawat baru lepas landas sekitar setengah jam kemudian.
Setelah mengudara 126 menit, pesawat transit di Bandara Sultan Hasanudin, Makasar pukul 10.30, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandara Haluoleo, Kendari-Sulawesi Tengah. Transit yang seharusnya hanya 20 menit, kembali molor beberapa menit karena kembali harus kembali menunggu rombongan politisi tersebut masuk dari Executive lounge.
Kedatangan rombongan tersebut dalam rangka menghadiri Musyawarah Daerah II Partai Demokrat wilayah Sulawesi Tenggara.(api)
Tags:anas urbaningrumbandara sultan hasanudingarudaibaspartai demokratpolitisiterlambat

January 27, 2011

Sampel Pegawai Negeri Indonesia:Pegawai kecamatan tewas bercinta di ruang kerja

PNS memang harus dibuang ke kawah Merapi.. Dari yang type Gayus (kesetanan duit pajak) sampai yang urusannya syahwat, mulai dari bercinta di ruang kerja atau berpoligami ria.. ( dengan duit gaji PNS????)
++++
Pegawai kecamatan tewas bercinta di ruang kerja
27 Jan 2011
Headline Pos Kota
Di pangkuan wanita selingkuhan

CILINCING (Pos Kota) – Kantor kecamatan yang notebene milik pemerintah, malah dipakai pegawainya untuk berbuat mesum. Tapi yang terjadi di Kantor Kecamatan Cilincing, oknum pegawai malah menyelundupkan cewek lalu berbuat mesum di ruang kerja. Usai kencan, lelaki PNS

itu tewas di pelukan se-lingkuhannya. Kematian Sy, 43, oknum PNS Kecamatan Cilincing, Rabu (25/1) dinihari membuat geger. Seluruh staf dan pejabat di kantor yang berdiri di Jl. Sungai Landak, Jakut, tak menduga dengan kematian mendadak Sy, apalagi dengan cara seperti itu.

Sy selama ini tercacat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Seksi Pekerjaan Umum (PU)Tata Air dan Jalan di Kecamatan Cilincing. Informasi yang dihimpun Pos Kota di kecamatan serta Polres Metro Jakarta Utara, malam itu Sy berada di ruangan piket PU bersama Ss, teman wanitanya. Wanita 21 tahun itu diketahui sebagai teman wanita Sy sejak setahun lalu. Ss datang ke kantor itu sekira Pk. 2000 setelah ditelepon oleh Sy. Di ruang PU yang terletak di bagian belakang kantor, keduanya mengobrol dilanjutkan dengan berbuat mesum di lantai ruangan.

Usai kencan, sekitar Pk.30, Sy minta dibuatkan kopi. Wanita muda yang tinggal di Kebon Baru itu memenuhi permintaan tersebut, lalu menyeduh kopi di ruang tersebut. Lelaki yang sudah beristri itu lalu menyeruput kopi buatan perempuan selingkuhannya.Tak lama kemudian Ss terkejut melihat Sy kelojotan. Melihat hal itu, Ss yang ketakutan hanya bisa memegangi tubuh Sy yang kejang-kejang. Ia tak berani berteriak karena khawatir keberadaannya diketahui petugas piket lainnya. Tak lama setelah kejang-kejang, tubuh Sy tak bergerak lagi.

Dalam kondisi kalut, Ss melapor ke Polsek Cilincing yang hanya berjarak 10 meter. Polisi dan petugas Linmas kecamatan lalu mengevakusai mayat Sy ke rumah sakit. Pengakuan Ss kepada petugas, Sy tak mengenakan pakaian saat ajal menjemputnya. Ss lalu mengenakan pakaian ke tubuh pria itu. Dugaan sementara, Sy tewas akibat serangan jantung.

AKAN DIBONGKAR

Dikonfirmasi kasus itu, Kapolsek Cilincing, Kompol Tuhana, mengatakan saat jenazah akan dibawa ke rumah sakit seorang staf kecamatan sempat meminta agar mayat tak diotopsi. Namun, petugas itu tak mau menandatangani surat pernyataan penolakan otopsi. Selanjutnya, setelah kerabat datang, jasad Sy dibawa ke RSUD Koja. “Keluarga memakamkan jenazah di kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat,” kataTuhana.

Sementara Camat Cilincing, Junaidi, mengakui tewasnya Sy di ruang tempat kerjanya. Namun, ia tidak mengetahui penyebab tewasnya korban. “Saya mendapat kabar melalui HP bahwa korban meninggal akibat sakit. Pagi itu juga saya langsung mendatangi RSUD Koja,” kata Junaidi. “Selama ini korban memang kerap tidur di ruangan itu dan seminggu sekali pulang menengok keluarganya di Ciamis.” Terkait ruang piket PU dijadikan tempat kencan, Junaidi mengaku tidak mengetahui hal tersebut, (tiyo/yp/ird)

+++++

Status Pegawai Negeri Sipil , hobbi berpoligami.. (menjijikan!!)

Poligami Pelanggaran PNS Terbanyak di Balikpapan

Selasa, 04 Januari 2011 11:59 WIB
BALIKPAPAN-MICOM: Dibanding 2009, jumlah pelanggaran dan tindak indisipliner yang dilakukan pegawai negeri sipil (PNS) di jajaran Pemkot Balikpapan pada 2010 mengalami penurunan. Sebagian besar terjadi pada pelanggaran peraturan pemerintah (PP) Nomor
10 tahun 1983 tentang Izin Perceraian dan Pernikahan bagi PNS, serta
tindak indisipliner.

“Jumlah pelanggaran yang dilakukan PNS selama 2010 lalu hanya mencapai 17 kasus pelanggaran, sedangkan pada 2009 silam mencapai sekira 20 kasus,” kata Inspektur Inspektorat Syarifuddin, Selasa (4/1).

Dari 17 kasus tersebut, 10 kasus telah telah menghasilkan kesimpulan dan telah direkomendasikan ke wali kota, sebagai pemegang kebijakan dari tindak lanjut penyelesaian kasus-kasus tersebut sedangkan 7 kasus lainnya masih dalam tahap pemeriksaan dan pengembangan.

“Paling banyak karena kawin dua kali (poligami), ada juga yang sering bolos kerja. Kami sudah rekomendasikan kepada pimpinan,” terang dia.

Dia menambahkan, sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut akan dilakukan sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku, sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan seorang PNS.

Untuk itu, ia berharap, pada 2011 ini, seluruh PNS di jajaran Pemkot Balikpapan dapat meningkatkan kinerjanya sebagai PNS, agar tidak melakukan pelanggaran terhadap aturan-aturan yang ditetapkan selama ini menjadi PNS.

“Kalau sanksi berat, bisa berupa penundaan kenaikan jabatan, bahkan sampai pemberhentian sebagai PNS,” tambahnya. (

January 27, 2011

Jalanan di Jakarta Mengunci

Semua ini terjadi karena percampuran unsur pemerintah daerah (pemda DKI) yang bodoh, korup dan arogan sok pinter (memproklamirkan “ahli” nya) serta kemalasan warga yang manja dan malas..

Jalanan di Jakarta Mengunci
27 Januari 2011
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Pengguna jalan antre untuk melintasi Jalan Prof Dr Satrio dari arah Casablanca menuju Sudirman dan sebaliknya di kawasan Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (26/1). Kemacetan serupa terjadi di jalan-jalan alternatif di Jakarta.
Jakarta, Kompas – Saat ini di Jakarta hampir tidak ada lagi ruas jalan yang bebas dari kemacetan. Kondisi jalur alternatif dari alternatif bahkan hampir sama, padat dan nyaris tidak bergerak. Para pengguna jalan pun harus pandai menghitung waktu perjalanan agar rezeki tidak ”tercecer” di jalan.

Di sepanjang Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Rabu (26/1), pengguna jalan disergap beberapa hambatan terkait proyek pengerjaan jalan layang Blok M-Antasari. Laju kendaraan rata-rata hanya 5-10 kilometer per jam.

Hambatan itu dimulai dari perempatan di dekat Markas Besar Polri arah Terminal Blok M. Alat berat dan pagar-pagar bertuliskan proyek jalan layang non-tol mengokupasi setiap satu lajur dari dua lajur jalan yang ada.

Padahal, lokasi alat berat hanya mengambil ruang 10 meter x 10 meter, tetapi keberadaannya menjadi penyumbat arus lalu lintas. Kondisi serupa terlihat di mulut Jalan Pangeran Antasari dan di pertigaan Kemang.

Ruas jalan di depan pertigaan Kemang, khususnya jalur dari arah Cipete menuju Blok M, terpaksa ditutup untuk keperluan proyek jalan layang. Arus lalu lintas dari arah Cipete dibelokkan ke Jalan Brawijaya sebelum akhirnya masuk kembali ke Jalan Pangeran Antasari di depan Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

”Di sini paling macet pukul 07.00-09.00. Sorenya, pukul 17.00-19.00, hampir tidak bergerak kendaraan yang lewat sini,” kata Bandi, pengelola bengkel di Jalan Pangeran Antasari.

Kondisi serupa terlihat di ruas Jalan Prof Dr Satrio, Kuningan. Proyek jalan layang non-tol Kampung Melayu-Tanah Abang tahap pertama Casablanca juga tengah berlangsung. Tepat setelah turun dari jembatan dari arah Tanah Abang, di mulut Jalan Prof Dr Satrio, tempat parkir alat berat dan hambatan lain menghadang hingga terowongan arah Kampung Melayu.

Rabu kemarin, antrean kendaraan terjadi sejak sebelum pukul 07.00 hingga lepas pukul 11.00, khususnya dari arah Kampung Melayu menuju Tanah Abang atau Jalan Jenderal Sudirman. Di sepanjang Casablanca kemacetan makin parah karena ada dua proyek, yakni superblok dan galian kabel optik.

Jalan-jalan kecil di sekitar Casablanca yang bisa digunakan untuk menuju Menteng, Jalan Jenderal Sudirman, atau Rasuna Said tampak sudah dipenuhi kendaraan.

”Di sini selalu ramai mobil sejak sebelum ada proyek jalan layang. Sekarang tambah ramai lagi, apalagi pagi dan sore hari,” kata Ayu, warga Karet Pedurenan, Kelurahan Karet Kuningan, Rabu.

Di sepanjang Jalan Pangeran Antasari dan Casablanca, polisi lalu lintas berjaga di setiap titik persimpangan. Di titik-titik tertentu, seperti di lokasi alat berat berada, jumlah polisi bisa lebih dari dua orang.

Tak ada petunjuk

Namun, saat kendaraan berbelok ke arah jalan alternatif, polisi tak tampak lagi. Pengendara yang tidak terbiasa melintasi jalan alternatif harus siap-siap kebingungan menentukan arah berbelok.

Kondisi jalur alternatif rata-rata kecil dan minim penunjuk arah. Jalan Brawijaya, misalnya, terdiri dari dua ruas dengan lebar masing-masing pas seukuran lebar mobil. Padahal, jalan ini disesaki mobil, sepeda motor, dan angkutan umum pada saat jam sibuk. Kondisi serupa terlihat di kawasan Karet Pedurenan.

Antara Cawang dan Grogol, yaitu Jalan Gatot Subroto dan S Parman, kemacetan kini menjadi pemandangan setiap hari. Lihat saja di kawasan persimpangan Gatot Subroto-Kuningan, Semanggi, Slipi, hingga Taman Anggrek dan Grogol.

Di ruas jalan kecil, seperti Jalan Palmerah menuju Kebayoran Lama, kemudian arah Joglo, ruas Permata Hijau, bahkan jalur utama Kebayoran Lama-Ciledug, Tangerang, antrean kendaraan selalu mengular. Entah karena terhambat oleh antrean angkutan umum yang ngetem, polisi cepek yang mengatur arus lalu lintas, atau ada penyempitan dan kerusakan jalan.

”Saya diturunkan dari Metromini 69. Seharusnya dari Blok M bisa langsung ke Ciledug, malah diturunkan di sini. Alasan sopir, macet dan penumpang kurang,” kata Adinda (21).

Pengalaman Adinda bukan sesuatu yang luar biasa. Praktik menurunkan penumpang dan kemudian sopir memilih berputar arah ke Blok M sudah sering dilakukan.

”Bayangin saja, cuma bawa tiga orang terus kena macet. Cari penumpang lagi juga sulit. Solarnya boros. Lebih baik oper penumpang dan balik ke Blok M,” kata Endi, kernet Metromini 69.

Menghitung cermat

Kemacetan juga menyebabkan Mutia (30) dari bagian humas salah satu perusahaan kosmetik di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, harus menghitung cermat ketersediaan waktu setiap kali membuat janji bertemu klien.

”Humas kan sering janjian ketemu orang. Biasanya, saya sengaja bikin janji di satu mal kalau memang harus keluar kantor. Paling dibedain jam ketemunya saja,” kata Mutia.

Bagi Mutia, strateginya cukup jitu. Menurut dia, kalau harus mengejar pertemuan di tempat yang berbeda-beda, paling tidak butuh waktu dua jam untuk radius 10 kilometer. Seharusnya bisa ketemu tiga klien, jadi cuma bisa mengejar satu klien.

Pada jam sibuk, kemacetan semakin parah. Jarak yang hanya 5 km itu harus ditempuh minimal 30 menit untuk kendaraan roda empat atau lebih dan 20 menit untuk kendaraan roda dua. Di Jakarta Barat, kepadatan terjadi karena peningkatan volume kendaraan dan berkurangnya ruas jalan yang bisa dilewati setelah dioperasikannya bus transjakarta koridor IX jurusan Pinang Ranti-Pluit.

Jalur neraka

Willy, karyawan swasta, menuturkan, kini ia harus bangun lebih pagi agar tidak terjebak kemacetan dan terlambat tiba di kantor. ”Kalau tiga tahun lalu saya bisa berangkat pukul 07.00 dan tiba di kantor pukul 07.30, sekarang saya harus berangkat pukul 06.30 agar tiba di kantor pukul 07.30,” ujarnya.

Ia tinggal di Tomang dan berkantor di kompleks Bidakara, Pancoran. Jaraknya tak lebih dari 10 km, tetapi kini belum tentu bisa ditempuh dalam waktu satu jam. ”Sekarang jalan ini sudah mirip jalur neraka. Padat, asap kendaraan semakin banyak, dan tidak bisa diatur,” ujar Zaki, pengguna kendaraan dari Palmerah menuju Tomang.

Pengguna jalan dari arah Grogol menuju Slipi bisa melalui jalan alternatif, seperti lewat Tanjung Duren. Akan tetapi, karena banyaknya kendaraan yang lewat, jalan itu pun kini sesak.

Di wilayah Kota Bekasi, kemacetan rutin terjadi di ruas jalan perbatasan Kota Bekasi dan Jakarta Timur, antara lain di ruas Jalan Pondokgede, Jalan KH Noer Alie, dan Jalan Raya Bintara.

Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bekasi Kabupaten berencana mengatur jam keluar kendaraan industri dari Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, agar tidak bersamaan waktunya dengan kendaraan lain yang melintasi jalan raya Lemahabang-Cikarang menuju Gerbang Tol Cikarang. Pengaturan itu untuk mengurai kemacetan dan mengurangi kepadatan kendaraan di ruas jalan raya Lemahabang-Cikarang menuju gerbang tol.

Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Bekasi Kabupaten Komisaris Iwan Saktiadi, Rabu, pengaturan jam keluar kendaraan industri itu sudah dibicarakan dengan perwakilan perusahaan di Kawasan Industri Jababeka I dan Kawasan Industri Jababeka II, Cikarang.

(COK/NEL/FRO)

January 13, 2011

FPI Surabaya Bubarkan Diskusi Lintas Agama

 

Organisasi anjing keparat  (isinya fundamentalis teroris )masih dibiarkan bebas lepas di Indonesia:

 

FPI Surabaya Bubarkan Diskusi Lintas Agama

KAMIS, 13 JANUARI 2011 | 18:06 WIB

TEMPO InteraktifSURABAYA – Puluhan anggota Front Pembela Islam (FPI) Surabaya membubarkan rencana diskusi terbatas forum lintas agama di Hotel Inna Simpang, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Kamis (13/1). Mereka menggeruduk hotel dan meminta agar pengelola hotel membatalkan kegiatan tersebut.

Kedatangan FPI ini cukup mengagetkan mengingat di sekitar hotel sedang banyak aparat kepolisian dan tentara yang mengamankan kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Negara Grahadi, sekitar 25 meter dari Hotel Inna Simpang.

Karena khawatir terjadi kerusuhan, pihak hotel akhirnya menuruti kemauan FPI. Diskusi tentang kebebasan beragama yang rencananya akan digelar pada pukul 13.00 itu pun dibatalkan.

Ketua Tanfidziyah FPI Surabaya Muhammad Mahdi al-Habsyi mengatakan, dia bergerak dengan alasan pertemuan lintas agama itu telah ditunggangi oleh Ahmadiyah dan kelompok gay serta lesbian.

Mereka, kata Mahdi, menggunakan momentum kedatangan Presiden SBY untuk menggelar seminar. “Kalau ada presiden terus dikiranya kami takut,” kata Mahdi kepada Tempo.

Menurut Mahdi, dirinya tidak ada persoalan dengan seminar-seminar lintas agama. Namun, kata dia, keterlibatan Ahmadiyah serta kelompok gay-lesbian dalam acara tersebut tidak bisa dia terima. “Mereka musuh kami,” ujarnya.

Mahdi menambahkan, FPI punya intelijen sendiri untuk memantau kegiatan Ahmadiyah dan kelompok gay-lesbian. Intelijen-intelijen itu, menurut Mahdi, ditempatkan di hotel-hotel atau di kepolisian serta Bakesbang Linmas. “Kami juga mendapat informasi bahwa pertemuan itu tidak mengantongi izin,” paparnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Surabaya Imam Ghazali menyesalkan tindakan FPI. Menurutnya, kebebasan berserikat dan berkumpul telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. “Tapi mengapa pertemuan ini dibubarkan,” ucapnya. KUKUH S WIBOWO.

 

January 11, 2011

Opera Tan Malaka’ Dilarang Diputar Komandan Kodim Kediri: Ini Demi Keamanan Bersama

Seperti  kembali ke jaman orba

++++

‘Opera Tan Malaka’ Dilarang Diputar
Komandan Kodim Kediri: Ini Demi Keamanan Bersama
Samsul Hadi – detikSurabaya


Kediri – Setelah sempat ‘bungkam’ atas larangan yang disampaikannya pada rencana pemutaran ‘Opera Tan Malaka’ di salah satu stasiun televisi lokal, Komandan Kodim 0809 Kediri akhirnya buka suara. Keputusan pelarangan itu diakui diambil demi menjaga keamanan bersama.

Ditemui detiksurabaya.com di Makodim, Jl Achmad Yani, Komandan Kodim 0809, Letkol (Art) Bambang Sudarmanto membenarkan dirinya telah mengeluarkan larangan tersebut ke KSTV, stasiun televisi lokal yang sedianya akan memutar ‘Opera Tan Malaka’. Kondisi keamanan Kota Kediri yang sudah kondusif diakuinya menjadi pertimbangan utamanya dalam mengambil keputusan.

“Kalau sampeyan sebut larangan salah, karena saya hanya mengimbau agar itu tidak ditayangkan. Kalau tanya kenapa, ya ini demi keamanan bersama,” ungkap Bambang sambil tersenyum simpul, Selasa (11/1/2011).

Sayang, Bambang menolak saat diminta menjelaskan makna alasan yang disampaikannya tersebut. Dia hanya mengatakan tidak ingin pemutaran ‘Opera Tan Malaka’ memicu munculnya gangguan keamanan di Kota Kediri. “Soal redaksinya bagaimana sampeyan atur sendiri saja. Intinya keputusan ini saya ambil demi menjaga situasi yang kondusif jangan sampai hilang,” sambungnya.

Yang menarik, saat ditanya apakah dalam tayangan ‘Opera Tan Malaka’ mengandung nilai yang daat memicu gejolak di Kota Kediri, perwira TNI dengan 2 melati di pundak tersebut mengaku tidak mengetahui. Alasannya, dia sendiri sama sekali belum melihat tayangan buah karya seni dari TempoTV tersebut.

“Tapi dengan tidak melihat tayangannya, kita kan sudah bisa meraba. Kalau kita masih ingat pelajaran sejarah, siapa sih Tan Malaka? bagaimana aliran politiknya? semua kan sudah jelas,” tegas Bambang.

Sebelumnya, rencana pemutaran ‘Opera Tan Malaka’ di KSTV Kediri mulai tanggal 16 Januari mendatang dipastikan batal. Media televisi lokal tersebut mengaku
mendapatkan imbauan dari Komandan Kodim 0809 Kediri, agar meninjau ulang rencana pemutaran tersebut.

‘Opera Tan Malaka’ sendiri merupakan buah karya Tempo TV dan rencananya akan diputar di 19 stasiun televisi lokal se Indonesia. Namun sejauh ini baru terealisasi di 17 lokasi, karena dua lainnya mendapatkan tentangan. Satu lokasi lain yang juga dilarang memutar ‘Opera Tan Malaka’ adalah Batu TV di Batu, Jawa Timur.