Posts tagged ‘Intelligence’

February 15, 2011

TNI Benahi Intelijen

Monday, February 14, 2011
TNI Benahi Intelijen
Warga dibantu anggota TNI membersihkan sisa kerushan di di gereja Bethel Graha Shekinah yang dirusak massa di Temanggung, Jateng, Rabu (9/2). Kerusuhan tersebut dipicu ketidakpuasan massa dengan vonis yang dijatuhkan hakim terhadap terdakwa kasus penistaan agama Antonius Richmond Bawengan. (Foto: ANTARA/Anis Efizudin/ss/Spt/11)

14 Februari 2011, Jakarta — (ANTARA News): Tentara Nasional Indonesia (TNI) membenahi mekanisme dan sistem intelijennya untuk memaksimalkan deteksi dan pencegahan dini terhadap beragam ancaman termasuk konflik horisontal seperti di Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten, dan Temanggung, Jawa Tengah.

Ditemui ANTARA di ruang kerjanya di Mabes TNI Cilangkap, Senin, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono mengatakan, pembenahan ditujukan agar langkah antisipatif terhadap ancaman dapat segera dirancang serta bisa ditangani lebih dini.

“Yang penting, langkah preventive. Jangan sampai, hingga ancaman menjadi kenyataan, kita tidak siap menanganinya hingga berdampak luas,” ujarnya.

Panglima TNI memaparkan, pembenahan mekanisme antara lain dengan memperkuat kemampuan intelijen di kewilayahan. Kegiatan intelijen TNI terbagi menjadi kegiatan intelijen strategis dan taktis.

Keduanya, lanjut Agus, harus dilaporkan ke Panglima TNI secara berjenjang secara vertikal oleh BAIS. “Nah, jangan sampai laporan vertikal yang berjenjang itu, justru menghambat langkah deteksi dini dan pencegahan dini,” ujarnya, menambahkan.

Panglima TNI mengemukakan,”Jadi, selain melaporkan seluruh data intelijen ke Panglima TNI, secara bersamaan kegiatan intelijen taktis dapat langsung dilaporkan ke Kodim, Korem dan Pangdam untuk diantisipasi lebih dini, hingga pencegahannya pun dapat dilakukan lebih cepat,”.

“Dan ketika Panglima TNI memerintahkan langkah-langkah lanjutan, jajaran teritorial sudah sangat siap,” ucapnya.

Intinya, lanjut Agus, bagaimana data-data intelijen itu didapat secara cepat serta akurat dan dapat dimanfaatkan untuk setiap kegiatan operasi.

Panglima TNI mengemukakan, pembenahan mekanisme intelijen tersebut telah dikomunikasikan kepada Polri agar langkah antisipasi dapat lebih maksimal dilakukan menghadapi beragam ancaman.

“Semua itu kan dapat diramalkan. Bentuknya seperti apa, kemana arahnya. Kita hanya harus lebih siap,” katanya.

Agus menilai, beragam aksi massa saat ini memiliki modus yang berbeda. Massa lebih masif, dan suatu kejadian di suatu tempat dapat memicu aksi di beberapa tempat lainnya.

“Karena itu, pembenahan mekanisme intelijen harus benar-benar dilakukan untuk memaksimalkan deteksi dini dan pencegahan dini,” kata Panglima TNI.

Sumber: ANTARA News

Advertisements
February 8, 2011

DPR: Intelijen Polisi Kedodoran

Bukan intel yang kedodoran tapi Kapolrinya yang dodol
++++
Penyerangan terhadap Ahmadiyah
DPR: Intelijen Polisi Kedodoran
Penulis: Caroline Damanik | Editor: A. Wisnubrata
Selasa, 8 Februari 2011 | 13:02 WIB
Dibaca: 1923Komentar: 12

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com — Pengakuan polisi bahwa pihaknya sudah mencium rencana penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, dua hari sebelum kejadian membuat Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin menyesalkannya.

Intelijen polisi dinilai kedodoran dalam melakukan tugasnya karena tidak berusaha memetakan daerah-daerah rawan konflik dan gagal menyelami budaya di setiap daerah. “Barangkali kalau tahun 2008 dipetakan wilayah-wilayah Ahmadiyah seperti apa, ini daerah-daerah potensi konflik, itu tidak masalah, mungkin tidak akan kedodoran seperti sekarang,” katanya di Gedung DPR, Selasa (8/2/2011).

Menurut dia, intelijen yang kedodoran dalam kasus Cikeusik bukanlah intelijen di tingkat pusat, melainkan di tingkat bawah. Hasanuddin mengatakan, intelijen di tingkat Polres yang seharusnya memahami situasi setempat. “Polisi juga kan harus menguasai situasi sosial di daerah masing-masing. Di Banten kan relatif keras, jadi harus tahu ini bisa meledak. Harus ada gerak cepat. Jadi kelalaian juga aparat,” katanya.

“Hari Jumat, polisi sudah tahu. Malah polisi katakan sebaiknya menghindar. Kok malah tidak memberikan perlindungan. Sedikit memang katanya (anggota) polsek-polsek, tetapi kan bisa minta ke polres, terus bisa ke atas. Dua hari ada jarak,” tambahnya kemudian.

January 21, 2011

Menko Polhukam: TNI dan Polri Sudah Saatnya Kerjasama Intelijen

Selama ini ngapain aja ?

Jumat, 21/01/2011 09:37 WIB

Menko Polhukam: TNI dan Polri Sudah Saatnya Kerjasama Intelijen

Muhammad Taufiqqurahman : detikNews

[] detikcom – Jakarta, Menko Polhukam Jenderal TNI Djoko Suyanto mendorong agar TNI dan Polri bahu membahu dalam melaksanakan tugas negara. Salah satu tugasnya yakni dengan melakukan operasi intelijen secara bersama-sama.

“Kerjasama intelijen sudah saatnya dilakukan bersama-sama agar tugas mudah untuk diselesaikan,” ujar Menko Polhukam saat berpidato di rapim TNI-Polri di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (21/1/2011). Rapim itu dihadiri oleh Presiden SBY para pejabat tinggi kedua institusi.

SBY mengenakan safari. Sedangkan personel TNI dan Polri mengenakan pakaian dinas masing-masing.

Menurut Menko Polhukam, yang penting jangan berfikir siapa yang lebih cepat dalam mengerjakan tugas negara. Namun lebih mementingkan dari hasil tugas yang dilaksanakan itu.

Dalam proses bekerjasama pelaksanaan intelijen, lanjut Menko Polhukam, harus ada diskusi antara TNI dan Polri. Sehingga akan terjalin kekompakan dalam menjalankan operasi itu.

“Ada warna kekompakan dalam menjalankan operasi agar satuan TNI dan Polri dapat bersinergi dalam melaksanakan operasi intelijen,” kata Menko Polhukam.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo menambahkan, tujuan rapim TNI dan Polri agar terciptya sinergi dengan baik antar seluruh komponen TNI dan Polri. TNI dan Polri harus berusaha maksimal untuk melakukan yang terbaik sebagaimana yang diamanatkan UU.

“TNI dan Polri tetap satu hati dalam pemeliharaan keamanan negara dan mewujudkan pembangunan nasional,” tutur Kapolri

January 9, 2011

Kasus bisnis intelijen : renault

Semua negara besar melakukan business intelijen .

Renault Espionage Gained No Key Secrets, Official Says
IHT 6 january 2011
By DAVID JOLLY
PARIS — A top executive at Renault said over the weekend that “nothing critical” appeared to have been stolen from the automaker’s electric vehicle program in an industrial espionage case that prompted the company to suspend three executives this week.

A French official, meanwhile, sought to play down the possibility of Chinese involvement in the matter, saying the government would wait for the results of an investigation.

In an interview published Saturday in the French newspaper Le Monde, Patrick Pelata, Renault’s chief operating officer, said that an internal investigation that began in August had led the company to conclude it was the target of “a system organized to collect economic, technological and strategic information to serve interests abroad.”

That system, he said, involved the three executives suspended on Monday. No one has been charged, but the company’s top lawyer said Wednesday that legal action was “inevitable.” Renault has not identified the executives, though it said one was a member of the management committee.

The internal investigation showed that “not the smallest nugget of technical or strategic information on the innovation plan has filtered out of the enterprise,” Mr. Pelata said, “including the nearly 200 patents for which we have applied or are in the process of applying. Those concern, in particular, electrode chemistry, battery architecture, assembly, charging and the motor itself.”

“We are serene,” Mr. Pelata told the newspaper. “Nothing critical seems to have gotten out.”

On Friday, Bernard Carayon, a member of President Nicolas Sarkozy’s U.M.P. party and head of the Parliament’s economic intelligence working group, said “several, usually reliable sources” within the French government believed that a Chinese intermediary was behind the episode.

On Saturday morning, though, Eric Besson, the French industry minister, told Europe 1 radio “at this stage, I can’t say” whether Chinese interests were involved. “Only a full investigation could tell,” he added.

French officials may be wary of antagonizing Beijing at a time when French industry is counting on exports to the Chinese market to keep its economy growing. European Union officials have also welcomed China’s recent expressions of support for the embattled euro.

On Thursday, Mr. Besson described the case as “economic warfare.”

In the Le Monde interview, Mr. Pelata also said a Renault project with the French Atomic Energy Commission to develop “the battery of the future” was not affected.

“In short, we intervened in time,” he said, though information about the architecture of the electric vehicles, the program costs and the business plan might have leaked.

As for who was behind the attempt on its secrets, Mr. Pelata said, “Renault is the victim of an organized international network.”

Under Carlos Ghosn, Renault and its partner Nissan Motor, of which it owns about 44 percent, are investing 4 billion euros ($5.16 billion) to develop electric cars, putting the alliance at the forefront of the industry push into the technology. Mr. Ghosn is chief executive of both companies.

Nissan and Renault both declined to comment.

The lawyer for Mathieu Tenenbaum, one of the executives facing the accusations, said late Friday that his client was “stupefied” that the company was accusing him of industrial espionage and that he denied the charge.

Tags:
June 18, 2010

New agency to take new approach on terrorism

New agency to take new approach on terrorism
Dicky Christanto, The Jakarta Post, Jakarta | Tue, 06/15/2010 10:38 PM | National A | A | A |
A new government agency expected to take a more comprehensive approach to eradicating terrorism will be officially established in July, an official said, amid criticism of the government’s failing deradicalization efforts.

A draft of presidential regulation establishing the National Agency on the Eradication of Terrorism has been sent to the President Susilo Bambang Yudhoyono’s office, Coordinating Political, Legal and Security Affairs Minister Djoko Suyanto told reporters on Tuesday.

“We hope the President to sign the regulation in July,” he said.


Site Meter

The agency aims at improving the function of the current counter terror desk under Djoko’s office, which is currently led by Insp. Gen. (ret) Ansyaad Mbai.

“We are facing bigger problems pertaining to the issue of terrorism, which requires the involvement of various related institutions. The establishment of this agency therefore is a must,” Djoko added.

The minister however refused to further elaborate the role and authorities of the agency.

Tags:
June 9, 2010

BIN Minta Naik Anggaran

BIN Minta Naik Anggaran
SELASA, 08 JUNI 2010 | 15:30 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Jakarta – Badan Intelijen Negara (BIN) meminta kenaikan anggaran untuk rencana kerja tahun 2011. Besaran anggaran yang diminta mencapai Rp1 triliun. Hal tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat BIN dengan Komisi Pertahanan DPR di Jakarta pada Senin lalu.

Menurut anggota Komisi Pertahanan DPR, Ahmad Muzani, anggaran itu akan lebih banyak dihabiskan untuk kejahatan trans kejahatan ekonomi, penyelundupan. “Tidak ada untuk belanja senjata,” kata Ahmad Muzani, anggota Komisi Pertahanan DPR, kepada wartawan, Selasa (8/6).

Permintaan anggaran BIN untuk 2011, kata Muzani, meningkat meski tidak signifikan. Sebelumnya, Pada tahun 2010 BIN memiliki anggaran sekitar Rp 900 Miliar. Komisi I DPR memang pernah mengusulkan untuk meminta BIN menaikkan anggaran tahun sebelumnya, ” tapi justru BIN yang menolak.”

Muzani berpendapat, alasan penambahan anggaran yang dimintakan BIN, kurang argumentatif. Tapi, permintaan kali ini sudah cukup mewakili kebutuhan BIN. “Bisa jadi disetujui, nanti akan dibahas.” ujarnya.

Ditanya soal transparansi pertanggungjawaban anggaran BIN. Muzani hanya berkomentar, “Selama ini cukup baik.”

_+++

DPR Beri BIN Masukan Soal Akurasi Data Intelijen
SELASA, 08 JUNI 2010 | 15:51 WIB
Besar Kecil Normal
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperlihatkan foto laporan intelijen yang menjadikan dirinya sasaran tembak saat memberikan pernyataan pers soal peristiwa ledakan bom di halaman kantor Kepresidenan, Jakarta, Jumat (17/7). ANTARA/Widodo S. Jusuf

TEMPO Interaktif, Jakarta – Komisi Pertahanan DPR memberi masukan kepada Badan Intelijen Negara (BIN) soal akurasi data intelijen. Masukan itu diungkapkan wakil rakyat saat bertemu rapat kerja dengan Kepala BIN dengan Komisi Pertahanan di Jakarta, Senin lalu.

Anggota Komisi Pertahanan dari partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Ahmad Muzani mengungkapkan komisi pertahanan meminta penjelasan soal akurasi data intelijen selama ini diberikan kepada pemerintah. “Terutama soal akurasi,” katanya.

Permintaan itu dimintakan atas dasar adanya kekhawatiran soal kualitas akurasi intelijen yang dikeluarkan badan telik sandi itu. Sebab, kata dia, ada beberapa kejadian yang menurutnya meleset dari analisis intelijen. Misalnya, ketika ada analisis intelijen yang diungkapkan oleh pemerintah soal akan adanya kerusuhan seputar demo hari anti korupsi di Jakarta. “Akurasi data memang perlu diperhatikan,” ujarnya. Namun, kata dia, “Itu sifatnya hanya masukan.”

Selain data intelijen soal peristiwa, kata Muzani, Komisi Pertahanan juga meminta akurasi data dalam penanganan terorisme. “Sebagai badan koordinasi intelijen BIN perlu ambil peran.”

SANDY INDRA PRATAMA

DPR Beri BIN Masukan Soal Akurasi Data Intelijen
SELASA, 08 JUNI 2010 | 15:51 WIB
Besar Kecil Normal
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperlihatkan foto laporan intelijen yang menjadikan dirinya sasaran tembak saat memberikan pernyataan pers soal peristiwa ledakan bom di halaman kantor Kepresidenan, Jakarta, Jumat (17/7). ANTARA/Widodo S. Jusuf

TEMPO Interaktif, Jakarta – Komisi Pertahanan DPR memberi masukan kepada Badan Intelijen Negara (BIN) soal akurasi data intelijen. Masukan itu diungkapkan wakil rakyat saat bertemu rapat kerja dengan Kepala BIN dengan Komisi Pertahanan di Jakarta, Senin lalu.

Anggota Komisi Pertahanan dari partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Ahmad Muzani mengungkapkan komisi pertahanan meminta penjelasan soal akurasi data intelijen selama ini diberikan kepada pemerintah. “Terutama soal akurasi,” katanya.

Permintaan itu dimintakan atas dasar adanya kekhawatiran soal kualitas akurasi intelijen yang dikeluarkan badan telik sandi itu. Sebab, kata dia, ada beberapa kejadian yang menurutnya meleset dari analisis intelijen. Misalnya, ketika ada analisis intelijen yang diungkapkan oleh pemerintah soal akan adanya kerusuhan seputar demo hari anti korupsi di Jakarta. “Akurasi data memang perlu diperhatikan,” ujarnya. Namun, kata dia, “Itu sifatnya hanya masukan.”

Selain data intelijen soal peristiwa, kata Muzani, Komisi Pertahanan juga meminta akurasi data dalam penanganan terorisme. “Sebagai badan koordinasi intelijen BIN perlu ambil peran.”

SANDY INDRA PRATAMA

May 15, 2010

Tak Akan Ada UU Model ISA

Iya karena nggak ada UU anti terorisme yang tegas, ormas ormas yang mengatasnamakan Islam, macam FPI ,MMI, dll tumbuh subur di Indonesia. Nggak heran negara tetangga menjuluki indonesia sebagai sarang teroris . Untuk menangkap Godfather Teroris aja pemerintah Indonesia masih takut. Gimana dan apa kata duniaaa???
++++
Keamanan Djoko Suyanto.
Tak Akan Ada UU Model ISA
Djoko Suyanto: Rencana Serangan Bukan Rekaan
Sabtu, 15 Mei 2010 | 04:20 WIB

Jakarta, Kompas – Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto memastikan, sekalipun Undang-Undang Terorisme akan ditinjau ulang, Indonesia tidak akan menerapkan model perundangan semacam Internal Security Act seperti di Malaysia dan Singapura.

Internal Security Act (ISA) adalah perundang-undangan yang berlaku di Malaysia dan Singapura yang memberi wewenang polisi untuk menahan seseorang dalam waktu lama tanpa pengadilan ataupun proses hukum. ISA kerap digunakan aparat untuk memenjarakan orang yang diduga terkait terorisme tanpa proses hukum.

”Sampai sekarang tidak ada pemikiran untuk pemberlakuan semacam ISA di negara kita, tetapi bagaimana kita mengevaluasi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme itu, apa titik lemahnya, apa yang bisa diperkuat,” kata Djoko Suyanto dalam jumpa pers bersama Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri di Mabes Polri, Jumat (14/5).

Kapolri juga mengatakan, memang ada niat untuk merevisi UU Pemberantasan Terorisme tersebut. ”Soal UU, ini akan dipertimbangkan untuk dikaji ulang lagi; karena waktu kita untuk menahan empat bulan, waktu yang sangat singkat. Belum lagi untuk menemukan bukti permulaan cukup hanya diberi waktu tujuh hari. Dengan demikian, kita memang kepontal-pontal untuk mengungkap kasus terorisme,” papar Kapolri.

Target pejabat negara

Kapolri juga mengungkapkan, dari operasi penyergapan kelompok teroris sejak Februari hingga Mei, diketahui adanya rencana serangan pembunuhan terhadap para pejabat negara. Kelompok teroris juga mulai berniat membuat aksi mirip di Mumbay, India, dengan melancarkan serangan bersenjata di hotel.

Kapolri mengungkapkan, kelompok teroris hendak menyerang Presiden, para pejabat negara, dan tamu negara saat upacara peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus mendatang di Istana Negara.

Ditanya apakah rencana itu diketahui hanya berdasarkan keterangan orang yang ditangkap, Kapolri memastikan rencana itu diperoleh dari sejumlah orang yang ditangkap berikut dokumen. Namun, dokumen tersebut tidak dirinci atau ditunjukkan kepada pers.

”Apa yang kita sampaikan secara terbuka ini, bukan katanya, bisa dipertanggungjawabkan secara yuridis formal, ada keterangan dan dokumen,” tutur Kapolri.

Menurut Kapolri, dari penyergapan pada Rabu lalu, Suhardi Mas’ud alias Usman dan Rosikien Noor yang ditangkap polisi mengaku ditugaskan untuk mengambil 21 pucuk senjata dari Mindanao, Filipina Selatan, untuk penembakan jarak jauh saat upacara peringatan hari kemerdekaan. Setelah semua pejabat negara termasuk Presiden telah ditewaskan, kelompok tersebut, menurut Kapolri, akan mendeklarasikan negara Islam.

Namun, rencana tersebut masih disangsikan oleh Noor Huda Ismail dari Yayasan Prasasti Perdamaian, yang aktif mendampingi para mantan narapidana terorisme selama ini.

Menurut Huda, rencana itu masih kontradiksi dengan karakter orang-orang yang terlibat dalam kelompok yang sejauh ini tidak cukup solid. Beberapa tersangka dikenal Huda bukan sosok yang cukup tangguh. Mereka juga kerap terganggu oleh intrik internal dan urusan pribadi. Selain itu, menurutnya, militansi dan keahlian mereka masih jauh panggang dari api.

”Insiden di Leupung, Aceh Besar, ketika mereka berusaha lari dari kepungan polisi, bukan melawan, adalah contohnya. Selain itu, senjata kok malah dikumpulkan jadi satu, tidak siaga,” kata Huda.

Berdasarkan wawancara Kompas dengan tersangka Yudi Zulfahri, Maret lalu di Banda Aceh, Yudi mengatakan, kelompoknya memang sempat membicarakan untuk menyerang warga negara asing dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Banda Aceh saat Presiden AS Barack Obama direncanakan berkunjung ke Indonesia. Namun, menurut Yudi, hal itu baru sebatas omong- omong antarpeserta pelatihan, belum sampai perencanaan teknis.

Bukan rekaan

”Apa yang disampaikan Kapolri tadi terkait rencana gerakan kelompok teroris itu bukan hasil rekaan belaka, tetapi hasil penelusuran, penyelidikan, dan interogasi terhadap pelaku yang ditangkap. Kita tidak boleh underestimate (meremehkan) terhadap yang diungkap Kapolri tadi,” tutur Djoko Suyanto.

Polisi juga telah menangkap tiga penyandang dana pendirian kamp pelatihan bersenjata api di Aceh Besar. Mereka adalah warga negara Indonesia, yakni Abdul Haris (Rp 400 juta), Haryadi Usman (Rp 150 juta), dan dr Syarif Usman (Rp 200 juta). Sementara itu, dari Maulana (tewas di Cililitan, Jakarta Timur) ditemukan dana Rp 250 juta.

Sejauh ini polisi tidak mendeteksi adanya pendonor asing. Namun, polisi menemukan peta Singapura dan rute kereta bawah tanah di Singapura serta foto Bandara General Santos di Filipina. Belum diketahui pasti maksud dari kelompok teroris terkait peta dan foto tersebut.

Penangkapan baru

Kemarin, polisi menangkap lagi seseorang dalam operasi terorisme di Solo, Jawa Tengah. Orang tersebut adalah Heri Suranto (42) yang ditangkap saat sedang bekerja. Dia adalah pegawai tata usaha di Sekolah Menengah Atas Islam 1, Solo. Sehari-hari, Heri juga membuka jasa servis komputer di Kampung Mipitan, Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, tidak jauh dari rumah Erwin Suratman, yang ditangkap dua hari sebelumnya.

Dengan demikian, sejak Februari hingga kemarin, polisi antiteror telah menangkap 72 orang, 13 di antaranya tewas. Mereka ditangkap di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Medan, Lampung, Banten, Jakarta, Sumedang, Bekasi, Cikampek, hingga Solo. Kemarin, keluarga Saptono yang tewas di Cikampek datang ke RS Polri untuk mengecek jenazah Saptono.

Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengatakan, Presiden mengapresiasi kinerja Polri dalam menangani terorisme. ”Terorisme tentunya tidak akan berhenti setelah adanya penyergapan yang dilakukan beberapa hari lalu, diperlukan antisipasi ke depan. Presiden berpesan negara tak boleh kalah dan lengah.”(DAY/CAS/COK/EKI/SF)

Share on Facebook

Tags:
April 14, 2010

April 13, 1953: CIA OKs MK-ULTRA Mind-Control Tests

Wired April 13, 1953: CIA OKs MK-ULTRA Mind-Control Tests
By Kim Zetter April 13, 2010 | 12:00 am | Categories: 20th century, Politics, Warfare and Military

1953: Central Intelligence Agency director Allen Dulles authorizes the MK-ULTRA project. The agency launches one of its most dubious covert programs ever, turning unsuspecting humans into guinea pigs for its research into mind-altering drugs.

More than a decade before psychologist Timothy Leary advocated the benefits of LSD and urged everyone to “turn on, tune in, drop out,” the CIA’s Technical Services Staff launched the highly classified project to study the mind-control effects of this and other psychedelic drugs, using unwitting U.S. and Canadian citizens as lab mice.

Dulles wanted to close the “brainwashing gap” that arose after the United States learned that American prisoners of war in Korea were subjected to mind-control techniques by their captors.

Loathe to be outdone by foreign enemies, the CIA sought, through its research, to devise a truth serum to enhance the interrogations of POWs and captured spies. The agency also wanted to develop techniques and drugs — such as “amnesia pills” — to create CIA superagents who would be immune to the mind-control efforts of adversaries.

MK-ULTRA even hoped to create a “Manchurian Candidate”, or programmable assassin, and devise a way to control the minds of pesky despots, like Fidel Castro — giving credence forevermore to claims by the tinfoil-hat contingent that the government is out to control our minds.

In addition to drugs, the program included more than a hundred sub-projects that involved radiological implants, hypnosis and subliminal persuasion, electroshock therapy and isolation techniques. (The MK in the project name referred to the Technical Services Division that oversaw the project, and ULTRA was a security classification applied to top-secret intelligence.)

More than 30 universities and institutions participated in CIA-funded research, though not all were aware the spy agency was their benefactor, because funding was sometimes laundered through shell organizations.

Under the guise of research, LSD, whose psychedelic properties were discovered by a Swiss chemist in 1943, was secretly administered to CIA employees, U.S. soldiers and psychiatric patients, as well as the general public.

One federal drug agent who worked as a “consultant” for the CIA for a project dubbed “Operation Midnight Climax” hired prostitutes to slip the drug to unsuspecting clients, then watched through two-way mirrors as the clients tripped out. He also reportedly slipped the drug to patrons at bars and restaurants.

The CIA ultimately concluded that the drug was too unpredictable for reliable research, but that was too late for Frank Olson.

Olson was a 43-year-old civilian germ-warfare researcher for the U.S. Army who was also a CIA employee and an unwitting recipient of CIA acid. During a 1953 meeting at a mountain retreat with MK-ULTRA head Dr. Sidney Gottlieb and other CIA employees, Olson and four other scientists drank a glass of Cointreau that had been secretly spiked with LSD.

They were told about the drug about 20 minutes after ingesting it. Olson apparently had a severe reaction and left the retreat in an agitated state and later threatened to resign.

The CIA claimed he suffered a sudden bout of extreme paranoia and depression and sent him to a psychiatrist in New York for consultation. He died in a “fall” from the 10th floor of his New York hotel room. A CIA employee who had accompanied him to New York reported that he awoke at 1:30 a.m. to see Olson hurl himself through the closed window.

Olson left a 38-year-old widow and three children under the age of 10. In the absence of other evidence, Olson’s family reluctantly accepted the CIA’s puzzling explanation that the scientist had been suddenly seized by a fatal depression.

When news of the CIA’s secret LSD program finally leaked out 20 years later, the family learned through a congressional inquiry that Olson had been slipped some of the hallucinogen days before his death. The CIA continued to insist that Olson had committed suicide, but at President Gerald Ford’s urging, the family was paid $750,000.

It wasn’t until the 1990s, when Olson’s son had his father’s body exhumed and examined, that he discovered that his father might have actually died from a blunt force trauma to the head, which may have been received prior to his fall from the window.

Olson wasn’t the only casualty of the CIA’s drug tests. A tennis pro who had gone to the New York Psychiatric Institute for depression following a divorce fell into a coma and died. He’d been administered a derivative of mescaline. There were other cases of suspect deaths and lives left in ruin.

The victim’s families might have sued to obtain records of the secret program, but CIA Director Richard Helms had ordered the MK-ULTRA project files destroyed in 1973.

The program was brought to light in 1975 through investigations by the Church Committee and Rockefeller Commission that were established to investigate government surveillance operations in the wake of the Watergate wiretapping scandal and other domestic-spying revelations.

By then, the MK-ULTRA project had supposedly been closed. But this was by no means the end to misguided covert government programs, such as the remote-viewing project at SRI. Another, less-organized military project, inspired the story behind the recent film The Men Who Stare at Goats.

Dulles gave the go-ahead for MK-ULTRA, as it turns out, on the very day that Ian Fleming’s first James Bond novel, Casino Royale, appeared. Coincidence? You decide.

Read More http://www.wired.com/thisdayintech/2010/04/0413mk-ultra-authorized#ixzz0l4FgbIm4

Tags:
March 13, 2010

Ladang Ganja Jadi Sumber Dana Teroris di Aceh

Sabtu, 13/03/2010 13:29 WIB
Ladang Ganja Jadi Sumber Dana Teroris di Aceh
Novi Christiastuti Adiputri – detikNews
Jakarta – Kelompok teroris membutuhkan dana yang besar untuk melakukan operasi maupun kegiatan pelatihannya. Bagi kelompok teroris di Aceh, ladang ganja disinyalir menjadi sumber biaya bagi mereka.

“Untuk menghidupi sebuah operasi militer, mereka membutuhkan dana yang besar. Saya sangat percaya mereka menggunakan ladang-ladang ganja yang ada di Aceh dimana mereka bisa jual untuk menghidupi dan membiayai operasi militer,” ujar pemerhati masalah teroris Mardigu dalam diskusi “Polemik: Masih Ada Teroris” di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (13/3/2010).

Mardigu kemudian mencontohkan, seorang gembong mafia di Polandia, Pablo Escobar, yang seringkali mendanai kegiatan terorisme melalui bisnis perdagangan narkoba miliknya dan para teroris di Afghanistan yang membiayai operasi mereka dari ladang opium yang dimiliki.

Dikatakan dia, dalam penjualan ganja tersebut, para teroris bekerja sama dengan warga lokal. “Pasti ada unsur lokal,” cetusnya.

Menurut Mardigu, para teroris menggunakan ladang ganja disebabkan karena pilihan mereka sangat sulit untuk mendapat dana. “Sumber dana tidak datang dari asing, karena simpatisan mereka sudah tidak bisa bergerak lagi,” jelasnya.

“Maka lahan ganja di sana menjadi sebuah potensi yang sangat memungkinkan untuk pembiayaan,” imbuhnya.

Terhadap hal ini, anggota Komisi I DPR Dapil Aceh, Azwar Abubakar, membantahnya. Menurut dia, belum tentu ganja dijual untuk sumber biaya.

“Di Aceh, ganja mudah didapat tapi nilainya lebih tinggi kalau dibawa keluar Aceh. Saya kira menggunakan ganja untuk berdagang, belum,” ujarnya.
(nvc/gah)

March 6, 2010

Besar Kecil Normal Teroris di Aceh, Diduga Kelompok Noor Din M. Top

SABTU, 06 MARET 2010 | 20:27 WIB

TEMPO InteraktifJakarta -Jaringan teroris di Aceh Besar, diduga kelompok Noor Din M. Top. Pengamat terorisme Dyno Cressbon mengatakan mereka  bukan anggota Gerakan Aceh Merdeka.

Kelompok ini merupakan peleburan dari Republik Islam Aceh yang berdiri pada 1970 dengan Negara Islam Indonesia (NII) nonteritorial yang berbasis di Filipina Selatan. Kedua kelompok ini bersatu di Aceh pada 1995.

Sebelumnya, kelompok ini merupakan pengikut Hambali, mantan pemimpin militer Jemaah Islamiyah. Namun sejak Hambali ditangkap di Thailand pada 2003 lalu, mereka bergabung dengan Noordin M Top. Tapi poros yang mereka ikuti adalah Imam Samudra.

Menurut Dyno, yang mengindikasikan kelompok teroris ini merupakan pengikut Imam Samudra adalah pimpinan mereka, ajengan Jaja yang berasal dari Banten, “Sama seperti Imam Samudra,” kata Dyno saat dihubungi, Minggu (6/3).

Kelompok ini merupakan buruan lama polisi. Meski mereka berdiri di Aceh, mereka sempat melakukan latihan militer di beberpa tempat, seperti di Ambon pada 2002, Poso pada 2002, Riau, Medan, Jawa Tengah, Pandeglang, dan di Pulau Seram, Maluku pada 2004. “Untuk di Aceh sendiri, kelompok ini sudah mengadakan empat kali pelatihan. Total lulusannya sekitar 200 orang yang tersebar di Aceh, Medan, dan Riau,” kata Dyno.

Teroris di Aceh Besar ini juga pernah terlibat kasus peledakan bom Natal pada tahun 2000, bom Bali II pada 2005, dan bom di Kedutaan Besar Australia pada 2004. Menurut dia, mereka mendapat pasokan senjata dari Filipina Selatan dan Thailand Selatan. “Akses senjata ini didapat karena pemimpin mereka, ajengan Jaja tinggal di Kepulauan Zolo, Filipina Selatan,” ujarnya.

Saat ini, mereka melakukan kegiatannya tidak seperti pola yang dilakukan Noordin yang menggunakan bom bunuh diri. Melainkan mengadopsi cara-cara yang dilakukan Abu Sayap, yakni melakukan kekerasan dengan penculikan, perampokan, atau pun perompakan seperti di Cina Selatan.

Pengungkapan jaringan teroris Aceh besar ini terjadi pada 23 Februari lalu lalu saat Kepolisian Resor Aceh Besar terlibat kontak tembak dengan satu kelompok bersenjata di Pegunungan Jalin, sekitar 20 kilometer dari Jantho, Aceh Besar. Sejak saat itu, terjadi satu kali lagi baku tembak di Desa Bayu, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar. Pada baku tembak di Kecamatan Seulimum, sepuluh orang polisi tertembak. Satu orang, Brigadir Satu Boas Woasiri tewas dalam baku tembak itu.

CORNILA DESYANA

++++

SABTU, 06 MARET 2010 | 19:20 WIB

EMPO InteraktifJakarta -Dalam video berdurasi 1 jam 15 menit 33 detik yang diunduh dari alufuq.wordpress.com, para teroris di Aceh tampak bersenjatakan AK-47 dan M-16. Sejumlah teroris terlihat dalam rekaman sedang berlatih menembak didalam hutan. Pihak yang mengaku mengupload video ini adalah Divisi Media Tandzim Al Qoidah Indonesia.

Video ini dimulai dengan mengutip Al-Quran surat An-Nisa. Dilanjutkan dengan kompilasi berbagai foto dan video mengenai kasus Talang Sari, Lampung, peristiwa Tanjung Priok, DOM di Aceh, kerusuhan Poso dan Ambon.

Video kemudian berlanjut ke suasana di hutan Aceh diiringi rekaman ceramah dari Syaikh Dr.Abdulloh Azzam dan Usamah bin Ladin.

Suasana camp para teroris juga terekam. Puluhan orang dengan tenda-tenda sederhana tidur dihutan. Para teroris juga menjalani gemblengan fisik seperti lari dan latihan menembak. Namun, tak ada wajah yang terlihat jelas karena sengaja ditutup atau di blur.

Setelah itu tiga orang sambil memangku senjata memberikan pernyataan agitasi tentang jihad. “Jihad itu hukumnya wajib. Tidak ada yang boleh meninggalkannya. Siapa pun dia, dalam keadaan apa pun dia,” kata seorang teroris, yang menyampaikan propagandanya dengan logat Jawa yang cukup kental.

“Tidak ada kehidupan yang lebih nikmat dari jihad. Kita terhindar dari dosa dan maksiat yang banyak. Tidak ada televisi yang merusak akhlak. Tidak ada musik yang merusak telinga. Tidak ada yang namanya aurat-aurat wanita yang kita pandangi di tempat-tempat umum.”

Setelah tiga orang tersebut bergantian berbicara, seorang pria dengan memegang revolver di tangan kanan dan memangku AK-47 bernyanyi dalam bahasa Aceh. Sesekali ia menembakkan revolvernya ke angkasa.

Setelah itu, seorang teroris tampak latihan menembak dengan M-16 dengan sasaran yang dipasang disebuah pohon.

Di dalam tenda, seorang teroris lanjut berbicara. Sambil duduk, ia memegang senjata AK-47 di tangan kanannya.

“Kepada jamaah-jamaah, apakah JI, apakah N11. Terutama anggota Jamaah Al- Islamiyah, kalian jangan tertipu. Kalian asyik di dakwah. Kepada seluruh anggota Jamaah Islamiyah saya serukan segera bergabung. Berjihad bukan dengan pena, sarung, dan peci.”

Ia lalu melanjutkan makiannya kepada sesama umat Islam yang memilih jalur pendidikan sebagai dakwah. “Kalian bisa kumpulkan ratusan juta, bahkan miliaran. Tapi kalian kumpulkan untuk dakwah, pesantren. Ini adalah pengkhianatan.”

“Kalau ada yang lapar, sementara ada dana. Berikan dananya untuk jihad. Biarkan yang lapar itu mati.”

Teroris juga menyinggung makanan mereka yang hanya berupa nasi dengan kecap dan ikan asin.

Pada akhir video, tertulis Markaz Media Al-Ufuq dan saat video dibuat, yaitu Rabiul Awal 1431 H/Maret 2010 M.

Sofian