Posts tagged ‘investment-investment group’

November 24, 2010

Indonesia Ajak Cina Investasi Perkapalan dan Pelabuhan

Indonesia Ajak Cina Investasi Perkapalan dan Pelabuhan
SELASA, 23 NOVEMBER 2010 | 15:02 WIB

Aktifitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan JICT Tanjung Priok. TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta -Indonesia mengajak Cina ikut berpartisipasi pada pembangunan pelabuhan di Indonesia. “Selat Malaka di pantai timur Sumatra dilewati 110 ribu kapal atau sekitar 30 persen volume perdagangan dunia. Maka pemerintah mendorong industri perkapalan dan kepelabuhan nasional,” kata Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan, Kementerian Koordinasi Perekonomian, Edy Putra Irawadi dalam Seminar Prospek Hubungan Indonesia-Cina di Jakarta, Selasa (23/11).

Selain di pantai timur Sumatera, pemerintah juga ingin membangun konektivitas di Indonesia timur. “Dengan perkembangan Indonesia timur, maka diharapkan akan mengurangi aktivitas di Jawa,” ujarnya.

Menurut Edy, Cina memiliki teknologi perkapalan dan kepelabuhan yang baik. Sehingga pemerintah berharap Cina mau ikut berpartisipasi dalam pembangunan pelabuhan di Indonesia.

Edy menambahkan, Indonesia juga ingin memajukan industri pertanian dan maritim. “Maka, diharapkan ada kerjasama mesin pertanian sehingga mampu bangun industri pertanian,” kata dia. Selain itu, Pemerintah ingin ada investasi industri perikanan dan proses perikanan.

Duta Besar Cina untuk Indonesia, Zhang Qiyue mengatakan bahwa Cina termasuk investor baru di Indonesia. Pada 2008, nilai investasi Cina sudah sempat mencapai US$ 139,6 juta. Pada 2009, nilai investasi menurun hanya US$ 65,5 juta.

Dia ingin perusahaan Cina terlebih dahulu mengenal Indonesia secara optimal. “Mulai dari kebijakannya, keperluan serta prioritas pengembangan Indonesia,” kata dia.

Zhang sendiri melihat saat ini, Indonesia memprioritaskan pembangunan infrastruktur. “Maka pemerintah akan dukung perusahaan untuk ikut serta dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia,” ujarnya.

Zhang menambahkan, pemerintah Cina juga memperhatikan pemerintah Indonesia tengah membangun koridor ekonomi. “Maka kami dukung perusahaan untuk ikut serta,” kata dia.

Pemerintah Cina juga mendukungperluasan bidang investasi Cina di Indonesia. “Kami pandu dan dukung investasi berpindah dari energi dan sumberdaya ke industri komunikasi, pertanian, jasa, perikanan, energi baru,” ujarnya.

Untuk itu, Cina telah menyediakan kredit lunak sebesa US$ 2 miliar untuk mendukung pembangunan jalan, jembatan dan pembangkit listrik di Indonesia. “Indonesia negara paling besar mendapatkan dana dari Cina,” kata dia.

Eka Utami Aprilia

Advertisements
November 18, 2010

Rothschild Ingin Investasi Bank & Semen Indonesia

0 13:23

EKONOMI > SEKTOR RIIL

Rothschild Ingin Investasi Bank & Semen Indonesia

Andika Sugiarto

INILAH.COM, Jakarta – Salah satu keluarga terkaya di Indonesia, Bakrie, telah bergabung dengan dinasti Rothschild. Rothschild dikabarkan tertarik untuk menanamkan investasinya dari mulai sektor perbankan, semen, hingga batubara yang saat ini booming di Indonesia.

Perusahaan yang berdomisili di London ini sepakat untuk menggabungkan saham di tiga perusahaan milik grup Bakrie, perusahaan tersebut adalah Berau Coal dengan kepemilikan aset PT Bumi Resources (BUMI) dalam kesepakatan share swap dengan PT Vallar, perusahaan investasi pertambangan yang didanai oleh Nathaniel Rothschild awal tahun ini.

Bakrie akan mendapatkan kontrol mayoritas Vallar dan akan berubah nama menjadi BUMI PLC yang terdaftar di bursa efek London. Hal ini merupakan langkah yang berarti bagi produsen batubara terbesar di Indonesia untuk meningkatkan keuntungan di pasar global. “Ini adalah pengambilalihan terbaik, di mana Grup Bakrie mulai menyusun kembali aset pertambangan batubaranya,” jelas Norico Gaman Head of Research BNI Securities seperti dilansir Reuters.

“Vallar hanya sebuah kendaraan Grup Bakrie untuk mengkonsolidasikan asetnya,” tambahnya.

Selain itu ia juga menjelaskan bahwa saat ini BUMI tidak hanya menjadi pemimpin di industri batubara domestik namun juga melangkah untuk menjadi pemimpin industri tersebut di luar negeri. “BUMI kini sedang melebarkan sayapnya untuk menjadi salah satu pemain terbesar dalam industri batubara global,” jelasnya.

Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Vallar akan membayar cash sebesar $ 3 miliar dan opsi tukar saham baru untuk membeli saham 75 persen di Berau dan 25 persen dari BUMI dalam kesepakatan pertama sejak memperoleh $ 1,1 miliar dari listing bulan Juli lalu.

“Kami telah mengumumkan pembentukan sebuah pemain yang unggul di industri batubara Indonesia yang akan menjadi pemasok batubara terbesar ke China,” kata Rothschild dalam konferensi pers di London kemarin.

“Ini adalah bisnis yang menguntungkan, hingga 2013 dapat menghasilkan 140 juta ton batubara setiap tahunnya dengan total impor China pada tahun 2009 menembus rekor 126 juta ton, atau tiga tingkat dari 2008,” tambah dinasti Jerman-Yahudi yang sudah kaya sejak 1700-an.

Bakrie Group akan memiliki 43 persen dari Bumi Plc, sementara 28,3 persen akan dimiliki oleh publik yang sebelumnya memiliki saham Vallar. [cms

October 31, 2010

BKPM: Investasi Bisa Tembus Rp 200 Triliun di 2010

Minggu, 31/10/2010 18:52 WIB
BKPM: Investasi Bisa Tembus Rp 200 Triliun di 2010
Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

Jakarta – Badan Koordinasi Pasar Modal (BKPM) memperkirakan realisasi investasi hingga akhir tahun 2010 bisa menembus angka Rp 200 triliun. Atau di atas target yang telah ditetapkan sebesar Rp 160,1 triliun.

“Berdasarkan Hitung-hitungan kita per kuartal itu (investasi baru) bisa sampai Rp 50-55 triliun. Kita target Rp 160,1 triliun, berarti kurang 10-11 triliun lagi. Sangat bisa kita capai target itu. Bahkan kita bisa sedikit berharap untuk capai 200 triliun,” ujar Kepala BKPM Gita Wirjawan di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/10/2010)

Ia juga meyakini kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) akan terus meningkat nantinya. Hingga kuartal III-2010, kontribusi investor domestik sudah mencapai 25,7% atau sebesar Rp 38,5 triliun dari total perolehan investasi sebesar Rp 149,5 triliun.

“Saya optimis porsi penanaman modal dalam negeri akan meningkat dan melebihi yang sekarang. Kalau kita bisa capai di akhir tahun di atas 30%, itu sudah bagus,” ungkapnya.

Gita menambahkan, untuk mencapai target investasi sebesar Rp 1.500 triliun pada 2014, maka setidaknya BKPM harus mampu mengaet investasi sebesar Rp 550 triliun mulai 2011.

“Saya perlu garisbawahi target kita Rp 1.500 triliun pada 2014, jauh lebih besar daripada angka investasi yang sudah direalisasikan. Hitung-hitungan kasar kita setidaknya harus capai Rp 550 triliun per tahun,” tambahnya.

October 19, 2010

Emirat Arab Incar Geothermal Indonesia

Emirat Arab Incar Geothermal Indonesia
Energi terbarukan adalah sektor utama yang menjadi perhatian penuh di Negara Emirat Arab.
SELASA, 19 OKTOBER 2010, 13:16 WIB Elin Yunita Kristanti, Denny Armandhanu

VIVAnews — Persatuan Emirat Arab (PEA) menyatakan akan meningkatkan investasi di Indonesia pada berbagai bidang.
Prioritas utama mereka adalah pada bidang energi terbarukan.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri PEA, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan, pada konferensi pers usai pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, di gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Selasa, 19 Oktober 2010.

Nahyan mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengadaan energi panas bumi atau geothermal. “Indonesia adalah salah satu penyalur geothermal terbesar di dunia dan salah satu pemilik pasokan geothermal yang terbesar,” ujar Nahyan.

Nahyan mengatakan bahwa energi terbarukan adalah sektor utama yang menjadi perhatian penuh di Negara Emirat Arab untuk mengantisipasi menurunnya angka persediaan minyak bumi.

Selain energi terbarukan, Emirat Arab akan menanamkan investasi pada beberapa sektor diantaranya adalah sektor infrastruktur, pertanian dan pariwisata.

Menlu Natalegawa mengatakan bahwa sektor perdagangan merupakan sektor kerja sama utama antara kedua negara yang memberikan keuntungan yang cukup besar. Pada tahun 2009, perdagangan dengan PEA menghasilkan keuntungan sebesar US$1,5 miliar.

Pada pertemuan tersebut, kedua Menlu juga menandatangani dua buah perjanjian, di antaranya adalah persetujuan bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik, dinas, dan khusus.

Juga ditandatangani nota kesepahaman komite bersama antara pemerintah Indonesia dan PEA.

“Komisi bersama antara Indonesia dan PEA akan mengadakan pertemuan setiap dua tahun sekali untuk mengevaluasi kerja sama hubungan kedua negara,” ujar Menlu Natalegawa.
• VIVAnews

October 15, 2010

Investor Jepang incar saham berbasis konsumsi domestik

Jumat, 15/10/2010 14:44:46 WIB
Investor Jepang incar saham berbasis konsumsi domestik
Oleh: Wisnu Wijaya
TOKYO: Pemodal portofolio dari Jepang minati saham emiten di Indonesia yang bergerak di sektor konsumsi domestik, sumber daya alam, dan infrastruktur, terutama telekomunikasi.

Michio Tanaka, Deputy General Manager Global Equity Sales Department II Daiwa Securities Capital Markets Co Ltd, mengatakan beberapa saham emiten yang berbasis konsumsi domestik seperti PT Astra International Tbk dan PT Gudang Garam Tbk cukup menarik, karena populasi di Indonesia yang besar.

“Saya kira saham berbasis sektor konsumsi yang paling diminati oleh pemodal Jepang,” tuturnya di sela-sela one-on-one meeting antara lima emiten di Indonesia dan klien Daiwa Capital Markets hari ini.

Menurut dia, selain sektor tersebut, investor Jepang juga melihat likuiditas menjadi salah satu faktor utama dalam berinvestasi.

Selain Astra dan Gudang Garam, beberapa saham yang banyak ditanyakan oleh pemodal Jepang a.l. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT Adaro Energy Tbk, PT Indika Energy Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, dan saham di sektor perbankan.

Michio menambahkan selain sumber daya alam yang besar, Indonesia mempunyai hubungan yang khusus secara historis dengan Indonesia.

“Indonesia cukup penting untuk Jepang, apalagi Indonesia mempunyai sumber daya alam yang banyak,” katanya.

Saat ini, banyak pemodal Jepang mulai melirik saham-saham di Asia seperti China, India, dan Indonesia.

Beberapa investor yang hadir dalam one-on-one meeting hari ini yakni Daiwa Asset Management, Nomura Asset Management, Mitsubishi-UFJ Asset Management, Sumitomo, Capital Research, dan Cref yang merupakan pengelola dana pensiun dari AS. (yes)

October 4, 2010

TPG, GSIC negosiasi tambah saham di induk DOID

Senin, 04/10/2010 17:47:34 WIB
TPG, GSIC negosiasi tambah saham di induk DOID
Oleh: Wisnu Wijaya
JAKARTA: Salah satu yang perusahaan private equity terbesar di dunia Texas Pacific Group (TPG) dan Government of Singapore Investment Corporation (GSIC) tengah bernegosiasi dengan Sinarmas Grup untuk menambah kepemilikan saham di Northstar Tambang Persada Pte Ltd (NTP), salah satu pemegang saham pengendali PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID).

Seorang eksekutif yang mendengar informasi itu mengatakan NTP menguasai 40% saham di Delta Dunia, induk perusahaan kontraktor tambang batu bara terbesar kedua di Indonesia PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA).

“TPG bergabung dengan GSIC berencana meningkatkan saham di NTP dengan membeli saham dari Sinarmas Group I. Yang saya dengar konsorsium TPG dan GSIC mampu bisa membeli saham di atas Rp1.200 per saham,” kata sumber kepada Bisnis hari ini.

Menurut sumber itu, NTP dikendalikan oleh dua pemegang saham utama, TPG dan Sinarmas Group. “Saya tidak tahu persis jumlah sahamnya sekarang yang dimiliki oleh TPG dan Sinarmas Group.”

Direktur Delta Makmur Ariani Vidya Sofjan mengatakan manajemen Delta Dunia belum memperoleh informasi tentang rencana penjualan saham tersebut.

“Itu adalah domain pemegang saham. Tapi yang pasti, Northstar tetap pemegang hak suara di Delta Dunia.,” katanya ketika dihubungi Bisnis hari ini.

Delta Dunia hari ini naik 0,91% menjadi Rp1, 110 per saham, mengirimkan kapitalisasi pasar IDR7.54 triliun.

BUMA menghabiskan US$115 juta belanja modal (capex) selama 6 bulan pertama tahun ini, yang umumnya digunakan untuk membeli alat-alat berat baru untuk mendukung pertumbuhan produksi.

BUMA, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Delta Dunia, akan menyiapkan dana sekitar US$180 juta pada tahun ini.

Laba bersih Bukit Makmur mengalami penurunan 41,5% (dalam rupiah) pada semester I/2010.

Penurunan laba itu disebabkan oleh menurunnya keuntungan selisih kurs dan beban bunga yang lebih tinggi pada paruh pertama tahun ini (semester I/2010). Namun, jika dilihat dalam dolar AS, laba bersih BUMA naik 30% pada tahun ini.

Bukit Makmur membukukan laba bersih Rp256 miliar di semester I/2010 dari tahun sebelumnya sebesar Rp438 miliar. Margin bersih perusahaan juga tercatat turun menjadi 10,5% YoY dari 17,3%

Pendapatan bersih (tidak termasuk biaya bahan bakar) mengalami penurunan 3% menjadi Rp2,45 triliun dari Rp2,53 triliun, sebagian besar disebabkan oleh penguatan rupiah. (wiw).

September 28, 2010

TPG Capital Lirik Industri Penerbangan Lokal

TPG Capital Lirik Industri Penerbangan Lokal
SELASA, 28 SEPTEMBER 2010 | 13:21 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO Interaktif, Jakarta – Chairman TPG Capital David Bonderman menyatakan minatnya untuk mengembangkan investasi, terutama industri penerbangan termasuk pembangunan infrastrukturnya. “Kami melihat potensi investasi di Indonesia cukup baik sehingga kami ada di sini,” kata Bonderman usai bertemu Wakil Presiden Boediono di Kantor Wakil Presiden kemarin.

David memaparkan, pertemuan dengan Wakil Presiden ini merupakan yang pertama kali bagi perusahaannya. TPG Capital merupakan perusahaan finansial yang mengelola dana US$ 60 miliar atau sekitar Rp 540 triliun. Perusahaan yang dulunya bernama Texas Pacific Group itu bermarkas di San Francisco, California, Amerika Serikat, dengan lebih selusin cabang di delapan negara.

Salah satu aksi korporasi penting yang dilakukan oleh TPG Capital adalah pembelian Midwest Air Group, yang juga induk usaha Midwest Airlines, perusahaan penerbangan yang berpusat di Wisconsin, tiga tahun lalu. Saat ini TPG Capital sedang menangani proyek pemrosesan minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar pesawat. Mereka menggandeng produsen sawit Wilmar International Limited yang memiliki pabrik pengolahan sawit di Gresik, Jawa Timur.

Juru bicara Wakil Presiden, Yopie Hidayat, mengatakan kedatangan TPG Capital untuk menegaskan komitmen investasi dalam mengembangkan ekspansi industri penerbangan dan infrastruktur. “Saat ini dalam proses penjajakan,” ujarnya. Namun, Yopie enggan mengomentari rencana TPG Capital yang berminat membeli maskapai nasional Garuda. “Hanya disinggung sedikit,” tuturnya.

Wakil Presiden Boediono, kata Yopie, mendukung rencana penjajakan investasi di industri penerbangan, terutama infrastukturnya. Sebab pemerintah tak bisa mengatasi pembangunan infrastruktur. Pemerintah, menurut Yopie, hanya mampu menyiapkan 40 persen pembangunan infrastruktur dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sisanya pemerintah bakal bekerja sama dengan pihak swasta.

September 14, 2010

‘Peluang investasi manufaktur dari Taiwan terbuka’

‘Peluang investasi manufaktur dari Taiwan terbuka’
Senin, 13/09/2010 06:32:20 WIB
Oleh: Siti Munawaroh
JAKARTA: Pemerintah diharapkan bisa menangkap peluang investasi dari Taiwan yang berminat menanamkan modalnya secara besar-besaran di sektor manufaktur dan industri padat karya di Indonesia dalam waktu dekat.

Sekitar 100-an pengusaha asal Taiwan akan datang ke Indonesia pada awal bulan depan untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemerintah mengenai penjajakan investasi di negara ini. Indonesia saat ini bersaing dengan negara-negara lain seperti Vietnam, Thailand hingga India, dalam menarik potensi investasi dari para investor Taiwan.

“Benar, mereka [pengusaha Taiwan] akan berkunjung. Kita harus tangkap opportunity ini. Mereka mau bikin industrial estate sendiri, masuk [investasi] ke petrokimia dan labour industry hingga ke budidaya perikanan. Sekarang Taiwan melihat Indonesia, selain ke negara-negara lain yang juga dinilai potensial,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi kepada Bisnis, tadi malam.

Dikonfirmasi mengenai nilai investasi yang siap ditanamkan para pengusaha asal Taiwan, Sofjan belum dapat memastikan secara rinci besarannya, tetapi dia memastikan potensi investasi tersebut bernilai miliaran dolar Amerika Serikat (AS).

Pemerintah, tegas Sofjan, harus menyambut baik minat investasi tersebut dan sekaligus memberikan kepastian berusaha bagi para investor asal Taiwan tersebut. Dalam hal kerjasama ekonomi, Apindo mengharapkan pemerintah Indonesia tidak menganut Kebijakan Satu China (One China Policy).

“Saya pikir mereka tidak perlu insentif. Mereka membutuhkan kepastian dari kita, apakah Indonesia welcome atau tidak dengan mereka? Apakah ada kepastian dalam berusaha, kalau tidak ada investasi bisa dilarikan ke mana saja. One China Policy saya rasa tidak perlu untuk hubungan ekonomi,” tegasnya.

Sejauh ini, Indonesia dan Taiwan memiliki hubungan yang terbilang unik. Keduanya tidak memiliki hubungan diplomatik, karena Indonesia menganut Kebijakan Satu China (One China Policy). Namun, kerja sama Indonesia-Taiwan berjalan relatif baik, hampir di berbagai bidang mulai dari ekonomi, perdagangan, pertanian, tenaga kerja hingga pendidikan.

“Investasi Taiwan di China daratan itu cukup besar, punya penduduk di China daratan sekitar 2 juta jiwa. Kita tidak perlu takut untuk menarik investasi dari Taiwan ini. Mengenai usulan pemerintah yang menawarkan Pulau Morotai sebagai lokasi untuk menampung investasi Taiwan, saya setuju-setuju saja. Kita kan harus membangun Indonesia Timur,” paparnya.

Sebelumnya, para investor asal Taiwan meminta disediakan lahan sedikitnya 500 hektare untuk menampung investasi di bidang manufaktur dan sektor industri padat karya dalam waktu dekat ini. Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan pemerintah perlu menginventarisir sektor-sektor secara rinci, seiring rencana kunjungan sekitrar 100 pengusaha asal Taiwan untuk meneruskan hasil pertemuan awal dengan pemerintah yang diwakili Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) belum lama ini. (swi)

August 27, 2010

Slovakia Batal Investasi Ban di Indonesia

Slovakia Batal Investasi Ban di Indonesia
JUM’AT, 27 AGUSTUS 2010 | 17:40 WIB
Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Jakarta -Slovakia membatalkn niat untuk menanamkan investasi ban di Indonesia. “Karena ketersediaan energi dan infrastruktur di Indonesia buruk, maka mereka tidak mau investasi,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI), Aziz Pane, ketika dihubungi, Jumat (27/8).

Aziz mengatakan, keputusan itu diambil dari hasil penelusuran mengenai iklim usaha di indonesia. “Itu hasil dari upaya mereka untuk mencari tahu,” kata dia. Sedangkan untuk investasi dari Korea Selatan tetap akan masuk Indonesia.

Sebelumnya, Aziz mengatakan ada beberapa rencana investasi industri di sektor ban yang akan masuk Indonesia. Nilai investasi yang akan masuk sebesar US$ 620 juta. Investasi yang direncanakan masuk dari Korea Selatan untuk ban radial senilai US$ 600 juta. Ada pula investasi dari Slovakia untuk ban off the road senilai US$ 20 juta.

Aziz mengaku sudah memperkirakan rencana investasi ban akan terganjal sejumlah hambatan. “Jalur distribusi dari kebun karet ke pabrik panjang dan sulit karena infrastruktur belum mendukung,” kata Aziz. Ia juga mengeluhkan kurangnya dukungan dari bank untuk industri ban.

Batalnya investasi dari Slovakia patut disayangkan. Sebab, Slovakia sudah menunjukkan keseriusannya untuk menanamkan modal di Indonesia. Delegasi dari Slovakia juga sudah datang ke Indonesia beberapa bulan lalu. Apalagi ban off road belum diproduksi di Indonesia.

Direktur Industri Kimia Hilir, Kementerian Perindustrian, Tony Tanduk memaklumi alasan perusahaan Slovakia mengurungkan niatnya untuk investasi di Indonesia. “Industri ban memang butuh banyak energi untuk produksinya. Sementara pasokan energi gas di dalam negeri memang sulit,” kata dia.

Untuk mengatasi hal ini pemerintah akan membentuk tim untuk membahas rencana kebutuhan gas industri. “Tim tersebut diantaranya terdiri dari Kementerian Perindustrian dan pelaku usaha,” kata dia.

Tim ini diharapkan menghasilkan neraca kebutuhan gas untuk industri. Seharusnya, kata Tony, perusahaan asal Slovakia itu mengatakan kebutuhan gasnya. Sebab, selama ini, pihaknya hanya membuat perencanaan untuk perusahaan yang sudah ada.

Tony melanjutkan, untuk perusahaan asal Korea Selatan, Hankook sudah memastikan akan investasi di Indonesia. Mereka sudah bertemu Menteri Perindustrian pekan lalu.

EKA UTAMI APRILIA

August 25, 2010

Bangun Rel Kereta, Investor India Diminta Gandeng Pemda

Rabu, 25/08/2010 13:36 WIB
Bangun Rel Kereta, Investor India Diminta Gandeng Pemda
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – Keseriusan pengusaha asal India, Reliance Power Ltd untuk berinvestasi di Sumatera Selatan, membuat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorongnya untuk lebih bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat.

Reliance Power Ltd sendiri telah memiliki 2-3 tambang batubara di wilayah Sumatera Selatan. Total produksi yang ingin Reliance capai sebesar 50 juta ton.

Dalam pengembanganya, perseroan ingin membangun jalur rel kereta api yang menghubungkan hingga Jambi. Bukan hanya rel kereta api, Reliance Power akan membangun pembangkit listrik di lokasi yang berdekatan dengan tambang mereka.

“Kita harus ketemu untuk membicarakan ini. Di India dia paling hebat. Mereka akan bangun pembangkit listrik juga. Saya inginnya menggandeng Pemda,” ungkap Kepala BKPM Gita Wirjawan.

Hal itu diungkapkan Gita dalam acara Head of Agrement (HoA) pembangunan jalur kereta api dan terminal batubara dari Tanjung Enim ke Tanjung Api-Api bersama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adani Global, dan Pemprov Sumatera Selatan di gedung BKPM, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (25/8/2010).

Total investasi yang disiapkan anak usaha dari Reliance Anil Dhirubhai Ambani Grup, mencapai US$ 4-5 miliar untuk pembangkit listrik, jalur rel kereta api dan pertambangan.

Reliance juga akan membangun infrastuktur rel kereta api 230 km dari konsesi tambang di Batang Hari, Rawas Ilir, Sumsel menuju Jambi hingga Malaka. Pengerjaan memakan waktu 3 tahun dan dapat dimanfaatkan untuk mengangkut batubara dan bisa untuk kegiatan lain.banyak dengan pemerintah daerah setempat.