Posts tagged ‘investment’

January 12, 2011

Industri Otomotif Kebanjiran Investasi

Koran Tempo 12 Januari 2011

 

 

 

Pembatasan bensin bersubsidi dan pajak progresif tidak mengganggu industri.

Perkembangan industri otomotif di Indonesia ternyata menarik perhatian para investor dalam negeri maupun mancanegara. Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal, Teuku Otman Rasyid, mencatat setidaknya 18 investor telah menyerahkan surat izin aplikasi penanaman modal.

“Kami menerima aplikasi penanaman modal dan menerbitkan pendaftaran maupun izin prinsip penanaman modal kepada para investor,”ujarnya kemarin.

Dari ke-18 investor itu, kata Otman, lima di antaranya berstatus pendaftar penanaman modal. Sedangkan 13 investor lainnya sudah ditindaklanjuti untuk izin prinsipnya. Kelima investor itu berasal dari Amerika Serikat, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Dari kelima investor baru itu, nilai investasi terbesar berasal dari Thailand berinvestasi US$ 1,5 juta di Bekasi (lihat tabel).

Ke-13 investor lainnya mengajukan izin prinsip, diantaranya investor lokal di bidang usaha suku cadang serta komponen kendaraan roda dua dan empat bakal berinvestasi Rp 43,1 miliar di Bekasi, Jawa Barat. Otman berharap investasi ini memperkuat pengembangan industri otomotif di dalam negeri.

Staf Khusus Kepala BKPM,

Silmy Karim, menyatakan, dari sekitar US$ 448 juta dana investasi tahun lalu, sebanyak US$ 32 juta datang dari penanaman modal dalam negeri. “Itu hanya untuk industri otomotif.” Sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Suryo Bambang Sulisto menilai industri otomotif tetap diandalkan tahun ini. Meski ada pembatasan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi, penerapan pajak progresif, dan pajak daerah, daya tarik investasi di industri otomotif tetap tinggi karena potensi pasar besar

 

Advertisements
Tags:
December 15, 2010

Sofjan Wanandi: RI Negara Besar Hanya Mimpi

Sofjan Wanandi: RI Negara Besar Hanya Mimpi
Hadi Suprapto, Agus Dwi Darmawan
RABU, 15 DESEMBER 2010, 16:50 WIB
VIVAnews-Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi tak yakin dengan prediksi pengamat bahwa Indonesia calon negara besar secara ekonomi. “Itu hanya mimpi,” ujar Sofyan di Jakarta, Rabu 15 Desember 2010. Menurut dia, dari sejumlah pilihan, Indonesia hanya dijadikan alternatif oleh para pengusaha.

Sofjan menambahkan, Indonesia belum punya daya tawar tinggi bagi investor, baik lokal atau asing. Soalnya, pemerintah tak bisa menjamin keamanan, dan kepastian hukum di Tanah Air. “Kemarin perusahaan Jepang tanya ke saya, melihat demo ini aman apa tidak di Indonesia,” ujar Sofjan.

Para investor, kata Sofjan, juga galau soal Undang-undang Ketenagakerjaan yang masih menggantung. Pemerintah, buruh, dan pengusaha seperti berperang mempertahankan argumen masing-masing. Keluhan lain, pengusaha harus mengeluarkan biaya tinggi dalam urusan tenaga kerja. “Di dunia ini Indonesia paling tinggi keluarkan biaya. Misalnya pesangon sampai 32 kali gaji,” kata Sofjan.

Kepastian hukum juga menjadi soal. Urusan ke pengadilan tidak nyaman. Misalnya, ketika ada karyawan mencuri, lalu diproses secara hukum di pengadilan. Kasusnya membutuhkan waktu sampai 5 tahun. “Pengusaha keberatan, karena selama 5 tahun itu, harus bayar gaji,” ujar dia.

Sofjan mengatakan pengusaha sebenarnya tak begitu suka memakai tenaga kerja outsourcing. Paling tidak, selain biaya mahal, kualitas sumber daya manusia juga tak bisa dipenuhi secara baik. Masalah lain, bila perusahaan merekrut karyawan dari kontrak lalu diangkat karyawan tetap, biasanya karyawan itu juga menjadi malas-malasan.

“Selalu seperti itu. Begitu sudah tetap malas-malasan. Lalu kalau kami pecat, kami harus keluarkan biaya tinggi,” kata dia.

Ketidakpastian juga terjadi pada pembebasan lahan dan energi. Pengusaha mengeluh karena sulitnya memulai usaha di Indonesia. “Kita mau investasi minyak dan gas tidak ada. Infrastruktur kurang. Ada pelabuhan macet, jalan tidak ada. Bagaimana ini? Jadi pekerjaan pemerintah itu banyak,” ujar dia.

Sofjan yakin bila persoalan itu segera diatasi, maka ekspansi usaha perusahaan besar seperti Toyota, LG, Panasonic, dan lainnya akan lebih bergairah. Kondisi investasi pengusaha sekarang, menurut Sofjan, masih sangat lambat.

“Eropa, Amerika, dan Jepang, itu takut dengan China. Mereka ingin Indonesia bisa jadi alternatif karena mereka tahu Indonesia punya potensi. Tapi sampai hari ini, Indonesia baru masuk alternatif,” kata dia.

Sofjan meminta pemerintah memperhatikan tumbuhnya industri di Indonesia. Seperti China, kekuatan manufaktur sudah tak bisa tersaingi. Bahkan untuk angka impor Indonesia dari China pun sulit. Tak heran, pada tahun ini defisit perdagangan Indonesia dengan China melampaui US$6 miliar.

Pengusaha, Sofjan melanjutkan, memperhatikan proses birokrasi di pemerintahan. Sejauh ini para pengusaha baru tahu cerita yang baik, tapi pelaksanaannya belum. Banyak peraturan tumpang tindih, dan peraturan di pusat dan daerah belum sejalan. “Semua masih pakai duit. Birokrasi ini perlu dibenahi lagi,” kata dia. (np)

Tags:
November 24, 2010

Indonesia Ajak Cina Investasi Perkapalan dan Pelabuhan

Indonesia Ajak Cina Investasi Perkapalan dan Pelabuhan
SELASA, 23 NOVEMBER 2010 | 15:02 WIB

Aktifitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan JICT Tanjung Priok. TEMPO/Dinul Mubarok

TEMPO Interaktif, Jakarta -Indonesia mengajak Cina ikut berpartisipasi pada pembangunan pelabuhan di Indonesia. “Selat Malaka di pantai timur Sumatra dilewati 110 ribu kapal atau sekitar 30 persen volume perdagangan dunia. Maka pemerintah mendorong industri perkapalan dan kepelabuhan nasional,” kata Deputi Bidang Koordinasi Industri dan Perdagangan, Kementerian Koordinasi Perekonomian, Edy Putra Irawadi dalam Seminar Prospek Hubungan Indonesia-Cina di Jakarta, Selasa (23/11).

Selain di pantai timur Sumatera, pemerintah juga ingin membangun konektivitas di Indonesia timur. “Dengan perkembangan Indonesia timur, maka diharapkan akan mengurangi aktivitas di Jawa,” ujarnya.

Menurut Edy, Cina memiliki teknologi perkapalan dan kepelabuhan yang baik. Sehingga pemerintah berharap Cina mau ikut berpartisipasi dalam pembangunan pelabuhan di Indonesia.

Edy menambahkan, Indonesia juga ingin memajukan industri pertanian dan maritim. “Maka, diharapkan ada kerjasama mesin pertanian sehingga mampu bangun industri pertanian,” kata dia. Selain itu, Pemerintah ingin ada investasi industri perikanan dan proses perikanan.

Duta Besar Cina untuk Indonesia, Zhang Qiyue mengatakan bahwa Cina termasuk investor baru di Indonesia. Pada 2008, nilai investasi Cina sudah sempat mencapai US$ 139,6 juta. Pada 2009, nilai investasi menurun hanya US$ 65,5 juta.

Dia ingin perusahaan Cina terlebih dahulu mengenal Indonesia secara optimal. “Mulai dari kebijakannya, keperluan serta prioritas pengembangan Indonesia,” kata dia.

Zhang sendiri melihat saat ini, Indonesia memprioritaskan pembangunan infrastruktur. “Maka pemerintah akan dukung perusahaan untuk ikut serta dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia,” ujarnya.

Zhang menambahkan, pemerintah Cina juga memperhatikan pemerintah Indonesia tengah membangun koridor ekonomi. “Maka kami dukung perusahaan untuk ikut serta,” kata dia.

Pemerintah Cina juga mendukungperluasan bidang investasi Cina di Indonesia. “Kami pandu dan dukung investasi berpindah dari energi dan sumberdaya ke industri komunikasi, pertanian, jasa, perikanan, energi baru,” ujarnya.

Untuk itu, Cina telah menyediakan kredit lunak sebesa US$ 2 miliar untuk mendukung pembangunan jalan, jembatan dan pembangkit listrik di Indonesia. “Indonesia negara paling besar mendapatkan dana dari Cina,” kata dia.

Eka Utami Aprilia

November 18, 2010

Rothschild Ingin Investasi Bank & Semen Indonesia

0 13:23

EKONOMI > SEKTOR RIIL

Rothschild Ingin Investasi Bank & Semen Indonesia

Andika Sugiarto

INILAH.COM, Jakarta – Salah satu keluarga terkaya di Indonesia, Bakrie, telah bergabung dengan dinasti Rothschild. Rothschild dikabarkan tertarik untuk menanamkan investasinya dari mulai sektor perbankan, semen, hingga batubara yang saat ini booming di Indonesia.

Perusahaan yang berdomisili di London ini sepakat untuk menggabungkan saham di tiga perusahaan milik grup Bakrie, perusahaan tersebut adalah Berau Coal dengan kepemilikan aset PT Bumi Resources (BUMI) dalam kesepakatan share swap dengan PT Vallar, perusahaan investasi pertambangan yang didanai oleh Nathaniel Rothschild awal tahun ini.

Bakrie akan mendapatkan kontrol mayoritas Vallar dan akan berubah nama menjadi BUMI PLC yang terdaftar di bursa efek London. Hal ini merupakan langkah yang berarti bagi produsen batubara terbesar di Indonesia untuk meningkatkan keuntungan di pasar global. “Ini adalah pengambilalihan terbaik, di mana Grup Bakrie mulai menyusun kembali aset pertambangan batubaranya,” jelas Norico Gaman Head of Research BNI Securities seperti dilansir Reuters.

“Vallar hanya sebuah kendaraan Grup Bakrie untuk mengkonsolidasikan asetnya,” tambahnya.

Selain itu ia juga menjelaskan bahwa saat ini BUMI tidak hanya menjadi pemimpin di industri batubara domestik namun juga melangkah untuk menjadi pemimpin industri tersebut di luar negeri. “BUMI kini sedang melebarkan sayapnya untuk menjadi salah satu pemain terbesar dalam industri batubara global,” jelasnya.

Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Vallar akan membayar cash sebesar $ 3 miliar dan opsi tukar saham baru untuk membeli saham 75 persen di Berau dan 25 persen dari BUMI dalam kesepakatan pertama sejak memperoleh $ 1,1 miliar dari listing bulan Juli lalu.

“Kami telah mengumumkan pembentukan sebuah pemain yang unggul di industri batubara Indonesia yang akan menjadi pemasok batubara terbesar ke China,” kata Rothschild dalam konferensi pers di London kemarin.

“Ini adalah bisnis yang menguntungkan, hingga 2013 dapat menghasilkan 140 juta ton batubara setiap tahunnya dengan total impor China pada tahun 2009 menembus rekor 126 juta ton, atau tiga tingkat dari 2008,” tambah dinasti Jerman-Yahudi yang sudah kaya sejak 1700-an.

Bakrie Group akan memiliki 43 persen dari Bumi Plc, sementara 28,3 persen akan dimiliki oleh publik yang sebelumnya memiliki saham Vallar. [cms

November 12, 2010

China siap gelontorkan investasi US$6,6 miliar

China siap gelontorkan investasi US$6,6 miliar
Rabu, 10/11/2010 14:34:25 WIB
Oleh: Rudi Ariffianto
JAKARTA: China berkomitmen menggelontorkan investasi senilai US$6,6 miliar yang akan difokuskan pada proyek infrastruktur di Indonesia.

Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional RRC Wu Bang Guo mengatakan Indonesia dan China bisa saling melengkapi dan bekerja sama lebih erat, terutama di sektor ekonomi.

Beberapa peluang kerja sama ekonomi di antara kedua negara, seperti proyek infrastruktur, eksplorasi dan pengelolaan sumber daya alam, serta pariwisata.

“China akan terus terlibat proyek dengan investasi skala besar sebagai bentuk kerja sama ekonomi yang konkret dengan Indonesia. Kami akan investasi sekitar US$6,6 miliar dan berpotensi untuk terus meningkat di masa depan dengan adanya hubungan lebih erat,” katanya Selasa malam.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufik Kiemas mengatakan kerja sama ekonomi yang erat bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi kedua negara. China, katanya, memang sudah berkomitmen untuk terlibat dalam proyek pembangunan infrastruktur dan suprastruktur di Indonesia.

“Kerja sama bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi kedua negara. Investor China mau investasi dalam waktu dekat,” tambahnya tanpa merinci rencana investasi China tersebut.

Pada 2009, investasi China di Indonesia mencapai US$226 juta yang tersebar di beberapa proyek infrastruktur, seperti listrik dan jembatan. Selain infrastruktur, China juga berkomitmen untuk investasi di sektor perdagangan, pertambangan, pertanian, pangan, perikanan, industri kreatif, termasuk di dalamnya UKM.

Hingga bulan kelima 2010, investasi China telah mencapai US$140 juta, di luar pinjaman lunak sebesar US$2 miliar untuk mendukung berbagai proyek infrastruktur di Indonesia. Dalam gelaran Shanghai Expo tahun ini pemerintah mengklaim berhasil menarik komitmen investasi baru senilai US$2 miliar. (hl)

Tags:
November 6, 2010

Siemens gandeng NTP bangun pabrik turbin 12 juta euro

Semoga investasi bidang enjineering lebih banyak lagi dan lebih semarak. Untuk industri ini harusnya pemerintah memberikan banyak insentif .

+++++
Diunduh dari Kontan Sabtu, 06 November 2010 | 07:12

Siemens gandeng NTP bangun pabrik turbin 12 juta euro

[]

JAKARTA. Kerjasama antara investor asing dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan anak usahanya semakin marak. Kali ini, perusahaan asal Jerman Siemens AG asal Jerman yang menggandeng anak usaha PT Dirgantara Indonesia yaitu PT Nusantara Turbin Propulsi. Siemens AG dan PT NTP bekerjasama mendirikan pabrik turbin di bawah bendera PT Siemens Industrial Power dengan nilai investasi 12 juta Euro.

Presiden Direktur PT NTP Supra Dekanto mengatakan nantinya PT NTP dan Siemens AG mendirikan pabrik turbin yang menghasilkan turbin uap dengan kapasitas mesin sekitar 3 megawatt (MW) – 15 MW.

“Turbin uap ini bisa digunakan di beberapa industri seperti pabrik pupuk, pabrik gula dan pembangkit PLN,” ujarnya saat penandatanganan perjanjian joint venture pendirian pabrik turbin uap di Jakarta Jumat (5/11).

Dalam dua sampai tiga bulan ke depan, PT Siemens Industrial Power akan menyiapkan perusahaan, yang dilanjutkan dengan pembangunan fisik pabrik. “Pabriknya akan selesai pada awal tahun depan. “Pada semester II tahun 2011 diharapkan sudah bisa memproduksi sebanyak 4 unit turbin,” kata Supra. Selanjutnya, mulai tahun 2012 nanti diharapkan pabrik turbin ini bisa memiliki kapasitas produksi hingga 40 unit per tahun.

CEO of the Oil and Gas Division for Industrial Power of Energy Sector of Siemens AG Markus Tacke menambahkan Siemens ingin memeperluas eksistensinya di pasar energi yang berkembang Indonesia. “Kami melihat adanya potensi pasar yang besar untuk turbin uap untuk mendukung program percepatan pengadaan listrk oleh pemerintah Indonesia dan mendorong perkembangan berbagai sektor industri,” ujarnya.

Dalam kerjasama patungan ini, Siemens AG menguasai 60% saham, sementara sisanya sebesar 40% dimiliki oleh PT NTP. Perjanjian kerjasama ini akan meliputi kerjasama alih teknologi turbin uap industri. Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan bisa memacu industri dalam negeri untuk mengembangkan turbin. Selama ini, Indonesia belum mampu memproduksi turbin dari dalam negeri. Turbin hasil produksi PT Siemens Industrial Power ini nantinya akan memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 40%.

Supra mengatakan untuk saat ini, memang turbin uap yang dihasilkan masih memiliki kapasitas sekitar 3 MW – 15 MW. Tapi, ia bilang seiring dengan kebutuhan untuk geothermal yang cukup tinggi di masa mendatang, pabrik turbin ini berencana akan mengembangkan turbin uap dengan kapasitas mencapai 55 MW yang bisa digunakan untuk geotermal.

Tacke menambahkan, untuk mengenai penambahan kapasitas ini, ia bilang akan sangat tergantung dengan permintaan pasar kemampuan industri di dalam negeri untuk mendukung produksinya.

Untuk mendukung pengembangan industri turbin ini, Supra bilang sejak tahun 2005 PT NTP sudah memulai mengembangkan turbin bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Selain itu, NTP juga sudah mengembangkan kerjasama dengan beberapa industri pendukung untuk kluster industri turbin di beberapa tempat seperti di Cilegon, Cikarang, dan surabaya. “Nantinya kami akan melakukan kerjasama dengan para mitra ini,” ujarnya.

Direktur Industri Mesin Kementerian Perindustrian Chanty Triharso menambahkan, kerjasama dengan kluster industri pendukung ini akan mempermudah pengembangan industri turbin. “Kerjasama dengan industri pendukung akan membuat investasi lebih efisien,” jelasnya.

Kebutuhan turbin ke depan akan terus bertambah, apalagi saat ini PLN terus mengembangkan pengadaan listrik 10.000 MW tahap II. Triharso bilang, untuk mendukung kebutuhan industri setidaknya dibutuhkan 20 unit – 25 unit turbin per tahun.

++++++++++++++++

PT NTP dan Siemens Buat Pabrik Turbin Uap
Didit Putra Erlangga Rahardjo | Dedi Muhtadi | Rabu, 16 Mei 2012 | 12:12 WIB
Dibaca: 910Komentar: 3
| Share:

KOMPAS/Didit Putra Erlangga Rahardjo
Peresmian Pabrik Siemens Industrial Power

BANDUNG, KOMPAS.com – Sebuah pabrik turbin uap industri diresmikan di Kota Bandung, Rabu (16/5/2012). Pabrik ini berdiri atas kerja sama perusahaan dari Indonesia PT Nusantara Turbin dan Propulsi dengan Siemens AG dari Jerman.

Perkongsian dua perusahaan tersebut menghasilkan perusahaan baru bernama PT Siemens Industrial Power dengan pabrik yang terletak di dekat gerbang tol Pasteur. Dengan nilai investasi 10 juta euro, Siemens AG memegang 60 persen dari saham sementara PT NTP mengantongi 40 persen sisanya.

“Ini sebuah langkah besar bagi kami untuk menjadi unggul dalam bidang turbin uap di Indonesia. Tidak hanya sebagai penunjang berbagai industri seperti batubara, biomassa, kelapa sawit, maupun pertambangan,” kata Presiden Direktur PT Siemens Industrial Power, Dierk Unterspann, Rabu.

Salah satu hal yang dilakukan PT SIP adalah bekerja sama dengan perusahaan dalam negeri untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri. Secara bertahap, persentasi kandungan lokal akan mencpai 40 persen.

Tags:
November 1, 2010

Investasi Sudah Lampaui Investasi 2007

CAPAI RP 149,6 TRILIUN
Investasi Sudah Lampaui Investasi 2007
Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki
Minggu, 31 Oktober 2010 | 17:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah melaporkan bahwa realisasi investasi hingga Triwulan III tahun 2010 telah melampaui realisasi penanaman modal pada periode yang sama tahun 2007, dimana Indonesia mencatatkan pertumbuhan investasi terbesar sebelum krisis keuangan global melanda pada tahun 2008. Realisasi Penanaman modal hingga Triwulan III 2010 mencapai Rp 149,6 triliun, sedangkan realisasi investasi pada periode yang sama tahun 2007 masih sebesar 143 triliun.
Demikian diungkapkan Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), MM Azhar Lubis di Jakarta, Minggu (31/10/2010) saat menghadiri Pemaparan Laporan Realisasi Penanaman Modal Triwulan III 2010 oleh BKPM.
Azhar menyebutkan bahwa pada tahun 2007, realisasi penanaman modal dalam negeri atau PMDN hingga Triwulan III mencapai Rp 34,8 triliun. Adapun realisasi penanaman modal asing (PMA) mencapai 10,3 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 103 triliun.
“Dengan demikian, total realisasi penanaman modal hingga triwulan III 2007 mencapai sekitar Rp 143 triliun. Adapun, realisasi penanaman modal hingga triwulan III 2010 dilaporkan mencapai Rp 149,6 triliun. Atas dasar itu, penanaman modal pada triwulan III 2010 ini sudah melampaui tahun 2007,” ujarnya.
BKPM melaporkan, terjadi kenaikan kontribusi PMDN terhadap total penanaman modal mulai triwulan III 2010 ini. Pada Triwulan III 2009, PMDN masih tercatat 22,7 persen terhadap total penanaman modal pada tahun itu. Adapun pada Triwulan III 2010 sudah mencapai 29,3 persen.
Lima sektor terbesar PMDN yang terjadi selama Triwulan III 2010 adalah pertama, sektor tanaman pangan dan perkebunan yang mencakup 76 proyek dengan nilai Rp 4,5 triliun. Kedua, sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebanyak 13 proyek senilai Rp 3,1 triliun. Ketiga, industri makanan sebanyak 34 proyek mencapai Rp 2,8 triliun. Keempat, industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi sebanyak 20 proyek senilai Rp 1,4 triliun. Kelima, jasa lainnya sebanyak 33 proyek dengan nilai Rp 1,1 triliun.
Adapun lima sektor terbesar pada PMA adalah pertama, perumahan, kawasan industri, dan perkantoran mencakup 33 proyek dengan nilai 0,8 miliar dollar AS. Kedua, sektor pertambangan sebanyak 88 proyek senilai 0,7 miliar dollar AS. Ketiga, transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebanyak 29 proyek dengan nilai 0,6 miliar dollar AS. Keempat, industri makanan sebanyak 67 proyek senilai 0,4 miliar dollar AS. Kelima, industri tanaman pangan dan perkebunan dengan 72 proyek senilai 0,3 miliar dollar AS.
“Asing terutama sangat banyak yang masuk ke sektor perumahan dan perkantoran. Itu yang utama,” tambah Wakil Kepala BKPM, Yus’an

October 31, 2010

RI Dapat Komitmen Investasi Hingga US$ 5 Miliar Dari China

Minggu, 31/10/2010 19:26 WIB
RI Dapat Komitmen Investasi Hingga US$ 5 Miliar Dari China
Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

Jakarta – Para pengusaha China akan berinvestasi sekitar US$ 4-5 miliar di Indonesia. Komitmen investasi ini tercantum dalam 27 Nota Kesepakatan (Memorandum of Understanding/MoU) yang sudah ditandangani dalam rangkaian kegiatan kunjungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke World Expo 2010 di Shanghai.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, para pengusaha negeri tirai bambu tersebut diantaranya akan menanamkan modal pada sektor manufaktur, telekomunikasi dan minyak dan gas bumi.

“Nilainya sekitar US$ 4-5 miliar. Dari seluruh MoU yang ditandatangani sebanyak 27 itu. Realisasi 2-4 tahun,” kata Gita di Kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/10/2010).

Adapun beberapa perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan China di antaranya yaitu, Artha Graha untuk pembangunan fiber optic, PT Aneka Tambang dan Hangzhou Jinjiang Group untuk pengembangan potensi bauksit, PT Waja Sekawan Prima dan Tian Yi Seamless Steel Tube untuk pembangunan pabrik seamless pipe pertama di Asia Tenggara, serta Samudera Energy dan CNOOC/Husky Oil untuk dukungan operasi hulu migas di Blok Madura Strait.

Selain itu, Barong Baragas Energy dan Jinchuan Group untuk pembangunan pabrik smelting nikel di Sulawesi Tenggara, Bumi Makmur Selaras dan Hanking Industrial Group untuk eksplorasi dan pengembangan nikel, Indonesia Mitra Jaya dan Super Power Int. Holding untuk pengembangan terpadu nikel di Pulau Seram.

“Untuk proyek Smelter Grade Alumina antara Hangzho dan Antam itu kapasitasnya 400-500 ribu ton dan akan dibangun tahun depan,” ungkapnya.

Tags:
October 31, 2010

BKPM: Investasi Bisa Tembus Rp 200 Triliun di 2010

Minggu, 31/10/2010 18:52 WIB
BKPM: Investasi Bisa Tembus Rp 200 Triliun di 2010
Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

Jakarta – Badan Koordinasi Pasar Modal (BKPM) memperkirakan realisasi investasi hingga akhir tahun 2010 bisa menembus angka Rp 200 triliun. Atau di atas target yang telah ditetapkan sebesar Rp 160,1 triliun.

“Berdasarkan Hitung-hitungan kita per kuartal itu (investasi baru) bisa sampai Rp 50-55 triliun. Kita target Rp 160,1 triliun, berarti kurang 10-11 triliun lagi. Sangat bisa kita capai target itu. Bahkan kita bisa sedikit berharap untuk capai 200 triliun,” ujar Kepala BKPM Gita Wirjawan di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/10/2010)

Ia juga meyakini kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) akan terus meningkat nantinya. Hingga kuartal III-2010, kontribusi investor domestik sudah mencapai 25,7% atau sebesar Rp 38,5 triliun dari total perolehan investasi sebesar Rp 149,5 triliun.

“Saya optimis porsi penanaman modal dalam negeri akan meningkat dan melebihi yang sekarang. Kalau kita bisa capai di akhir tahun di atas 30%, itu sudah bagus,” ungkapnya.

Gita menambahkan, untuk mencapai target investasi sebesar Rp 1.500 triliun pada 2014, maka setidaknya BKPM harus mampu mengaet investasi sebesar Rp 550 triliun mulai 2011.

“Saya perlu garisbawahi target kita Rp 1.500 triliun pada 2014, jauh lebih besar daripada angka investasi yang sudah direalisasikan. Hitung-hitungan kasar kita setidaknya harus capai Rp 550 triliun per tahun,” tambahnya.

October 15, 2010

Investor Jepang incar saham berbasis konsumsi domestik

Jumat, 15/10/2010 14:44:46 WIB
Investor Jepang incar saham berbasis konsumsi domestik
Oleh: Wisnu Wijaya
TOKYO: Pemodal portofolio dari Jepang minati saham emiten di Indonesia yang bergerak di sektor konsumsi domestik, sumber daya alam, dan infrastruktur, terutama telekomunikasi.

Michio Tanaka, Deputy General Manager Global Equity Sales Department II Daiwa Securities Capital Markets Co Ltd, mengatakan beberapa saham emiten yang berbasis konsumsi domestik seperti PT Astra International Tbk dan PT Gudang Garam Tbk cukup menarik, karena populasi di Indonesia yang besar.

“Saya kira saham berbasis sektor konsumsi yang paling diminati oleh pemodal Jepang,” tuturnya di sela-sela one-on-one meeting antara lima emiten di Indonesia dan klien Daiwa Capital Markets hari ini.

Menurut dia, selain sektor tersebut, investor Jepang juga melihat likuiditas menjadi salah satu faktor utama dalam berinvestasi.

Selain Astra dan Gudang Garam, beberapa saham yang banyak ditanyakan oleh pemodal Jepang a.l. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT Adaro Energy Tbk, PT Indika Energy Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, dan saham di sektor perbankan.

Michio menambahkan selain sumber daya alam yang besar, Indonesia mempunyai hubungan yang khusus secara historis dengan Indonesia.

“Indonesia cukup penting untuk Jepang, apalagi Indonesia mempunyai sumber daya alam yang banyak,” katanya.

Saat ini, banyak pemodal Jepang mulai melirik saham-saham di Asia seperti China, India, dan Indonesia.

Beberapa investor yang hadir dalam one-on-one meeting hari ini yakni Daiwa Asset Management, Nomura Asset Management, Mitsubishi-UFJ Asset Management, Sumitomo, Capital Research, dan Cref yang merupakan pengelola dana pensiun dari AS. (yes)