Posts tagged ‘Lippo’

November 25, 2010

Gubernur Maluku Sambut Positif Rencana Ekspansi Grup Lippo

Gubernur Maluku Sambut Positif Rencana Ekspansi Grup Lippo
Kamis, 25 November 2010 | 8:41
Chairman Lippo Group James Riady (kanan) menyambut kedatangan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu di Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Karawaci, Tangerang, Banten, Rabu (24/11). Foto: Investor Daily/GAGARIN

Berita Terkait
Lippo Karawaci Akuisisi RS Balikpapan Husada

KARAWACI – Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menyambut positif rencana ekspansi Grup Lippo ke kawasan Indonesia Timur. Potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia di kawasan Indonesia Timur khususnya Maluku cukup menarik untuk dikembangkan.

“Dengan perhatian Grup Lippo ke Indonesia Timur saya kira ini sudah tepat sekali. Grup Lipppo bisa melihat porspek-prospek pembangunan yang akan datang di Indonesia bagian timur khususnya Maluku,” kata Karel dalam kunjungannya ke Lippo Karawaci, Rabu (24/11).

Karel mengatakan penemuan terbaru tentang cadangan gas bumi terbesar yang terdapat di Maluku merupakan salah satu potensi pendukung pembangunan di kawasan tersebut. Di samping itu pencanangan Maluku sebagai lumbung ikan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga akan mendorong perkembangan regional yang kian menjanjikan di sekitar wilayah Maluku.

“Saya kira inilah potensi-potensi Maluku dengan peluang dan tantangannya akan sangat menjanjikan sekali dalam pembangunan yang nanti akan difokuskan di Indonesia Timur,” kata Karel.

Fokus
Dia mengatakan, alasan lainnya yang membuat prospek pembangunan di kawasan Indonesia Timur sangat menjanjikan antara lain sumber daya alam di wilayah barat yang kian menipis. Ke depan, Indonesia akan memfokuskan pembangunan ke wilayah Timur.

“Sekarang waktunya Indonesia Timur dibangun dan digali sumber daya alammnya. Mudah-mudahan sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang ada bisa membangun kembali Maluku sehingga bisa melangkan untuk masa depan yang lebih baik,” jelas Karel.

Dalam kunjungannya tersebut, Karel ditemani Kepala Dinas PU Maluku, Kabiro Investasi dan Penanaman Modal Maluku, Dirut BPD Maluku, serta Dirut RSUD Maluku. Kedatangan mereka bermaksud ingin berdiskusi dengan Group Lippo tentang prospek-prospek pembangunan di daerahnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Grup Lippo, James T Riady menilai Provinsi Maluku selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, juga memiliki Sumber daya manusia yang kaya. Namun potensi-potensi itu masih kurang mendapatkan peluang untuk berkembang.

“Untuk itu, sudah merupakan tugas pemerintah bersama dengan masyarakat dalam hal ini Group Lippo untuk dapat mensinergikan potensi tersebut, sebagai modal utama dalam pembangun ke depan,” kata James Riady.

Presiden Direktur Grup Lippo Theo L Sambuaga menambahkan, dalam rencana ekspansinya ke Indonesia Timur, Grup Lippo memang membidik sektor ritel, pendidikan, serta kesehatan. Pasalnya, Grup Lippo melihat Maluku memiliki banyak potensi yang luar biasa yang bisa dikembangkan lebih baik lagi.

“Semenjak pertemuan pertama dalam Sail Banda, mata Lippo memang tertuju pada kawasan Maluku. Kami ingin membangun Maluku sebagai contoh untuk membangun Indonesia Timur secara keseluruhan,” kata Theo.

Saat ini Lippo sudah memiliki jaringan usaha, terutama ritail, di hampir semua kota utama di Indonesia timur seperti di Makassar, Manado, Ambon dan Kupang. Khusus untuk kawasan Maluku Lippo sendiri tertarik untuk membangun pemukiman, sekolah, rumah sakit, pusat logistik, department store, hipermart, hotel berbintang, serta mal. (ris)

Advertisements
Tags:
November 4, 2010

Lippo akuisisi tiga rumah sakit

Lippo akuisisi tiga rumah sakit
04 Nov 2010
Bisnis Indonesia Ekonomi
OLEH ARIF GUNAWAN S Bisnis Indonesia

JAKARTA Pengembang properti terintegrasi PT Uppo Karawaci Tbk menargetkan akuisisi setidaknya tiga rumah sakit baru hingga akhir tahun ini, sehingga pendapatan divisi rumah sakit melalui Siloam Grup Hospital pada 2011 naik lebih dari 35%.

Direktur Utama Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya mengatakan pihaknya menargetkan memiliki tujuh rumah sakit yang dikelola Siloam Hospital, sehingga Lippo memiliki jaringan rumah sakit swasta terbesar nasional.

“Penambahan tiga rumah sakit itu kami harapkan dapat memperkuat pertumbuhan perusahaan. Kami bermaksud mengejar akuisisi lain dan membangun rumah sakit baru untuk mencapai pendapatan tahunan rumah sakit US$500 juta dalam 5 tahun,” tuturnya, kemarin.

Akuisisi pertama, lanjutnya, telah difinalisasi kemarin dengan akuisisi sebuah rumah sakit di Jambi senilai US$18 juta atau sekitar Rpl65,6 miliar. Akuisisi yang didanai dari kas internal itu dilakukan untuk mengantisipasi pertumbuhan bisnis layanan kesehatan di daerah tersebut.

Pascaakuisisi, lippo Karawaci mengendalikan rumah sakit swasta tersebut dengan kepemilikan saham sebesar 83%. Selanjutnya, perseroan menyiapkan investasi tambahan untuk peralatan medis.

Pihaknya berharap rumah sakit tersebut bisa diluncurkan secara resmi dengan menggunakan nama Siloam Hospitals pada Januari 2011. Selanjutnya pada Desember, perseroan akan memfinalisasi akuisisi satu lagi rumah sakit.

Ketut mengatakan akuisisi itu diharapkan bisa melayani kebutuhan masyarakat Indonesia yang masih mencari layanan kesehat-an hingga ke luar negeri. Dengan ketersediaan rumah sakit berkualitas internasional di dalam negeri, publik bisa mengefisienkan belanja kesehatan.

Dalam kesempatan itu. Ketut mengungkapkan manajemen Lippo berupaya menggenjot divisi Siloam sebesar empat kali lipat, sehingga dalam 5 tahun akan memiliki 25 rumah sakit, dan terus mencari target-target rumah sakit baru untuk diakuisisi.

Proses itu akan dilakukan sampai 2015. “Kami memiliki 20 rumah sakit dalam jaringan di mana tidak akan ragu untuk mengakuisisi rumah sakit-rumahsakit lainnya, ketika kesempatan itu datang,” papar Ketut.

Dibentuk pada 1996, Siloam Hospitals Group merupakan anak usaha Lippo Karawaci yang menjadi kelompok rumah sakit swasta terbesar di Indonesia, dengan jaringan lima rumah sakit umum dan rumah sakit spesialis di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Surabaya, dan Jambi.

Di pasar, saham perseroan berkode LPKR ini kemarin ditutup pada level Rp640 atau tidak berubah dibandingkan dengan posisi penutupan sehari sebelumnya. Kapitalisasi saham emiten properti ini mencapai Rp 11 triliun.

Tags:
October 11, 2010

Mochtar Riady: Saatnya Berfokus ke Indonesia Timur

Mochtar Riady: Saatnya Berfokus ke Indonesia Timur
SENIN, 11 OKTOBER 2010 | 06:06 WIB
Besar Kecil Normal
Mochtar Riady. TEMPO/Bagus Indahono

TEMPO Interaktif, Uban sudah rata menyebar di rambut Mochtar Riady yang masih klimis. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 12 Mei 1929, ini juga tak segesit dulu. Tapi raut muka pendiri Lippo Group itu masih menunjukkan semangat yang tak pernah pudar. Wajahnya berpendar ketika ia menceritakan proses transisi kepemimpinan di Lippo Group.

September lalu, Mochtar menyerahkan tampuk pimpinan kelompok usaha Lippo kepada Theo L. Sambuaga. Politikus Golkar itu, sebelumnya, sudah 15 tahun menjadi komisaris Lippo. Mochtar mengatakan memilih Theo karena Lippo ingin berekspansi ke Indonesia bagian timur. Sebagai orang Manado, Theo dianggap cocok dengan strategi Lippo yang ingin menggarap pasar di sana. Mochtar sekarang lebih memilih berfokus pada keluarga dan kehidupan spiritual.

Suksesi itu berbarengan dengan peringatan 60 tahun Grup Lippo. Kelompok usaha ini sudah memiliki 50 anak usaha. Usahanya berkembang mulai properti, infrastruktur multimedia, media, retail, pendidikan, kesehatan, hingga pengelola investasi. Namun usaha yang membuat namanya melambung adalah perbankan. Pada 1989, ia menggabungkan Bank Perniagaan Indonesia dengan Bank Umum Asia menjadi Lippo Bank.

Setelah menggurita seperti sekarang, Mochtar menilai, usaha ini tidak bisa hanya dimiliki keluarga. Ia mengatakan hanya ada satu nama Riady dalam jajaran eksekutif kelompok Lippo, yaitu James Riady (Chief Executive Officer Lippo Group), selebihnya adalah kaum profesional, termasuk Theo. James pun mengiyakan hal tersebut. Mochtar percaya bahwa setiap anak harus mengembangkan talentanya masing-masing. “Dari enam anak saya, tiga masuk dunia pendidikan dan satu membuat film,” katanya.

Mochtar kemudian mengingat asal mula ia membangun usahanya. Ketika kecil, ia melihat kontradiksi dari pengajaran orang tuanya. Sang ibu sering mengajak ke klenteng untuk membagikan uang kepada pengemis. Sebaliknya, sang ayah melarangnya menjadi peminta-minta. Ia kemudian berpikir bahwa tidak baik memberikan uang kepada orang yang fisiknya masih mampu untuk bekerja. Mochtar pun bertekad membuka usaha sendiri, sehingga bisa menciptakan lapangan kerja.

Setelah menikah pada 1951, Mochtar membuka toko kecil di Jember bersama istri. Namun mimpinya ketika itu adalah menjadi bankir. Setelah menjadikan toko kecil itu sebagai toko terbesar di Jember, ia hijrah ke Jakarta untuk mencari relasi dengan para bankir. Meskipun tidak memiliki pendidikan di bidang keuangan, Mochtar sukses menyehatkan beberapa bank, seperti Bank Kemakmuran dan Bank Buana. Ia memiliki prinsip menjadi first class salesman, yaitu menjual barang yang tidak ada tapi bisa mendapat keuntungan. “Menjual visi,” katanya.

Dalam konferensi pers 60 Tahun Lippo Group di Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, bulan lalu, Mochtar menceritakan bagaimana menjadi first class salesman. Pada 1970-an, saat Bank Panin baru memiliki aset US$ 10 juta, ia melihat ada potensi besar di bank tersebut. Untuk mewujudkannya, ia perlu bekerja sama dengan bank asal Jepang, Fuji Bank.

Berbekal keinginan kuat, Mochtar nekat menghubungi kenalannya, seorang profesor di Singapura yang juga lulusan Universitas Kyoto. Kebetulan profesor ini mengenal Direktur Utama Fuji Bank ketika kuliah. Mochtar meminta profesor itu mengajak sang direktur makan malam di sebuah restoran di Jepang. Setelah itu, ia kemudian meminta profesor kembali mengajak makan Direktur Fuji Bank makan malam, namun kali ini bersama Mochtar.

Dalam pertemuan itu, bukannya menyebutkan nama Bank Panin, Mochtar malah menyebutkan Indonesia terus-menerus dan bagaimana kayanya negeri ini. Direktur itu terus mencatat setiap perkataannya. Profesor pun menanyakan kenapa tidak berbicara soal kerja sama bisnis. Mochtar dengan yakin mengatakan, jika direktur itu tertarik berbisnis di Indonesia, pasti ia mencarinya. Keyakinan itu terbukti. Tidak lama berselang, Fuji Bank menyatakan kesediaannya mengembangkan Bank Panin.

Setelah itu, Mochtar dikenal sebagai dokter bisnis perbankan. Ia pernah dijuluki “The Magic Man of Bank Marketing”. Salah satu yang fenomenal adalah ketika ia sukses membangun Bank Central Asia bersama Liem Sioe Liong, sebelum mendirikan Lippo. Kini, setelah 60 tahun, Mochtar menilai saat ini mulai terjadi perubahan iklim ekonomi dunia. Dulu, bisnis dunia berpusat di kawasan Atlantik. Tapi kini mulai bergerak ke kawasan Pasifik. “Ini menunjukkan Indonesia semakin dekat dengan perekonomian dunia,” katanya.

Itu sebabnya, kata Mochtar, Lippo perlu mengembangkan diri seiring dengan perkembangan zaman. Kawasan Indonesia bagian timur, menurut dia, akan semakin terintegrasi dan mengambil porsi utama dalam perekonomian nasional. Namun ia tak ingin terlibat lagi dalam manajemen Lippo untuk menghadapi tantangan baru itu. Ia percaya, di tangan para profesional, Lippo akan berhasil mengembangkan diri.

Kini, setiap hari ia membuka kesibukannya dengan berlari di atas treadmill selama setengah jam. Ia juga tak memiliki pantangan makanan apa pun. “Yang penting semua harus pas takarannya.” Boleh jadi, itu yang membuatnya selalu bugar.

Tags:
October 5, 2010

BI Akui Beri Izin Lippo Kuasai Bank Nobu

Selasa, 05/10/2010 07:55 WIB
BI Akui Beri Izin Lippo Kuasai Bank Nobu
Herdaru Purnomo – detikFinance

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengakui telah memberikan izin kepada perusahaan milik Lippo Grup yakni PT Kharisma Buana Nusantara (KBN) untuk menguasai 60% saham Nobu National Bank (Bank National Nobu).

“Iya, BI memang telah memberikan izin kepada perusahaan yang terkait Lippo Grup yakni PT Kharisma Buana Nusantara,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (05/10/2010).

Difi menuturkan izin tersebut memang sudah dikeluarkan sejak beberapa pekan lalu setelah melalui fit and proper test beberapa pekan sebelumnya.

PT Kharisma Buana Nusantara merupakan anak usaha Grup Lippo yang dimiliki oleh Mochtar Riady bergandengan dengan Yantony Nio CEO Grup Pikko. Grup Lippo menguasai 60% saham di KBN, sementara 40% dikuasai Yantony Nio.

Dalam berita sebelumnya, disebutkan bahwa BI telah memberi izin kepada Pikko Group untuk mengakuisisi Nobu Bank. Direktur Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Bank Indonesia Joni Swastanto memberikan konfirmasi saat ditanya wartawan apakah benar Pikko Group akan masuk ke Nobu Bank. Namun menurut kabar, dalam aksi ini Yantony bertindak atas nama pribadi dan tidak bertindak atas nama Grup Pikko.

Mochtar Riady sebenarnya merupakan ‘pemain lama’ di perbankan karena sudah berkecimpung sejak tahun 1954 ketika menduduki posisi Direktur di Bank Kemakmuran. Pada tahun 1989 Mochtar menduduki jabatan tertinggi di Bank Perniagaan dan mempunyai ide untuk melakukan merger dengan Bank Umum Asia. Dari merger tersebut lahirlah Bank Lippo dimana merupakan cikal bakal dari Lippo Grup.

Sampai pada tahun 1999, Mochtar Riady terpaksa harus melepaskan kepemilikan saham mayoritas di Bank Lippo kepada pemerintah terkait dengan rekapitulasi aset bank bermasalah. Namun, dirinya masih menjabat sebagai komisaris utama. Pada akhirnya, dalam RUPS PT Bank Lippo Tbk pada tahun 2005 Mochtar Riady resmi mengundurkan dari jabatan komisaris utama. Selama lima tahun vakum di industri perbankan akhirnya Mochtar Riady kembali menggeluti bisnis perbankan melalui Nobu Bank.

Presiden Direktur Lippo Group Theo Sambuaga dalam siaran persnya, Senin (4/10/2010) mengatakan dalam akuisisi tersebut, Lippo akan melakukan penambahan modal ke Nobu Bank. Lippo masuk melalui PT Kharisma Buana Nusantara (KBN) sebesar 60% dan 40% saham dimiliki Yantony Nio CEO Grup Pikko.

“Lippo akan berperan menjembatani pemodal yang tidak memiliki ide investasi dengan entrepreneur yang punya ide namun kekurangan modal. Pak Mochtar peduli melihat masih sulitnya pengusaha kecil mengakses modal. Bank Indonesia telah menyetujui investasi Pak Mochtar (Riady) dalam Nobu Bank,” tutur Theo.

Terkait dengan kepemilikan 40% saham Nobu Bank oleh Pikko Grup, bank sentral tidak memberikan keterangan lebih lanjut.

Tags: