Posts tagged ‘Research’

November 2, 2010

Benarkah Fox Indonesia Bangkrut?

Benarkah Fox Indonesia Bangkrut?
SELASA, 02 NOVEMBER 2010 | 11:49 WIB
Besar Kecil Normal
Fox Indonesia

TEMPO Interaktif, Jakarta – KABAR tak sedap mendera Fox Indonesia sepanjang pekan lalu. Lembaga konsultan strategis dan politik yang didirikan dua bersaudara Andi Zulkarnain (Choel) Mallarangeng dan Rizal Mallarangeng ini disebut-sebut tengah limbung. Kegiatan usaha survei dan konsultasi politik untuk para calon bupati, wali kota, atau gubernur dihentikan sementara waktu. Sebagian karyawannya kemungkinan besar akan dirumahkan dan diberi pesangon.

Terbilang sukses selama ini, goyahnya Fox Indonesia tentu saja mengejutkan. Lembaga ini berhasil mengantar Alex Nurdin menjadi Gubernur Sumatera Selatan tahun lalu. Fox turut berperan mengantar kemenangan Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden dalam Pemilihan Umum 2009. Tahun ini, Fox tak akan terlibat sama sekali memberikan konsultasi politik pemilu di daerah. “Kami sedang cooling down dulu,” kata Choel kepada Tempo di Jakarta pekan lalu.

Adik kandung Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng ini membantah jika dikatakan Fox kolaps. Isu tersebut, kata dia, sengaja diembuskan oleh para pesaingnya. “Justru kami sedang bersiap-siap bermain di ajang pemilihan umum nasional 2014,” ujarnya.

Tidak aktifnya Fox Indonesia bukan berarti bisnis konsultan politik sudah berlalu. Musim pemilu daerah praktis tak pernah usai setelah sistem pemilihan langsung diberlakukan sejak 2005. Mulai pemilihan bupati, wali kota, hingga gubernur.

Tahun ini ada banyak pasar buat lembaga konsultan politik. Tercatat ada 246 pemilihan kepala daerah: tujuh di tingkat provinsi dan sisanya di kabupaten atau kota. Hingga 2013 masih ada 200 peristiwa serupa, sebelum ditutup dengan hajatan pemilihan anggota legislatif dan presiden pada 2014. “Prospek bisnisnya masih oke,” ujar anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Jeffrie Geovanie, di Jakarta pekan lalu.

Menurut Wakil Direktur Eksekutif Lembaga Pemenangan Pemilu Partai Golkar 2007-2009 itu, para kandidat dari Golkar hampir selalu memakai jasa konsultan. Meskipun partai sebagai mesin politik sudah solid, kata dia, tetap saja ada celah yang bisa digarap para konsultan politik. Misalnya, pencitraan pribadi. “Partai tak mengurusi hal-hal pencitraan semacam itu,” ujarnya.

Kendati prospektif, bisnis konsultasi politik tahun ini tak seringan lima tahun lalu. Persaingannya amat ketat karena pemain kian banyak dan pasarnya menjadi sesak. Lima tahun lalu hanya ada satu lembaga konsultan politik. Sekarang sudah ada 10 lembaga serupa: bisnisnya memberikan nasihat politik, termasuk memenangi pemilu.

Salah satu lembaga konsultan politik yang bertahan adalah Lingkaran Survei Indonesia. Dikomandani Denny Januar Ali alias Denny J.A., Lingkaran Survei Indonesia memberikan pelayanan beragam, mulai survei dukungan, pemenangan pemilu, hingga pendampingan kandidat. “Kami supermarket konsultan politik,” katanya.

Sejak didirikan lima tahun lalu, Lingkaran Survei Indonesia mengklaim sudah ikut berperan memenangi pemilihan 20 gubernur serta 35 wali kota dan bupati. Denny juga ikut berperan memenangkan Susilo Bambang Yudhoyono. Konsultan politik lain yang eksis adalah Lembaga Survei Indonesia pimpinan Syaiful Mujani.

Kini muncul pemain baru yang layak diperhitungkan : Polmark Indonesia. Lembaga yang didirikan dosen ilmu politik Universitas Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, ini mulai menggebrak. Polmark, yang umurnya belum setahun, amat berperan memenangkan pasangan Agustin Teras Narang-Ahmad Diran sebagai Kepala Daerah Kalimantan Tengah dalam pemilu Juni lalu.

l l l

MUNCULNYA lembaga baru konsultan politik, seperti Polmark, tentu saja lantaran bisnis ini cukup menggiurkan. Duit yang bisa diterima para konsultan politik lumayan gede. Menurut Eep, setidaknya ada tiga sumber pendapatan yang bisa diperoleh lembaga konsultan politik. Pertama, biaya bulanan (retainer fee) untuk operasional konsultan. Kedua, biaya pemolesan kandidat (management fee), termasuk urusan tetek-bengek iklan dan pencitraan di media; serta terakhir, biaya sukses (success fee) yang dibayar setelah calon atau kandidat menang. “Nilainya beragam,” katanya kepada Tempo di Jakarta pekan lalu. Dan jumlahnya tidak kecil.

Jeffrie Geovanie menggambarkan nilai pasar biaya bulanan sekitar Rp 100 juta hingga Rp 1 miliar. Biaya pemolesan kandidat paling murah Rp 1-2 miliar. “Tarif success fee paling besar. Itu tak ada ukurannya, tapi minimal Rp 1 miliar,” dia mengungkapkan.

Tarif jasa melakukan survei lain lagi. Direktur Lembaga Survei Indonesia Syaiful Mujani menaksir biaya sekali survei di kabupaten atau kota sekitar Rp 125 juta. Biaya survei di provinsi minimal Rp 250 juta. “Bergantung pada tingkat kesulitannya,” ujarnya.

Lantaran fulus menggiurkan itu, perebutan pasar tak terhindarkan. Selain bersaing satu sama lain, lembaga-lembaga konsultan politik berbasis di Jakarta itu kerap berhadapan dengan pesaing lokal yang tarifnya jauh lebih murah. Di Tangerang Selatan, misalnya, saat ini sedang berlangsung pemilihan wali kota. Ada empat kandidat bersaing: Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie, Arsyid-Andre Taulani, Rhodiah Najiba-Sulaeman Yassin, dan Yayat Sudrajat-Norodom Soekarno. Selain untuk survei, empat kandidat tersebut ogah menyewa konsultan politik level nasional. “Harganya mahal,” ujar Suryadi, ketua tim sukses pasangan Arsyid-Andre Taulani.

Perbandingan akurasi survei antarlembaga konsultan juga menjadi arena pertarungan lain. Padahal terkadang beberapa lembaga konsultasi bekerja sama mendukung satu kandidat. Pertarungan seru terjadi antara Lingkaran Survei dan Fox yang dibantu Lembaga Survei Indonesia, di Sumbawa, Bengkulu, dan Sulawesi Utara pada pemilihan kepala daerah belum lama ini. Sekalipun angka prediksi hitung cepat para lembaga konsultasi politik berbeda tipis, citra sang konsultan menjadi taruhannya.

Di tengah pasar yang kian sempit, lembaga-lembaga konsultan politik mau tak mau mencari strategi baru. Denny J.A. sampai harus mendirikan lima anak perusahaan. Di antaranya Citra Publik Indonesia, Konsultan Citra Indonesia, dan LSKP Research and Consulting untuk merebut segmen pemilihan kepala daerah. “Tentu tarif berbeda,” ujarnya.

Polmark Indonesia lain lagi. Lembaga ini lebih memilih menggaet sumber daya lokal sebagai mitra. Eep mencontohkan, saat menggarap satu klien di Maluku, lembaganya merekrut seorang mantan politikus lokal. Strategi ini lumayan efisien menekan biaya operasi sekaligus memperkuat jaringan daerah. “Setelah proyek utama selesai, kerja sama masih bisa berlanjut,” ujarnya.

Di samping klien konvensional, Polmark menggarap ceruk baru, lembaga negara ataupun perusahaan pelat merah. “Lembaga-lembaga itu perlu pendampingan, mengingat intervensi dan gesekan politiknya amat tinggi,” kata Eep.

Persaingan ketat memang tak bisa diredam, tapi harus ada cara membuat bisnis konsultasi politik tetap sehat. Menurut Eep, perlu ada standar profesi konsultan politik yang memuat etika-etika tertentu, semisal mengumumkan hasil survei atau hitung cepat setelah pemungutan suara selesai. “Itu demi menghindari distorsi pada pemilih,” ujarnya. Setiap lembaga konsultan politik, menurut dia, juga mesti punya kesadaran dalam memilah kandidat yang akan didampingi. Tujuannya agar kandidat layak dipilih publik dan menghindari calon yang terjerat masalah hukum.

Fery Firmansyah, Joniansyah (Tangerang)

Tiga sumber pendapatan yang bisa diperoleh lembaga konsultan politik

1. Biaya bulanan (retainer fee) untuk operasional konsultan.

2. Biaya pemolesan kandidat (management fee).

3. Biaya sukses (success fee) yang dibayar setelah calon atau kandidat menang.

Eep Saefulloh Fatah, (Polmark Indonesia)

Advertisements
Tags:
June 28, 2010

Dana Penelitian dan Pengembangan Pertanian Terendah di Asia

Gimana mau maju jika kondisinya begini…
+++
Dana Penelitian dan Pengembangan Pertanian Terendah di Asia
Jakarta | Mon 28 Jun 2010 20:19:08
MENTERI Pertanian Suswono mengatakan, anggaran penelitian dan pengembangan pertanian di Indonesia menempati urutan paling rendah di kawasan Asia. Dari anggaran yang dialokasikan untuk Kementerian Pertanian, hanya sebesar Rp600 miliar atau kurang dari 10 persen yang diperuntukkan bagi kedua bidang tersebut.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah pusat akan menggelar retret untuk mengkaji pembangunan pertanian yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Juli mendatang. Selain membahas masalah penelitian dan pengembangan, retret juga membahas persoalan penyuluhan dan irigasi.

“Jadi ini yang nanti akan diintegrasikan,” kata Suswono usai mengikuti rapat anggaran pertanian dan irigasi di Kantor Wakil Presiden, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat,
Senin (28/6).

Dikatakannya, selain menyorot masalah penelitian, retreat pembangunan pertanian juga akan membahas masalah penyuluhan. Karena menurutnya, keberhasilan pembangunan pertanian di waktu lalu didukung dengan penyuluhan, baik sektor anggaran maupun sumber daya manusia. Dengan demikian peran penyuluhan harus dioptimalkan.

Suswono mengatakan retreat bertujuan menciptakan keberhasilan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Karena swasembada pangan yang telah dicapai saat ini masih rentan. “Sebab sesungguhnya walaupun kita sekarang tercapai katakanlah swasembada pangan, misal beras yang saat ini tercapai, ini sesungguhnya masih rentan,” katanya. Rizky Andriati Pohan

Tags:
April 16, 2010

Indonesia juarai penelitian ilmiah dunia

Prestasi keren – sangat kontras dengan prilaku para dosen yang gemar berplagiat

+++
Indonesia juarai penelitian ilmiah dunia
Jumat, 16/04/2010 21:04:51 WIBOleh: Hilda Sabri Sulistyo
JAKARTA (Bisnis.com): Indonesia kembali menjadi juara umum pada Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Dunia Ke-17 dengan meraih tujuh medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu. Prestasi ini mengulang kesuksesan Indonesia pada ajang yang sama tahun lalu di Pszcyna, Polandia.

“Di ajang 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) pada 12-17 April 2010 di Denpasar, Bali, ini tim Indonesia berkompetisi di semua bidang lomba, yakni Ilmu Fisika, Matematika, Komputer, dan Ekologi,” ungkap, kata Bambang Indriyanto, Sekretaris Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional dalam siaran persnya hari ini.

Tujuh medali emas masing-masing diraih oleh Florencia V.Vaniara/Evelyn L.Wibowo dengan judul penelitian Effect of Stem Cell and Mangosteen Peel Extact on Abnormal Cells, Muhammad Kautsar/Dian Sartika Sari/Dhicha Putri Maharani/Hidayu Permata Hardi (Sweitenia Oil:The Use of Mahagony Seed os Bio-Oil Alternative and The Use of Production Waste as Electris Mosquito Repellent).

Sementara Oki Novendra (Mathematical Explamation on the Death of Michael Jackson), Dwiky Rendra Graha Subekti (Big Match:” Suka Kelor” Caramel vs Malnutrition), Sonny Lazuardi Hermawan (Portable Protection Everywhere), Miftah Yama Fauzan (Development of Smart Electric Gun with Adaptive Bullet Speed), dan Andreas Widy Purnomo/Aldo Vitus Wirawan (Green Energy Source: Centripetal Water Turbine) juga meraih medali emas dari ajang lomba ini..

Medali perak diraih oleh Aria Dhanang Dewangga dan medali perunggu masing-masing diraih oleh Dita Nurtjahya, Fauqia Tambunan/Bening Embun Pagi/Alan Suherman, dan Rizal Panji Islami/Fahmi Maulana Ainul Yakin/Ikhsan Britama. Tim Indonesia juga meraih best performance atas nama Dwiky Rendra Graha Subekti untuk bidang Environmental Sciences dan Ilham Naharudinsya/ Ardelia Djati Safira/Satria Putra Adhitama untuk bidang Basic Mathematics.

Peringkat kedua diraih oleh Jerman dengan dua medali emas, satu medali perak, dan empat medali perunggu, sedangkan peringkat ketiga diraih oleh Rusia dengan dua medali emas, satu medali perak, dan tiga medali perunggu. Peringkat berikutnya berturut-turut ditempati Belanda, Belarusia, dan Polandia masing-masing meraih satu medali emas.

“Keberhasilan siswa Indonesia menjadi juara umum ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara-nengara lain terutama Eropa Timur dan sebagian dari Eropa Barat seperti Jerman dan Belanda. Kita tahu negara-negara Eropa Timur adalah negara-negara yang kuat di bidang sains,” kata Bambang. (htr)


Site Meter

Tags:
April 11, 2010

RI dinilai rendah dari inisiatif riset jamu

RI dinilai rendah dari inisiatif riset jamu
Minggu, 11/04/2010 18:56:50 WIBOleh: Imung Yuniardi
SEMARANG (Bisnis.com):Indonesia dinilai masih rendah dalam inisiatif riset jamu sehingga pengembangan industri termasuk pengembangan pasar ekspor menjadi stagnan.

Meskpun demikian, produsen jamu Nyonya Meneer tetap menargetkan mampu mencapai omzet ekspor senilai Rp100 miliar tahun ini dari total omzet sebesar Rp1 triliun.

Presdir Nyonya Meneer Charles Saerang menuturkan selama ini pihaknya kesulitan menembus pasar jamu di luar negeri secara langsung akibat tingkat kepercayaan mereka terhadap standarisasi produk di Indonesia masih rendah.

“Itulah mengapa kami terpaksa mengekspor ke Taiwan dan China misalnya, dengan perantaraan Amerika Serikat. Jadi kami kirim produk ke Los Angeles dan dari sana baru dikirim ke China dengan kemasan berbeda,” jelasnya kepada Bisnis.com baru-baru ini.

Kalaupun ada yang dikirim langsung ke negara tujuan, lanjutnya, biasanya berupa tanaman obat seperti jahe merah yang memang harus diakui sulit tumbuh di China.

Namun di negara yang biasanya banyak menyerap bahan obat dari Indonesia seperti India, mulai mengembangkan sendiri tanaman obat serupa di wilayah-wilayah mereka yang memiliki dua musim.

“Di sinilah kondisinya jadi serba sulit, sudah negara kita kurang dipercaya kredibilitas produknya, dari sisi inisiatif riset juga kalah. Dampaknya akhirnya pengusaha juga yang kena.”

Charles menambahkan meski tahun depan diharapkan omzet Nyonya Meneer dapat mencapai Rp1 triliun namun potensi pasar jamu relatif stagnan dan berganti pada suplemen makanan.

“Saya kecewa dengan mandeknya program saintifikasi jamu sebab sebenarnya dalam jangka panjang bisa menggairahkan pasar jamu lagi di negeri sendiri,” ujarnya.

Menurut dia, tidak jelasnya kelanjutan program saintifikasi jamu yang dicanangkan Menteri Kesehatan tiga bulan lalu itu akibat terlalu banyak tarik ulur kepentingan selain juga banyak prosedur yang belum jelas.

Contohnya soal kewenangan meresepkan jamu yang hanya dimiliki dokter herbal.

“Tetapi untuk bisa mendapat predikat dokter herbal harus lulus semacam kursus 60 jam yang hingga kini kurikulumnya pun tidak jelas apa saja, siapa yang menyusun dan sudah sampai mana. Itu baru soal dokter herbal,” paparnya.

Belum lagi lanjutnya mengenai klasifikasi jamu yang bisa diresepkan sampai sekarang juga tidak jelas meski pihak pengusaha jamu sudah bersedia memasok kebutuhan Kementerian Kesehatan.

“Ketika kami menyanggupi memasok bahkan untuk kebutuhan penelitian bisa gratis malah mereka yang belum bisa memberi kepastian jenis jamu yang bisa diresepkan. Yang satu bilang jangan yang kuratif, yang lain bilang kalau bukan kuratif tidak laku. Jadi masih susah,” katanya. (fh)


Site Meter

Tags:
March 24, 2010

Anggaran riset Kalbe Rp70 miliar

Anggaran riset Kalbe Rp70 miliar
Selasa, 23/03/2010 19:11:05 WIBOleh: Rahmayulis Saleh & Andreanto Indrodjanoe
JAKARTA (Bisnis.com): PT Kalbe Farma Tbk menyediakan anggaran riset sedikitnya Rp70 miliar tahun ini untuk mengembangkan berbagai penelitian produk baru dan teknologi, seperti sel punca (stem cell), drug delivery system, dan genomics.

Menurut Boenjamin Setiawan, Founder & Senior Advisor PT Kalbe Farma Tbk., perusahaannya mendukung penelitian yang dilakukan bersama, baik dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek), dan institusi pendidikan/pemerintahan, serta unsur masyarakat lainnya.

“Kalbe Farma sangat mendukung usaha-usaha kolaborasi akademisi, business, government dan community [ABGC],” ujarnya, hari ini.

Saat ini, ujarnya, Kalbe Farma tengah mendalami penelitian di bidang stem cell,

sejenis sel induk untuk terapi berbagai penyakit, yang bisa menimbulkan harapan baru dalam pengobatan berbagai penyakit.

Menurut dia, dunai akademisi harus lebih membuka diri dan bekerja sama lebih erat dengan dunia industri. Perguruan tinggi sebaiknya melakukan penelitian dasar sebanyak 80%, dan aplikasi 20%.

Sementara itu Amin Soebandrio, Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional Kemen Ristek, menyatakan Indonesia masih tertinggal dalam hal penelitian, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

“Hal itu terjadi karena minimnya anggaran yang disediakan pemerintah untuk pengembangan penelitian,” ujarnya.

Berdasarkan data, katanya, Indonesia hanya memiliki 200 peneliti untuk setiap 1 juta penduduknya, masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia yang memiliki sekitar 500/1 juta penduduknya. Bahkan Singapura memiliki 5.000 peneliti untuk setiap 1 juta penduduknya.

Amin mengaku tak berkecil hati mengingat wilayah Indonesia yang lebih luas, serta berpenduduk sekitar 240 juta jiwa, jika dibandingkan dengan kedua negara tetangga tersebut.

Saat ini, ujarnya, anggaran yang disediakan pemerintah untuk pengembangan penelitian masih sekitar Rp3,5 triliun, jauh di bawah India yang menyediakan US$40 miliar untuk kegiatan penelitiannya.

“Saya kira anggaran yang ideal untuk pengembangan penelitian di negara kita ini, minimal Rp10 triliun. Namun, kita juga harus realistis dengan keadaan ekonomi sekarang,” ujarnya.

Tahun ini, lanjutnya, Kemen Ristek memfasilitasi sekitar 500 penelitian, yang masih didominasi oleh penelitian di sektor pangan, disusul oleh sektor kesehatan dan teknologi informasi. (ts)

Tags:
March 23, 2010

Ristek dan Kalbe Farma Gelar RKSA 2010 Bagi Peneliti

Ristek dan Kalbe Farma Gelar RKSA 2010 Bagi Peneliti
Selasa, 23 Maret 2010 | 21:56 WIB
Besar Kecil Normal

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kementerian Riset dan Teknologi bekerja sama dengan PT Kalbe Farma menyelenggarakan Ristek-Kalbe Science Awards 2010. Kegiatan ini terbuka bagi para peneliti life sciences Indonesia, khususnya bidang kesehatan, kedokteran, dan pangan fungsional.

Penyelenggaraan kegiatan yang berlangsung untuk kedua kalinya itu diharapkan dapat mendorong para peneliti untuk terus berprestasi dan melakukan penelitian yang berguna bagi masyarakat. “Penghargaan ini adalah wujud kepedulian serta misi PT Kalbe Farma sebagai perusahaan farmasi berbasis iptek untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan kehidupan yang lebih baik,” kata pendiri sekaligus senior adviser PT Kalbe Farma, Boenjamin Setiawan.

Deputi Bidang Pengembangan Sistem Iptek Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi, Amin Soebandrio, menyatakan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor yang amat menentukan kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa. “Ilmuwan atau peneliti, baik dari kalangan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian, memegang peranan kunci karena mereka ujung tombak pengembangan iptek,” katanya.

Boenjamin berharap perusahaan lain dapat mengikuti jejak mereka menyelenggarakan program serupa. “Anggaran penelitian untuk peneliti Indonesia itu kecil sekali, jauh tertinggal dibandingkan dengan anggaran penelitian negara-negara tetangga, seperti Singapura dan Thailand,” katanya. “Bahkan rasio penelitinya pun tertinggal.”

Penghargaan yang akan diberikan dalam RKSA 2010 terdiri atas dua kategori, yaitu young scientist awards, yang akan diberikan kepada peneliti muda Indonesia, dan best research awards. Kategori Young Scientist Awards khusus bagi peneliti berusia maksimal 40 tahun per 24 September 2010, saat para pemenang ditetapkan.

Pemenang young scientist awards akan menerima penghargaan hibah senilai Rp 50 juta. Untuk kategori best research awards, terbaik 1 akan menerima Rp 50 juta, sedangkan terbaik 2 menerima Rp 30 juta dan terbaik 3 memperoleh Rp 15 juta.

Pendaftaran peserta akan dibuka sampai 30 Juni 2010. Para peserta diminta mengirimkan hasil riset mereka maksimal lima tahun ke belakang (kategori best research awards) dan hasil riset yang telah diajukan dalam RKSA 2008, tak boleh diajukan lagi dalam program ini. “Bidang yang dilombakan adalah yang terkait dengan life sciences dan teknologi untuk pembangunan dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, atau terkait farmasi, kedokteran, dan pangan fungsional yang meliputi obat atau sediaan obat, diagnostik, dan metode pengobatan,” kata Pre Agusta, Supply Chain Director PT Kalbe Farma, selaku ketua panitia penghargaan.

Seleksi akan dilakukan dalam tiga tahap penjurian. Listyani Wijayanti, staf ahli bidang pangan dan kesehatan di Kementerian Riset dan Teknologi, selaku anggota tim juri memaparkan bahwa pada tahap pertama, tim juri akan memilih 15 finalis, yang terdiri atas lima finalis young scientist awards dan 10 finalis best research awards. Dalam tahap terakhir, setiap finalis harus melakukan presentasi di depan dewan juri dan tim juri.

TJANDRA DEWI

Tags:
December 30, 2009

BPPT siap produksi bahan baku antibiotik Amoxicillin

Selasa, 29/12/2009 15:01 WIB

BPPT siap produksi bahan baku antibiotik Amoxicillin

oleh : Rahmayulis Saleh

JAKARTA (Bisnis.com): Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) siap memproduksi bahan baku obat generik antibiotik Amoxicillin, mengingat kebutuhan dalam negeri dan peluang ekspor obat tersebut ke mancanegara cukup besar, sementara negara yang memproduksinya selama ini hanya China.

Rifatul Widjhati, Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT, mengatakan pemerintah perlu memperkuat dan mendukung rencana investasi untuk memproduksi bahan baku obat Amoxicillin ini.

“Kita membutuhkan dana cukup besar untuk investasi pabriknya, untuk membeli mesin dan lainnya, bisa sampai triliunan [rupiah]. Namun, kalau sudah beroperasi dan berhasil dipasarkan, peluangnya sangat besar. Kita cuma bersaing dengan China yang selama ini memproduksi bahan baku obat tersebut,” ujarnya di sela-sela penyampaian Catatan Akhir Tahun Penerapan Teknologi Indonesia 2009 di BPPT hari ini.

Menurut Rifatul, rencana pengembangan fasilitas produksi serta kemampuan teknologi produksi bahan baku obat generic Amoxicillin perlu didukung dan dipercepat pelaksanaannya.

“Hal itu mengingat kebutuhan obat nasional masih didominasi obat infeksi antibiotika, maka kemandirian produksi bahan bakunya harus didukung secara politis di tingkat pimpinan nasional,” tambahnya.

Dia menuturkan dengan kemampuan produksi bahan baku antibiotika ini, selain untuk mencukupi kebutuhan nasional yang cukup tinggi juga bisa diekspor ke� Eropa, Afrika, dan Asia yang masih mengimpor dari China.

Rifatul menjelaskan untuk penelitian bahan baku obat antibiotik tersebut BPPT sudah melakukannya sejak 10 tahun lalu. “Kita bisa memproduksinya dari proses awal sampai menjadi obat, bekerja sama dengan pabrik obat dalam negeri apakah nantinya BUMN atau perusahaan farmasi swasta,” ujarnya.

Menurut dia, kendalanya adalah dalam penyiapan investasi untuk membuat pabrik bahan baku tersebut. Bila Indonesia impor terus harganya sering dipermainkan oleh produsen. “Pada 2008 lalu Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari sudah menyetujui dan membentuk Tim Nasional yang beranggotakan BPPT, Depkes, Badan POM, LIPI, dan lainnya. Tapi di tengah jalan terbentur dengan Pemilu sehingga tidak dilanjutkan,” jelasnya.

Selama ini belanja obat generik terbesar Depkes adalah untuk membantu masyarakat miskin dan program kesehatan lainnya. Untuk tahun depan, katanya, diharapkan proyek investasi pabrik bahan baku obat antibiotik ini bisa dijalankan kembali.

Untuk itu, tambahnya, Menkes sudah membicarakan hal tersebut dengan Menteri Keuangan terkait masalah pendanaannya. Pada 2010 nanti masalah antibiotik ini masih skala pilot, belum di produksi, jelasnya.

Saat ini, ujarnya, produksi lokal untuk obat antibiotik baru mencapai 150 ton oleh perusahaan farmasi swasta bekerja dengan pabrik di Korea Selatan. “Itu pun diambil pada dua tahap akhir proses, bukan dari tahap awal.”(er)

Tags:
November 19, 2009

Riset industri dapat insentif

Departemen Perindustrian mengusulkan pemberian keringanan pajak (tax deductible) bagi kegiatan riset teknologi untuk pengembangan industri manufaktur nasional.

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan investasi riset teknologi yang dilakukan industri membutuhkan biaya besar sehingga membutuhkan insentif dari pemerintah. Rendahnya aktivitas riset teknologi terlihat dari minimnya inovasi yang menopang pengembangan industri di dalam negeri.

“Selama ini kegiatan riset lebih banyak dibiayai swasta. Kalau pemerintah memberikan tax deductible, biaya investasi riset tentunya semakin murah sehingga inovasi teknologi yang dihasilkan lebih banyak,” katanya kemarin.

Menurut dia, Depperin akan berkoordinasi dengan Departemen Keuangan untuk menentukan jenis dan besaran keringanan pajak tersebut. Tanpa adanya keringanan pajak, pemanufaktur nasional tidak berminat menanamkan investasi di bidang riset teknologi. “Padahal, riset teknologi dapat melahirkan berbagai inovasi untuk menciptakan efisiensi produksi.

Tags:
November 19, 2009

Malaysia-Unhas riset rumput laut

Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia akan bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin Makassar untuk meneliti bibit rumput laut di Sulsel dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kualitas komoditi tersebut.

Nota kerja sama telah diteken oleh Menteri Sains Maximus Johnity Ongkili dan Rektor Unhas Idrus Patturusi disaksikan langsung Perdana Menteri Malaysia Dato Sri Mohd Najib Tun Razak di Makassar, kemarin.

Menteri Maximus mengatakan penelitian bersama itu segera dimulai Januari 2010 dengan perkiraan anggaran dua juta ringgit dari pemerintah negeri jiran. Selain rumput laut, riset lain yang akan dilakukan menyangkut obat-obatan herbal.

“Dari pihak Malaysia kami menyertakan tiga institut, yakni Mimos Berhad, Sirim Berhad, dan Technology Park Malaysia. Penelitian bertempat di Malaysia dan Sulawesi,” kata Maximus.

Tags: