Posts tagged ‘Risk society’

January 24, 2011

10 Negara yang Penduduknya Paling Bahagia

Jelas tidak ada negara Islam yang bisa membahagiakan penduduknya. Negara berbasis Islam mulai dari saudi arabia, pakistan, sampai iran kagak ada yang beres dan rakyatnya sengsara. Yang paling absurd adalah orang Indonesja yang mempromosikan berdirinya negara Khilafah

10 Negara yang Penduduknya Paling Bahagia

Senin, 24 Januari 2011 | 05:48 WIB

TEMPO Interaktif, Coba pikirkan sejenak: Apa yang membuat Anda bahagia? buat sebagian orang bahagia dimulai dari memiliki uang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Rumah yang nyaman, makanan, baju, mobil, jalan-jalan.

Tapi sejatinya, bahagia lebih dari sekadar uang. Bahagia juga berarti sehat, bisa mengurus diri sendiri dan punya waktu untuk teman juga keluarga. Lebih jauh lagi, bahagia artinya Anda bisa menyuarakan apa yang ada di pikiran tanpa rasa takut, bahagia juga merasa aman dan tentram di rumah sendiri.

Bahagia juga bisa berarti mendapat berbagai kesempatan, apakah itu pendidikan, atau kesempatan menjadi pengusaha. Dengan dasar ini, sejak lima tahun lalu, sejumlah peneliti di Legatum Institute di London membuat peringkat negara-negara yang penduduknya paling bahagia di dunia.

Baru-baru ini Legatum menyelesaikan indeks 2010 negara-negara yang penduduknya paling bahagia dan sejahtera. Legatum menggandeng Gallup sebagai kelompok yang membuat survei, juga Heritage Foundation dan Forum Ekonomi Dunia. Ada 89 variabel untuk menentukan peringkat ini. Di antaranya, ekonomi, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keamanan, kebebasan individu dan modal sosial.

Dari 110 negara yang disurvei, inilah 10 negara yang penduduknya paling bahagia.

1. Norwegia
Norwegia menjadi negara yang penduduknya paling bahagia. Pendapatan perkapita penduduknya paling besar di dunia yakni US$53.000 per tahun. Negara ini menghabiskan anggaran untuk kesehatan paling besar nomor dua setelah Amerika Serikat. Penduduknya bahagia dengan keindahan alam dan lingkungannya. Norwegia juga memiliki cadangan minyak dan gas yang besar.

2. Denmark
Berbisnis di negara ini tak membutuhkan banyak uang. Denmark tercatat sebagai negara yang paling rendah biayanya bila seseorang ingin membuat bisnis. Pendidikan bagi penduduknya juga terjamin begitu juga kebebasan bagi individu.

3. Finlandia
Damai, pendidikan yang terjamin, kesehatan juga terjamin, kebebasan berekspresi dan pemerintah yang bisa dipercaya. Inilah Finlandia. Ekonominya juga kuat.

4. Australia
Ekonomi Australia tergolong kuat, ditopang oleh berbagai macam ekspor. Australia menjadi negara yang bagus untuk memulai sebuah bisnis. Konektivitas internet bertebaran, pendidikannya bagus dan penduduknya mempercayai pemerintah.

5. Selandia Baru
Selandia Baru adalah negara dengan gesekan sosial paling rendah. Penduduknya saling percaya dan saling bantu. Sebanyak 94 persen penduduknya puas dengan kondisi lingkungan sekitar.

6. Swedia
Swedia berada di peringkat kedua untuk kesempatan dan usaha mandiri. Swedia adalah negara yang sangat cocok untuk memulai usaha. Kebebasan individu sangat dilindungi di Swedia.

7. Kanada
Di negara ini nyaris tidak ada korupsi. Kanada juga sangat terbuka bagi para imigran. Penduduk Kanada juga terkenal sangat baik dan gemar membantu sesama. Kanada juga negara yang tepat untuk memulai sebuah bisnis.

8. Swiss
Pemerintah Swiss dikenal bersih, kesempatan mendapat pendidikan bagi penduduknya sangat terbuka. Institusi keuangannya sangat kuat dan dipercaya.

9. Belanda
Penduduk Belanda hampir pasti bahagia, kebebasan individu sangat dilindungi oleh pemerintah. Sebanyak 88 persen penduduknya sangat puas karena bisa memilih apapun yang mereka suka dan mereka jalani.

10. Amerika Serikat
Hampir 90 persen penduduk Amerika Serikat puas dengan jaminan kesehatan. Anggaran untuk kesehatan rakyatnya juga tercatat terbesar di dunia. Sebanyak 90 persen penduduknya yakin dengan kerja keras mereka bisa hidup lebih baik.

FORBES | POERNOMO G. RIDHO

Advertisements
December 5, 2010

Road safety, a concern for all

Road safety, a concern for all

Tommy Dharmawan, Jakarta | Sat, 12/04/2010 12:13 PM | Opinion

A 2004 WHO report estimated that 1.27 million people die and between 20 million and 50 million were injured annually in road accidents.

In Asia and the Pacific, road accidents are a major public health problem, with some 10 million people severely injured or killed annually on the region’s roads, the World Health Organization (WHO) has warned.

The Asia-Pacific region accounts for about 60 percent of global road deaths, despite having only 16 percent of the world’s vehicles.

Road deaths jumped by nearly 40 percent in Asia between 1987 and 1995 — while in developed nations, the number fell by about 10 percent because of better safety measures.

WHO estimates that if current trends continue, road accidents will be the third global cause of disease or injury by 2020 after heart disease and depression.

In high-income countries, most of those killed or injured in road accidents are drivers of four-wheeled vehicles. But in low- and medium-income countries, “vulnerable road users” — pedestrians, cyclists and motorcyclists, and users of public transportation — make up a larger proportion of those injured or killed.

In low- and medium-income countries, a motorcycle is a family vehicle, with children routinely transported as passengers and helmets rarely used.

Road accidents are a huge economic drain. It is estimated that every year, road traffic accidents cost US$518 billion globally.

The cost of road crashes on country economies is often as high as 2 to 3 percent of GNP — more than the total annual amount received in development aid.

Many victims are the bread winners and, when injured or killed, their families are left without economic support. In addition, those who survive often need immediate hospital care and many require long-term support.

These injuries impose substantial economic burdens on developing nations. As a result, there is a direct link between road safety improvement and poverty reduction.

Problems associated with injuries and violence include insufficient awareness and understanding of the magnitude of the problem; a lack of national policies and plans on injury prevention; and a limited national capacity to collect and analyze injury data and design interventions.

Governments need to develop and implement national policies, programs and legislation on injury prevention; to promote public awareness and political commitment; and to strengthen national capacities in surveillance, intervention and monitoring.

Simple measures can be taken to make people safer on the roads. The measures, WHO said, include setting and enforcing appropriate speed limits; setting and enforcing blood alcohol limits; introducing and enforcing mandatory seat belt, helmet and child restraint laws; providing safer routes for pedestrians and cyclists, constructing speed bumps, separating different types of traffic; and improving the emergency services from the crash scene to the health facility and beyond.

Drinking and driving is one of the main causes of road crashes worldwide. In high-income countries about 20 percent of fatally injured drivers have excess alcohol in their blood, while in some low- and middle-income countries these figures may be up to 69 percent.

Effective drinking and driving programs have the potential to save thousands of lives.

Wearing a motorcycle helmet can cut the risk of death by almost 40 percent, and the risk of severe injury by 72 percent.

Light-colored helmets were found to be associated with a lower risk of a crash. A study concluded that 18 percent of crashes could be avoided if non-white helmets were eliminated.

 Child restraints (infant and child seats and booster seats) reduce the death rate in car accidents by 71 percent among infants and by 54 percent among young children. Seat belts have saved more lives in accidents than any other road safety measures.

 
“Road deaths have increased with a nation’s economic growth, but governments can incorporate safety strategies now to avoid this pattern.”

Wearing a seatbelt belt reduces the risk of bring ejected from a vehicle and suffering serious or fatal injury by 40 to 65 percent.

Teenage drivers have more than five times the risk of a fatal crash compared with drivers aged 30 years and above, at every level of blood alcohol content.

In many countries, a high proportion of injured pedestrians who have consumed alcohol fall in the 16-19 year age group.

Speed is the main factor contributing to road traffic injuries in most countries. Reducing average speed by 1 km/hour has been shown to lead to a 4 to 5 percent decrease in fatal accidents.

Research shows that a 5 percent increase in average speed leads to approximately a 10 percent increase in all injury crashes and a 20 percent increase in fatal crashes.

Creating and enforcing laws that require seat belts and helmets and punish drunken driving is a proven, cost-effective injury prevention strategy, said Dr. Kelly Henning, director of global health programs at Bloomberg Philanthropies. For every person dying as a result of injury, there are hundreds more that sustain non-fatal injuries and other health consequences.

Although the ultimate goal must be to prevent injuries from happening in the first place, much can be done to minimize the disability and ill-health arising from the injuries that do occur despite the best prevention efforts.

Providing quality support and care services to victims is therefore an essential component of any response to intentional and unintentional injuries. Appropriate services for victims of non-fatal injuries can prevent future fatalities, reduce the amount of short-term and long-term disability, and help those affected to cope with the impact of the injury on their lives.

Historically, road deaths have increased with a nation’s economic growth, but governments can incorporate safety strategies into transportation and infrastructure plans now to avoid this pattern, said Tony Bliss, lead road safety specialist at the World Bank.

If we could successfully turn this around, it would be one of the great 21st-century public health achievements.

The writer, who graduated from the University of Indonesia’s School of Medicine, lives in Jakart

Tags:
December 1, 2010

Buka Data Pembeli Saham, Komisi VI DPR Bentuk Panja IPO KS

DPR makin gila aja. Kerjaan DPR kali ini hanya akan menghancurkan ekonomi indonesia bersama 13 ekonom “kampung” .

Rabu, 01/12/2010 23:01 WIB

Buka Data Pembeli Saham, Komisi VI DPR Bentuk Panja IPO KS

Whery Enggo Prayogi : detikFinance

detikcom – Jakarta, Komisi VI DPR RI secara aklamasi membentuk Panitia Kerja (Panja) untuk membahas proses penjatahan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KS). Pembahasan dalam panja akan dilakukan, sampai menyentuh aspek data investor yang menyerap saham perdana KS.

“Seluruh fraksi secara aklamasi dari komisi VI untuk membentuk Panja,” ujar Ketua Komisi VI DPR Erlangga Hartanto usai rapat bersama Kementerian Negara BUMN di Senayan, Jakarta, Rabu (1/12/2010).

Ia menyampaikan, seluruh catatan dari masing-masing fraksi di Komisi VI hari ini akan menjadi catatan dalam Panja ke depan. DPR juga secepatnya akan melaksanakan agenda baru tersebut, hingga seluruh kisruh IPO saham KS yang terjadi selama ini bisa dijelaskan.
 
“Kalau bisa kemarin. Kita akan lakukan secepatnya. Seluruh concern dari Komisi VI ini jadi catatan. Panja bisa tertutup dan terbuka tergantung tergantung Undang-Undang Pasar Modal (UUPM),” ungkapnya.

DPR juga berharap dengan mekanisme Panja tidak menganggu kinerja saham KS ke depan. “Kita harap tidak ganggu saham KS ke depan, karena ini bertujuan untuk transparan akuntabilitas IPO BUMN,” tegas Erlangga.

Menteri negara BUMN Mustafa Abubakar juga berharap dengan Panja seluruh kisruh privatisasi BUMN baja ini dapat selesai.

KS melepaskan 3.155.000.000 saham baru ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010. Dengan harga Rp 850, maka total perolehan dana IPO sebesar Rp 2,681 triliun.

Dalam proses bookbuilding yang telah digelar dan berakhir pekan lalu, KS berhasil memperoleh pesanan hingga 30 miliar saham atau hampir 9 kali dari jumlah saham yang dilepas ke publik.

Namun penetapan harga saham IPO Rp 850 itu dinilai sangat murah dan berpotensi merugikan negara. IPO KS ini juga menuai gugatan dari 13 ekonom

Tags:
July 16, 2010

Indonesia Miliki Peta Bahaya Gempa Baru

Indonesia Miliki Peta Bahaya Gempa Baru

Indonesia Miliki Peta Bahaya Gempa Baru
Jakarta (ANTARA) – Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki potensi terjadinya gempa bumi maka memerlukan persiapan dan penanganan bila kejadian alam itu terjadi.

Saat ini Indonesia telah memiliki peta bahaya gempa baru yang disusun oleh tim revisi peta gempa Indonesia dengan menggunakan pendekatan probabilitas di batuan dasar.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam paparan hasil kerja tim yang berlangsung di ruang rapat gedung Annex Bina Graha Jakarta, Jumat siang.

“Hasil peta ini akan diakomodasi dalam revisi SNI 03-1726-2002,” kata Djoko Kirmanto.

Peta ini digunakan untuk memperkirakan besarnya beban gempa guna perencanaan infrastruktur tahan gempa. Setelah menjadi standar nasional, diharapkan semua infrastruktur yang akan dibangun mengacu pada peta tersebut sehingga mampu menahan gaya gempa yang mungkin terjadi.

Dengan demikian infrastruktur lebih aman serta korban jiwa dan kerugian materiil bisa diminimalkan dan juga bisa digunakan untuk membantu mendidik masyarakat memahami gaya gempa yang dihadapi.

Menteri PU mengatakan peta ini sangat membantu dalam menyiapkan ketahanan bangunan atas gempa di masa mendatang termasuk infrastruktur pengairan seperti bendungan.

Sementara itu ketua tim, Prof Masyhur Irsyam, mengatakan walaupun peta gempa ini dikembangkan berdasarkan data dan metodologi terkini, namun ke depan masih perlu disempurnakan secara berkelanjutan karena masih banyak penelitian yang perlu dilakukan.

“Perlu studi baru ini untuk mengurangi potensi bahaya gempa yang lebih besar karena mengingat peristiwa Aceh kekuatan gempa lebih besar dari yang diperhitungkan semula,” katanya.

Indonesia pada 2002 telah memiliki standar bangunan dan infrastruktur tahan gempa disebut SNI 03-1726-2002.

Peta baru ini memperbaiki beberapa hal dari peta gempa yang lama yang digunakan dalam SNI 2002 karena menggunakan prosedur baru dalam membuat analisis probabilitas bahaya seismic yang digunakan oleh United States Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat.

Peta analisis probabilitas bahaya seismic merupakan peta tentang nilai percepatan tanah maksimum di batuan dasar sebagai potensi bahaya getaran gempa pada suatu wilayah oleh sumber-sumber gempa di sekitarnya.

Dengan menghitung potensi percepatan tanah di batuan dasar, peta ini diharapkan bisa bermanfaat untuk keperluan perancangan bangunan tahan gempa, jembatan dan perencanaan wilayah.

Anggota tim revisi gempa masing-masing Prof Masyhur Irsyam dari ITB, Dr. I Wayan Sengara dari ITB, Fahmi Aldiamar,ST,MT dari Departemen PU, Ir. M.Ridwan Dpl,E.Eng dari Departemen PU, Ir.Engkon K Kertapati dari Badan Geologi, Danny H Natawidjaja dari LIPI, Prof.Sri Widiyantoro (ITB), Wahyu Triyoso,PhD dari ITB, Drs. Suhardjono dari BMKG, Dr. Irwan Meilano dari ITB dan Ir.M Asrurifak MT dari ITB.

Hadir dalam paparan itu Staf khusus presiden bidang penanggulangan bencana dan sosial Andi Arief.

Tags:
April 23, 2010

Buruh Galangan Kapal Mengamuk

Manajemen perusahan yang buruk ! karena perusahaan mengerjakan pekerja asing tanpa diberi bekal pengetahuan mengenai budaya lokal . Selain itu pekerja asing (atau buruh asing dari India / China ) yang berkeliaran di Indonesia memang kwalitas sampah ! Di negara aslinya mereka juga tidak bisa dipakai, lantas dibuang ke Indonesia. Lebih baik perusahan lebih bijak dalam memperkerjakan buruh atau tenaga kerja asing !

+++
Buruh Galangan Kapal Mengamuk
Tidak Berdampak ke Perusahaan Lain
Jumat, 23 April 2010 | 04:30 WIB

Batam, Kompas – Ribuan buruh galangan kapal PT Drydocks World Graha di Batam, Kepulauan Riau, mengamuk di dalam lokasi pabrik, Kamis (22/4). Aksi yang awalnya dipicu pernyataan bernada rasisme seorang pekerja ekspatriat itu ditengarai merupakan akumulasi perasaan tertindas akibat ketidakadilan yang mereka alami selama ini.

Aksi berlangsung selama sekitar dua jam, mulai pukul 08.30 WIB. Sejumlah petugas dan aparat keamanan yang berada di lokasi tidak mampu membendung aksi mereka.

Amuk massa buruh menyebabkan kantor manajemen dan gudang penyimpanan peralatan kerja rusak dan hangus terbakar. Kaca-kaca pecah. Dokumen-dokumen kantor, termasuk gambar produksi, pun musnah. Kantor pemilik tak luput dirusak pula. Sedikitnya 27 mobil dirusak, 6 di antaranya dibakar. Mobil tersebut milik perusahaan, pribadi, dan tamu.

Setelah mengamuk di dalam lingkungan perusahaan, massa bergerak ke luar dan berkumpul di gerbang masuk perusahaan. Mereka melakukan unjuk rasa spontan, dan sekitar pukul 12.00 membubarkan diri.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar menyesalkan kerusuhan yang terjadi di perusahaan itu. Ia segera membentuk tim pencari fakta terkait kasus tersebut.

”Kami menyesalkan kejadian ini yang disebabkan kesalahan komunikasi antara tenaga kerja asing dan tenaga kerja lokal di Batam. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asing. Peristiwa itu tidak akan terjadi apabila manajemen, buruh, dan serikat buruh menjalin komunikasi yang baik,” katanya.

Kerugian

Manajer SDM PT Drydocks World Graha Baharum menyatakan, pihaknya belum menghitung jumlah kerugian. Namun, dengan sejumlah kerusakan yang terjadi serta terhentinya pengerjaan lima proyek, kerugian dipastikan triliunan rupiah.

Tak ada korban meninggal dunia dalam amuk massa itu, tetapi sedikitnya tiga buruh ekspatriat luka-luka karena menjadi sasaran massa. Seorang buruh ekspatriat lainnya juga luka akibat meloncat dari lantai tiga. Mereka dilarikan ke sebuah rumah sakit di Kota Batam.

Menurut keterangan buruh, amuk massa dipicu perkataan seorang buruh setingkat supervisor asal India berinisial B yang menyinggung perasaan. Kata-kata itu disampaikan saat B memberikan pengarahan sekitar pukul 07.30 WIB kepada sekitar 20 buruh warga negara Indonesia di bagian listrik yang akan mengerjakan kapal L 205.

”Orang itu memberikan briefing sambil marah-marah karena ada pemasangan kabel yang terlalu panjang,” kata salah seorang buruh.

Sempat terjadi kontak fisik, sampai akhirnya B dan beberapa buruh India di bagian itu lari ke kantor manajemen. Permasalahan lalu melebar menjadi aksi solidaritas semua buruh Indonesia lain di galangan kapal itu.

Setelah amuk massa mereda, para pekerja ekspatriat yang berjumlah sekitar 30 orang dievakuasi polisi ke Markas Kepolisian Kota Besar Batam-Rempang-Galang. Sebagian di antara mereka dievakuasi dari kawasan galangan kapal melalui Selat Bulang menggunakan kapal polisi air.

Kepala Kepolisian Kota Besar Batam-Rempang-Galang Komisaris Besar Leonidas Braksan menyatakan, masalah tersebut adalah masalah perselisihan yang akan diselesaikan secara hukum. B, yang untuk sementara diduga sebagai pemicu, pada Kamis malam ditetapkan sebagai tersangka. Ia dikenai Pasal 28 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pengungkapan rasa permusuhan, menjadi salah satu pasal yang mungkin menjeratnya.

Melalui Leonidas, pihak perusahaan menyatakan menjamin tidak akan ada pemecatan buruh. Perusahaan juga akan berusaha semaksimal mungkin agar operasional galangan kapal bisa pulih kembali. Namun, menurut PT Drydocks, paling cepat pemulihan galangan kapal dilakukan satu minggu.

Ketua Konsulat Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Kota Batam Nurhamli menilai amuk massa itu merupakan bentuk akumulasi dari penindasan yang dialami buruh. Selama ini terjadi pelanggaran-pelanggaran hak normatif buruh tanpa adanya pengawasan dan sanksi.

Hal senada dikatakan anggota DPRD Kota Batam, Udin P Sihalolo. ”Banyak pekerja asing kualitasnya sama atau bahkan lebih rendah dibanding buruh Indonesia, tetapi posisinya selalu lebih tinggi,” kata Udin.

Upah buruh dihitung per jam dan nilainya beragam. Di bagian piping, misalnya, seorang buruh mendapatkan upah Rp 6.450 per jam. Lama kerja rata-rata delapan jam per hari. Jika lembur, upah bersih yang diterimanya Rp 1,3 juta per bulan, sementara jika tanpa lembur Rp 900.000 per bulan.

”Mana mungkin bisa menabung. Untuk hidup di Batam yang ongkos hidupnya mahal saja sudah pas-pasan,” kata Andi, seorang buruh.

PT Drydocks, dengan kapasitas membangun 12 kapal per tahun, berdiri di atas lahan daratan dan hasil reklamasi seluas 57 hektar. Perusahaan ini memiliki sekitar 9.000 buruh, dan 200 di antaranya ekspatriat yang bekerja di level menengah ke atas.

Level terendah, yakni helper, sampai quality control, diisi buruh Indonesia, dan semuanya berstatus outsourcing. Hanya segelintir orang Indonesia yang bekerja di level supervisor ke atas.

Namun, Baharum menyatakan, tidak bisa kalau peristiwa itu bersumber dari ketidakadilan perusahaan. ”Selama ini kami sudah menerapkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” katanya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan buruh, untuk mencari tahu duduk persoalan buruh. (LAS/HAM/FER)

Kerugian Akibat Kerusuhan Batam Diperkirakan Mencapai Rp 10 Miliar Lebih
JUM’AT, 23 APRIL 2010 | 07:10 WIB
Besar Kecil Normal
Sejumlah pekerja melintas didepan mobil yang dibakar di Galangan Kapal Drydocks Graha, Batam, Kamis (22/4). Gudang Galangan Kapal Drydocks Graha dibakar oleh karyawan yang tersinggung oleh kata-kata tenaga kerja asing yang dinilai merendahkan martabat pekerja dalam negeri. ANTARA/Asep

TEMPO Interaktif, Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi memperkirakan, kerugian langsung yang diderita pengusaha akibat kerusuhan di Batam kemarin mencapai Rp 10-20 miliar. “Yang lebih besar adalah kerugian tak langsung, seperti pembatalan order dan penundaan investasi,” ujarnya.

Meski kerusuhan itu hanya menimpa satu dermaga, muncul kepanikan di kalangan pengusaha. “Ini salah satu dermaga terbesar di Batam,” kata Sofjan. Sebagian tenaga ahli, yang kebanyakan warga asing, pun telah kabur ke Singapura.

Pernyataan berbeda diungkapkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan. Ia menegaskan, kerusuhan di Batam tak akan berdampak pada penurunan investasi asing. “Karena kejadian itu sangat corporate-centric dan tidak unik,” katanya. Walau demikian, menurut Gita, pemerintah tidak mengesampingkan kasus ini untuk menjamin iklim investasi tetap baik.

Sofjan menyesalkan kejadian ini. Sebab, di saat pemerintah mati-matian mendatangkan investasi ke Indonesia, justru tak ada jaminan dan kepastian hukum. “Mengapa sekarang orang cepat marah? Kejadian di Priok belum hilang, ini terjadi lagi di Batam. Sangat menakutkan bagi investor,” katanya.

Kejadian ini diwarnai aksi para pekerja di perusahaan galangan kapal PT Drydock World Graha, Tanjung Undang, Batam, Kepulauan Riau, yang melakukan demonstrasi dan membakar fasilitas perusahaan. Selain kantor dan bangunan penyimpanan barang, sedikitnya 20 unit mobil sedan hangus terbakar. Tak ada korban tewas, namun sedikitnya sembilan orang terluka: lima warga asing dan empat karyawan.

Kepala Kepolisian Kota Besar Batam Rempang dan Galang, Komisaris Besar Leonidas Braksan, mengatakan kerusuhan berawal dari perkelahian antara karyawan dan seorang supervisor berkewarganegaraan India. “Karyawan merasa kesal karena ada perkataan supervisor yang tak pantas sehingga menyakiti perasaan karyawan,” tuturnya.

RUMBADI DALLE | PUTI NOVIYANDA | BOBBY CHANDRA


Site Meter

Tags:
April 19, 2010

Runway” Kok Dijadikan Jalan Pintas…

Super idiot ! Di Indonesia jumlahnya jutaan orang yang sejenis ini.

++++
PESAWAT TABRAK PENGENDARA MOTOR
“Runway” Kok Dijadikan Jalan Pintas…
Laporan wartawan Persda Network Hendra Gunawan
Senin, 19 April 2010 | 13:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pagar pembatas lapangan udara (Lanud) Budiarto di kawasan Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan (STPI) Curug, Tangerang, sering dijebol oleh masyarakat sekitar yang ingin melewati jalan pintas dengan melintas di runway pesawat. Padahal, melewati runway adalah perbuatan sangat berbahaya bagi diri sendiri dan pengguna pesawat latih yang beroperasi di sekolah penerbangan tersebut.
“Pagar yang dipasang selalu dijebol masyarakat, karena mereka ingin menempuh jalan pintas yang lebih dekat,” kata juru bicara Kemenhub, Bambang Supriyadi Ervan, di Jakarta, Senin (19/4/2010).
Akibat dijadikannya runway sebagai jalan pintas, sebuah pesawat latih menabrak motor yang dikendarai dua orang. Keduanya meninggal seketika, sedangkan seorang kadet STPI dan seorang instrukturnya mengalami koma, Senin pagi.
Bambang meminta kepada masyarakat untuk mengerti tentang pentingnya wilayah steril di sepanjang Lanud Budiarto di kawasan STPI Curug dan tidak sembarangan melintas di lanud tersebut.
Sementara Juru Bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengatakan, pihaknya telah mengirim investigatornya, yaitu Kapten Toos Sanitiyoso, ke lokasi kejadian.
“Kategori masuk dalam kecelakaan. Pesawat rusak dan tidak bisa diperbaiki atau total lost,” kata Barata.


Site Meter

March 10, 2010

Pemboikotan Sri Mulyani oleh DPR Bahayakan Ekonomi

Rabu, 10/03/2010 18:20 WIB
Pemboikotan Sri Mulyani oleh DPR Bahayakan Ekonomi
Elvan Dany Sutrisno – detikFinance

Jakarta – Beberapa fraksi DPR berencana untuk memboikot rapat-rapat yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani di DPR, bahkan rapat pembahasan APBN sekalipun. Mosi tidak percaya yang dilakukan DPR ini sangat membahayakan perekonomian.

Menurut Pengamat Ekonomi Aviliani, jika Sri Mulyani tidak diikutsertakan dalam setiap rapat-rapat pembahasan APBN, maka DPR tidak bisa meminta pertanggungjawaban Menteri Keuangan apabila APBN ternyata bermasalah.

“Mosi tidak percaya itu sangat bahaya, negara ini bukan negara hukum lagi kalau begitu caranya. Pertama dari segi RAPBN-P (Rancangan APBN Perubahan), dia (Sri Mulyani) tidak menanggung risiko lagi apabila APBN bermasalah dan dana datang terlambat,” tuturnya dalam acara diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/2010).

Ditambahkan Aviliani, DPR juga tidak bisa meminta tanggung jawab dari Menteri Keuangan apabila pertumbuhan ekonomi ternyata terhambat. “Karena dia tidak diterima saat perumusan,” imbuhnya.

Selain pembahasan RAPBN-P 2010, ada agenda ekonomi lain yang memerlukan kehadiran Sri Mulyani, yaitu perumusan RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) dan RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Jika sampai bubble (ekonomi) pecah, maka tidak ada persiapan sama sekali karena RUU OJK dan JPSK pasti tidak jadi, karena Sri Mulyani tidak dikutikan rapat kerja dengan DPR. Kalau demikian bisa terjadi krisis luar biasa,” tandas Aviliani.

Aviliani mengatakan kedua RUU tersebut sangat mendesak untuk disahkan saat ini karena situasi ekonomi bisa mengancam kapan saja.

“Saat ini SBI (Sertifikat Bank Indonesia) asing Rp 13 triliun, pasar modal sekarang aksi beli terus-terusan orang hanya cari untung, uang jadi uang. Kalau kita over likuiditas dolar lalu hot money diambil, maka bubble bisa pecah. Kalau balonnya pecah nggak mungkin ambil APBN karena tidak ada RUU JPSK, kalau begini BI tidak bisa apa-apa,” tegasnya.

Sebelumnya, Sri Mulyani mengharapkan DPR tidak mencampuradukkan antara hasil Sidang Paripurna DPR kasus Bank Century yang menyeret namanya dengan rencana penyerahan draft RAPBN-P 2010 kepada Badan Anggaran DPR RI.

Menanggapi isu pemboikotan rapat RAPBN-P yang akan dihadirinya, Sri Mulyani yakin DPR masih meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan politik.

Sri Mulyani menyatakan jika DPR tidak menyetujui usulan pemerintah dalam RAPBN-P 2010, dikhawatirkan justru akan mengorbankan kesejahteraan rakyat. Pasalnya, dalam RAPBN-P itu tercantum sejumlah anggaran yang berpihak terhadap masyarakat, seperti anggaran untuk recovery daerah yang terkena gempa dan stabilisasi inflasi.

Seperti diketahui, sejumlah anggota DPR menyuarakan boikot terhadap pihak-pihak yang dianggap bersalah dalam bailout Bank Century seperti Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Mereka meminta pihak-pihak yang dianggap bersalah tidak diundang dalam acara-acara di DPR.

Ketua Badan Anggaran DPR RI Harry Azhar Azis mengaku pihaknya siap memboikot kehadiran Sri Mulyani termasuk dalam pembahasan APBN jika memang paripurna DPR memutuskan hal tersebut.

Tags:
February 18, 2010

S&P Lebih Khawatirkan Masalah Politik RI Ketimbang Ekonomi

Kamis, 18/02/2010 08:35 WIB
S&P Lebih Khawatirkan Masalah Politik RI Ketimbang Ekonomi
Ramdhania El Hida – detikFinance

Jakarta – Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s diyakini akan segera menaikkan peringkat Indonesia jika melihat perbaikan infrastruktur yang selalu digembar-gemborkan pemerintah Indonesia selama ini berjalan dengan baik.

Namun menurut Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa, lembaga pemeringkat ini belum menaikkan peringkat Indonesia karena terganjal kasus bailout Bank Century bukan permasalahan ekonomi Indonesia yang dianggap telah sehat.

“Saya sempat berdiskusi dengan orang dari S&P selama 2 jam, mereka concern itu di politik, kalau ekonomi mereka tidak ada concern,” ujarnya saat ditemui detikFinance usai seminar di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (17/2/2010).

Purbaya mengungkapkan banyak investor asing mengeluhkan kasus bailout Bank Century kepada pihak S&P. Hal inilah yang membuat S&P beranggapan kasus tersebut dapat mengganggu perekonomian Indonesia di masa datang.

“Jadi, S&P itu sebagai corong investor asing yang banyak mengeluhkan kasus tersebut. Makanya S&P melihat adanya kekhawatiran kasus ini bisa mengganggu ekonomi Indonesia ke depan,” ujarnya.

Namun, Purbaya menyatakan S&P akan menaikkan peringkat Indonesia jika perbaikan infrastruktur di Indonesia berjalan. Hal ini memberikan indikasi kasus bailout Bank Century tidak mengganggu investasi yang masuk ke Indonesia.

“Kan pemerintah gembar-gembor dengan adanya Infrastucture Summit 1, 2. Buktikan kalau ada perbaikan infrastruktur,” tegas Purbaya.

Sebelumnya, S&P dikabarkan menolak untuk menaikkan peringkat Indonesia karena politisasi kasus bailout Bank Century. Politisasi bailout tersebut dikhawatirkan menimbulkan ketidakpastian di Indonesia.

S&P pada Oktober 2009 lalu menaikkan outlook Indonesia menjadi ‘positif’, dengan peringkat sovereign untuk utang valas dalam jangka panjang ke ‘BB-‘ dan peringkat utang dalam rupiah ke ‘BB+’. Kenaikan outlook itu sehubungan dengan ekspektasi pengurangan utang dan kehati-hatian manajeman fiskal yang dilakukan pemerintah.

(nia/qom)

January 20, 2010

Target 100 Hari Dua Kementerian Tak Terpenuhi

Target 100 Hari Dua Kementerian Tak Terpenuhi
20/01/2010 18:15:25 WIB
JAKARTA, investorindonesia.com
Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengendalian Program Pembangunan (UKP4) mengatakan ada dua program 100 hari yang tidak tercapai pada hari ke 80 yakni di kementerian keuangan dan kementerian perindustrian.

“Pertama, program revitalisasi pabrik gula di kementerian Keuangan dan pembentukan PT Sarana Multi Infrastruktur di kementerian Perindustrian,” kata Ketua UKP4 Kuntoro Mangkoesubroto di kantor Wapres Jakarta, Rabu, seperti dilansir Antara.

Kuntoro menjelaskan dalam program 100 hari terdapat 129 unggulan yang ditargetkan. Dengan demikian, tambahnya, jika hanya ada dua program yang belum tercapai, maka bisa dikatakan bagus.

“Capaiannya baguslah. Dari 129 program hanya dua tak tercapai,” kata Kuntoro.

Kuntoro menjelaskan kendalan belum tercapainya target revitalisasi pabrik gula karena belum terselesaikannya cetak biru mengenai hal itu.

Sementara itu, tambahnya, belum tercapainya pembentukan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) karena sulitnya pengurusan di Bank Pembangunan Asia (ADB).

“Jika tidak tercapai pada hari ke 100 jadi mesti lampaui 100 hari (tercapai),” kata Kuntoro.

Menurut dia program 100 hari tersebut merupakan target yang statis, tetapi prosesnya yang sangat dinamis. Dengan demikian, tambah Kuntoro, hasil evaluasi capaian program bisa dikatakan bagus. (*)