Posts tagged ‘White collar crime’

April 1, 2011

Citibank Tegaskan Kasus Seperti Malinda Tak Terjadi di Cabang Lain

Iye, mungkin kasus seperti si Inong Malinda memang tak akan terjadi di cabang lain, tapi kasus penganiayan  seperti terhadap Ihzen Octa masih sangat mungkin untuk terjadi lagi . (bisa aja Citibank bikin alasan)

Jumat, 01/04/2011 16:57 WIB
Citibank Tegaskan Kasus Seperti Malinda Tak Terjadi di Cabang Lain
Nurvita Indarini – detikNews

Citibank Tegaskan Kasus Seperti Malinda Tak Terjadi di Cabang Lain

Jakarta – Ulah Malinda membuat nasabah Citibank was-was. Wajar jika nasabah takut ada Malinda lain di Citibank yang akan menilep uang yang telah dipercayakan kepada bank itu. Namun Citibank menegaskan kasus semacam itu tak terjadi di cabang lain.

Berikut ini penjelasan Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia Ditta Amahorseya yang disampaikan kepada detikcom, Jumat (1/4/2011):

Berapa lama Malinda bekerja di Citibank?

Untuk keperluan penyelidikan, kami tidak dapat memberikan informasi tersebut

Track record yang bersangkutan seperti apa? Dia biasa menangani nasabah perorangan atau perusahaan?

Kami sudah menyerahkan seluruhnya kepada pihak kepolisian.

Bagaimana jaminan keamanan keuangan nasabah?

Ini merupakan kasus hanya terjadi di satu cabang Citibank di Jakarta. Citibank telah mengidentifikasi adanya transaksi yang mencurigakan dan telah melaporkan kepada polisi dan pihak berwenang. Kami terus mendukung dan bekerjasama dengan pihak berwenang dan seluruh dana nasabah yang terkena dampak akan kasus ini akan dikembalikan oleh Citibank.

Selain Malinda, pernahkah ada kasus oknum nakal yang menilep dana nasabah?

Ini merupakan kasus hanya terjadi di satu cabang Citibank di Jakarta dan tidak terjadi di tempat lain.

Untuk mengantisipasi kasus penilepan uang yang dilakukan oknum, apa yang akan dilakukan Citibank?

Citibank berkomitmen menjaga standar kontrol tertinggi. Proses kepatuhan dan kontrol yang sangat ketat adalah sebuah keharusan, terutama dalam industri yang sangat mengutamakan kepercayaan dan kepuasan nasabah. Kami menerapkan praktek kerja terbaik di industri ini dan tetap membuka diri untuk perbaikan dari waktu ke waktu yang bertujuan untuk menutup kesempatan melakukan kesalahan.

Sudahkah didata nasabah yang jadi korban Malinda? Berapa lama dana mereka akan kembali?

Seperti yang telah disebutkan, kami telah menyerahkan seluruh informasi yang dibutuhkan untuk penyelidikan kepada pihak polisi.

(vit/nrl)

Advertisements
March 29, 2011

Karyawati seksi Citibank tilep duit milyaran

Sepertinya berita heboh berbumbu  hal yang syuur  bakal terus mewarnai pemberitaan Indonesia. Konon kabar karyawati sexy ini menilap atau menggelapkan uang nasabahnya ratusan milyar. Nasabahnya adalah customer Citibank yang punya networth yang besar .. Sementara ini mereka hanya mengaku digelapkan  Rp17 M (konon bisa mencapai Rp  1,5 T ), mungkin karena malu pernah berhubungan intim dengan Miss Citibank Inong  Malinda Dee..  Luarbiasa Indonesia !

++++

Selasa, 29/03/2011 11:16 WIB
Diduga Gelapkan Rp 17 M, MD Punya Pangkat Tinggi di Citibank
Arifin Asydhad – detikNews

Diduga Gelapkan Rp 17 M, MD Punya Pangkat Tinggi di Citibank
Melinda

Jakarta – Kasus penggelapan dana nasabah Citibank Rp 17 miliar masih terus diselidiki oleh polisi. Pelaku penggelapan, berinisial MD, sudah ditahan polisi. Siapa sebenarnya MD? Baik polisi maupun Citibank belum membuka identitasnya. Namun, di jejaring sosial, MD disebut Malinda Dee. Dia punya pangkat tinggi di Citibank.

Beberapa pegawai dan mantan pegawai Citibank berbisik dan membenarkan bahwa MD yang dimaksud adalah Malinda Dee. Mereka pun membenarkan bahwa foto-foto perempuan cantik yang beredar di sejumlah forum online dan Blackberry Messenger (BBM) itu adalah Malinda Dee.

Informasi yang didapatkan detikcom, Selasa (29/3/2011), Malinda merupakan karyawati Citibank senior. Diperkirakan dia sudah bekerja di bank asing itu sekitar 15 tahun.

“Setahun lalu, jabatan dia Senior Relation Manager, dengan pangkat Vice President. Ini pangkat tertinggi untuk karyawan Citibank,” kata sumber yang pernah beberapa tahun bekerja di bank tersebut.

Malinda Dee pernah menjadi account officer (AO) di Citibank cabang Landmark. Para nasabahnya pejabat dan orang-orang kaya, khususnya para pengusaha pribumi. “Setahu saya, Malinda punya prestasi yang sangat bagus,” kata dia yang pernah satu kantor dengan Malinda itu.

“Dia sangat senior dan menjadi panutan di Citibank karena jago mengelola nasabah. Yang saya dengar, dia sudah bekerja di Citibank sudah 15 tahunan,” ujar sumber yang lain. Sehari-hari, dia mengantor dengan mengendarai mobil mewah. Salah satunya mobil Mercedes S 300.

Karena prestasinya, Malinda menjadi Senior Relation Manager Citigold. Jadi, dia memang khusus menangani para nasabah besar yang memiliki deposito di atas Rp 500 juta.

Selama ini, Malinda dikenal sebagai orang yang baik, murah senyum dan berbicara sangat santun. “Dia memang jago dan piawai mengelola hubungan dengan nasabah Citigold, karena memang dia sudah lama di Citibank. Cara bicaranya pelan, santun, murah senyum, baik,” ujar dia.

Karena itu, narasumber ini mengaku terkejut mendengar Malinda Dee ditahan aparat kepolisian dengan dugaan penggelapan dana nasabah. “Semua karyawan Citibank yang bekerja di Landmark, pasti kenal dia,” kata dia.

Sumber itu juga mengakui bahwa Malinda memang cantik dan memiliki postur tubuh yang menarik, meski ada informasi miring yang beredar di kalangan karyawan tentang kecantikannya itu. Usia Malinda juga masih simpang siur. “Ada yang bilang dia sekitar 37 tahun, tapi ada yang bilang sebenarnya usia dia sekitar 45 tahun. Saya gak tahu persis,” kata dia.

Mabes Polri mengungkap kasus penggelapan dana nasabah di Citibank ini pada Jumat (25/3/2011) atas laporan nasabah. Polisi telah menangkap Malinda dan menyita sejumlah barang bukti, antara lain dokumen-dokumen transaksi dan 1 unit mobil merek Hummer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK yang ditaksir senilai Rp 3,4 miliar.

Malinda dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU no 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU no 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU no 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.

Citibank telah menyampaikan rilis mengenai kasus ini.  Citibank menjamin perlindungan bagi nasabahnya terkait kasus penggelapan dana Rp 17 miliar itu. Citibank menegaskan semua nasabah aman dan akan diberi penggantian bagi yang dirugikan.

“Adalah komitmen kami untuk melindungi kepentingan nasabah kami, termasuk secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu,” kata Director Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya dalam siaran pers, Senin (28/3/2011) kemarin.

Dia menjelaskan peristiwa penggelapan oleh MD merupakan kejadian yang hanya terjadi di satu tempat dan pihak Citibank telah bertindak cepat untuk menghubungi seluruh nasabah yang mungkin terkena dampak buruk. “Kami bekerja sama dengan seluruh pihak berwenang terkait. Staf yang terlibat tidak lagi bekerja pada kami,” kata Ditta.

Namun, Ditta belum bisa memberikan komentar lebih lanjut mengenai kasus ini, karena masih dalam penyelidikan. Dalam rilisnya, Ditta juga tidak menjelaskan mengenai identitas MD, termasuk riwayat bekerja di Citibank.

(asy/asy)

++++++++++

Selasa, 29/03/2011 11:15 WIB
Polisi Fokus Kejar Uang Nasabah Citibank Rp 17 M yang Ditilep MD
Indra Subagja – detikNews

Polisi Fokus Kejar Uang Nasabah Citibank Rp 17 M yang Ditilep MD

Jakarta – Polisi masih memeriksa intensif MD, wanita cantik tersangka penilepan dana nasabah Citibank Rp 17 miliar. MD yang sudah dipecat dari bank terkemuka itu ditengarai sudah membelanjakan uangnya untuk membeli sejumlah barang mahal.

“Kita upayakan recovery aset,” kata Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Arief Sulistyo saat dihubungi detikcom, Selasa (29/3/2011).

Polisi sudah menyita 1 unit mobil merek Hammer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK yang ditengarai seharga Rp 3,4 miliar. Polisi tengah menyelidiki dugaan keterlibatan pihak lain.

“Ini white collar crime, sabar dulu. Kita masih kembangkan,” tuturnya.

MD dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.

Citibank telah memastikan bahwa MD kini sudah tidak lagi bekerja di Citibank. Citibank juga bertindak cepat mengganti dana nasabah yang diduga ditilep MD.

Siapa MD? Baik polisi maupun Citibank tidak mau mengungkap identitas perempuan tersebut. Namun, di jejaring sosial, MD disebut inisial dari Melinda Dee. Dia dikenal sebagai perempuan yang cantik yang sudah lama bekerja di Citibank.

++++++++++++

Selasa, 29/03/2011 13:13 WIB
Pembobol Citibank Rp 17 M
Foto MD Semasa SMA Juga Beredar
Gagah Wijoseno – detikNews

Foto MD Semasa SMA Juga Beredar
Dulu dan sekarang

Jakarta– MD menjadi obrolan panas terkait pembobolan Rp 17 miliar dana nasabah Citibank maupun fotonya yang bling-bling. Fotonya ramai dipertukarkan lewat forum diskusi di Internet, Twitter, hingga BBM.

Selain foto, identitasnya juga pelan-pelan dibuka. Bahkan foto masa lalunya juga dilempar ke Twitter. “Foto Malinda Dee Jaman masih SMA di SMA 6 Angkatan 81, paling depan dengan Poni Jamboel,” tulis seorang Tweep, Selasa (29/3/2011). Karena masih jadoel, wajar bila penampilan MD semasa remaja tidak sekinclong sekarang. Foto itu juga menyebar ke piranti komunikasi lainnya.

Asal usul MD juga didikusikan. Ada yang menyebut dia memiliki nama depan Inong dan lahir pada 5 Juli 1965. Ada juga yang membicarakan ikhwal Hummer dan Mercy miliknya yang diduga bermasalah.

Hingga kini baik polisi maupun Citibank tidak mau mengungkap identitas tersangka yang kini ditahan polisi tersebut. Namun, di jejaring sosial, MD disebut inisial dari Malinda Dee. Dia dikenal sebagai perempuan yang cantik yang sudah lama bekerja di Citibank. Dia disebut-sebut punya pangkat tinggi di bank elite itu.

MD dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.

Citibank telah memastikan bahwa MD kini sudah tidak lagi bekerja di Citibank. Citibank juga bertindak cepat mengganti dana nasabah yang diduga ditilep MD.

++++

Selasa, 29/03/2011 18:14 WIB
Polisi Benarkan Suami MD Berinisial AG
Aprizal Rahmatullah – detikNews

Polisi Benarkan Suami MD Berinisial AG
MD dan satu mobil mewahnya.

Jakarta – Mabes Polri sedikit demi sedikit menguak identitas suami MD, tersangka kasus pembobolan dana nasabah Citibank senilai Rp 17 miliar. Polri membenarkan bahwa suami MD adalah seorang bintang iklan berinitial AG.

Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan, masih menyelidiki keterlibatan sang suami. Saat ini status sang suami yang berinisial nama AG masih sebatas saksi.

“Suami itu benar (AG),” kata Anton melalui pesan singkat, Selasa (29/3/2011).

Informasi yang dikumpulkan, diduga kuat AG adalah kependekan dari Andhika Gumilang. Saat, MD ditahan, Kamis (17/3) lalu, AG yang beberapa tahun lalu membintangi iklan rokok tersebut terlihat mendampingi istrinya di kantor Bareskrim Mabes Polri. Kabarnya, AG berumur  22 tahun.

Polisi juga telah menyita dua mobil mewah milik MD yakni  1 unit mobil merek Hummer-3 Luxury Sport Utility B 18 DIK yang ditaksir senilai Rp 3,4 miliar dan Mercedez S300. Mobil Hummer dimiliki atas nama suami MD dan Mercedez atas nama anaknya.

Dua mobil tersebut diduga memiliki kaitan dengan tindak pidana yang dilakukan MD. MD diduga melakukan pembobolan dana nasabah Citibank senilai Rp 17 milliar.

MD diduga bernama Malinda Dee. Ia merupakan salah seorang karyawati Citibank senior. Selain MD, polisi juga menangkap D, teller Citibank yang diduga ikut serta dalam pembobolan tersebut.

“Ditangkap tadi pagi jam 04.00 WIB di Bintaro,” ungkap Anton.

Malinda dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU no 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU no 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU no 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.

Citibank telah menyampaikan rilis mengenai kasus ini. Mereka menjamin perlindungan bagi dana milik nasabahnya terkait kasus penggelapan dana Rp 17 miliar itu. Citibank menegaskan semua nasabah aman dan akan diberi penggantian bagi yang dirugikan.

“Adalah komitmen kami untuk melindungi kepentingan nasabah kami, termasuk secepatnya mengembalikan kerugian yang dialami oleh nasabah yang hilang melalui transaksi tidak sah di dalam rekening mereka secara adil dan tepat waktu,” kata Director Country Corporate Affairs Head Citi Indonesia, Ditta Amahorseya dalam siaran pers, Senin (28/3/2011) kemarin.

+++

Pembobol Citibank Bernama Inong Melinda, Bukan Melinda Dae

KAMIS, 31 MARET 2011 | 09:08 WIB

TEMPO InteraktifJakarta – Mantan Relationship Manager Citibank yang juga tersangka pencurian dan penggelapan dana nasabah bukan bernama Melinda Dee. Menurut Juru Bicara Markas Besar Polri Inspektur Jenderal Anton Bachrul Alam nama asli Melinda adalah Inong Melinda, bukan Melinda Dee yang selama ini ditulis media.

“Nama asli dia Inong Melinda, di kantornya gunakan nama Melinda,” kata Anton di kantornya, Kamis (31/3).

Melinda merupakan mantan pegawai Citibank yang mencuri dan menggelapkan uang nasabah sebesar Rp 17 miliar. Dana tersebut dialirkan Melinda dengan bantuan temannya yang merupakan teller Citibank, Dwi. Menurut Anton, polisi mengungkap kasus tersebut berdasar laporan dari Citibank. “Dua pekan lalu pihan bank melapor, kan banknya tidak mau ketumpuan juga,” kata dia.

Uang yang ditilep Melinda itu, dialirkannya ke sejumlah bank di Jakarta. Dari rekening tersebut, dana itu dialirkan ke beberapa perusahaan. “Pada akhirnya uangnya masuk ke perusahaan milik Melinda yang atas nama orang lain.” Namun sampai sekarang Anton belum mau menyebutkan bergerak di bidang apa perusahaan tersebut. “Yang pasti ada di Jakarta,” ujarnya.

Polisi menangkap MD pada Rabu tanggal 23 Maret pekan lalu. Sejak ditangkap, perempuan berusia 47 tahun itu ditahan di ruang tahanan Bareskrim Mabes Polri. Namun hingga hari ini, Anton belum mau menjelaskan lokasi penangkapan MD. Sedangkan dari penangkapan tersebut, polisi menyita sejumlah dokumen berupa bukti transaksi, mobil Hummer, dan Mercedes Benz.

CORNILA DESYANA

+++++++++++

Buru Aset Malinda di Dua Benua

31 Mar 2011 

 

Dugaan Penggelapan Dana Nasabah Citibank

JAKARTA-Mabes Polri terus membongkar skandal penggelapan dana nasabah Citibank oleh Malinda Dee. Sosialita cantik 47 tahun itu diperiksa secara maraton oleh penyidik Direktorat II Ekonomi Khusus (Eksus) Bareskrim Polri. Sejak Kamis (24/3), Malinda diperiksa tujuh jam sehari. Dalam pemeriksaan, polisi menduga Malinda menyembunyikan hartanya di dua benua. Australia dan Inggris (Eropa).

Karena itu, kemarin Malinda terlihat tertekan dalam menghadapi kasus tersebut. Akibatnya, keterangan yang diperoleh penyidik dari dia sering berubah-ubah. “Kami siapkan penyidik perempuan untuk mendampingi, bukan mengistimewakan. melainkan untuk memperlancar penyidikan,” ujar sumber INDOPOS kemarin.

Malinda ditahan di Rutan Bareskrim. Malinda diperiksa di ruang eksus di lantai 3 gedung Bareskrim. “Break (istirahat. Red) hanya Minggu,” tutur dia. Barang-barang Malinda sudah diantar oleh Andhika, suaminya, dalam sebuah travel bag berwarna meTah.

Malinda juga belum secara terbuka mengakui perbuatannya. Terutama soal korban-korbannya, dia mengaku lupa,” ujar dia. Namun, pengakuan itu bisa dipatahkan oleh penyidik berdasar dokumen yang disita dari apartemen dan bekas ruangnya di Citibank. “Dia overconfident (sangat percaya diri. Red). Berkas-berkas tidak dimusnahkan,” tambah perwira muda tersebut Saat ini penyidik masih berkonsentrasi mendalami modus dan jumlah korban Malinda. “Ada pengusaha dan politisi yang dia kenal baik. Dari dokumen yang kami temukan, ada jejak namanya. Tapi, kami belum tahu, apakah hubungannya legal atau ikut menjadi korban,” tambah dia.

Secara terpisah, Direktur II Eksus Bareskrim Polri Brigjen Arief Sulistyanto membenarkan adanya penyidik perempuan yang ikut memeriksa Malinda. Namun, menurut Arief, Malinda baik-baik saja. “Dia sehat, tidak apa-apa,” tutur Arief.

Penyidik juga tidak akan menangguhkan penahanan Malinda. “Anda lihat ancaman hukumannya, jelas tidak mungkin,” ungkap dia. Mantan koordinator staf pribadi Kapolri itu menyatakan masih sangat dini untuk menjelaskan skandal Malinda secara terbuka. “Kami pasti paparkan nanti ke publik. Tunggu humas saja,” terang dia.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam menjelaskan, pemeriksaan Malinda berkembang ke arah strategi penggelapan. Mantan Kapolda Jatim tersebut menambahkan, penyidik kini berupaya menelusuri aset Malinda di Indonesia maupun luar negeri. “Kalau terkait, bisa saja ikut disita,” katanya.

Perwira tinggi polisi ini mengatakan, modus penggelapan yang dilakukan Malinda dengan cara menyuruh tersangka lain, Dewi. Teller ini disuruh memindahkan transaksi atau mentransfer dana nasabah ke sebuah rekening di bank lain tanpa sepengetahuan nasabah sebagai pemilik uang. Dana nasabah Citibank yang sudah ditransfer ke bank lain itu masuk ke rekening perusahaan Malinda di bank itu.

Slip (blanko) kosong itulah yang diisi Malinda dengan data-data dan tanda tangan nasabah yang dipalsukan Malinda seakan-akan nasabah itu sendiri yang meminta dilakukan pen-transferan uang ke rekening bank lain.

“MD (Malinda Dee) bisa melakukan (kejahatan) itu karena dibantu teller (Dewi) di bank itu. Dia (Dewi) kan teller. Dia transfer ke rekening PT apa di bank lain, tapi ternyata PT itu punya MD, tapi atas nama orang lain. Jadi disamarkan,” ungkap Anton. Dewi sendiri ditangkap Selasa dini hari (29/3) lalu di rumah mewahnya di kawasan Bintaro Tanggerang Selatan.

Ia melanjutkan, dengan modus tersebut uang nasabah yang dicuri Malinda dari rekening nasabah agak lama baru terungkap lantaran uang di rekening nasabah yang dipegang Malinda lumayan besar. Sehingga, banyakyang tidak sadar kalau dananya sudah dicuri dengan menggunakan transfer palsu di rekeningnya. “Yang disamarkan bisa sampai Rp 2 miliar. Tapi kan rekeningnya besar-besar dan banyak,” terangnya perwira berkumis tipis ini.

Ia melanjutkan, pihaknya juga masih menyelidiki secara terperinci bagaimana uang nasabah dapat digunakan Malinda. Tang jelas perusahaannya punya dia,” imbuhnya tanpa mau menyebut nama perusahaan itu maupun bergerak di bidang usaha apa. “Perusahaan besarlah,” tukasnya.

Sedang terkait keberadaan sedan mewah Ferrari Cabriolet, polisi masih melacak keberadaannya. Namun diketahui, kalau Ferrari diserahkan janda beranak satu itu itu kepada anaknya yang masih berusia 16 tahun.

Kabareskrim Komjen Ito Sumardi membenarkan bahwa anak buahnya kini melacak jejak duit Malinda ke luar negeri. “Mungkin ada di Australia dan London,” ungkap Ito. Dikatakan, penyembunyian harta di dunia benua sekaligus tersebut untuk mempersulit aparat dalam mengendus keberadaan hartanya.

Mantan Kapolwiltabes Surabaya tersebut juga membenarkan bahwa penyidik mendalami peran pihak lain dalam kasus Malinda. “Rasanya, tidak mungkin dia sendirian. Tapi, penyidik tidak boleh berdasar pada dugaan, harus ada fakta,” tegas Ito.

Secara terpisah. Kepala PPATK Yunus Husein menyatakan siap membantu Bareskrim dalam mengusut tuntas skandal itu. “Kami selama ini selalu bekerja sama dalam white collar crime. Silakan saja,” ucap Yunus melalui pesan singkat kemarin.

Dihubungi sebelumnya, Direktur Country Corporate Affairs Head Citibank Ditta Amahorseya mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut ke pihak kepolisian. “Perlu diketahui, kamilah yang pertama melaporkan kasus ini ke polisi, bukan orang lain,” katanya.

Sebab, kata perempuan berkacamata itu, pihaknya menemukan kejanggalan dalam pembukuan. “Kami sebelumnyajuga telah melakukan investigasi mendalam, memeriksa berkas, serta adanya kejanggalan transaksi antara nasabah dengan MD (Melinda, Red). Karena ada kerancuan dalam transaksi, maka kami lapor polisi,” tukasnya saat ditemui INDOPOS di Citibank Tower, Jakarta Selatan, siang kemarin.

Ditta menambahkan, dana nasabah bank dibobol Melinda hanya berasal dari cabang Jakarta. “Kami sudah menghubungi satu persatu nasabah yang dirugikan. Kami akan mengganti dana nasabah transaksi tidak adil ini tepat waktu,” katanya, (ind/rdl)

+++++++++++

Si Seksi Pembobol Citibank Pintar Merayu
Headline

Oleh: MA Hailuki
Metropolitan – Kamis, 31 Maret 2011 | 14:16 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Tersangka pembobol dana nasabah Citibank Inong Melinda alias Malinda Dee sangat dikenal kalangan pengusaha papan atas sebagai figur yang lihai merayu.

Seorang pengusaha minyak ternama di Indonesia, mengakui dirinya mengenal Melinda sejak lama. Dia mengenal perempuan yang sebelumnya disebut berinisial MD itu sejak masih menjadi Relationship Manager hingga naik menjadi Vice President.

Menurutnya, Melinda adalah pribadi yang sangat supel dan pintar. Kecerdasan Melinda bukan hanya dalam hal perbankan melainkan juga mampu merayu dan meyakinkan nasabah untuk berinvestasi di Citibank.”Saya beberapa kali ditraktir oleh dia di tempat-tempat berkelas. Memang Mel ini sangat pintar merayu,” ujar pengusaha yang minta identitasnya disembunyikan kepada INILAH.COM, Kamis (31/3/2011).

Pengusaha yang mantan anggota DPR itu juga menuturkan, dalam melakukan lobi ataupun pendekatan, Melinda selalu tampil meyakinkan. Untuk sekadar makan siang, Melinda selalu menggunakan mobil Mercy mewahnya.

Agar calon nasabahnya tertarik berinvestasi, Melinda juga tak segan-segan melancarkan rayuan maut yang membuat nasabah bertekuk lutut. “Saya tidak perlu jelaskan seperti apa, orang sudah paham,” tegas pengusaha itu.

Seperti diberitakan, Jumat (24/3/2011) Mabes Polri resmi mengumumkan MD sebagai tersangka pembobolan dana nasabah Citibank sebesar Rp17 miliar. Dalam melancarkan aksinya, MD tak sendiri.Dia berkomplot dengan rekan kerjanya berinisial D yang menjabat sebagai teller Citibank. Diduga masih ada karyawan Citibank lainnya yang ikut berkomplot dengan MD. [mah]

+++++++++++

Inilah Jurus Maut Melinda Merayu Nasabah Citibank

INILAH.COM, Jakarta – Dalam meyakinkan nasabah atau calon nasabah Citibank, Inong Melinda alias Malinda Dee (MD) memiliki jurus jitu dan ampuh.

Agar costumer nyaman dan yakin, Melinda mengajak pertemuan di hotel mewah atau restoran berkelas. Semua biaya pertemuan ditanggung oleh Melinda sehingga costumer diperlakukan layaknya raja.

“Saya diajak makan di Kartika Chandra, semua dia (Melinda) yang bayar soalnya dia yang traktir,” ujar seorang pengusaha resor wisata kepada INILAH.COM, Kamis (31/3/2011).

Setelah mengajak makan siang atau makan malam, Melinda melanjutkan pembicaraan lebih intens dengan costumer di sebuah exclusive lounge dengan jamuan first class.

Tak lupa, Melinda membawa dua wanita cantik mendampinginya selama pertemuan. Kedua wanita pendamping itu ikut ‘nimbrung’ membahas tentang perbankan dan dunia investasi.

“Mel kalau pakai baju memang suka pakai baju begitu (seksi, red) dan berkelas, makanya saya yakin dia memang profesional,” ujarnya.

Seperti diberitakan, Jumat (24/3/2011) Mabes Polri resmi mengumumkan MD sebagai tersangka pembobolan dana nasabah Citibank sebesar Rp17 miliar. Dalam melancarkan aksinya, MD tak sendiri.

Dia berkomplot dengan rekan kerjanya berinisial D yang menjabat sebagai teller Citibank. Diduga masih ada karyawan Citibank lainnya yang ikut berkomplot dengan MD. [mah]

+++++++++++++

Cerita Inong Si Pembobol Bank

Metro TVOleh Metro TV News | Metro TV – Kam, 31 Mar 2011 20.38 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Nama Melinda mendadak terkenal. Foto-foto perempuan berusia 47 tahun tersebut beredar di dunia maya. Mendadak, semua orang pun ingin tahu kehidupan miliarder istri model iklan Andika Gumilang tersebut.

Tak heran, nama Melinda muncul karena ia menjadi tersangka kasus pencurian uang nasabah prioritas di Citibank. Kasus tersebut, entah sengaja entah tidak, awalnya ditutup-tutupi oleh Polri. Pun Citibank lebih banyak tutup mulut soal Melinda yang mereka sebut “eks-karyawan” Citibank itu.

“Nama aslinya Inong Melinda, di kantornya menggunakan nama Melinda,” tutur Kadiv Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam, buka suara soal kasus ini, Kamis (31/3). Anton menambahkan, Melinda tidak menyangkal semua tuduhan yang dialamatkan padanya.

Bahkan, sebelum berkasus, Linda, panggilan akrab Melinda, juga sudah menjadi buah bibir. Pasalnya, penampilan Linda yang usianya hampir paruh baya itu memang menarik. Pegawai Citibank yang tak kenal dengannya pun minimal pasti tahu siapa dia. Belum lagi nasabah Citibank. Linda memang sengaja ditempatkan untuk menangani nasabah prioritas karena kepiawaiannya bicara dan menjaga hubungan dengan nasabah.

“Dia itu operasi semua, dirombak wajahnya, jadi sebetulnya nggak cantik,” kata Anton mengomentari kehebohan masyarakat mengenai penampilan Linda sebagaimana foto-fotonya yang beredar di dunia maya.

Lepas dari penampilannya, Linda memang terkenal cukup lincah dan pandai berhubungan dengan klien. Linda sudah 20 tahun bekerja di Citibank, tapi baru tiga tahun terakhir ini ia mulai beraksi, membobol dana nasabah. Setidaknya dari tiga perusahaan yang jadi nasabah Citibank, Linda sudah mengantongi Rp17 miliar.

Polri menduga masih banyak lagi uang nasabah yang dibobol Linda. Sayangnya, perusahaan-perusahaan tersebut disinyalir takut melapor lantaran tak mau merusak hubungan baik dengan bank internasional asal New York tersebut.

Menurut Polri, dalam aksinya Linda meminta teller Citibank bernama Dwi untuk membantunya melakukan pencatatan palsu beberapa transfer uang. Nilainya antara Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Catatan tersebut merupakan manipulasi transfer uang dari rekening nasabah ke rekening milik beberapa perusahaan milik Linda di dalam dan di luar Citibank.

Tak tahu yang dilakukannya kriminal, Dwi yang bekerja di Citibank atas bantuan Linda, tak menolak mengerjakannya. Pencatatan tersebut secara administrasi bank memang tak bermasalah. Oleh karenanya, kejahatan Linda tak tercium.

Dwi kemudian juga ditangkap Polri dan sempat masuk rutan Bareskrim Mabes Polri atas dugaan keterlibatannya. Tetapi ia kemudian dilepas kembali karena tak ikut menikmati uang yang dicuri Linda. Status Dwi masih tersangka. Ia hanya dikenakan wajib lapor setiap dua minggu sekali.

Namun, banyak pihak memandang kekayaan Linda wajar-wajar saja. Pasalnya, Linda memang mempunyai banyak usaha, selain bekerja sebagai manajer di Citibank Cabang Landmark, kemudian pindah ke cabang Pondok Indah. Namun belum dapat dikonfirmasi bergerak di bidang apa saja perusahaan-perusahaan tersebut.

Linda pun, menurut Polri, piawai menyembunyikan kejahatannya. Harta kekayaannya banyak yang disamarkan dengan atas nama orang lain.

Rekening perusahaannya, misalnya, tercatat atas nama orang lain. Mobil-mobil mewah yang dimilikinya pun demikian. Salah satunya, Hummer H-3 warna putih bernomor polisi B 18 DIK yang disita polisi sebagai barang bukti pencucian uang, dicatat atas nama Dika. Selain itu, Linda diketahui masih memiliki Mercedes Benz S300 dan sebuah Ferrari yang kerap dibawa Dika ke Sentul untuk bergaul bersama komunitas Ferrari lainnya.

Dika adalah Andhika Gumilang, suami Melinda yang usianya jauh lebih muda. Model iklan dan artis itu disebutkan baru berusia sekitar 22 tahun.

“Dia punya Hummer dipegang (atas nama) suaminya, Mercy dan Ferrari dipegang anaknya,” ujar Anton.

Sampai kini Polri belum dapat dengan jelas memetakan harta Linda yang lain. Polri tengah meminta bantuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan memantau aliran dana keluar masuk rekening perusahaan Linda.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Media Indonesia, Linda ditangkap di kamar mewahnya di sebuah apartemen di kawasan elite SCBD, Semanggi. Ia juga diketahui pernah tinggal di Oakwood, Kuningan. Selain itu, Linda masih punya beberapa rumah di Jakarta, termasuk di Tebet.

Menyembunyikan hubungan istimewanya dengan model iklan pun Linda jago. Tak tercium infotainment, Linda menikah dengan Dika yang umurnya terpaut 25 tahun. Padahal, pada pertengahan 2007, Dika masih dikabarkan infotainment bermasalah dengan pacarnya kala itu, Trindah Herlina.

Pasangan Linda dan Dika tinggal bersama kedua anak Linda dari pernikahan pertamanya. Anak pertama Linda, lulusan universitas luar negeri, berusia tak terpaut jauh dengan Dika, sementara anak keduanya masih duduk di bangku sekolah swasta di Jakarta.

Menghindari kemungkinan kejahatan perbankan serupa, Polri mengimbau semua pihak untuk tidak mudah percaya pada kedekatan hubungan pribadi ketika menyangkut urusan finansial.

“Kepada masyarakat, kalau berkaitan dengan bank harus cek dan ricek karena petugas itu belum tentu yang sebenarnya,” papar Anton.

“Harus sesuai dengan prosedur, harus baca aturan sistem. Jangan terlalu percaya dengan pihak bank yang sudah dikenal baik. Itu belum tentu benar, harus hati-hati, tahu-tahu ditandatangan kosong.”(MI/DSY)

+++++++++++

Gaji Malinda di Citibank Rp 70 Juta Perbulan, Bonus Rp 250 Juta

Minggu, 03/04/2011 09:05 WIB
Gaji Malinda di Citibank Rp 70 Juta Perbulan, Bonus Rp 250 Juta
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Gaji Malinda di Citibank Rp 70 Juta Perbulan, Bonus Rp 250 Juta

Jakarta – Menjabat sebagai senior relationship manager di Citibank, Malinda alias Melinda Dee mempunyai gaji cukup tinggi. Bahkan setiap tiga bulan, wanita beranak dua ini mendapat bonus ratusan juta rupiah.

“Gajinya Rp 70 juta per bulan itu di luar bonus. Per tiga bulan bonusnya Rp 250 juta,” kata salah seorang sumber yang dekat dengan Malinda kepada detikcom, Minggu (3/4/2011).

Sumber juga mengatakan, selama 22 tahun bekerja di Citibank, Malinda selalu mencari sendiri nasabahnya. Ia diberi kewenangan oleh kantornya untuk mencari nasabah dengan rekening di atas Rp 500 juta.

“Makanya wajar saja kalau dia punya mobil seperti itu. Dihitung saja,” jelas sumber itu.

Setiap tahun, karir Malinda selalu menanjak. Baik Citibank dan Malinda selalu berbagi keuntungan.

“Makanya kenapa sekarang ada laporan dari Citibank? Apakah ada kerugian dari Citibank?” tanya sumber itu.

Polisi telah menahan Malinda karena diduga menggelapkan dana nasabah hingga mencapai puluhan milliar. Polisi telah menyita 4 mobil mewah Malinda yakni Ferrari Scuderia F340, Ferrari California, Mercedes-Benz E350, dan Hummer H3.

“Membeli mobil itu pakai uang dari hasil penggelapan,” jelas Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam saat dihubungi, Sabtu (2/4) kemarin.

Malinda dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU no 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU no 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU no 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU no 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU no 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.

 

 

+++++

Minggu, 03/04/2011 09:38 WIB
Wah! Uang yang Ditilep Malinda Diduga Rp 1,5 T  
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Wah! Uang yang Ditilep Malinda Diduga Rp 1,5 T

Jakarta – Polisi merilis uang nasabah yang ditilep Malinda alias Melinda Dee mencapai Rp 20 milliar. Namun ternyata jumlah duit yang digelapkan diduga melebihi puluhan miliar bahkan mencapai satu triliun rupiah lebih.

“Dia punya 500 nasabah. Kalau setiap orang Rp 3 miliar kalikan saja berapa? Rp 1,5 triliun kan,” kata salah seorang sumber yang dekat dengan Malinda kepada detikcom, Minggu (3/4/2011).  

Nasabah-nasabah Malinda umumnya orang yang sudah dikenalnya dengan baik. Sehingga setiap nasabah begitu mempercayakan uangnya kepada wanita beranak dua ini.

“Makanya Inong (Malinda) bilang tersinggung kalau hanya disebut Rp 17 miliar saja,” papar sumber itu.

Dari jabatannya sebagai senior relationship manager di Citibank, Malinda bisa memperoleh gaji Rp 70 juta per bulan dan bonus Rp 250 juta pertiga bulan. “Kalau dari mobil yang disita Rp 17 milliar itu saja lebih kan? Coba dihitung harga mobilnya? Iya, dari gaji saja bisa terbeli,” kata sumber itu menekankan.

Polisi telah menahan Malinda karena diduga menggelapkan dana nasabah. Polisi telah menyita 4 mobil mewah Malinda yakni Ferrari Scuderia F340, Ferrari California, Mercedes Benz E350, dan Hummer H3.

“Membeli mobil itu pakai uang dari hasil penggelapan,” jelas Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam saat dihubungi, Sabtu (2/4) kemarin.

Malinda dijerat pasal 49 ayat 1 dan 2 UU No 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No 10 tahun 1998 tentang perbankan dan atau pasal 6 UU No 15 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU No 25 tahun 2003 sebagaimana diubah dengan UU No 8 tahun 2010 tentang tindak pidana pencucian uang.

++++++++++
Malinda Diduga Alirkan Duit ke 30 Rekening
SENIN, 04 APRIL 2011 | 15:34 WIB
Besar Kecil Normal
Melinda Dee. TEMPO/Aditia Noviansyah

Berita terkait
Malinda Sempat Keluar Tahanan Siang ini
KUA: Pernikahan Icha dan Umar Otomatis Batal
Icha Kembali Jadi Pria
Satu Pelapor Cukup untuk Jerat Malinda
DPR Akan Panggil Citibank
TEMPO Interaktif, Jakarta – Inong Malinda Dee, mantan Relationship Manager Citigold Citibank diduga tak hanya menilap belasan miliar rupiah dana nasabah premium Citibank. Selain memakai blanko fiktif, tersangka kasus pembobol dana nasabah itu diduga juga mengalirkan dana ke 30 rekening di berbagai bank. Salah satunya atas namanya sendiri, dengan total Rp 11 miliar.

“Sementara sisa rekening lain masih diblokir dan masih proses izin untuk dibuka rekeningnya,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareksrim Mabes Polri, Brigadir Jenderal Arief Sulistyanto di Jakarta, Senin 4 April 2011.

Penyidik, kata Sulistyanto, telah menyita sejumlah barang bukti. Diantaranya 29 formulir transfer yang disalurkan kepada beberapa rekening. “Total kerugian dari tiga nasabah Citibank yang melaporkan ke kita, sementara sebesar Rp 16,6 miliar,” katanya.

asus berawal dari laporan penggelapan dana nasabah Citibank. Hasil penelusuran polisi mengetahui bahwa dana tersebut digelapkan Malinda dengan modus menyodorkan blangko fiktif. Ia mengangsir sebagian dana nasabah dan mentransfernya ke rekening perusahaannya.

Malinda juga mengaburkan transaksi dengan melakukan pencatatan tidak benar terhadap beberapa slip transfer. Slip transfer penarikan dana di rekening nasabah itu dipakai untuk memindahkan sejumlah dana milik nasabah tanpa seizin nasabah ke beberapa rekening yang dikuasai oleh pelaku.

Sejauh ini, polisi juga telah memblokir 30 rekening yang terkait kasus tersebut. Sebagian rekening milik Malinda, dan sisanya milik para nasabah. “Saat ini baru tiga nasabah yang dimintai keterangan,” kata Sulistyanto.
Polisi juga belum bisa menyimpulkan kerugian karena masih menunggu laporan dari Pusat Pelaporan Analisa dan Transaksi Keuangan. Hanya sejumlah aset Malinda termasuk mobil, sudah disita.

Pengacara Malinda, Halapancas Simanjuntak mengklaim semua aset yang dimiliki kliennya merupakan hasil usaha yang ia kembangkan bersama suaminya, Agus, yang berprofesi sebagai pengusaha mobil mewah. Namun saat ini keduanya tidak lagi berada dalam satu rumah. “Sedang dalam proses perceraian,” katanya.

RIKY FERDIANTO

+++++++++++++

Malinda Janji Kembalikan Uang Nasabah Penulis : Rita AyuningtyasSenin, 04 April 2011 20:03 WIB
Komentar: 0
0 0
MI/Angga Yuniar/vgTERKAIT
BI Cium Kelemahan Sistem Perbankan
Oknum Bank Berperan di Delapan Kejahatan Perbankan
Malinda Janji Kembalikan Uang Nasabah
JAKARTA–MICOM: Pihak Inong Malinda tidak begitu saja percaya dengan pernyataan penyidik yang menyebutkan ada kerugian karena perbuatan relation manager Citibank cabang Landmark itu. Namun, jika memang terbukti ada kerugian, Malinda bersedia untuk mengembalikannya.

“Kalau dia terbukti, dia akan bertanggung jawab. Kalau nanti Citibank bisa buktikan dan meyakinkan kita, ibu akan bertanggung jawab semampu dia. Sekarang pilih mana lu dapat Rp3 miliar dipenjara, enggak mau orang,” tukas pengacara Malinda, Batara Simbolon, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (4/4).

Sebelumnya, siang ini, Malinda dan pengacaranya akan ke Citibank untuk mengklarifikasi tentang pihak yang diduga dirugikan oleh relation manager Citibank cabang Landmark. Selain itu, mereka juga akan meminta sejumlah dokumen, seperti slip gaji dan bonus Malinda.

Dia mengatakan rencana kedatangan Malinda juga untuk memastikan status wanita yang dikabarkan menikah siri dengar artis Andika Gumilang itu di Citibank. Sebab, sampai saat ini, Malinda masih berstatus sebagai pegawai Citibank.

Namun, rencana tersebut terganjal oleh kondisi kesehatan Malinda. Selain itu, lanjut Batara, tim penasihat hukum belum mendapat izin dari pihak bank.(Bob/OL-2)

++++

Luar biasa !! : Wow, Melinda Berperan Besarkan Omzet Citibank

INILAH.COM, Jakarta – Senior Relationship Manager Citibank cabang LandMark, Jakarta, Inong Melinda alias Malinda Dee adalah salah satu petinggi Citibank yang banyak memberikan keuntungan bagi bank tempatnya bekerja.

Malinda merupakan pejabat bank swasta yang mampu merangkul hingga 500 nasabahnya. Bahkan Malinda masuk dalam katageri 5 besar dalam mendapatkan dana bank ini. Ia dikabarkan tidak lagi wajib masuk kantor setiap hari layaknya seorang karyawan. Pokonya ia bisa memenuhi targetnya mendapatkan dana.

“O iya ibu (Malinda) di lima cabang bank tugasnya, dia pegang 500 nasabah,” kata pengacara Malinda, Halapancas Simanjuntak, di Jakarta, Selasa (5/4/2011).

Sehingga wajar jika Malinda begitu dipercaya oleh nasabahnya, dan bank tempatnya bekerja selama 20 tahun. “Karena dia sama Citibank saling membesarkan, Citibank kalau enggak ada dia (Malinda) susah juga,” imbuhnya.

Lebih lanjut Halapancas mengatakan, Malinda tak menyangka perusahaan tempatnya bekerja memidanakan dirinya, yang telah membesarkan Citibank selama 20 tahun terakhir.

Melinda mengawali karier di Citibank pada 1989 sebagai Costumer Service, lalu pada tahun 2000 diangkat menjadi Relationship Manager. Melinda menapaki kariernya dari jenjang bawah hingga mencapai level tinggi di Citibank.

Melinda telah ditetapkan sebagai tersangka pembobolan Citibank sebesar Rp17 miliar. Polisi telah menyita empat mobil mewah milik Melinda yaitu Ferrari F430, Ferrari California, Mercedez Benz E320 dan Hummer 3 Luxury Sport. [mah]

++++++++

Kamis, 07/04/2011 13:20 WIB
Diduga Ada Money Laundering, Rekening Nasabah Malinda Juga Diselidiki
Aprizal Rahmatullah – detikNews

BERITA TERKAIT
Kamis, 07/04/2011 11:36 WIB
Mabes Polri Tegaskan Irjen Budi Gunawan Bukan Nasabah Citibank
Rabu, 06/04/2011 10:57 WIB
Anton akan Bertemu Irjen Budi Gunawan Klarifikasi Jadi Korban Malinda
Selasa, 05/04/2011 17:57 WIB
Malinda Dikenal Ramah & Dermawan, Aslinya Mirip Cut Memey
Selasa, 05/04/2011 16:32 WIB
Suami Malinda Jadi Incaran Wartawan
Selasa, 05/04/2011 08:34 WIB
Malinda Beri Peringatan Lemahnya Pengawasan Bank di Indonesia
SELENGKAPNYA

Jakarta – Selain fokus pada penyelidikan pembobolan dana nasabah Citibank, Mabes Polri juga menyelidiki asal usul dana nasabah Malinda Dee. Polisi akan menyelidiki apakah ada unsur pencucian uang dalam rekening itu.

“Begini, kita kan koordinasi dengan Citibank. Kan data itu ada di Citibank. Nah kita harap mudah-mudahan Citibank juga memberikan (data),” ujar Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (7/4/2011).

Anton mengatakan, polisi masih berfokus pada pengungkapan kasus tindak pidana perbankan yang dilakukan Malinda. Sementara, penyelidikan dana nasabah masih belum dilakukan.

“Jadi kan semua aliran dana ini perlu ditindaklanjuti. Banyak sekali aliran dana yang diikuti ditelusuri,” jelas mantan Kapolda Jatim ini.

Menurut Anton, hingga saat ini penyidik baru menerima 3 data nasabah. “Jadi yang sudah diterima, sudah disidik penyidik 3 nasabah itu. Yang lainnya nanti berkembang,” terang Anton.

Apakah penyidik mengarah ke pihak manajemen Citibank? “Ya termasuk itu. Semuanya, karena nasabah itu kan bagian dari manajemen,” tandasnya.

+++++++++++++++++++

Malinda: Dalam Seminggu Nama Saya Hancur
SENIN, 11 APRIL 2011 | 11:42 WIB
Besar Kecil Normal
Malinda Dee. singaporenews.com

Berita terkait
Malinda Transfer Dananya ke Bank Mega
Polisi Temukan Bukti Transfer Malinda
Tifatul Minta Dewan Syariah Beri Sanksi Arifinto
Pernyataan “TNI Boleh Berbisnis” Perlu Diluruskan
Marsekal Berbisnis, Pembelaan Panglima TNI Dinilai Salah Kaprah
TEMPO Interaktif, Jakarta – Apa yang dirasakan Malinda Danuardja alias Inong Malinda Dee, setelah beberapa pekan mendekam di ruang sempit tahanan Bareskrim Mabes Polri? Apa pula yang dipikirkannya begitu seluruh media memberitakan soal gaya hidup dan sepak terjangnya di dunia perbankan?

Perempuan 47 Tahun yang pernah menjadi Senior Relationship Manager Citibank itu mengeluhkan pemberitaan media massa perihal kasusnya. Ia menganggap, pemberitaan itu telah membunuh karakternya.
Kepada Tempo yang menemuinya di tahanan, pekan lalu, Malinda menyatakan tuduhan dirinya melakukan penggelapan uang atau money laundering tidak benar. Sepengetahuan dia, tak ada nasabah yang melaporkan telah dirugikan oleh dirinya. “Laporan ini seperti bapak melaporkan anaknya,” katanya memberi perumpamaan perihal laporan Citibank atas dirinya ke polisi.

Petang itu, ketika Tempo menyambangi Malinda, perempuan itu membalut tubuhnya dengan serba hitam. Dari kerudung, baju, hingga celana panjangnya. Kerudungnya terjuntai panjang menutupi dadanya. Tubuhnya terlihat sangat kurus dibanding foto dirinya yang banyak muncul di Internet atau berseliweran di layar BlackBerry.

Poni khasnya menyeruak dari balik kerudungnya dan tergerai di keningnya yang mulus. “Bobot tubuh saya memang turun,” kata perempuan 47 tahun berkulit putih ini. Kendati demikian, ia menyatakan akan tetap menjaga kesehatannya. “Supaya pikiran saya juga sehat,” ujarnya.

Berkali-kali Malinda menyatakan tak melakukan kesalahan apa pun dalam kasus yang dituduhkan terhadap dirinya itu. Tuduhan ia membeli mobil-mobil mewah dengan menggelapkan uang nasabah dianggapnya tidak benar.

Menurut Malinda, tidak mungkin kariernya, yang sudah 22 tahun di Citibank, ia hancurkan sendiri. Apalagi jika dihitung akan segera pensiun beberapa tahun lagi. “Kini hanya dalam satu minggu nama saya hancur oleh opini tidak benar,” kata perempuan yang pernah mendapat penghargaan sebagai juara ketiga tingkat Asia-Pasifik dari Citibank atas prestasinya dalam pencapaian target kerja sebagai manajer ini.

Didesak menjelaskan sejumlah ketidakbenaran yang dituduhkan penyelidik, berkali-kali perempuan kelahiran Pangkalpinang berdarah Aceh-Betawi ini menggelengkan kepala.

Jadi Anda tidak melakukan penggelapan?
Nanti akan saya ungkapkan di pengadilan. Tidak mungkin sekarang saya ungkapkan A, B, C, atau D. Saya tidak mau ribut.

Dan tuduhan melakukan pencucian uang itu?
Nanti, nanti semua akan saya jelaskan di pengadilan. Yang jelas, semua pekerjaan saya sudah diaudit.

L.R. Baskoro

+++++++++++++

Inilah Modus Malinda Mencuci Uang
KAMIS, 14 APRIL 2011 | 09:02 WIB
Besar Kecil Normal
Malinda Dee. singaporenews.com

Berita terkait
Panglima TNI Didesak Copot Rio Mendung
Polisi Belum Akan Panggil Rio Mendung
Polisi Hanya Blokir Rekening yang Terkait Kasus Malinda
Polisi Dinilai Abaikan Kewenangan dalam Kasus Malinda
PPATK: Kasus MD Melibatkan Lebih Dari 3 Nasabah
TEMPO Interaktif, Jakarta – Pusat Analisis dan Transaksi Keuangan telah mengendus puluhan transaksi dari 28 rekening dalam kasus aliran dana yang dilakukan Malinda Danuardja alias Inong Malinda Dee. Mantan Senior Relationship Manager Citibank ini disebut mencuci sendiri kejahatan keuangan lewat rekening nasabahnya,

Ketua PPATK Yunus Hussein mengatakan, ada 28 rekening yang diperiksa lembaganya, belum sampai 30 rekening seperti diungkap polisi. Dari 28 rekening itu, telah terjadi lebih dari 28 transaksi. “Semuanya ada di 8 bank dan dua perusahaan jasa keuangan asuransi,” kata Yunus Hussein, Rabu 13 April 2011.
Delapan bank itu, adalah bank swasta dan bank asing. Bank-bank itu telah diperiksa, namun ada satu bank yang belum karena menolak diperiksa.

Seperti apa modus pencucian uang yang dilakukan Malinda? Dalam penelusuran PPATK, Malinda ternyata memakai rekening nasabahnya untuk mentransfer uang ke sejumlah perusahaan. Satu diantaranya adalah PT Sarwahita. ” Jadi tidak langsung dari rekening MD sendiri” kata Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PPATK Subiantoro kepada Tempo.

Duit yang ditransfer itu, juga mengalir dari bank ke perusahaan asuransi. Malinda, diduga membayar premi sejumlah asuransi. “Keterangan dari Bank begitu” ujarnya.

Upaya pencucian uang lewat produk asuransi ini diduga menjadi modus baru para pencuci uang. Yang paling populer adalah unitlink, produk yang menggabungkan asuransi jiwa dan investasi.

Malinda diduga juga mencuci cuang dengan membeli asset properti seperti rumah, apartemen dan mobil mewah. Namun mobil-mobil itu dibeli lewat leasing.

Demi memuluskan langkahnya, Malinda diduga memakai empat kartu identitas. PPATK menemukan, setidaknya ada empat Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbeda. “Dari laporan bank dan asuransi kami dengar, dia punya empat KTP. Nomernya lain-lain,” ungkap Yunus.

Penipuan menggunakan identitas palsu seperti yang dilakukan MD ini, kata Yunus, masih sulit dideteksi oleh polisi dan PPATK. Apalagi, Indonesia belum menerapkan single identity atau identitas tungal. Sehingga siapa pun bisa dengan mudah membuat identitas ganda.

Malinda diduga juga mentransfer dana ke PT Sarwahita. Transaksi itu tersebar di beberapa bank. Penelusuran PPATK, dari transaksi senilai Rp 16 miliar yang melibatkan PT Sarwahita itu, terdapat modus yang sama, yakni membayar premi asuransi.

WDA | FEBRIANA FIRDAUS

++++++++++++++++++

Kamis, 14/04/2011 11:44 WIB
Ssst! Ada Eks Pejabat Jadi Korban Malinda, Tapi Emoh Melapor
Indra Subagja – detikNews

Jakarta – Siapa saja nasabah korban Malinda Dee masih teka-teki. Pihak kepolisian dan Citibank enggan buka-bukaan. Tapi bocoran yang beredar, salah satu nasabah yang ‘dikerjai’ Malinda adalah mantan pejabat. Siapa dia?

“Pokoknya dia termasuk yang nggak melapor,” kata Kepala Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein saat dikonfirmasi, Kamis (14/4/2011).

Yunus enggan merinci lebih lanjut identitas mantan pejabat itu, ketika didesak, dia hanya sedikit membuka informasi, pejabat itu pernah wara-wiri di hadapan publik.

“Ya sekarang sudah pensiun,” imbuhnya.

Berdasarkan keterangan Polri, ada 3 nasabah Malinda yang menjadi korban. Mereka sudah menjalani pemeriksaan. Polri juga pernah menyampaikan total uang yang dikuras, untuk sementara mencapai Rp 17 miliar.

Polri juga sudah menyita 4 mobil mewah dan rekening milik Malinda senilai Rp 11 miliar. Malinda dijerat pasal pencucian uang dan penggelapan.

March 21, 2011

Yusuf Serahkan ‘Dokumen Kejahatan’ PKS Ke KPK

PKS : partai kaum sesat ! Belagak sok alim dan bermoral , padahal doyan duit dan perempuan..minta ampun!

++++
Yusuf Serahkan ‘Dokumen Kejahatan’ PKS Ke KPK
Oleh Yusuf Waluyo Jati E-mail Print PDF
Published On: 21 March 2011
JAKARTA: Setelah diberitakan santer akan melaporkan kejahatan sejumlah elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Yusuf Supendi akhirnya mewujudkan spekulasi itu. Deklarator Partai Keadilan (PK), cikal bakal PKS, ini tiba di gedung KPK tadi siang.

Dengan kemeja putih dilapisi jaket kain berwarna cokelat muda, pria sepuh mungil ini menenteng dokumen yang diduga kuat berisi bukti-bukti kejahatan para elite PKS yang salah satunya berkaitan dengan tindak pidana korupsi.

Seusai mengadu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Yusuf keluar ruangan dan menyebarkan dokumen yang sebelumnya telah dia sampaikan di dalam kantor KPK pimpinan Busyro Muqoddas tersebut kepada wartawan.

Di dalam dokumen itu disebutkan Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta menggelapkan dana sebanyak Rp10 miliar. Dana tersebut dianggapnya sebagai bagian dari uang mahar sebanyak Rp40 miliar yang bersumber dari Adang Daradjatun untuk kegiatan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta pada 2007.

Selain itu, ungkapnya, elite PKS lainnya yakni Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro PKS, diduga menerima uang sebanyak Rp21 miliar dari Wiranto. Masalah ini, tulis dokumen tersebut, pernah dipublikasikan Majalah Tem

po edisi 31 Desember 2006 pada halaman 149. Namun, Hilmi saat itu membantahnya.

Pada Pemilihan Presiden 2004, elite PKS lainnya yakni Luthfi Hasan Ishaaq, ketika itu Bendahara PKS, mengelola uang sebanyak Rp34 miliar dari Jusuf Kalla.

“Saya memilih kata mengelola bukan menerima karena masing-masing memiliki makna dan implikasi tersendiri. Yang saya sampaikan adalah pengelolanya bukan penerimanya dari Pak Jusuf Kalla,” tulisnya dalam dokumen itu.

Sebagai bahan permulaan untuk KPK, jelasnya, dia menyerahkan kepada Ketua dan Pimpinan KPK sejumlah dokumen untuk dipelajari dan dicermati.

Selain itu, dia juga menyampaikan sebuah amplop kecil yang berisi surat sakti, alat bukti terkait dengan dana Rp10 miliar, nama-nama saksi yang berjumlah 12 orang terkait dengan penggelapan Rp10 miliar oleh Anis Matta dan nama pemegang bukti fisik manipulasi data donatur ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Anis yang saat itu menjabat sebagai Anggota DPR periode 2004 – 2009 bisa terkena Pasal 11 UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 11. Pasal tersebut membenarkan KPK untuk menyelidiki, menyidik dan menuntut pelaku tindak pidana korupsi. “Saya hanya berusaha untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar,” katanya.

Sebelumnya, Anis Matta menilai ada pihak tertentu yang menunggangi pendiri Yusuf Supendi untuk menggembosi partainya meski dia tidak mau menyebutkan pihak yang dimaksud.

“Ya saya tahu, tapi saya tidak mau buka. Itu etika internal,” kata Anis di Gedung DPR hari ini menanggapi tudingan Yusuf yang menyebutkan Anis Matta menggelapkan uang Rp10 miliar yang merupakan bagian dari dana Pemilukada PKS di DKI Jakarta pada 2007. (ea)

February 15, 2011

Buntut Kasus Gayus, 12 Jaksa Ditindak

Gila jaksa jaksa korup ini hanya diber sanksi administratip aja !Minimal sanksi terhadap mereka adalah dipecat , karena sudah memalukan corps kejaksaan !

detikNews » Berita

Selasa, 15/02/2011 16:46 WIB
Buntut Kasus Gayus, 12 Jaksa Ditindak
Nurvita Indarini – detikNews

Jakarta – Sejumlah jaksa diduga terkait kasus mafia hukum dalam penanganan perkara Gayus Tambunan. Setelah dilakukan pemeriksaan, 12 jaksa yang terkait dalam kasus ini pun ditindak dengan diberi sanksi administrasi.

“Kedua belas oknum jaksa tersebut telah dijatuhi tindakan/sanksi administratif,” kata Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum (PMH) Denny Indrayana dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (15/2/2011).

12 Jaksa tersebut sebelumnya diperiksa oleh Jamwas Kejagung. Dari hasil pemeriksaan, terbukti mereka telah melakukan perbuatan tercela, yaitu tidak cermat dalam melakukan penelitian terhadap berkas perkara Gayus.

“(12 Jaksa) mengesampingkan pasal-pasal tindak pidana Korupsi dan tindak pidana pencucian uang serta tidak melakukan pengendalian dalam penanganan perkara,” lanjut Denny.

Terkait dokumen perjalanan dan perlintasan atas nama Sony Laksono yang digunakan Gayus ke luar negeri, Kemenkum HAM pun telah melakukan sejumlah langkah. Kemenkum HAM telah membentuk Tim Pemeriksa dalam rangka memperoleh data, informasi, bukti dan fakta yang akurat dan terpercaya sebagai masukan bagi jajaran pimpinan Kemenkumham dalam mengambil kebijakan terkait kasus itu.

Kemenkumham juga telah melakukan evaluasi dan perbaikan sistem maupun koordinasi serta penjatuhan sanksi hukuman disipliner dan administratif berupa mutasi 35 pegawai imigrasi.

“Terhadap ke 35 petugas terseebut di atas jika terdapat bukti baru tentang keterlibatan mereka secara langsung dan memenuhi unsur tindak pidana maka dapat diproses sesuai hukum yang berlaku,” sambung Denny.

Sementara itu, Kemenkeu juga telah melakukan langkah-langkah konkret. Antara lain pada Januari 2011, telah dilakukan pergantian pejabat di lingkungan Kemenkeu, termasuk rotasi pimpinan di lingkungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak.

“Di lingkungan Ditjen Pajak, telah dilakukan pergantian pada level Inspektorat Jenderal, Kepala Kantor Wilayah, bahkan hingga Dirjen-nya, demi memperlancar penuntasan kasus Gayus,” terang pria berkacamata ini.

Sedangkan Ditjen Pajak telah melakukan upaya-upaya berupa langkah umum, langkah khusus, hingga crash program. Upaya preventif juga merambah Sekretariat Pengadilan Pajak. Dalam rangka mengevaluasi kinerja hakim Pengadilan Pajak, telah disiapkan konsep putusan Ketua Mahkamah Agung (MA) tentang mekanisme evaluasi kerja hakim Pengadilan Pajak.

PPATK pun berperan aktif dalam pelaksanaan percepatan penyelesaian kasus-kasus hukum dan penyimpangan pajak. Hal itu dilakukan dengan menyampaikan informasi terkait dengan rekening atau aset Gayus.

PPATK telah melakukan penelusuran transaksi, aset dan keberadaan Gayus di luar negeri. Caranya adalah dengan meminta informasi kepada counterpart PPATK di beberapa negara yaitu Singapura, Amerika Serikat, Malaysia dan Macau. Permintaan informasi tersebut dilakukan pada Januari 2011 yang lalu.

Sedangkan Satgas PMH bersama-sama dengan MA, Kemenkum HAM, Kejaksaan Agung dan Polri telah merumuskan secara bersama Rencana Aksi Pencegahan Mafia Hukum yang telah dilakukan di Cipanas, Jawa Barat pada 8-10 Februari 2011. Rencana aksi yang disusun secara bersama ini diharapakan mampu menjawab secara langsung kelemahan sistem yang ada selama ini.

Hal itu dilakukan agar pelaksanaan pemberantasan mafia hukum yang dilakukan oleh instansi terkait sesuai dengan amanat Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 (Inpres 1/2011).

“Dalam hal penguatan pengawasan seluruh wakil dari lembaga penegakan hukum sepakat tentang perlunya pengembangan dan penerapan sistem whistleblowing di mana pelaporan atau pengaduan terhadap adanya penyimpangan etika dan pelanggaran hukum yang dilakukan aparat penegak hukum yang berasal dari orang dalam diperlukan perlindungan yang memadai,” tutur Denny.

Ditambahkannya, MA dan kejaksaan juga sepakat untuk menyusun pedoman pemberian tuntutan dan hukuman bagi participant whistleblower (saksi yang sekaligus sebagai pelaku). Hal ini sesuai dengan UU No 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban untuk mendorong agar seseorang memiliki keberanian dalam pengungkapan kejahatan teroganisir termasuk praktik mafia hukum/ peradilan.
(vit/irw)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca Juga :
Nurdin Halid – Gayus Capres 2014 Mejeng di Kontras
Satgas: Pembuktian Terbalik Akan Diterapkan di Kasus Gayus
Cirus Belum Dikonfrontir dengan Gayus dan Haposan
Usai Dikonfrontir, Gayus Akui Berbeda Keterangan dengan Haposan Soal Rentut
Share
(12) KomentarKirim KomentarDisclaimer
agus.soetopo 15/02/2011 18:49 WIB
Menurut teori hukum, Tujuan Hukum adalah 1) kepastian, 2) keadilan, dan… » Selengkapnya
tukulanDF 15/02/2011 18:29 WIB
jaksa nakal seharusnya dihukum mati dan dimiskinkan.. karena jaksa… » Selengkapnya
KH. Jarkoni 15/02/2011 18:00 WIB
Jaksa jadi tumbal. Dulu diminta harus begini-begitu kalau menuntut… » Selengkapnya

February 15, 2011

KIP: Buka ‘rekening gendut’

Bisnis Indonesia 09 Februari 2011
JAKARTA:

Komisi Informasi Pusat (KIP) memerintahkan Mabes Polri untuk membuka 17 nama pemilik ‘rekening
gendut’ berikut besaran nilainya selambat-lambatnya 14 hari ke depan.Perintah tersebut merupakan
putusan KIP atas sengketa informasi 17 nama rekening Polri berikut dengan besara nilainya yang
dimohonkan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW).
Ketua majelis komisioner sidang sengketa tersebut Alamsyah Saragih mengatakan pembukaan
‘rekening gendut’ merupakan informasi terbuka.
“[Oleh karena itu], Termohon [Mabes Polri] untuk memberikan informasi 17 nama pemilik rekening
anggota Polri beserta besaran nilainya kepada pemohon selambat- lambatnya 14 hari kerja
sejak adanya putusan berkekuatan hukum tetap,” ujarnya di ruang sidang Mahkamah Konstitusi
(MK), Jakarta, kemarin.
Majelis berpendapat informasi yang dimohonkan oleh pemohon tidak terbukti dapat menghambat
proses penyelidikan dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf h angka 3
UU Keterbukaan Informasi Publik.
Selain itu, menurut Alamsyah,pembukaan nama dan nilai rekening tidak terbukti mengungkapkan
rahasia pribadi. Polri menolak Menanggapi putusan tersebut, Kepala Biro Bantuan Hukum
Mabes Polri Brigjen Pol. Iza Fadri mengatakan Polri menolak dan tidak sependapat dengan putusan
KIP. Oleh karena itu, lanjutnya, Mabes Polri akan melakukan upaya banding ke Pengadilan
Tata Usaha Negara.

“Kami menghormati putusan itu. Namun, ini adalah sidang ajudikasi nonlitigasi. Kami akan
mengajukan langkah banding sesuai dengan aturan waktu yakni dalam 14 hari ke depan ke
PTUN,” ujarnya kepada pers. Sementara itu, Koordinator Divisi Investigasi dan Informasi
Publik ICW Agus Sunaryanto mengatakan putusan itu menunjukkan
bahwa informasi rekening pejabat Polri selama ini merupakan informasi terbuka kepada
publik. Walaupun demikian, katanya, ICW masih menunggu upaya hukum selanjutnya dari
Mabes Polri setelah pembacaan putusan tersebut.
Menurut dia, KIP dapat melakukan eksekusi terhadap putusan itu, jika dalam 14 hari ke depan
belum ada langkah hukum dari Mabes Polri. Agus mengungkapkan putusan komisioner merupakan
kemenangan publik secara luas.

“Ini adalah kemenangan publik secara luas, karena informasi yang selama ini ditutupi merupakan
informasi terbuka,” ujar Agus. Dia menambahkan majelis hakim sangat detil memperhatikan
fakta persidangan. Namun, hal ini masih masa transisi, karena masih ada langkah hukum
berikutnya.
Pada Agustus 2010, Aktivis ICW Tama S. Langkun dianiaya oleh empat orang tak dikenal
hingga mendapatkan 29 jahitan oleh dokter di rumah sakit. Hal itu diduga terkait dengan aktivitas
Tama yang tahun lalu lebih banyak mengadvokasi pengusutan kasus dugaan rekening liar
milik petinggi Polri.
Namun, hingga kini, pihak kepolisian belum menetapkan status tersangka siapa pelaku penyerangan
tersebut.
Ketua Dewan Federasi Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan
(Kontras) Usman Hamid mengatakan penganiayaan terhadap Tama, tidak bisa lepas dari
kesimpulan tentang keterkaitan upaya advokasi rekening mencurigakan perwira tinggi kepolisian
oleh ICW. “Ini terkait dengan penganiayaan terhadap Tama. Tidak bisa
untuk tidak menyimpulkan bahwa ini terkait dengan masalah ‘rekening gendut’ kepolisian,”
ujarnya.
Dia menegaskan perlunya dibuka penyelidikan terhadap rekening mencurigakan itu, mengingat
tidak adanya langkah yang jelas dari kepolisian maupun Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) dalam kasus tersebut.Menurut Usman, Presiden dapat bersama-sama dengan PPATK
menyampaikan persoalan itu ke publik karena macetnya penyelidikan.
(anugerah.perkasa@

February 11, 2011

Dana Abadi Umat Sebesar US$ 85 Juta Akan Dirupiahkan

Dana Abadi Umat Sebesar US$ 85 Juta Akan Dirupiahkan
JUM’AT, 11 FEBRUARI 2011 | 05:30 WIB
Besar Kecil Normal
Suryadharma Ali. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kementerian Agama berencana menyimpan seluruh dana abadi umat atau yang kerap disebut DAU dalam bentuk mata uang rupiah. Dari Rp 1,7 triliun jumlah DAU yang terkumpul, sebanyak US$ 85 juta diantaranya tersimpan dalam bentuk dollar Amerika Serikat. “Semuanya akan dirupiahkan,” kata Menteri Agama Suryadharma Ali kepada Tempo di kantornya, Kamis (10/2).

Jumlah dana abadi umat dalam waktu dekat akan mendapat tambahan sebesar Rp 28 miliar, yang diperoleh dari hasil efisiensi penyelenggaraan haji tahun 2010.

Alasan Kementerian menukarkan seluruh dana abadi umat ke dalam mata uang rupiah lantaran bunga rupiah lebih tinggi tiga kali lipat dibandingkan mata uang dollar. Dengan menyimpan semua DAU dalam bentuk rupiah, jumlahnya akan menjadi lebih besar sehingga bunganya juga besar.

“Tapi penggunaannya bukan dana pokoknya, tapi bunganya yang digunakan,” kata Suryadharma. Penggunaan DAU selama ini diketahui untuk pembangunan rumah ibadah, pendidikan pesantren, dan madrasah, serta pelayanan ibadah haji.

Untuk merealisasikan rencana itu, lanjutnya, Kementerian terus berkonsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan guna memperoleh masukan tentang cara merupiahkan DAU secara tepat dan kapan waktunya. “Kalau BPK bilang boleh, ya kita lakukan. Kalau BPK bilang tidak boleh, ya tidak kita tukarkan. Karena saya tidak mau salah di kemudian hari,” ujarnya.

Penggunaan dana abadi umat selama ini selalu menimbulkan kontroversi. Banyak kalangan menuding penggunaan dana hasil efisiensi penyelenggaraan ibadah haji itu justru untuk kepentingan di luar jemaah haji.

MAHARDIKA SATRIA HADI

February 6, 2011

Publikasikan 17 Rekening Gendut yang Wajar!

Polisi dan kejaksaan ada dua lembaga penegak hukum yang paling korup dan tidak tahu malu !
Publikasikan 17 Rekening Gendut yang Wajar!
Penulis: Maria Natalia | Editor: Erlangga Djumena
Minggu, 6 Februari 2011 | 15:06 WIB

shutterstock
TERKAIT:
ICW Datangi Polda untuk Gelar Perkara
Polri Siap Hadapi ICW
Kapolri Harus Selesaikan Rekening Gendut
Ke Mana Rekening Gendut Polri?
Ditanya Rekening Gendut, Susno Bungkam
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesian Corruption Watch (ICW) menuntut Markas Besar Polri mengumumkan indikasi 17 rekening gendut pejabat kepolisian yang dikatakan wajar oleh Mabes Polri. 17 rekening ini merupakan sebagian dari 23 rekening yang dilaporkan oleh ICW yang dicurigai bukan berasal dari sumber legal.

Parameter wajar oleh kepolisian, karena uang dalam rekening diperoleh dengan cara-cara yang legal, baik dari hasil kebun, usaha angkot, dan warisan keluarga oknum-oknum polisi tersebut. Meskipun wajar, Mabes Polri menolak untuk dipublikasikan.

“Mabes Polri mengatakan 17 rekening itu wajar, tapi kami menuntut agar Mabes Polri memberikan informasi secara substansi detail wajar yang dimaksudkan seperti apa? Harus disampaikan kepada publik jumlahnya berapa dan nama pemilik rekening. Tapi, polisi menolak membukanya dengan banyak alasan, padahal dikatakan wajar,” kata Koordinator Divisi Investigasi ICW, Agus Sunaryanto, dalam jumpa pers di kantor ICW, Minggu (6/2/2011).

Permintaan ICW pada Mabes Polri untuk memublikasikan 17 rekening gendut yang dikatakan wajar telah diajukan sejak 2 Agustus 2010, tapi pada 4 Agustus 2010 Mabes Polri menyatakan menolak permintaan tersebut.

Sampai dengan persidangan sengketa rekening gendut ini di sidang Ajudikasi Komisi Informasi Pusat (KIP), sejak tanggal 1 Desember dan 28 Desember 2010, serta 18 Januari 2011, pihak kepolisian tetap bersikukuh untuk menutup-nutupi bahwa rekening anggotanya merupakan rahasia. “Kami menekankan di sini, dibantah untuk tidak dipublikasi oleh kepolisian dengan mengatakan ini sudah clear, kemudian tidak ada indikasi pidana, kalau begitu kenapa tidak dipublikasikan dengan detail kepada publik,” ungkap aktivis ICW, Tama S Langkun.

ICW berharap melalui akhir putusan sidang KIP pada 8 Februari 2011 nanti, Majelis Komisi Informasi dapat membuka jalan agar informasi rekening gendut yang dianggap wajar oleh Mabes Polri bisa dibuka ke publik.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by

Share
42

January 30, 2011

19 Politisi Ditahan, DPR Diminta Tak Politisasi Kasus Hukum

Politikus senayan nyaris semuanya busuk !
detikNews » Berita

Minggu, 30/01/2011 18:42 WIB
19 Politisi Ditahan, DPR Diminta Tak Politisasi Kasus Hukum
Adi Nugroho – detikNews

Jakarta – DPR diminta bersikap profesional. Proses hukum adalah proses hukum, jangan direcoki oleh intervensi politik. Akan sangat tidak etis kalau kemudian DPR mempertanyakan pada KPK atas penahanan 19 politisi terkait kasus suap DGS BI.

“Kalau mempertanyakan tentang penahanan 19 rekannya, itu mereka akan terjebak pada politisasi kasus hukum. Itu akan dianggap, mereka melakukan intervensi. Kalau mereka melakukan itu, akan melanggar kode etik,” kata pengamat hukum Saldi Isra di Jakarta, Minggu (30/1/2011).

Dalam konteks pengawasan apa yang dilakukan DPR bisa dibenarkan, namun kalau kemudian berujung pada ‘serangan’ pada KPK hal itu akan terlihat aneh, karena Indonesia adalah negara hukum.

“Saya setuju kalau DPR mendorong KPK segera menangkap penyuapnya. Masa ada suap yang ditangkap penerima suapnya saja, tetap pemberinya tidak,” tambahnya.

Sementara itu, menurut Wakil Koordinator ICW Emerson Yuntho, ada baiknya partai politik memberi dukungan dalam penuntasan pemberantasan korupsi. Jangan kemudian berantipati dengan melakukan serangan politik kepada KPK.

“Bukankah langkah KPK justru membersihkan nama baik DPR dari praktik suap?” tutup Emerson.

(ndr/ndr)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca Juga :
Muhaimin Minta KPK Tangkap Penyuap 19 Politisi
19 Politisi Ditahan, DPR Seharusnya Dukung KPK Usut Kasus Korupsi
KPK Diminta Fokus Usut Korupsi, Tak Perlu Khawatir Kritik Politisi
JK Minta Paskah Cs Buka Mulut Siapa yang Beri Uang
Share
(13) KomentarKirim KomentarDisclaimer
Mancilok 30/01/2011 19:09 WIB
MEMANG HUKUM di INDON ini sudah DIPOLITISIR oleh Paratai Politik dan… » Selengkapnya
Pembela kebenaran 30/01/2011 19:09 WIB
Udah nda usah bnyak ngomong tu anggota dpr. Kalau udah terbukti terima… » Selengkapnya
danny boy 30/01/2011 19:08 WIB
kira2 DPR bisssa ngga ya, buat UU trbaru yg lbh berat hukumanny buat… » Selengkapnya

Pilihan Redaksi
Kamis, 20/01/2011 17:59 WIB
Yu

January 29, 2011

Mantan Direktur Keberatan dan Banding Pajak Ditahan

MAFIA PAJAK

Mantan Direktur Keberatan dan Banding Pajak Ditahan
Jakarta, Kompas – Setelah melakukan pemeriksaan sejak Jumat (28/1) siang, penyidik Kepolisian Negara RI akhirnya menahan tersangka mantan Direktur Keberatan dan Banding Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Bambang Heru Ismiarso. Bambang Heru dijerat dugaan tindak pidana korupsi dalam kasus proses keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal.

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli di Jakarta. ”Bambang Heru Ismiarso, mantan Direktur Keberatan dan Banding yang diperiksa sebagai tersangka, ditahan,” kata Boy, Jumat.

Saat ditanya apakah penyidik mengarahkan penyidikan terhadap Bambang Heru dalam dugaan kasus mafia pajak terkait 149 perusahaan yang disebut-sebut berurusan dengan mantan pegawai pajak Gayus HP Tambunan, Boy mengatakan, penyidik akan bekerja secara proporsional dan terukur.

”Itu kami lihat babak berikutnya. Kami berikan kesempatan kepada tim penyidik gabungan untuk menemukan fakta hukum yang layak menjadi alat bukti. Kita patut menunggu karena banyak hal yang harus dipelajari,” kata Boy.

Terkait dengan pemeriksaan Bambang Heru dalam kasus PT Surya Alam Tunggal (PT SAT), Koordinator Divisi Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Diansyah mengingatkan, Polri jangan sampai terjebak pada penanganan kasus yang kecil. ”Kasus PT SAT merupakan kasus yang kecil,” kata Febri.

Sebaliknya, lanjut Febri, pihak kepolisian perlu mengusut dugaan tindak pidana yang lebih besar, yaitu terkait dengan dugaan kasus mafia pajak yang terkait dengan 149 perusahaan yang berurusan dengan Gayus HP Tambunan. ”Polisi memang sudah sulit diharapkan dapat mengusut. Namun, polisi perlu lebih maksimal dan berbagi tugas dengan KPK,” ujarnya.

Hal sama dikatakan Johnson Panjaitan, kuasa hukum salah satu petugas pajak, Humala Napitupulu, dalam dugaan kasus pajak terkait dengan PT SAT. Dikatakan, Polri terlalu mereduksi pemeriksaan terhadap Bambang Heru dengan mengaitkan pada kasus PT SAT. ”Bambang Heru perlu diperiksa dalam dugaan kasus mafia pajak terkait dengan 149 perusahaan,” katanya.

Johnson menjelaskan, dalam kasus PT SAT sebenarnya tidak ada unsur pidana. Alasannya, pengajuan keberatan pajak PT SAT sudah disetujui Direktorat Jenderal Pajak. Atas dasar itu, PT SAT menerima pengembalian kewajiban pajak yang telah disetor, termasuk bunga sebesar Rp Rp 570 juta. (FER)

January 24, 2011

Aceh sampai Papua tersandera korupsi

Indonesia tersandera korupsi dan politik Sby vs Aboerizal Bakrie

JAKARTA, KOMPAS.com – Hampir semua provinsi di negeri ini tersandera korupsi karena ada saja kepala daerah yang saat ini berstatus tersangka atau terdakwa. Berdasarkan catatan Kompas, hanya lima dari 33 provinsi di Indonesia yang hingga Minggu (23/1/2011) tak ada kepala daerahnya yang terjerat perkara hukum.

Temuan itu seperti membenarkan pernyataan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Senin lalu. Dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Daerah di Jakarta, ia menuturkan, ada 155 kepala daerah yang tersangkut masalah hukum, 17 orang di antaranya adalah gubernur. Hampir setiap pekan, seorang kepala daerah ditetapkan sebagai tersangka (Kompas, 18/1/2011).

Dari 17 gubernur yang dipaparkan Gamawan itu, tak semuanya kini masih menjabat. Tinggal empat gubernur yang masih menjabat dan tersangkut kasus korupsi. Mereka adalah Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin (terdakwa korupsi bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan serta bea penerimaan hak atas tanah), Gubernur Sumatera Utara Syamsul Ariffin (terdakwa korupsi proyek pengadaan mobil pemadam kebakaran), Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak (tersangka korupsi dana pengelolaan dana bagi hasil penjualan saham PT Kaltim Prima Coal), dan Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin (tersangka korupsi pengembalian dan pemanfaatan lahan bekas pabrik kertas Martapura). Kini Syamsul Ariffin ditahan.

Anggaran untuk golf

Direktur Jenderal Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Yuswandi Temenggung menuturkan, sebagian besar kepala daerah terjerat kasus korupsi yang terkait penyimpangan APBD, terutama pada pelaksanaan pengadaan barang dan jasa serta penyaluran bantuan sosial. Dalam evaluasi APBD provinsi, Kemdagri sebenarnya sering memberikan catatan terhadap anggaran yang tak sesuai dengan aturan.

”Kesalahan bisa terjadi dalam pengadaan barang dan jasa yang seharusnya mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Selain itu juga pengelolaan dan pertanggungjawaban dana hibah, perjalanan dinas, dan bantuan sosial,” katanya.

Awal 2011, Kemdagri sudah selesai mengevaluasi 30 APBD provinsi. Tiga APBD provinsi lainnya, yaitu Bengkulu, Papua Barat, dan Aceh, masih dalam proses evaluasi. ”Tahun 2011 cukup baik pada awal tahun anggaran ini,” ujarnya.

Direktur Anggaran Daerah Kemdagri Hamdani menambahkan, provinsi dan kabupaten/kota mempunyai kewenangan keuangan daerah. Namun, ada beberapa anggaran yang diberi catatan untuk tak dianggarkan lagi di APBD. ”Misalnya anggaran untuk hibah kepada persatuan golf. Apa hubungan pemerintah daerah dengan golf? Setelah ditelusuri, ternyata ketuanya gubernur atau sekretaris daerah,” ujarnya. Contoh lain, kendaraan untuk anggota DPRD tidak boleh dianggarkan dalam APBD.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) M Jasin juga mengakui, modus korupsi di daerah kebanyakan berupa penyalahgunaan APBD dan APBN, yaitu berupa bantuan sosial fiktif, penggelembungan harga, dan mengubah spesifikasi teknik dalam pengadaan barang dan jasa. KPK pun mengusulkan perubahan sistem anggaran.

KPK juga menyampaikan kajian untuk perbaikan keuangan darah ke Kemdagri, bahkan langsung terjun ke daerah untuk memperbaiki sistemnya. ”Kami mengusulkan transparansi anggaran dengan memakai e-budgeting dan mendorong transparansi pengadaan barang dan jasa,” katanya.

Sent Using Telkomsel Mobile Internet Service powered by
Sumber :Kompas Cetak
Share