Archive for ‘Artha Graha’

April 3, 2014

Djoko: Artha Graha Cuma ‘Kepengin’ Proyek Tanggul  

Djoko: Artha Graha Cuma 'Kepengin' Proyek Tanggul  

Pengunjung menikmati suasana pantai dekat sebuah ekskavator untuk proyek reklamasi di Pantai Ancol, Jakarta Utara. TEMPO/Dasril Roszandi

 

TEMPO.COJakarta - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan belum menerima kabar kelanjutan minat Artha Graha Grup untuk mengerjakan proyek tanggul raksasa National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). “Dia (Artha Graha) pernah menyampaikan itu dan kepengin. Kalau cuma kepengin, tidak bisa ditanggapi apa-apa,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 2 April 2013. (baca: Pemerintah Seriusi Proyek Tanggul Raksasa)

Djoko mencontohkan, niat Artha Graha atas proyek NCICD seperti rencana pembangunan jalan tol Pantai Utara Jawa di atas laut. “Seperti tadi yang kamu sampaikan jalan tol di atas laut. Wong cuma ngomong kok ditanggapi, gimana sih.”

Dia mengatakan, jika ada yang meminati pembangunan proyek infrastruktur, pemrakarsa hendaknya menanggapi dan mempelajari syarat-syarat yang ditentukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. (baca: Hatta: Jakarta Harus Bangun Tanggul Laut Raksasa)

Pertengahan November 2013, Artha Graha Grup pernah menyampaikan minatnya untuk masuk dalam proyek tanggul laut raksasa kepada Kementerian Pekerjaan Umum. “Mereka bilang kami boleh membantu tidak. Membantu itu artinya, karena idenya sama, kenapa tidak dibuat bersama-sama, dan kami oke saja,” kata Djoko.

Djoko mengaku didatangi Direktur Utama PT Graha Banten Lampung Sejahtera Agung R. Prabowo yang mewakili Artha Graha untuk membicarakan proyek giant sea wall pada Rabu, 14 November 2013. Saat perusahaan milik Tommy Winata itu mengajukan konsep, Djoko mendapati kesamaan ide dengan pemerintah. Namun proyek ini belum diputuskan lantaran menunggu skema pendanaan yang tepat. “Yang berwenang memutuskan pendanaannya adalah presiden,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Djoko mengatakan Artha Graha mengusulkan agar proyek itu tidak cuma didanai pemerintah. Pemerintah ditawari untuk menggarap skema kemitraan dengan swasta. “Supaya ada keuntungan bersama dari proyek tersebut,” katanya.

Pembangunan tanggul raksasa di pantai utara Jakarta rencananya mulai dilakukan pada 2014. Proyek tersebut digagas pada masa kepemimpinan Fauzi Bowo. Tanggul raksasa ini dibangun untuk menanggulangi banjir di sisi utara Jakarta hingga seribu tahun. Selain menahan banjir, tanggul ini berfungsi sebagai penyedia air bersih.

ALI HIDAYAT

November 16, 2013

Artha Graha Bidik Proyek Giant Sea Wall

HomeBisnisBisnis
JUM’AT, 15 NOVEMBER 2013 | 20:11 WIB
Artha Graha Bidik Proyek Giant Sea Wall

Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan Artha Graha Grup berencana masuk dalam proyek tanggul laut (giant sea wall) Jakarta. “Mereka bilang kami boleh membantu tidak. Membantu itu artinya karena idenya sama, kenapa tidak dibuat bersama-sama dan kami oke saja,” kata dia saat ditemui di Hotel Atlet Century Park Senayan, Jumat, 15 November 2013.

Djoko mengaku didatangi oleh Direktur Utama PT Graha Banten Lampung Sejahtera, Agung R. Prabowo, yang mewakili Artha Graha untuk membicarakan proyek giant sea wall pada Rabu, 14 November 2013.

Saat perusahaan milik Tommy Winata itu mengajukan konsep, Djoko mendapati kesamaan ide dengan pemerintah. Namun proyek ini belum diputuskan lantaran menunggu skema pendanaan yang tepat. “Yang berwenang memutuskan pendanaannya adalah presiden,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Djoko mengatakan Artha Graha mengusulkan agar proyek itu tidak cuma didanai pemerintah. Pemerintah ditawari untuk menggarap skema kemitraan dengan swasta. “Supaya ada keuntungan bersama dari proyek tersebut,” katanya.

Pembangunan giant sea wall di pantai utara Jakarta akan mulai dilakukan pada 2014. Proyek tersebut digagas pada masa kepemimpinan Fauzi Bowo. Tanggul raksasa ini dibangun untuk menanggulangi banjir di sisi utara Jakarta hingga seribu tahun. Selain menahan banjir, tanggul ini berfungsi sebagai penyedia air bersih. Proyek ini diperkirakan menelan dana Rp 280 triliun.

ALI HIDAYAT

August 27, 2012

Tomy Winata: Konflik Paulus Bukan dengan Andi

SENIN, 27 AGUSTUS 2012 | 18:56 WIB
Tomy Winata: Konflik Paulus Bukan dengan Andi
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta – Bos Grup Artha Graha, Tomy Winata, mengatakan konflik pemilik PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos terkait megaproyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) bukan dengan anaknya, Andi Winata.

“Paulus bermasalah dengan Oxel System Ltd. Anak saya bekerja di sana,” katanya kepada Tempo ketika dihubungi Ananda Badudu, Kamis pekan lalu. Saat dihubungi, sang taipan mengaku berada di Bangkok.

Tomy mengatakan, sebenarnya ia tak mau ikut campur urusan anaknya dengan Paulus. “Anak saya sudah gede dan dewasa, bisa menangani masalah ini,” kata dia.

Namun, Paulus suatu ketika pernah meminta dirinya menengahi konfliknya dengan Andi. Untuk membantu menyelesaikan masalah ini, ia pun bertemu dengan Paulus di Hotel Conrad Hong Kong dan Hotel Borobudur.

“Semua atas permintaan Paulus. Dia minta tolong kepada saya untuk menengahi persoalannya, melalui Jack Budiman,” kata dia. Jack merupakan teman kongsi Paulus yang lain, yang juga dekat dengan Tommy Winata.

Ia menambahkan, “Saya ikut menengahi hanya karena ingin proyek ini berjalan baik, karena ini untuk kepentingan bangsa,” kata dia.

Paulus adalah pemilik PT Sandipala Arthaputra, perusahaan pencetak surat berpengaman khusus yang kebagian proyek e-KTP dari Kementerian Dalam Negeri. Ia tergabung dalam konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia bersama empat perusahaan lain turut mengerjakan pembuatan 172 juta kartu senilai Rp 5,8 triliun.

Paulus berkongsi dengan Andi Winata dalam hal penyediaan keping ST-Micro untuk proyek e-KTP. Perusahaan Oxel System Ltd, milik Andi, merupakan agen tunggal keping merek itu di Indonesia.

Rupanya kerja sama proyek triliunan rupiah ini tak berjalan mulus. Bersama Jack, Andi melaporkan Paulus ke Mabes Polri atas tuduhan menipu dan menggelapkan dana pada Maret dan April lalu.

Laporan Andi dan Jack ke Mabes Polri ini berakibat buruk bagi Paulus. Sejak 6 Juni, namanya dan putrinya, Catherine Tannos, terpajang dalam daftar buron di portal Interpol. Saat ini, Paulus dan keluarganya bersembunyi di Singapura.

MUNAWWAROH | ANANDA BADUDU

July 5, 2012

AS Dukung Tomy Winata Biayai JSS

 

Dari Investor daily 5 July 2012-07-05

 

JAKARTA – Amerika Serikat, melalui Bank

Ekspor Impor (Exim) AS, telah menyatakan

dukungannya terhadap pembangunan Jembatan

Selat Sunda (JSS) yang tengah dipersiapkan

konsorsium Graha Banten Lampung

Sejahtera.

Dukungan tersebut disampaikan Direktur

Bank Exim AS Patricia M Loui kepada Chairman

Artha Graha Network Tomy Winata melalui

suratnya yang dikirim dari Washington DC

pada 15 Maret 2012. Surat dukungan tersebut

merupakan tindak lanjut pertemuan Tomy dengan

rombongan Bank Exim AS yang dipimpin

Patricia di Jakarta pada Februari 2012.

Dalam suratnya kepada Tomy itu, Patricia

menulis bahwa pihaknya menilai proyek JSS

sangat penting bagi upaya membangun

konektivitas antarwilayah

di Indonesia.

 

Selain itu, proyek JSS sangat penting

untuk meningkatkan manfaat yang lebih beragam

dari pembangunan ekonomi Indonesia.

“Walaupun Bank Exim AS tidak dapat

memberikan pembiayaan modal untuk

pembangunan proyek tersebut, kami dapat membantu pembiayaan

jangka panjang untuk pembelian

aneka produk dan jasa dari AS, serta

menyediakan 30% dari biaya lokal yang terkait

dengan pembelian tersebut,” demikian

 

 

Patricia dalam suratnya. Patricia menjelaskan, fasilitas

pembiayaan jangka panjang itu menggunakan suku

bunga tetap yang mengacu pada tingkat bunga bank yang berlaku

di London (London Interbank Offered Rate/Libor).

Pada bagian akhirnya, Patricia menyatakan, pihaknya

akan mempromosikan informasi proyek

JSS tersebut kepada berbagai instansi pemerintah

AS, antara lain Overseas Private

Investment Corporation

(OPIC).

 

Menanggapi dukungan dari Bank

Exim AS, Tomy Winata menjelaskan,

pihaknya sebagai bagian dari pemrakarsa

pengembangan Kawasan Strategis

dan Infrastruktur Selat Sunda

(KSISS) selama ini memang terus berupaya

dan berkerja keras untuk meraih

dukungan dari dunia internasional.

“Kami sebagai pemrakarsa proyek

KSISS terus berkerja sesuai amanah

Perpres No 86/2011 tentang KSISS,

termasuk membuka diri dan berkomunikasi

dengan para mitra strategis potensial

dari mancanegara,” ujar Tomy

Winata.

Pihak-pihak luar negeri yang telah

memberikan komitmen kerja sama,

menurut Tomy, yaitu AS yang terdiri

atas Bank Exim AS yang juga akan

menggandeng OPIC. Komitmen pun

datang dari Korea Selatan yang meliputi

GS Enginerring dan grup LG.

Sedangkan dari Jepang, dukungan

telah disampaikan JG Corporation,

Nippon Koei, dan Nippon Steel. Selanjutnya

dari RRC komitmen kerja sama

telah disampaikan pihak China Railway

Construction Corporation dan

China Development Bank.

Dia menambahkan, investor dari

Tiongkok juga tertarik membangun

JSS, di antaranya China Railway Construction

Corporation (CRCC) dan China

Communications Construction

Company Ltd (CCCC). Sedangkan dari

Korea ada GS Engineering and Construction

Company serta Samsung.

Presiden Direktur PT Graha Banten

Lampung Sejahtera Agung R Prabowo

mengungkapkan, selain Bank Exim

AS, investor Jepang termasuk yang

memiliki ketertarikan tinggi untuk bekerja

sama dalam pembangunan JSS.

Karena itu pula, delegasi METI (menteri

perekonomian, perdagangan, dan

perindustrian Jepang) datang sampai

dua kali ke Indonesia terkait hal tersebut.

“Mereka tertarik untuk bekerja

sama dalam pembangunan JSS. Mereka

juga berkomitmen terhadap pendanaannya,”

kata dia.

Bahkan, menurut Agung, investor

Jepang menyampaikan satu proposal

untuk masuk ke proyek JSS melalui

konsorsium yang terdiri atas JGC Corporation,

Nippon Steel, Oriental, dan

Nippon Koei.

“Proyek JSS mesti direalisasikan

walaupun besaran biayanya belum

diketahui secara detail. Proyek ini

tidak bisa hanya dikerjakan satu perusahaan.

Jadi, harus bersinergi,” tandas

dia.

Agung menjelaskan, pihaknya berpegang

pada Perpres No 86/2011

tentang KSISS yang berdasarkan kabar

akan direvisi. “Sebelum ada kepastian

revisi Perpres tersebut, kami akan

terus bekerja. Kami berharap groundbreaking

dilakukan awal tahun depan,”

ujar dia.

Studi Kelayakan

Menurut Agung Prabowo, berdasarkan

prastudi kelayakan (pre feasibility

study), JSS tidak feasible akibat besarnya

pembiayaan yang harus ditanggung.

“Itu sebabnya, kami maju dengan

usul pengembangan kawasan yang

akan memberikan kontribusi besar, sehingga

JSS bisa terbangun,” tuturnya.

Dia menambahkan, kawasan-kawasan

di sekitar JSS bisa dikembangkan

masing-masing daerah sesuai potensi

masing-masing. “Misalnya di Banten

bisa dikembangkan industrinya yang

high tech dan di Lampung yang berbasis

natural tech. Intinya harus terpadu,”

ucap dia.

Agung mengakui, biaya pra studi

kelayakan cukup besar, sekitar US$

60 juta. “Dananya besar karena banyak

sekali yang harus kami kerjakan. Kami

memulainya pun sejak tujuh tahun

lalu,” ujarnya.

Agung Prabowo mengungkapkan,

berdasarkan kajian Graha Banten

Lampung Sejahtera, kebutuhan dana

untuk membangun JSS sekitar US$

10 miliar. “Kami tidak asal hitung. Tapi

kebutuhan pastinya masih harus dikonfirmasikan

dengan data-data studi

kelayakan. Apakah US$ 10 miliar,

US$ 8 miliar, atau US$ 11 miliar, belum

ada yang tahu,” papar dia.

May 28, 2012

TW membangun ikon kota

Senin,28 Mei 2012
KORPORASI
Membangun Ikon Kota
Sebuah berita menarik mencuat Rabu pekan lalu. PT Danayasa Arthatama Tbk, anak usaha Artha Graha Network, milik Tomy Winata, menyediakan dana hampir Rp 20 triliun untuk membangun gedung tertinggi kelima di dunia. Dengan tinggi 638 meter dan 111 lantai, gedung ini di antaranya digunakan untuk hotel supermewah dan perkantoran.

Hal menarik, Tomy Winata merupakan usahawan dengan kalkulasi bisnis tinggi, bersedia membangun gedung bernama Signature Tower ini. Seperti diketahui, membangunnya dan mengisinya merupakan dua hal berbeda. Ketika gedung kembar Petronas dibangun, Perdana Menteri Mahathir Mohamad (waktu itu) sampai mengajak badan usaha milik negara pindah ke kantor itu. Para usahawan lain diajak pula karena ruang kosong dua gedung itu masih banyak. Usaha ini baru berhasil sepenuhnya menjelang tahun keempat gedung Petronas.

Masalah yang kerap mengemuka, sewa gedung elite itu amat mahal, bisa satu setengah sampai satu tiga perempat kali lebih mahal dibanding gedung megah lain. Namun bisa jadi, karena tertarik efektivitas, para usahawan bersedia menyewa tempat itu untuk menjadi markas baru perusahaan mereka.

Pembangunan gedung pencakar langit merupakan perpaduan besarnya kapital, nyali, teknologi, dan bisnis. Butuh teknologi canggih untuk meluncurkan air dari permukaan tanah ke lantai 111. Dalam cara lama, air naik sampai, sebutlah ke lantai 30. Di sini ada penampungan air khusus, lalu menggunakan pompa lagi meluncurkannya ke lantai 60. Lalu naik ke lantai 90, dan seterusnya. Bisa dibayangkan energi yang dikerahkan untuk memompa air ke ketinggian 638 meter? Pengamanan ekstra pun mutlak agar tidak sampai terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki.

Aspek yang tidak kalah pentingnya, berapa tahun ikhtiar mengembalikan modal senilai Rp 20 triliun itu? Lima tahun? Lima belas tahun? Tidak ada garis waktu yang jelas, sebab semua tergantung cara penjualan gedung dan seberapa laku gedung itu. Ini hal yang membutuhkan daya tahan (endurance) kuat. Untuk diketahui, membuat gedung 50 lantai diisi penuh pembeli atau penyewa butuh waktu tiga sampai enam tahun.

Beberapa aspek ini hanya catatan-catatan kecil. Masih banyak aspek yang perlu diperhatikan. Namun, marilah kita melihat pembangunan gedung pencakar langit itu dari pesona positif. Misalnya, akan ada beberapa ribu orang bekerja langsung dengan pembangunan gedung dan sekitar 70.000 orang secara tidak langsung bersentuhan dengan pembangunan Signature Tower. Akan terjadi perputaran uang yang amat besar, yang akan membuat perekonomian Ibu Kota lebih bergairah.

Marilah pula dengan raut positif kita melihat bahwa kalau gedung itu selesai dibangun, akan membuat wajah Ibu Kota lebih memesona. Akan membuat Jakarta memiliki ikon baru yang menakjubkan. Bayangkanlah, di antara gedung-gedung tinggi di sentrum bisnis Jakarta, mencuat satu gedung yang tingginya 638 meter. Gedung 101 di Taipei, Petronas di Kuala Lumpur, Burj Al Arab Dubai, Sears Tower Chicago, gedung IFC di Hongkong, ”putus semua” , dan mereka mesti ”menengadah” untuk melihat gedung di Jakarta ini. Turis asing otomatis akan lebih kerap ke Jakarta, di antaranya untuk melihat gedung ini.

Kalau CNN, CNBC, atau BBC News hendak memasang foto untuk melukiskan Jakarta, tidak lagi mengambil gambar di daerah marjinal, tetapi foto gedung ini, seperti sudah mereka lakukan untuk Hongkong, Taipei, Kuala Lumpur, Chicago, dan sebagainya. (Abun Sanda)

August 9, 2011

Mineral Ikutan Timah agar Dilarang

Goublok atau pura pura tidak tahu, mirip dengan PT Freeport yang bertahun tahun mengaku hanya menambang tembaga, sedangkan “ampas” dari tembaga yaitu emas tidak pernah dilaporkan.. Berton ton emas “lenyap” ditangan para elit penguasa Orde Baru.

Rabu,10 Agustus 2011
EKSPOR
Mineral Ikutan Timah agar Dilarang

Pangkal Pinang, Kompas – Pemerintah diharapkan lebih tegas melarang ekspor mineral ikutan dari penambangan timah. Sebagian mineral itu bernilai tinggi karena mengandung radioaktif atau dibutuhkan industri persenjataan modern.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kepulauan Bangka Belitung Aldan Djalil mengatakan, penambangan timah, antara lain, juga menghasilkan elminit, zirkon, dan monasit. Zirkon dikenal sebagai salah satu logam tanah jarang yang dibutuhkan dalam industri persenjataan, sementara monasit mengandung radioaktif.

”Kami sebenarnya berharap ekspor mineral-mineral itu dalam bentuk bahan baku mentah dilarang sepenuhnya,” ujarnya di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Senin (8/8).

Menurut dia, larangan itu sebenarnya tercantum dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Batubara dan Mineral. Berdasarkan undang-undang itu, beberapa jenis mineral diharuskan diolah di dalam negeri sebelum diekspor. Namun, undang-undang itu baru berlaku penuh pada 2014.

Oleh karena itu, ekspor 60 peti kemas pasir elminit dan zirkon oleh PD Bangka Global Mandiri ke China tidak dapat dilarang. Mineral itu diekspor melalui Pelabuhan Pangkal Balam.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Kepulauan Bangka Belitung A Haswandi mengatakan, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Ekspor mengizinkan ekspor mineral-mineral tersebut dalam bentuk barang mentah. Eksportir hanya diwajibkan memenuhi sejumlah ketentuan administratif. ”Persyaratan itu, antara lain, pemeriksaan isi kontainer oleh pihak independen yang ditunjuk pemerintah dalam hal ini Sucofindo,” ujarnya.

Berdasarkan dokumen ekspor, PD BGM sudah memenuhi semua syarat ekspor mineral-mineral tersebut. Karena itu, ekspor mineral itu ke China tidak dapat dilarang. ”Kalau sudah diperiksa Sucofindo dan sampai masuk pelabuhan, artinya tidak ada masalah,” ujarnya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kepulauan Babel Komisaris Besar Martuani Sormin Siregar menyatakan hal senada. Polisi memang memeriksa dokumen ekspor mineral itu.

”Ada masyarakat melaporkan soal ekspor itu. Kami menjalani tugas sesuai wewenang, yakni hanya bisa memeriksa dokumen. Hasilnya, ekspor itu legal,” ujarnya. (RAZ)

July 15, 2011

Kapal Isap Merusak Bangka

Yang punya kapal ISAP biasanya tauke dari Jakarta macam Tommy Winata.

+++
Jumat,
15 Juli 2011
Kapal Isap Merusak Bangka
Sungailiat, Kompas – Sebanyak 17 kapal isap pasir timah yang marak beroperasi sejak awal tahun 2011 di perairan Kabupaten Bangka telah merusak ekosistem perairan Bangka. Dampak lanjutannya mulai terlihat pada mundurnya sektor pariwisata dan perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Bangka Fery Afrianto, Kamis (14/7), mengatakan, 11 kapal isap sudah beroperasi di perairan Kecamatan Belinyu. Dua kapal lain juga akan beroperasi jika proses perizinan selesai. Adapun di sekitar Sungailiat, ibu kota Kabupaten Bangka, terdapat enam kapal isap.

Menurut Fery, tujuh kapal isap di Belinyu beroperasi berdasarkan izin dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sementara empat kapal lainnya mendapat izin dari kabupaten setempat. Jika proses perizinan dua kapal isap lain selesai, total enam kapal isap yang mendapat izin operasi dari Kabupaten Bangka.

”Izin diberikan karena semua prosedur terpenuhi. Wilayah operasi tidak termasuk yang dilarang untuk kapal isap,” ujarnya.

Kondisi lapangan

Aktivitas kapal isap terlihat, antara lain, di perairan Tanjung Pesona dan Parai yang termasuk wilayah Sungailiat. Kemarin tampak empat kapal isap beroperasi di Perairan Tanjung Pesona. Kapal-kapal itu beroperasi di perairan yang membentang sekitar 2 kilometer. Sementara di Parai juga terlihat empat kapal isap. Bahkan, kapal-kapal tersebut bisa terlihat dari Parai Resort, sebuah lokasi wisata pantai di Sungailiat.

Di area itu tidak terlihat kapal nelayan. Sebaliknya terlihat ponton-ponton tambang timah apung. Ponton tersebut paling banyak terdapat di dekat buritan kapal isap, tempat limbah pasir timah dibuang.

Air pantai memang masih terlihat jernih. Namun, di sekitar tempat beroperasi kapal isap, air keruh kecoklatan.

Manajer Resor Tanjung Pesona Bangka Fernandi Santoso mengatakan, penambangan di dekat pantai menyulitkan pariwisata. ”Mau buat rumpon pembiakan ikan sulit karena terkena limbah penambangan. Rumpon itu salah satu sarana penting paket wisata memancing,” ujarnya.

Para pelaku usaha pariwisata setempat beberapa kali mengeluhkan persoalan tersebut kepada pemerintah, tetapi belum ada respons nyata dari pemerintah. Bahkan, sejauh ini kebijakan pemerintah dinilai berpihak ke usaha penambangan. ”Kami harap ada lokasi yang dikhususkan untuk pariwisata,” ujarnya.

Sementara itu, dosen Universitas Bangka Belitung, Indra Ambalika, mengatakan, aktivitas kapal isap dan kapal keruk merusak ekosistem perairan. Kerusakan tersebut, antara lain, terbukti dari kematian 98 persen terumbu karang buatan di Teluk Limau, Bangka.

Menurut Indra, tim Universitas Bangka Belitung tahun 2009 menanam 100 terumbu karang. Saat dipantau pada Mei 2011, yang tersisa tinggal dua terumbu karang. Selebihnya mati tertutup lumpur.

Kapal isap mengeluarkan berton-ton limbah pasir setiap hari. Arus laut membawa limbah itu ke lokasi penanaman terumbu karang. ”Terumbu karang tidak bisa bertahan karena sedimen lumpur terlalu tinggi. Padahal, dulu lokasi itu kami pilih karena ekosistemnya masih mendukung. Setelah kapal isap beroperasi, daya dukung ekosistem merosot,” tutur Indra.

Kepala Dinas Kelautan Kepulauan Bangka Belitung Sugianto mengatakan, hal itu merupakan akibat ketidakjelasan tata ruang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama ini. (RAZ)

March 15, 2011

Tomy Winata Khawatir Bisnisnya Terancam Akibat Berita The Age

detikFinance » Ekonomi Bisnis

Selasa, 15/03/2011 07:30 WIB
Tomy Winata Khawatir Bisnisnya Terancam Akibat Berita The Age
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Pengusaha Tomy Winata merasa terusik dengan pemberitaan dua media Australia yang mengatakan adanya ‘hubungan khususnya’ Ibu Negara Ani Yudhoyono. Pemberitaan tersebut mengganggu hubungannya dengan mitra usahanya.


“Mitra usaha saya terganggu. Ini bisa menghancurkan kinerja usaha kami, dan ini dampaknya bukan pada saya dan keluarga saya. Tapi ada 1 juta rumah tangga yang saya nafkahi saat ini. Itu yang dilakukan Harian The Age dan Sydney Morning Herald,” tutur pria yang akrab disapa TW saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (13/3/2011) lalu.

Bos Artha Graha ini sangat cemas terhadap pengaruh pemberitaan tersebut kepada perkembangan bisnisnya.

“Ada mitra saya yang sekarang cepat-cepat menunda meeting dengan saya. Ini jadi indikator. Jadi mereka (mitra bisnis) yang biasanya tak pernah mendelay komitmen, sekarang sudah mulai menghindari komitmen. Saya tahu tandanya, karena 35 tahun saya di market,” papar TW.

Karena itu, TW mengirim surat hak jawab kepada dua media Australia tersebut yang rencananya dikirim hari ini. Dia membantah semua pemberitaan yang ada.

Seperti diketahui, dua media Australia tersebut memberitakan kawat diplomatik Kedubes AS yang dibocorkan Wikileaks. Salah satunya menyebutkan keluarga Presiden SBY menerima gelontoran dana dari Tomy Winata lewat perantara TB SIlalahi.

Dalam bocoran kawat diplomatik Kedutaan Besar (Kedubes) AS yang dirilis WikiLeaks kepada The Age disebutkan, diplomat-diplomat Amerika menekankan adanya dugaan hubungan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para pengusaha Indonesia, khususnya Tomy Winata, yang diduga sebagai figur dan anggota dunia hitam “Gang Sembilan” atau “Sembilan Naga,” sebuah sindikat perjudian terkenal.

(dnl/qom)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Share
(22) Komentar Kirim Komentar Disclaimer
Anak Nabang Bukit15/03/2011 08:34 WIB
Komentarnya pada nyeremin maen darah -darahan segala, kaya yang tau… » Selengkapnya
pale_lu_somplak15/03/2011 08:34 WIB
Lu para pecundang yang komentar negatif jangan asal ngomong lah! TW itu… » Selengkapnya
R.E.D.15/03/2011 08:21 WIB
Sblm pilpres ada kesepakatan proyek jembatan selat sunda dipegang TW,… » Selengkapnya

—–
Membedah Lingkaran Setan
Reporter: Adhi/Dani/Eka
Adil – Jakarta, Telinga penguasa Daerah Istimewa Yogyakarta sontak
memerah. Gubernur dan Kapolda, ditantang bandar judi. Sri Sultan H.B.
X dan Brigjen Pol. Johanes Wahyu Saronto melarang judi mickey mouse
di arena judi Mahkota di Jl. Tanjung Baru. Tapi, geng bandar judi,
Irawan Sutanto, Gani dan Heru, cuek saja. Hingga kini, ketiga bandar
itu masih membuka perjudian di arena Mahkota.

Tak hanya di Yogyakarta. Irawan cs. buka cabang di Surabaya. Operator
di Yogyakarta diserahkan pada Jusuf dan Rohadji. Sedang di Surabaya,
Irawan cs. menyerahkan pelaksanaannya ke Widodo. Selain Irawan dkk.,
usaha judi di Kota Pahlawan itu juga digelar Iwan, Oentoro, Wee Fan,
dan Jhoni F. Pasar Atom, Andhika Plaza, dan Darmo Park adalah daerah
perjudian elite.

Di pentas judi nasional, ada beberapa nama. Sebutlah Wang Ang
(Bandung), Pepen (Manado), Firman (Semarang), Olo Panggabean (Medan
dan Aceh) serta Handoko (Batam, Tanjungpinang dan sekitarnya). Belum
di daerah lainnya. Kini, Olo melakukan ekspansi bisnis perjudiannya
hingga Depok dan Bogor. Pertarungan kian seru. Daerah Batam,
Palembang, Riau, Balai Karimun, dan Bagansiapi-api, sekarang di bawah
kekuasaan seorang pria bernama Rustam.

Memang, Rustam dapat titah mengurusi pusat perjudian di daerah. Ada
juga Eng Sui dan Eng San. Keduanya mengelola bisnis judi, meliputi,
judi bola tangkas, toto gelap, kasino, mickey mouse, rolet dsb. Tugas
lain; keduanya pun bertindak selaku pengontrol keluar masuknya uang
haram itu.

Masih segaris Rustam, Eng Sui, dan Eng San, pun ada nama Arief
Prihatna. Di dunia persilatan judi, Arief dikenal dengan nama Cocong.
Tugas Cocong adalah mendekati lalu memberi upeti kepada oknum aparat
keamanan. Mulai, tingkat Kepolisian Sektor hingga Mabes Polri. Guna
melancarkan kerjanya, Cocong dibantu anak buahnya. Misal Rudi, Abaw,
Manti, Lim Seng dan Hadi.

Rustam, Eng Sui, Eng San, dan Cocong merupakan kaki tangan Tommy
Winata. Ia disebut-sebut sebagai God Father. ”Kita memakai nama
singkatan si TW (Tommy Winata),” kata bekas bandar judi yang kini
mengasuh Ponpes At-Taibin, Anton Medan. Sebab, menurut mantan raja
judi itu, TW menguasai saham, perbankan, narkotika dan obat
terlarang, hingga ke penyelundupan.

Anton Medan mengungkapkan tempat bermain judi terbesar di Jakarta
adalah Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di sini bandar-bandar
judi kumpul. Mereka merajut jaringan di Jakarta serta seluruh
Indonesia. Jaringan itu mengerucut pada sembilan orang, yang kemudian
dikenal dengan “Gang of Nine” atau “Nine Dragons”, atau disebut
kelompok Sembilan Naga.

Selain Tommy Winata dan Cocong, nama lain yang termasuk Sembilan
Naga; disebut-sebut, Yorrys T. Raweyai, Edi “Porkas” Winata, Arie
Sigit, Jhony Kesuma, Kwee Haryadi Kumala, Iwan Cahyadi serta Sugianto
Kusuma (Aguan). Yorrys sebagai “panglima” yang mengamankan operasi
kelompok ini. Tapi ia membantah. Juga, Arie membantah soal
keterkaitannya dalam Sembilan Naga.

Perputaran uang di Gedung ITC Mangga Dua mencapai Rp 10 miliar hingga
Rp 15 miliar tiap malam. Jumlah itu lebih besar dibandingkan di
bisnis judi milik Rudi Raja Mas. Tapi, dalam semalam, ia mengeruk
keuntungan sebesar Rp 5 miliar. Satu bulan, Rp 150 miliar. Fantastis.
Selain di darat, Rudi juga punya usaha perjudian di Pulau Ayer,
Kepulauan Seribu. Di sana, ia berkongsi dengan bandar judi lain;
Hasten, Arief, Cocong, Edi, dan Umar.

Rudi juga punya koran yang terbit di Jakarta. ”Media massa itu
berguna membangun opini di masyarakat bahwa perjudian memberi
keuntungan,” kata Anton Medan. Kesuksesan Rudi membangun imperium
bisnis perjudiannya, tak lepas dari peran Gubernur DKI Jakarta,
Sutiyoso. Bahkan, perkenalan Rudi dan Sutiyoso, sudah lama. ”Rudi
dekat Sutiyoso, sejak Sutiyoso bertugas di Kodam (Jaya),” terang
Anton yang kini punya nama H. Ramdhan Effendi.

Pemain lain di meja perjudian adalah Apoh. Dia merupakan mantan anak
buah Anton Medan. Apoh punya beberapa lokasi yang jadi arena judi
mickey mouse cukup besar. Misal di kawasan Glodok, Kelapa Gading,
Mangga Besar, Green Garden dan Jl. Kejayaan, Jakarta Barat. Apoh
meraup untung; Rp 2 miliar.

Sumber di Mabes Polri menyebut, para bandar judi tersebut yang
menguasai mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, mereka
sudah masuk di dalam mafia judi Hong Kong dan Singapura. Bandar-
bandar judi di Singapura, Malaysia dan Makao itulah yang gerah dengan
lokalisasi perjudian di Pulau Seribu. Sebab, kata Rizal Hikmat dari
LP3-UI, jaringan mereka terpotong.

Tentu, kehadiran lokasi-lokasi judi ini telah melahirkan banyak
centeng. Juga, tukang pukul yang menjaga lokasi. Asal-asul mereka,
beragam. Salah satu dari ormas. Seorang sumber di bisnis perjudian
mencatat adanya tiga ormas yang terkait dengan usaha beking
perjudian. ”Salah satunya, ormas partai,” katanya. Juga, ormas
Islam disebut-sebut terlibat di dalamnya. Kehadiran ormas Islam –
kalau benar– makin menyulitkan judi diberantas. Karena, menurut
Anton, saat ini perjudian sudah seperti lingkaran setan.
(kar)

H. Anton Medan, Mantan Bandar Judi/Pengasuh Ponpes At-Taibin

Kita Pakai Singkatan TW

Anda setuju soal melokalisasi perjudian?
Jika tujuannya untuk APBD, umat Islam harus menolak. Tapi untuk
mencegah judi kolektif alias kasino, boleh saja. Dibicarakan juga,
judi masalnya. Ada dua bentuk perjudian. Judi kolektif atau kasino.
Dampak kasino tidak langsung terhadap masyarakat bawah, orang
tertentu saja. Yang berbahaya, judi massal, contohnya, togel, Pa
Kong, Sampurna, Bola Mas, dan Wah Woi.

Judi kasino dilokalisir, Anda setuju?
“Setuju”. Maksudnya, disahkan Keppres. Kalau disahkan kebijakan
gubernur karena otonomi daerah, semua daerah boleh buka, saya gempur
habis dengan massa saya. Tapi kalau Keppres, Indonesia hanya ada satu
keputusan. Umat Islam tidak boleh masuk dan jadi karyawan. Jika itu
yang dilakukan, saya mendukung. Dengan catatan, aturan judi di pasal
303 KUHP, direvisi.

Bagian mana yang perlu direvisi dari pasal 303 KUHP?
Ada klasifikasi jelas bentuk judi kolektif dan judi massal. Sanksinya
pun harus ditambah bagi yang pasang badan. Karena, tidak pernah ada
bos judi masuk penjara. Kapan bos judi masuk penjara, kecuali Hong
Li.20Apa dengan melokalisasi judi kolektif sudah menjawab persoalan?
Menurut saya tidak.

Kenapa?
Yang meresahkan masyarakat; judi massal seperti togel. Padahal togel
bisa dicegah. Barang bukti lengkap. Pengecer diseret hukuman minimal
5 tahun. Siapa yang berani pasang badan?

Sebenarnya ada apa di balik lokalisasi perjudian?
Sutiyoso dimanfaatkan Tommy Winata. Tanpa disadari, Sutiyoso masuk
dalam jebakan. Yang terpenting, itu proyek besar, yang mengeluarkan
kebijakan. Nilai kontraknya bisa mencapai Rp 50 miliar hingga Rp 100
miliar.

Indikasinya?
Anda cek di Pulau Seribu. Judi mickey mouse ada atau tidak? Ada.
Menurut bupati, judi di Pulau Seribu dikelola grup Rudi Raja Mas,
pemilik koran di Jakarta. Ada Tommy Winata, Ali Cocong, dan Eng San.
Jika Apoh, sepertinya tidak. Sebab, ia bekas anak buah saya. Ini
sangat mengerikan, seorang bandar judi gelap punya media massa.

Siapa yang berkepentingan dengan lokalisasi perjudian?
Kepentingan pejabat untuk kekayaan pribadi. Kita tidak dapat
menyalahkan bos judi, Tommy Winata, Rudi, Ali Cocong dsb. Kita tidak
bisa salahkan. Kenapa? Mereka bisnis. Naluri bisnis itu semudah-
mudahnya. Sekarang yang diuji kan moral, mentalitas dan etika pejabat.

Bagaimana peta perjudian saat ini?
Ada oknum Angkatan Darat yang ikut campur tangan. Sutiyoso dari
Angkatan Darat (AD). Tommy Winata dengan kekuatan AD. Kalau Apoh, dia
murni upeti dengan polisi. Sejak reformasi, tokoh-tokoh yang tadinya
tidak berperan, sekarang muncul.

Siapa God Father (penguasa) dari bisnis perjudian ini?
Ya… itu, kita pakai nama singkatan si TW. Karena apa? untuk
membuktikan, dia tidak di lokasi. Kan sulit. Tapi, sopir taksi pun
tahu, kalau TW itu punya Tommy Winata. Semua orang tahu, mereka juga
kan? Namun, bisa tidak dibuktikan. Tak pernah yang namanya bos judi
turun langsung ke lapangan. Kenapa koin kok tidak uang kontan? Karena
kalau digerebek tak jadi masalah, uang dapat dikembalikan dari hasil
penukaran koin. Kalau polisi menangkap sulit dengan barang bukti
duit. Paling yang ada, receh-receh.

Kenapa Tommy Winata ditakuti terutama di kalangan etnis Tionghoa?
Siapa yang takut? Demi Allah, saya tidak takut pada dia. Dia makan
nasi. Dulu, siapa yang tidak kenal raja judi Hong Li. Habis oleh
saya. Lantas, saya naik bendera. Karena saya masuk Islam, haram buat
saya, saya jauhi. Tapi, bekas anak buah saya tidak sedikit. Sekarang,
Apoh big boss. Dia, anak buah saya. Apa saya ngiler dengan harta
mereka? Tidak.

Tommy Winata bisnis judi togel dan ketangkasan?
Dari bola tangkas, togel, kasino, HPH, sampai bursa efek. Sekarang,
dia rajanya. Dia punya majalah yang terbit di Ibukota.

Siapa beking mereka?
Kalau dibilang upeti, oknum dari tingkat Polsek sampai Mabes Polri
tidak sedikit yang menolak (upeti). Mulai tingkat Koramil sampai
Kodam, banyak yang menerimanya. Kalau tidak dikasih upeti, digerebek.
Contoh, Hendarji (dulu di Pomdam Jaya, kini Wakil Danpuspom),
nggerebek judi. Kenapa? Boleh jadi, tidak dapat jatah. Marinir juga
ikut nggerebek, coba. Lucu kan?

Berapa upeti bandar judi ke polisi?
Kapolsek bisa Rp 5 juta hingga Rp 10 juta tiap minggu. Kapolres
seminggu dapat Rp 20-50 juta. Kapolda, Rp 100 juta. Perwira Mabes
Polri bisa Rp 500 juta. Bayangkan. Ketika Sofjan Jacoeb jadi Kapolda,
ia minta bantuan pada saya, Rp 1 miliar. Ia bilang, ”Tolong Pak Haji
Anton, saya meminta satu miliar”. Saya menjawab, ”Limaratus juta
deh karena tempat kita tidak ramai”. Lantas, ia bilang, ”Kalau Anda
tidak sanggup memberikan ya jangan buka”. Kapolda saja, Rp 1 miliar.
Bayangkan, saja.

Berapa total upeti yang dikeluarkan bandar judi tiap bulan?
Besar sekali. Tapi, jika untuk judi, itu tidak terlalu besar. Yang
besar untuk perempuanlah, yang tiketlah, yang tamulah, kemudian mau
beli tanah untuk bangunanlah, anaknya mau kawinlah, segala macam.

Mereka minta terang-terangan?
Biasanya, dia melalui ajudannya. ”Tolong kamu hubungi, nanti saya
yang ngomong dengan Anton”. Begitu sudah berbicara dengan saya,
tolong dong, ini, ini, ini. Ya dijalani. Jika tidak dijalani, ia
menyuruh anak buahnya untuk menangkap.

Siapa yang menikmati uang judi?
Dari Kepala Pos Polisi, Kapolsek, Kapolres, Kapolwil, Kapolda, sampai
ke perwira tinggi di Mabes Polri, menikmati uang judi. Lalu, dari
Danramil, sampai ke Pangdam. Kemudian, oknum wartawan yang biasa
mangkal di Polsek sampai Mabes Polri, juga. Bukan cuma oknum polisi,
tentara dan wartawan, namun sudah sampai ke oknum jaksa, hakim,
bahkan lembaga pemasyarakatan.

Saya tidak katakan bahwa Pak Makbul (Kapolda Metro Jaya) pernah
menerima jatah. Tapi saat saya membuka kasino gelap, ia Kapolsek
Taman Sari. Hari Montolalu dulunya Kapolsek Penjaringan. Nurfaizi,
Kapolres 702. Noegroho Djajoesman, dulu Kapolres Jakarta Pusat.
Pokoknya semua. Dengan logika, apa hubungan saya dengan mereka.
Tinggal bagaimana Anda menerjemahkan.

Bagaimana dengan organisasi kepemudaan?
Zaman saya, organisasi pemuda, saya tidak menyebutkan siapa ia tapi
Anda dapat mengasumsikan. Dulunya, siapa organisasi kepemudaan yang
terkenal? Kini, sampai pada oknum ormas Islam. Jika dia tak
mengatasnamakan ormas, tapi orang tahu dia berada di ormas. Juga OKP,
bahkan mereka membekingi.

Partai juga kebagian upeti?
Zaman saya, tidak. Partai cuma PPP, PDI, dan Golkar. Semua, tak ada
itu. Tidak saya pandang kok. Seperti, PP (Pemuda Pancasila), juga
tidak ada. Paling, saya merekrut jagoan-jagoannya. Dia mau ambil
jatah jagoan, gue jagoan. Kalau lu kuat tahan bacok, lu nggak apa-apa
lawan gue. Kalau saya kasih, itu paling hanya kebijakan antara teman.
Tapi, kalau untuk oknum wartawan dan aparat memang harus dikasih.
Daripada digerebek terus ditutup, ya dikasih.

Siapa di belakang Yayasan Bina Dana Sosial?
Siapa yang dulu mengelola SDSB? Kini sudah bergeser. Tadinya tidak
punya peran, sekarang muncul dengan nama yayasan. Tapi di belakangnya
tetap si Tommy Winata, Rudi Raja Mas, Ali Cocong dan Engsan. Kelompok
Delapan itu kan mereka. Mereka masih berperan besar. Perputaran uang
di Harco Mangga Dua, Rp 1 triliun tiap hari.
(kar/dan/ad)

| Profil Adil | Kontak

March 15, 2011

Tomy Winata Khawatir Bisnisnya Terancam Akibat Berita The Age

detikFinance » Ekonomi Bisnis

Selasa, 15/03/2011 07:30 WIB
Tomy Winata Khawatir Bisnisnya Terancam Akibat Berita The Age
Wahyu Daniel – detikFinance

Jakarta – Pengusaha Tomy Winata merasa terusik dengan pemberitaan dua media Australia yang mengatakan adanya ‘hubungan khususnya’ Ibu Negara Ani Yudhoyono. Pemberitaan tersebut mengganggu hubungannya dengan mitra usahanya.

“Mitra usaha saya terganggu. Ini bisa menghancurkan kinerja usaha kami, dan ini dampaknya bukan pada saya dan keluarga saya. Tapi ada 1 juta rumah tangga yang saya nafkahi saat ini. Itu yang dilakukan Harian The Age dan Sydney Morning Herald,” tutur pria yang akrab disapa TW saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (13/3/2011) lalu.

Bos Artha Graha ini sangat cemas terhadap pengaruh pemberitaan tersebut kepada perkembangan bisnisnya.

“Ada mitra saya yang sekarang cepat-cepat menunda meeting dengan saya. Ini jadi indikator. Jadi mereka (mitra bisnis) yang biasanya tak pernah mendelay komitmen, sekarang sudah mulai menghindari komitmen. Saya tahu tandanya, karena 35 tahun saya di market,” papar TW.

Karena itu, TW mengirim surat hak jawab kepada dua media Australia tersebut yang rencananya dikirim hari ini. Dia membantah semua pemberitaan yang ada.

Seperti diketahui, dua media Australia tersebut memberitakan kawat diplomatik Kedubes AS yang dibocorkan Wikileaks. Salah satunya menyebutkan keluarga Presiden SBY menerima gelontoran dana dari Tomy Winata lewat perantara TB SIlalahi.

Dalam bocoran kawat diplomatik Kedutaan Besar (Kedubes) AS yang dirilis WikiLeaks kepada The Age disebutkan, diplomat-diplomat Amerika menekankan adanya dugaan hubungan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para pengusaha Indonesia, khususnya Tomy Winata, yang diduga sebagai figur dan anggota dunia hitam “Gang Sembilan” atau “Sembilan Naga,” sebuah sindikat perjudian terkenal.

(dnl/qom)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Share
(22) Komentar Kirim Komentar Disclaimer
Anak Nabang Bukit15/03/2011 08:34 WIB
Komentarnya pada nyeremin maen darah -darahan segala, kaya yang tau… » Selengkapnya
pale_lu_somplak15/03/2011 08:34 WIB
Lu para pecundang yang komentar negatif jangan asal ngomong lah! TW itu… » Selengkapnya
R.E.D.15/03/2011 08:21 WIB
Sblm pilpres ada kesepakatan proyek jembatan selat sunda dipegang TW,… » Selengkapnya

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi :
Ajeng di ajeng[at]detik.com, telepon 021-7941177 (ext.518) atau,
Elin Ultantina di elin[at]detik.com, telepon 021-7941177 (ext.520).

—–
Membedah Lingkaran Setan
Reporter: Adhi/Dani/Eka
Adil – Jakarta, Telinga penguasa Daerah Istimewa Yogyakarta sontak
memerah. Gubernur dan Kapolda, ditantang bandar judi. Sri Sultan H.B.
X dan Brigjen Pol. Johanes Wahyu Saronto melarang judi mickey mouse
di arena judi Mahkota di Jl. Tanjung Baru. Tapi, geng bandar judi,
Irawan Sutanto, Gani dan Heru, cuek saja. Hingga kini, ketiga bandar
itu masih membuka perjudian di arena Mahkota.

Tak hanya di Yogyakarta. Irawan cs. buka cabang di Surabaya. Operator
di Yogyakarta diserahkan pada Jusuf dan Rohadji. Sedang di Surabaya,
Irawan cs. menyerahkan pelaksanaannya ke Widodo. Selain Irawan dkk.,
usaha judi di Kota Pahlawan itu juga digelar Iwan, Oentoro, Wee Fan,
dan Jhoni F. Pasar Atom, Andhika Plaza, dan Darmo Park adalah daerah
perjudian elite.

Di pentas judi nasional, ada beberapa nama. Sebutlah Wang Ang
(Bandung), Pepen (Manado), Firman (Semarang), Olo Panggabean (Medan
dan Aceh) serta Handoko (Batam, Tanjungpinang dan sekitarnya). Belum
di daerah lainnya. Kini, Olo melakukan ekspansi bisnis perjudiannya
hingga Depok dan Bogor. Pertarungan kian seru. Daerah Batam,
Palembang, Riau, Balai Karimun, dan Bagansiapi-api, sekarang di bawah
kekuasaan seorang pria bernama Rustam.

Memang, Rustam dapat titah mengurusi pusat perjudian di daerah. Ada
juga Eng Sui dan Eng San. Keduanya mengelola bisnis judi, meliputi,
judi bola tangkas, toto gelap, kasino, mickey mouse, rolet dsb. Tugas
lain; keduanya pun bertindak selaku pengontrol keluar masuknya uang
haram itu.

Masih segaris Rustam, Eng Sui, dan Eng San, pun ada nama Arief
Prihatna. Di dunia persilatan judi, Arief dikenal dengan nama Cocong.
Tugas Cocong adalah mendekati lalu memberi upeti kepada oknum aparat
keamanan. Mulai, tingkat Kepolisian Sektor hingga Mabes Polri. Guna
melancarkan kerjanya, Cocong dibantu anak buahnya. Misal Rudi, Abaw,
Manti, Lim Seng dan Hadi.

Rustam, Eng Sui, Eng San, dan Cocong merupakan kaki tangan Tommy
Winata. Ia disebut-sebut sebagai God Father. ”Kita memakai nama
singkatan si TW (Tommy Winata),” kata bekas bandar judi yang kini
mengasuh Ponpes At-Taibin, Anton Medan. Sebab, menurut mantan raja
judi itu, TW menguasai saham, perbankan, narkotika dan obat
terlarang, hingga ke penyelundupan.

Anton Medan mengungkapkan tempat bermain judi terbesar di Jakarta
adalah Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di sini bandar-bandar
judi kumpul. Mereka merajut jaringan di Jakarta serta seluruh
Indonesia. Jaringan itu mengerucut pada sembilan orang, yang kemudian
dikenal dengan “Gang of Nine” atau “Nine Dragons”, atau disebut
kelompok Sembilan Naga.

Selain Tommy Winata dan Cocong, nama lain yang termasuk Sembilan
Naga; disebut-sebut, Yorrys T. Raweyai, Edi “Porkas” Winata, Arie
Sigit, Jhony Kesuma, Kwee Haryadi Kumala, Iwan Cahyadi serta Sugianto
Kusuma (Aguan). Yorrys sebagai “panglima” yang mengamankan operasi
kelompok ini. Tapi ia membantah. Juga, Arie membantah soal
keterkaitannya dalam Sembilan Naga.

Perputaran uang di Gedung ITC Mangga Dua mencapai Rp 10 miliar hingga
Rp 15 miliar tiap malam. Jumlah itu lebih besar dibandingkan di
bisnis judi milik Rudi Raja Mas. Tapi, dalam semalam, ia mengeruk
keuntungan sebesar Rp 5 miliar. Satu bulan, Rp 150 miliar. Fantastis.
Selain di darat, Rudi juga punya usaha perjudian di Pulau Ayer,
Kepulauan Seribu. Di sana, ia berkongsi dengan bandar judi lain;
Hasten, Arief, Cocong, Edi, dan Umar.

Rudi juga punya koran yang terbit di Jakarta. ”Media massa itu
berguna membangun opini di masyarakat bahwa perjudian memberi
keuntungan,” kata Anton Medan. Kesuksesan Rudi membangun imperium
bisnis perjudiannya, tak lepas dari peran Gubernur DKI Jakarta,
Sutiyoso. Bahkan, perkenalan Rudi dan Sutiyoso, sudah lama. ”Rudi
dekat Sutiyoso, sejak Sutiyoso bertugas di Kodam (Jaya),” terang
Anton yang kini punya nama H. Ramdhan Effendi.

Pemain lain di meja perjudian adalah Apoh. Dia merupakan mantan anak
buah Anton Medan. Apoh punya beberapa lokasi yang jadi arena judi
mickey mouse cukup besar. Misal di kawasan Glodok, Kelapa Gading,
Mangga Besar, Green Garden dan Jl. Kejayaan, Jakarta Barat. Apoh
meraup untung; Rp 2 miliar.

Sumber di Mabes Polri menyebut, para bandar judi tersebut yang
menguasai mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, mereka
sudah masuk di dalam mafia judi Hong Kong dan Singapura. Bandar-
bandar judi di Singapura, Malaysia dan Makao itulah yang gerah dengan
lokalisasi perjudian di Pulau Seribu. Sebab, kata Rizal Hikmat dari
LP3-UI, jaringan mereka terpotong.

Tentu, kehadiran lokasi-lokasi judi ini telah melahirkan banyak
centeng. Juga, tukang pukul yang menjaga lokasi. Asal-asul mereka,
beragam. Salah satu dari ormas. Seorang sumber di bisnis perjudian
mencatat adanya tiga ormas yang terkait dengan usaha beking
perjudian. ”Salah satunya, ormas partai,” katanya. Juga, ormas
Islam disebut-sebut terlibat di dalamnya. Kehadiran ormas Islam –
kalau benar– makin menyulitkan judi diberantas. Karena, menurut
Anton, saat ini perjudian sudah seperti lingkaran setan.
(kar)

H. Anton Medan, Mantan Bandar Judi/Pengasuh Ponpes At-Taibin

Kita Pakai Singkatan TW

Anda setuju soal melokalisasi perjudian?
Jika tujuannya untuk APBD, umat Islam harus menolak. Tapi untuk
mencegah judi kolektif alias kasino, boleh saja. Dibicarakan juga,
judi masalnya. Ada dua bentuk perjudian. Judi kolektif atau kasino.
Dampak kasino tidak langsung terhadap masyarakat bawah, orang
tertentu saja. Yang berbahaya, judi massal, contohnya, togel, Pa
Kong, Sampurna, Bola Mas, dan Wah Woi.

Judi kasino dilokalisir, Anda setuju?
“Setuju”. Maksudnya, disahkan Keppres. Kalau disahkan kebijakan
gubernur karena otonomi daerah, semua daerah boleh buka, saya gempur
habis dengan massa saya. Tapi kalau Keppres, Indonesia hanya ada satu
keputusan. Umat Islam tidak boleh masuk dan jadi karyawan. Jika itu
yang dilakukan, saya mendukung. Dengan catatan, aturan judi di pasal
303 KUHP, direvisi.

Bagian mana yang perlu direvisi dari pasal 303 KUHP?
Ada klasifikasi jelas bentuk judi kolektif dan judi massal. Sanksinya
pun harus ditambah bagi yang pasang badan. Karena, tidak pernah ada
bos judi masuk penjara. Kapan bos judi masuk penjara, kecuali Hong
Li.20Apa dengan melokalisasi judi kolektif sudah menjawab persoalan?
Menurut saya tidak.

Kenapa?
Yang meresahkan masyarakat; judi massal seperti togel. Padahal togel
bisa dicegah. Barang bukti lengkap. Pengecer diseret hukuman minimal
5 tahun. Siapa yang berani pasang badan?

Sebenarnya ada apa di balik lokalisasi perjudian?
Sutiyoso dimanfaatkan Tommy Winata. Tanpa disadari, Sutiyoso masuk
dalam jebakan. Yang terpenting, itu proyek besar, yang mengeluarkan
kebijakan. Nilai kontraknya bisa mencapai Rp 50 miliar hingga Rp 100
miliar.

Indikasinya?
Anda cek di Pulau Seribu. Judi mickey mouse ada atau tidak? Ada.
Menurut bupati, judi di Pulau Seribu dikelola grup Rudi Raja Mas,
pemilik koran di Jakarta. Ada Tommy Winata, Ali Cocong, dan Eng San.
Jika Apoh, sepertinya tidak. Sebab, ia bekas anak buah saya. Ini
sangat mengerikan, seorang bandar judi gelap punya media massa.

Siapa yang berkepentingan dengan lokalisasi perjudian?
Kepentingan pejabat untuk kekayaan pribadi. Kita tidak dapat
menyalahkan bos judi, Tommy Winata, Rudi, Ali Cocong dsb. Kita tidak
bisa salahkan. Kenapa? Mereka bisnis. Naluri bisnis itu semudah-
mudahnya. Sekarang yang diuji kan moral, mentalitas dan etika pejabat.

Bagaimana peta perjudian saat ini?
Ada oknum Angkatan Darat yang ikut campur tangan. Sutiyoso dari
Angkatan Darat (AD). Tommy Winata dengan kekuatan AD. Kalau Apoh, dia
murni upeti dengan polisi. Sejak reformasi, tokoh-tokoh yang tadinya
tidak berperan, sekarang muncul.

Siapa God Father (penguasa) dari bisnis perjudian ini?
Ya… itu, kita pakai nama singkatan si TW. Karena apa? untuk
membuktikan, dia tidak di lokasi. Kan sulit. Tapi, sopir taksi pun
tahu, kalau TW itu punya Tommy Winata. Semua orang tahu, mereka juga
kan? Namun, bisa tidak dibuktikan. Tak pernah yang namanya bos judi
turun langsung ke lapangan. Kenapa koin kok tidak uang kontan? Karena
kalau digerebek tak jadi masalah, uang dapat dikembalikan dari hasil
penukaran koin. Kalau polisi menangkap sulit dengan barang bukti
duit. Paling yang ada, receh-receh.

Kenapa Tommy Winata ditakuti terutama di kalangan etnis Tionghoa?
Siapa yang takut? Demi Allah, saya tidak takut pada dia. Dia makan
nasi. Dulu, siapa yang tidak kenal raja judi Hong Li. Habis oleh
saya. Lantas, saya naik bendera. Karena saya masuk Islam, haram buat
saya, saya jauhi. Tapi, bekas anak buah saya tidak sedikit. Sekarang,
Apoh big boss. Dia, anak buah saya. Apa saya ngiler dengan harta
mereka? Tidak.

Tommy Winata bisnis judi togel dan ketangkasan?
Dari bola tangkas, togel, kasino, HPH, sampai bursa efek. Sekarang,
dia rajanya. Dia punya majalah yang terbit di Ibukota.

Siapa beking mereka?
Kalau dibilang upeti, oknum dari tingkat Polsek sampai Mabes Polri
tidak sedikit yang menolak (upeti). Mulai tingkat Koramil sampai
Kodam, banyak yang menerimanya. Kalau tidak dikasih upeti, digerebek.
Contoh, Hendarji (dulu di Pomdam Jaya, kini Wakil Danpuspom),
nggerebek judi. Kenapa? Boleh jadi, tidak dapat jatah. Marinir juga
ikut nggerebek, coba. Lucu kan?

Berapa upeti bandar judi ke polisi?
Kapolsek bisa Rp 5 juta hingga Rp 10 juta tiap minggu. Kapolres
seminggu dapat Rp 20-50 juta. Kapolda, Rp 100 juta. Perwira Mabes
Polri bisa Rp 500 juta. Bayangkan. Ketika Sofjan Jacoeb jadi Kapolda,
ia minta bantuan pada saya, Rp 1 miliar. Ia bilang, ”Tolong Pak Haji
Anton, saya meminta satu miliar”. Saya menjawab, ”Limaratus juta
deh karena tempat kita tidak ramai”. Lantas, ia bilang, ”Kalau Anda
tidak sanggup memberikan ya jangan buka”. Kapolda saja, Rp 1 miliar.
Bayangkan, saja.

Berapa total upeti yang dikeluarkan bandar judi tiap bulan?
Besar sekali. Tapi, jika untuk judi, itu tidak terlalu besar. Yang
besar untuk perempuanlah, yang tiketlah, yang tamulah, kemudian mau
beli tanah untuk bangunanlah, anaknya mau kawinlah, segala macam.

Mereka minta terang-terangan?
Biasanya, dia melalui ajudannya. ”Tolong kamu hubungi, nanti saya
yang ngomong dengan Anton”. Begitu sudah berbicara dengan saya,
tolong dong, ini, ini, ini. Ya dijalani. Jika tidak dijalani, ia
menyuruh anak buahnya untuk menangkap.

Siapa yang menikmati uang judi?
Dari Kepala Pos Polisi, Kapolsek, Kapolres, Kapolwil, Kapolda, sampai
ke perwira tinggi di Mabes Polri, menikmati uang judi. Lalu, dari
Danramil, sampai ke Pangdam. Kemudian, oknum wartawan yang biasa
mangkal di Polsek sampai Mabes Polri, juga. Bukan cuma oknum polisi,
tentara dan wartawan, namun sudah sampai ke oknum jaksa, hakim,
bahkan lembaga pemasyarakatan.

Saya tidak katakan bahwa Pak Makbul (Kapolda Metro Jaya) pernah
menerima jatah. Tapi saat saya membuka kasino gelap, ia Kapolsek
Taman Sari. Hari Montolalu dulunya Kapolsek Penjaringan. Nurfaizi,
Kapolres 702. Noegroho Djajoesman, dulu Kapolres Jakarta Pusat.
Pokoknya semua. Dengan logika, apa hubungan saya dengan mereka.
Tinggal bagaimana Anda menerjemahkan.

Bagaimana dengan organisasi kepemudaan?
Zaman saya, organisasi pemuda, saya tidak menyebutkan siapa ia tapi
Anda dapat mengasumsikan. Dulunya, siapa organisasi kepemudaan yang
terkenal? Kini, sampai pada oknum ormas Islam. Jika dia tak
mengatasnamakan ormas, tapi orang tahu dia berada di ormas. Juga OKP,
bahkan mereka membekingi.

Partai juga kebagian upeti?
Zaman saya, tidak. Partai cuma PPP, PDI, dan Golkar. Semua, tak ada
itu. Tidak saya pandang kok. Seperti, PP (Pemuda Pancasila), juga
tidak ada. Paling, saya merekrut jagoan-jagoannya. Dia mau ambil
jatah jagoan, gue jagoan. Kalau lu kuat tahan bacok, lu nggak apa-apa
lawan gue. Kalau saya kasih, itu paling hanya kebijakan antara teman.
Tapi, kalau untuk oknum wartawan dan aparat memang harus dikasih.
Daripada digerebek terus ditutup, ya dikasih.

Siapa di belakang Yayasan Bina Dana Sosial?
Siapa yang dulu mengelola SDSB? Kini sudah bergeser. Tadinya tidak
punya peran, sekarang muncul dengan nama yayasan. Tapi di belakangnya
tetap si Tommy Winata, Rudi Raja Mas, Ali Cocong dan Engsan. Kelompok
Delapan itu kan mereka. Mereka masih berperan besar. Perputaran uang
di Harco Mangga Dua, Rp 1 triliun tiap hari.
(kar/dan/ad)

| Profil Adil | Kontak

March 16, 2010

Giliran Bohir Kasus Miranda

Koran Tempo , 15 Maret 2010 | 00:25 WIB

Komisi Pemberantasan Korupsi harus berani menuntaskan kasus cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom.

Perkara busuk ini berjalan tertatih-tatih sejak dibongkar Agus Condro pada Juli 2008. Apalagi muncul aroma tak sedap di balik pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi waktu itu, Antasari Azhar. Sang ketua yang belakangan tersangkut kasus pembunuhan itu berujar, membuka kembali perkara ini sangat susah, karena peristiwanya sudah lama terjadi. Ia menilai temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tak bisa dijadikan alat bukti.

Selepas dari kendali Antasari, proses penyidikan bergerak maju. Semua pentolan fraksi yang diduga menerima dan mengatur dana haram ini langsung dicokok. Dudhie Makmun Murod, politikus yang pertama kali dijadikan tersangka, akhirnya blak-blakan angkat bicara.

Dari nyanyian Dudhie terungkap masih ada aktor lain di partainya yang perannya jauh lebih penting, yakni Panda Nababan. Menurut jaksa penuntut, sebagai Sekretaris Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan waktu itu, Panda bertugas sebagai koordinator tim sukses pemenangan Miranda. Ia pulalah yang mengatur dan mengontak Dudhie agar menjemput “titipan” Miranda yang terbungkus dalam karton warna merah (sesuai dengan lambang partai) dan di dalamnya teronggok duit Rp 9,8 miliar.

Kalau benar dakwaan jaksa ini, Panda harus kembali disidik. Mantan wartawan itu tentu harus menjelaskan ihwal tuduhan jaksa yang memberatkan dirinya itu kelak di pengadilan. Sebab, dari instruksi Panda inilah, uang haram itu mengalir ke 19 politikus PDI Perjuangan yang termasuk dalam Komisi Keuangan dan Perbankan. Dalam dakwaan jaksa, Panda bahkan disebut-sebut sebagai penerima dana terbesar. Jika saksi dan buktinya kuat, Komisi harus berani meningkatkan status Panda dalam perkara ini.

Yang disuap dan yang menyuap mesti dijerat. Sponsor, penyandang dana alias bohir, skandal ini juga jangan sampai dilupakan. Dakwaan jaksa (berdasarkan pengakuan Dudhie dan Udju Djuhaeri dari Fraksi TNI) menyebut peran Nunun Nurbaetie, yang diduga telah menginstruksikan koleganya, Ahmad Hakim Safari M.J. alias Arie Malangjudo, untuk membagi-bagikan dana haram tersebut. Dana itu, dalam temuan jaksa, dibagikan dalam kardus berwarna sesuai dengan lambang partai (khusus untuk Fraksi TNI berwarna putih).

Nunun perlu kembali disidik, selain kudu hadir di persidangan. Istri mantan Wakil Kepala Kepolisian RI Adang Daradjatun ini harus menjelaskan, benarkah ia yang mengontak Udju agar menemui Ahmad Hakim di kantor perusahaannya, PT Wahana Esa Sejati, di Jakarta, untuk mengambil cek pelawat yang diterbitkan Bank Internasional Indonesia atas perintah Bank Artha Graha. Kalau saksi dan buktinya kuat, lagi-lagi Komisi tak perlu berlama-lama menjadikan perempuan pebisnis ini tersangka.

Komisi jangan abaikan temuan PPATK yang cetho welo-welo alias terang-benderang mengungkap siapa saja yang mencairkan 480 lembar cek pelawat senilai Rp 24 miliar. Majunya penanganan perkara memalukan harus ditunjukkan Komisi dengan cara menjerat sejumlah nama besar yang dikenal susah tersentuh hukum.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 75 other followers