Posts tagged ‘Corporate news’

February 14, 2011

Pemerintah Sesalkan Lion Air Pindah Ke Malaysia

Jangan Lion Air yang disalahkan dong, tapi tegur si BUMN Angkasa Pura I yang terkenal brengsek… Orang mau invest, BUMN minta 51 persen saham, gendeng.. Sekarang Lion dipinang oleh Malaysia baru panik.. Pecat orang2 Angkasa Pura yang tidak kapable, brengsek dan korup !

++++
Pemerintah Sesalkan Lion Air Pindah Ke Malaysia

SENIN, 14 FEBRUARI 2011 | 14:18 WIB
Besar Kecil Normal
Lion Air. TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO Interaktif, Jakarta – Kementerian Perhubungan menyayangkan rencana maskapai PT Lion Mentari Airlines untuk memindahkan investasi ke Malaysia. Rencana tersebut diungkapkan Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana akhir pekan lalu. “Kami sangat menyayangkan hal ini,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Bambang S. Ervan di Jakarta, Senin (14/2).

Dia mengatakan, rencana tersebut malah bertolak belakang dengan program pemerintah yang ingin mengundang para investor luar negeri masuk ke Indonesia. “Yang jelas, sangat merugikan dari sisi devisa negara,” katanya.

Investasi ke Malaysia direncanakan karena pembangunan hangar senilai US$ 10 juta di Manado, Sulawesi Utara, yang tidak jadi diteruskan. Padahal, Menteri Perhubungan Freddy Numberi telah meresmikan pembangunan hangar Lion Air tersebut.

Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana, pada mingu lalu, mengatakan hal ini disebabkan permintaan PT Angkasa Pura I sebagai pepengelola areal Bandar Udara Sam Ratulangi meminta bagian sebesar 51 persen saham.

Lion Air keberatan dengan permintaan Angkasa Pura I karena telah melakukan pembebasan tanah senilai Rp 7 miliar. Untuk itu, Lion Air sedang melakukan penjajakan dengan kawasan penerbangan di Subang, Johor Bahru, Malaysia, untuk menyewa lahan di sana dengan kontrak 10 tahun.

Malaysia telah menyiapkan tanah seluas 2,6 hektare untukdisewakan kepada Lion Air dengan tarif US$ 3.600 per bulan.

Bambang mengatakan, Lion Air tak perlu memindahkan investasinya ke luar negeri. Sebab, kementerian akan membantu untuk menawarkan lokasi di bandar udara Unit Pelaksana Teknis Kementerian Perhubungan.

Sedangkan Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Yurlis Hasibuan mendukung Lion Air untuk membangun hangar di Palangkaraya, Kalimantan Selatan. “Dengan itu, Palangkaraya bisa dihidupkan dengan berdatangannya pesawat-pesawat Lion Air. Lapangan kerja baru juga dapat tercipta di sana,” jelasnya.

Menurut Yurlis, bandara yang berada di Palangkaraya, Cilik Riwut, masih dioperasikan oleh UPT Kementerian Perhubungan. Jika Lion Air ingin membangun di sana, kata dia, itu telah mendapat dukungan dari pihak terkait.

Advertisements
February 14, 2011

Chandra Asri Bangun Terminal LPG di Cilegon US$ 150 Juta

Senin, 14/02/2011 13:31 WIB
Chandra Asri Bangun Terminal LPG di Cilegon US$ 150 Juta
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) akan membangun terminal Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Cilegon, Banten. CAP menggandeng perusahaan Singapura, Vopak Asia Pte. Ltd. Singapore (Vopak), melalui suatu perusahaan patungan/joint venture untuk realisasinya.

Nota kesepahaman (MOU) untuk proyek tersebut telah ditandatangani pada Januari 2011. Terminal LPG ini akan dibangun di lokasi pabrik CAP di Cilegon, Banten, dengan nilai investasi sebesar US$ 150 juta, yang akan ditanggung oleh CAP dan Vopak.

Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk Erwin Ciputra mengatakan, saat ini CAP tengah mempelajari lebih lanjut kajian teknis, kelayakan lingkungan, lokasi dan perizinan yang diperlukan untuk membangun terminal LPG tersebut. Pembangunan fisik terminal LPG tersebut akan dimulai pada akhir 2011, dan direncanakan sudah dapat beroperasi pada 2014.

“Kapasitas penyaluran dan distribusi LPG dari terminal ini direncanakan sebesar 1 juta ton per tahun. Selain sangat strategis untuk CAP, keberadaan terminal ini juga dapat digunakan untuk distribusi LPG bagi sektor industri lainnya,” ujar Erwin Ciputra dalam siaran persnya, Senin (14/2/2011).

CAP menilai proyek tersebut sangat strategis bagi operasional pabrik olefins CAP, karena akan mendukung upaya perseroan dalam usaha diversifikasi bahan baku. Pabrik olefins CAP saat ini membutuhkan bahan baku berupa naphtha dengan total kebutuhan 1,7 juta ton per tahun. Dengan beroperasinya terminal ini, diharapkan pabrik CAP dapat menggunakan LPG sebagai bahan baku alternatif sebesar 10% hingga 15 % dari total kebutuhan. Sehingga operasional pabrik dapat lebih fleksibel dengan tidak tergantung pada pasokan naphtha saja.

Erwin menambahkan, selain sebagai bahan baku alternatif pengganti naphta, pasokan LPG dari terminal ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk aktifitas produksi dan operasional pabrik CAP. Terminal LPG ini juga dapat digunakan untuk melayani distribusi LPG bagi keperluan industri dan sektor usaha lainnya. Dengan demikian distribusi pasokan LPG, terutama untuk daerah Banten dan sekitarnya diharapkan akan lebih lancar dan tercukupi.

Untuk proyek ini, bentuk partisipasi CAP berupa penyediaan lahan, fasilitas jetty/pelabuhan, utilitas dan infrastruktur lain yang dimiliki CAP. Dari tiga pelabuhan yang saat ini dimiliki CAP, salah satunya akan dijadikan sebagai terminal LPG tersebut.

Sementara, pembangunan tempat penimbunan LPG sementara dan infrastruktur yang terkait langsung dengan kilang, akan dilakukan Vopak. Selanjutnya operasional terminal tersebut akan dikelola perusahaan patungan antara CAP dan Vopak yang entitas bisnisnya saat ini dalam proses pembentukan dan akan selesai dalam waktu dekat.

Bagi CAP, pembangunan terminal LPG tersebut merupakan bagian dari rencana strategis perseroan dalam melakukan ekspansi usaha serta meningkatkan kapasitas produksi. Saat ini perseroan tengah melakukan program debottlenecking produksi polypropylene dengan menambah mesin baru untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 360 ribu ton menjadi 480 ribu ton per tahun. Perseroan mengganggarkan biaya investasi sebesar Rp 300 miliar dan direncanakan dapat beroperasi pada April 2011.

Selain itu, CAP juga berencana meningkatkan kapasitas produksi ethylene dari 600 ribu ton menjadi 1 juta ton per tahun dan polyethylene dari 320 ribu ton menjadi 540 ribu ton dalam kurun waktu 3 sampai 5 tahun mendatang. Untuk menyambung mata rantai produksi petrokimia dari hulu ke hilir, pada Juni 2011 perseroan akan membangun pabrik butadiene pertama di Indonesia yang diharapkan selesai pada pertengahan 2013.

“Pembangunan terminal LPG ini merupakan salah satu upaya kami dalam mendukung ekspansi usaha CAP, sebagai perusahaan petrokimia terintegrasi,” imbuh Erwin.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. adalah perusahaan petrokimia terintegrasi yang resmi beroperasi pada 1 Januari 2011. Perusahaan ini merupakan hasil merger vertikal antara dua perusahaan petrokimia terafiliasi yang merupakan anak usaha dari PT Barito Pacific Tbk., yakni PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Struktur kepemilikan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, sebesar 66,36% sahamnya dimiliki PT Barito Pacific Tbk. Apleton Investment Ltd menguasai 22,87% saham, dan Marigold Resources Pte. Ltd memiliki 5,52% saham. Sebesar 5,25% sahamnya dikuasai publik.
(qom/dnl)

February 7, 2011

PT Timah Siap Belanja Rp 1,2 Triliun di 2011

Senin, 07/02/2011 19:01 WIB

PT Timah Siap Belanja Rp 1,2 Triliun di 2011

Akhmad Nurismarsyah : detikFinance

detikcom – Jakarta, PT Timah Tbk merencanakan anggaran investasi produktif sebesar Rp 1,2 triliun di 2011. Anggaran belanja ini digunakan untuk pembukaan pabrik, tambang, dan modifikasi kapal pengangkut.

Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Timah Wachid Usman dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (7/2/2011).

“Rencana investasi produktif di 2011 PT Timah akan dianggarkan sebesar Rp 1,2 triliun,” jelasnya.

Wachid merinci terkait dana investasi itu akan dialokasikan untuk:

Modifikasi kapal keruk menjadi BWD (Backet Wheel Dredge): Rp 40 miliar

Pembuatan BWD: Rp 350 miliar

Pembukaan Tambang Besar: Rp 40 miliar

Pembangunan Pabrik Tin Chemical Tahap II: Rp 40 miliar

Pembangunan Fuming Furnace Plant: Rp 115 miliar

Penambahan alat untuk Galangan Kapal: Rp 154 miliar

Pergantian alat produksi: Rp 359 miliar

Sehingga totalnya mencapai Rp 1,238 triliun

“Adapun untuk rencana investasi tersebut akan digunakan untuk program pengembangan usaha,” katanya.

Wachid mengatakan, program pengembangan tersebut berupa pembangunan BWD (5 Unit), pembukaan tambang skala besar, pembesaran Pabrik Produk Spesifik (Tin Ball dan Tin Schot), perluasan pabrik Tin Solder, perluasan Pabrik Tin Chemical, serta perluasan Dok dan Galangan Kapal.

“Hal tersebut nanti guna mengganti kapal keruk tua, peningkatan kapasitas produksi, peningkatan nilai tambah dan servis kepada pelanggan industri tinplate, industri elektronika, industri plastik dan kimia, serta meningkatjan pelayanan kebutuhan internal dan pengembangan jasa,” tuturnya

February 1, 2011

IPO Garuda Maintenance Facility Batal Tahun Ini

IPO Garuda Maintenance Facility Batal Tahun Ini
Oleh Gita Arwana Cakti E-mail Print PDF
Published On: 31 January 2011
JAKARTA: PT Garuda Indonesia (Persero) belum akan melepas saham perdana (initial public offering/lPO) anak usahanya, Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia pada tahun ini.
Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengakui rencana IPO GMF diundur dari jadwal semula pada tahun ini dan menjadi rencana jangka panjang perseroan.
“Perubahan jadwal itu karena perseroan ingin fokus dulu dalam IPO induk usahanya seiring dengan memperkuat bisnis anak usahanya itu,” ujarnya hari ini.
Namun, Elisa menegaskan IPO GMF tetap menjadi rencana perseroan melihat besarnya potensi yang ada. “Sebenarnya GMF ready to IPO, tapi kalau mau IPO revenue harus 50% datang dari luar induk. Saat ini revenue GMF masih 70% dari Garuda.”
Meskipun IPO ditunda, Garuda juga berencana menyeleksi strategic partner untuk membangun kerja sama dalam hal pembuatan pusat penyediaan mesin (engine shop) selain bisnis infrastruktur pemeliharaan pesawat akan dipenuhi dari GMF.
“Itu dalam rangka pertumbuhan Garuda. Kalau infrastrukturnya sudah sama GMF. Sekarang kami sedang terus mencari strategic partner untuk engine shop, ini semua lagi berjalan,” jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan perseroan memprioritaskan aliran dana investasi ke GMF dibandingkan dengan anak usaha lainnya dalam rangka memperkuat kinerja perseroan agar siap dilepas ke bursa (go public).
Dia juga mengatakan akan menyiapkan semua anak usahanya menjadi perusahaan terbuka dan akan dilakukan jika waktunya telah tepat. Adapun anak perusahaan dan perusaan terafiliasi Garuda Indonesia adalah Aerowisata, GMF AeroAsia, Aero Systems, Abacus, dan Gapura Angkasa.
Dalam 5 tahun, lanjutnya, kebutuhan investasi Garuda dan anak usahanya mencapai US$1,2 miliar, yang akan dipenuhi dari arus kas (cash flow) maupun dari sales and lease back (SLB). (fh)

January 1, 2011

Pengambilalihan Inalum butuh US$723 juta

Manufaktur » Pengambilalihan Inalum butuh US$723 juta
Pengambilalihan Inalum Butuh US$723 Juta
Oleh Antara | 01 January 2011 E-mail Print PDF
Bisnis Indonesia

JAKARTA: Pengambilalihan PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) setelah pemerintah Indonesia memutuskan mengakhiri master agreement antara RI dan Konsorsium Pengusaha Alumunium Jepang diperkirakan memerlukan US$723 juta.
Berdasarkan Laporan Refleksi Akhir Tahun Kementerian BUMN yang diterima Antara hari ini, US$723 juta itu diperlukan untuk menyelesaikan pemberhentian master agreement dan proses pengalihan Inalum.

Sedangkan terkait aspek hukum, Kementerian BUMN mengemukakan diperlukan pembentukan PT Inalum baru melalui peraturan pemerintah (PP) yang disertai dengan perangkat legal lain yang diperlukan.

Sementara terkait aspek operasional dan teknologi, diperlukan pembahasan lintas pemangku kepentingan mengenai posisi Inalum beserta dengan rencana pengembangannya ke depan.

Pengembangan tersebut khususnya untuk mendukung keunggulan kompetitif Indonesia dalam industri berbasis teknologi yang sangat membutuhkan alumunium.

Kementerian BUMN juga mengemukakan bahwa PT Inalum adalah satu-satunya alumunium smelter di kawasan Asia Tenggara dengan prospek yang sangat baik.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, PT Inalum merupakan kerja sama antara RI dengan Konsorsium Pengusaha Alumunium Jepang (NAA) sejak 1975 dan berakhir pada 2013 dengan kemungkinan perpanjangan.

Sementara itu, master agreement yang menjadi dasar PT Inalum dinilai memiliki banyak hal yang merugikan Indonesia.

Sejumlah hal yang merugikan tersebut a.l. alokasi penjualan diutamakan ke Jepang dan keterbatasan opsi dalam upaya untuk memanfaatkan Inalum dalam mengembangkan industri alumunium nasional dari hulu ke hilir.

Untuk itu, pemerintah telah memutuskan mengakhiri master agreement melalui Surat Meneg BUMN selaku Pemerintah kepada ketua Otorita Asahan No S-655/MBU/2010 tanggal 29 Oktober 2010.

Selanjutnya, pada 2013 diharapkan terealisasi pengakhiran master agreement dan pengambilalihan Inalum sepenuhnya oleh RI dengan kemungkinan kerja sama dengan investor dalam mekanisme baru yang lebih baik. (er)

Tags:ambil alihinalumkementerian bumnus$723 juta
Add comment

November 25, 2010

Tak Mau Kecolongan, DPR Cegah Pertamina Akuisisi Medco

Siapa ya yang akal akalan. DPR sok main kuasa, biar pertamina menggelontorkan dana taktis buat lobby DPR. Apa lagi komisi VI isinya banyak figur2 yang tidak jelas reputasinya..
++++
Kamis, 25/11/2010 21:23 WIB

Tak Mau Kecolongan, DPR Cegah Pertamina Akuisisi Medco

Akhmad Nurismarsyah : detikFinance

detikcom – Jakarta, DPR mencegah PT Pertamina (Persero) untuk melakukan akuisisi terhadap PT Medco Energi Internasional Tbk melalui pembelian saham Encore Energy. Karena akuisisi ini dinilai akal-akalan untuk membobol Pertamina.

Anggota Komisi VI DPR Nasril Bahar mengatakan, dengan mengakuisisi Medco, Pertamina tidak akan mendapatkan keuntungan yang berarti. Lebih baik Pertamina membeli ladang minyak sendiri ketimbang mengakuisisi perusahaan.

“Akuisisi ini tidak akan menambah produksi minyak siginfikan. Kalau Pertamina punya dana cukup, harusnya dilakukan optimalisasi dari sumur-sumur yang ada. Bahkan ada rumor yang mengatakan ini akal-akalan untuk membobol Pertamina. Kita sepakat tidak mau, kita sudah kecolongan gas Senoro oleh Mitsubishi,” jelas Nasril dalam rapat dengan Menteri BUMIN dan Direksi Pertamina di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (25/11/2010).

Dikatakan Nasril dirinya tidak mau berprasangka buruk terhadap rencana Pertamina ini, namun dia ingin mencegah munculnya kerugian-kerugian yang ada.

Di tempat yang sama, Pelaksana Harian Direktur Utama Pertamina Frederick Siahaan menyampaikan, Pertamina sampai saat ini belum memutuskan soal rencana akuisisi Medco.

“Kami hanya melakukan due dilligence selama 30 hari untuk mempelajari. Hingga saat ini direksi dan komisaris belum memutuskan rencana akuisisi tersebut. Sebenernya strategi Pertamina bukan beli saham, tapi hanya ingin evaluasi dan akuisisi pada aset. Hingga saat ini kami belum finalisasi hal tersebut, ujar Frederick.

Seperti diketahui, Pertamina berencana akuisisi saham Encore Energy saat ini menguasai 50,7% saham di PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam rapat tersebut mengatakan, pihaknya belum memberikan persetujuan terkait aksi korporasi Pertamina itu.

“Kami selaku kuasa pemegang saham belum memberikan persetujuan atas aksi korporasi pertamina tersebut,” tukas Mustafa.

November 23, 2010

AKSI KORPORASI KBRIGuna membayar utang, KBRI menjual dua unit usaha

Dari Kontan online : http://investasi.kontan.co.id/v2/read/investasi/52965/Guna-membayar-utang-KBRI-menjual-dua-unit-usaha
AKSI KORPORASI KBRIGuna membayar utang, KBRI menjual dua unit usaha
JAKARTA. PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI) telah menjual unit usahanya yaitu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan berniat menjual gedung kantor miliknya. Total nilai penjualan aset diperkirakan Rp 35 miliar. “Dana tersebut akan kami gunakan untuk membayar utang ke pihak afiliasi,” ungkap Theo Satria Chairuman, Direktur KBRI, Senin (22/11).

Perseroan ini telah menjual unit usaha SPBU yang berlokasi di Mampang, Jakarta Selatan ke perusahaan transportasi Blue Bird Group senilai Rp 22 miliar. KBRI juga berniat menjual gedung kantornya di Jakarta Pusat yang ditaksir senilai Rp 13 miliar.

Penjualan anak perusahaan ini dipastikan akan menurunkan pendapatan KBRI. Selama ini, bisnis SPBU menyumbang 60% dari total pendapatan KBRI. Hingga akhir kuartal ketiga 2010, pendapatan usaha KBRI sebesar Rp 58,529 miliar, turun 15,37% dari tahun lalu, Rp 69,160 miliar.

Perseroan ini juga mengalami rugi usaha Rp 9,98 miliar, turun dibandingkan periode sama tahun lalu, Rp 23,09 miliar. Namun berkat laba kurs dan penjualan anak usaha, laba bersih KBRI hingga September naik 222,85% menjadi Rp 74,311 miliar.

Tahun ini KBRI akan melakukan rights issue sebanyak 5,983 miliar saham dengan harga Rp 101 per saham. Dana hasil rights issue sebesar
Rp 604,29 miliar akan dipakai untuk membayar utang yang jatuh tempo di tahun ini sebesar Rp 544,87 miliar kepada Quest Corporation.

November 18, 2010

Bakrie Life Selalu Ingkar Janji

Bakrie Life Selalu Ingkar Janji

JAKARTA, KOMPAS.com — Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life) agaknya harus belajar kepada merpati, yang tak pernah ingkar janji. Maklum, kebiasaan menunggak pembayaran cicilan dana nasabah produk asuransi berbalut investasi Diamond Investa tampaknya sudah akut.

Yang terbaru, Bakrie Life belum juga membayar cicilan pokok ketiga (per September 2010) dan bunga sejak Juli hingga Oktober 2010. “Bakrie Life selalu terlambat bayar,” keluh Anggota Tim Penyelamatan dan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN) Bakrie Life, Freddy Koeshariono, Selasa (16/
11/2010).

Cicilan ketiga atau per September 2010 sebesar 6,25 persen dari dana setiap nasabah Danamond Investa. Ditambah bunga Juli hingga Oktober, diperkirakan total tunggakan Bakrie Life Rp 33 miliar.

Sebelumnya, pertengahan Oktober 2010, Bakrie Life sempat menyelesaikan kewajiban sebesar Rp 30 miliar. Namun, pembayaran cicilan tersebut tidak berlanjut.

Lagi-lagi para nasabah hanya bisa pasrah seraya berharap Bakrie Life memiliki niat baik menyelesaikan masalah. “Padahal, restrukturisasi pembayaran ini merugikan kami karena menurunkan manfaat bunga dari 13 persen menjadi 9,5 persen,” kata Freddy.

Menurut Anggota TP2DN Bakrie Life, Yoseph, kewajiban Bakrie Life yang tersisa masih Rp 290 miliar kepada 250 nasabah Danamond Investa dengan nilai investasi di atas Rp 200 juta.

Sebelumnya, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata mengatakan, Bakrie Life terlambat membayar cicilan karena belum mendapatkan dana. Menurut Isa, Bapepam-LK sudah melayangkan surat teguran ke manajemen Bakrie Life.

Direktur Utama Bakrie Life Timoer Soetanto menyatakan, Bakrie Life berjanji akan menyelesaikan kewajibannya. ”Keterlambatan kali ini terjadi karena dananya masih diusahakan. Mudah-mudahan tidak lama lagi,” kata Timoer kepada KONTAN melalui pesan singkat.

Sekadar mengingatkan, Bakrie Life gagal bayar atas produk Diamond Investa sebesar Rp 360 miliar. Sesuai Surat Kesepakatan Bersama, Bakrie Life menawarkan skema pengembalian dana dengan mencicil, yakni 25 persen di tahun 2010, dibayar empat kali setiap akhir triwulan sebesar 6,25 persen dari dana nasabah. Sebesar 25 persen dilunasi pada tahun 2011 dengan mekanisme serupa. Pembayaran terakhir sebanyak 50 persen di tahun 2012. (Christine Novita Nababan/Konta

November 11, 2010

Antam Cari Mitra Baru di Proyek PLTU Pomala

Kamis, 11/11/2010 17:07 WIB
Antam Cari Mitra Baru di Proyek PLTU Pomala
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) siap menggandeng mitra baru dalam pembangunan proyek PLTU Pomala pada triwulan I-2010 setelah gagalnya kerja sama dengan PT Indika Energy Tbk dan PT Nava Bharat.

Demikian disampaikan Direktur Keuangan ANTM Djaja Tambunan usai paparan publik Investor Summit dan Public Expose 2010 di Hotel Ritz Calton, Jakarta Kamis (11/11/2010).

“Kita akan mulai first quarter. Nantinya ini akan ditenderkan, dan kemungkinan besar akan kami pilih satu (investor),” katanya.

Seperti diketahui PLTU Polama berada di wilayah Sulawesi Tenggara dengan kapasitas maksimal 2×75 Mega Watt (MW). Investasi dalam pembangunan PLTU ini mencapai US$ 300 juta.

Menurut Direktur Utama ANTM Alwinsyah Lubis, mundurnya calon investor lama karena mereka menawarkan harga listrik yang sama dengan yang ditawarkan dari PLN. Kala itu Nava Bharat menawarkan harga listrik 14 sen per KwH.

“Mereka menawarkan harga jual listrik sangat mahal. Jadi batal,” tambah Alwin.

Terkait dengan rencana pendanaan eksternal yang diusahakan, perseroan masih belum juga menentukan apakah obligasi atau pinjaman perbankan yang didahulukan.

“Pinjaman kita sampai hari ini US$ 25 juta, tentu kalau ga ada debt ga sehat juga. Konsep pendanaan nantinya bilateral sindikasi. Kita harus benar-benar firm, dan menerapkan prinsip kehati-hatian. Obligasi belum kami putuskan,” paparnya.

Selain proyek Polama, perseroan memang tengah mengerjakan proyek Chemical Grade alumina Tayan US$ 450 juta, proyek Feni Halmahera US$ 1,4 miliar, proyek Smelter Grade Alumina Mempawah US$ 1 miliar, dan proyek NPI Mandiodo US$ 140 juta.

Dalam menggarap Chemical Grade Alumina, perseroan akan menggandeng 2 perusahaan asal Jepang yakni Showa Denku dan Marubeni Corp. Dalam kerjasama itu, Antam menjadi pemilik mayoritas saham sebesar 65% dan sisanya dimiliki kedua perusahaan itu.

(wep/ang)

November 10, 2010

Adhi Karya Siapkan Rp 2,7 Triliun untuk Garap 5 Ruas Tol di Jawa

Rabu, 10/11/2010 16:26 WIB

Adhi Karya Siapkan Rp 2,7 Triliun untuk Garap 5 Ruas Tol di Jawa

Herdaru Purnomo : detikFinance

detikcom – Jakarta, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menyiapkan dana sekitar Rp 2,7 triliun untuk menggarap proyek 5 ruas jalan tol di Jawa. Selain itu ADHI akan membangun proyek PLN 10.000 MW senilai Rp 1,6 triliun. Seluruh proyek tersebut akan mulai digarap pada triwulan IV-2010.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan ADHI Kurnadi Gularso dalam konferensi persnya disela acara Investor Summit and Capital Market 2010 di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu (10/11/2010).

“Tahun ini kita menargetkan kontrak baru sebesar Rp 9,8 triliun dimana sampai Oktober 2010 itu sudah sekitar Rp 4 triliun. Nah, kedepan ini sisanya ada ruas jalan tol yang nilainya mencapai Rp 2,75 triliun dan proyek 10 Megawatt dengan nilai Rp 1,6 triliun,” ujar Kunardi.

Kunardi mengatakan, proyek jalan tol ini adalah proyek dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Dimana BPJT akan membangun 22 ruas jalan tol.

“Nah, ADHI itu masuk ke 2 ruas jalan tol dari BPJT ini senilai Rp 2 triliun. Namun daerahnya belum bisa di-disclose karena masih tender. Sisanya ada 3 ruas diluar BPJT yang ada didalam kota nilainya Rp 750 miliar jadi total untuk jalan tol sebesar Rp 2,75 triliun,” paparnya.

Untuk laba bersih tahun 2010 ini, ADHI menargetkan sebesar Rp 185 miliar. Hingga September 2010, ADHI sudah berhasil meraup laba sebesar Rp 143 miliar. “Kami optimistis laba dapat sesuai target,” katanya.

Perseroan juga menargetkan perolehan pendapatan sebesar Rp 6,07 triliun dimana sampai September 2010 sudah mencapai Rp 3,07 triliun. Kedepan, di 2011 untuk mengembangkan ekspansinya perseoran menganggarkan untuk belanja modal (capex) sebesar Rp 73 miliar.

“Capex 2010 sebesar Rp 10 miliar nah di 2011 akan lebih besar sebesar Rp 73 miliar,” katanya.

Spin Off Unit Usaha Aspal Matang

Pada tahun 2011, Kunardi mengatakan ADHI akan segera merealisasikan untuk melakukan pemisahan (spin off) divisi khusus yang bergerak di bidang produksi aspal matang yakni ADHI Asphalt Mixing Plant (AMP).

“AMP terus berkembang dan sejak 2009 kita telah memiliki 11 AMP di seluruh Indonesia. Kontribusi AMP terhadap laba itu mencapai 10% oleh karena itu di 2011 akan dilakukan spin off,” tuturnya.

Lebih lanjut Kurnadi mengatakan, sebelum dilakukannnya spin off lebih dahulu manajemen akan ditingkatkan produktifitasnya. Sehingga, lanjut Kunardi setelah di-spin off nantinya maka perusahaan tersebut akan berkembang lebih pesat