Archive for October, 2011

October 31, 2011

Pemerintah Terus Kejar 151 Perusahaan ‘Pasien’ Gayus

detikFinance » Ekonomi Bisnis

Senin, 31/10/2011 12:58 WIB
Pemerintah Terus Kejar 151 Perusahaan ‘Pasien’ Gayus
Wahyu Daniel – detikFinance

Share
17

Foto: dok.detikFinance

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah membentuk tim gabungan dari Inspektorat Jenderal dan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menyelidiki pelanggaran pajak oleh 151 perusahaan yang menjadi ‘pasien’ mafia pajak Gayus Tambunan.

Kepala Biro Humas Kemenkeu Yudi Pramadi mengatakan, tim gabungan Kemenkeu akan melakukan audit investigasi terhadap kasus tersebut.

“Kegiatan audit investigasi Tim Gabungan ditargetkan akan selesai pada akhir November 2011,” kata Yudi dalam siaran pers yang dikutip, Senin (31/10/2011).

Yudi mengatakan, kegiatan tim gabungan Kemenkeu ini merupakan tindak lanjut dari Inpres 1 Tahun 2011 soal Percepatan Penyelesaian Kasus-Kasus Hukum dan Penyimpangan Pajak.

Adapun rincian tindak lanjut Inpres tersebut di bidang penelitian dan investigasi kasus pajak adalah:

Menyerahkan dokumen salinan Putusan Pengadilan Pajak atas 151 Wajib Pajak (WP) yang proses banding pajaknya pernah ditangani oleh Gayus, kepada Polri untuk penyelidikan;
Menyerahkan laporan hasil audit investigasi oleh Itjen Kemenkeu kepada KPK, Polri, dan Kejaksaan Agung;
Membentuk Tim Gabungan yang terdiri dari personel Itjen Kemenkeu dan BPKP dengan Keputusan Menteri Keuangan. Tim telah melakukan analisis terhadap 151 WP (636 Putusan Pengadilan Pajak/PP). Dari hasil analisis, Tim Gabungan melanjutkan dengan kegiatan audit investigasi terhadap WP, Fiskus dan Putusan yang diduga kuat terdapat penyimpangan/pelanggaran;
Tim Gabungan akan melanjutkan dan menyelesaikan audit investigasi dengan melakukan klarifikasi, konfirmasi, dan permintaan keterangan (BAP) dari Fiskus, WP, Konsultan Pajak, serta meneliti aliran dana pihak-pihak yang dicurigai. Kegiatan audit investigasi Tim Gabungan ditargetkan akan selesai pada akhir November 2011.
Dikatakan Yudi, saat ini Kemenkeu tengah melakukan berbagai perbaikan di bidang perpajakan. Seperti perbaikan di lingkungan Pengadilan Pajak dengan cara:

Inisiatif perubahan UU Pengadilan Pajak;
Dalam rangka pembinaan dan pengawasan Hakim Pajak telah dibuat Nota Kesepahaman dengan Mahkamah Agungdan Komisi Yudisial;
Rekruitmen calon Hakim Pajak yang lebih transparan;
Perbaikan sistem administrasi perkara, penyediaan infrastruktur di ruang sidang (pemasangan CCTV).
Kemenkeu juga telah membentuk Tim audit kinerja dengan Keputusan Menteri Keuangan yang melaksanakan audit kinerja atas pemeriksaan pajak, penagihan pajak dan banding.

Menurut Yudi, tim ini sedang melakukan audit pada kantor pusat Ditjen Pajak dan beberapa kanwil dan kantor pelayanan pajak. Hasil audit ini akan digunakan untuk memperbaiki proses bisnis dan tata kelola di bidang pemeriksaan pajak, penagihan pajak dan banding.

(dnl/hen)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca Juga :
Diisukan Jadi Kepala BKPM, Fuad Rahmany Belum Dihubungi SBY
Sensus Pajak Temui Banyak Kendala
Kejar Target, Petugas Sensus Pajak Ditambah 2 Kali Lipat
Share
Komentar terkini (0 Komentar) · Follower Komentar 0
Baca Komentar Kirim Komentar
Komentar kosong

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

Advertisements
October 31, 2011

Jadi Primadona, Ekspor Sepatu RI Tembus Rp 23 Triliun

detikFinance » Industri

Senin, 31/10/2011 18:28 WIB
Jadi Primadona, Ekspor Sepatu RI Tembus Rp 23 Triliun
Suhendra – detikFinance

Share
5

Jakarta – Meski dilanda ancaman penurunan ekspor dari pasar Eropa dan AS, kinerja ekspor sepatu cukup terjaga. Selama 9 bulan pertama 2011 ekspor sepatu sudah menembus US$ 2,8 miliar atau kurang lebih Rp 23,8 triliun (Rp 8.500/dolar).

“Sepatu masih primadona, untuk ekspor triwulan III sudah US$ 2,8 miliar, dengan ekonomi Eropa membaik target tetap US$ 3,5 miliar (total 2011),” kata Direktur Industri Aneka Ditjen Basis Manufaktur Kementerian Perindustrian Budi Irmawan kepada detikFinance, Senin (31/10/2011).

Capaian ekspor ini sangat jauh lebih baik. Pasalnya pada tahun lalu saja, total ekspor sepatu hanya menembus US$ 2,6 miliar atau Rp 22,1 triliun. Penjualan sepatu domestik pada triwulan III dipastikan menembus Rp 8 triliun. Sementara pada kuartal II tahun ini sebesar Rp 6,7 triliun.

Sementara itu di sektor industri aneka lainnya khususnya mainan anak-anak, Budi mengatakan saat ini permintaan sedang mengalami perlambatan menjelang Natal. Tapi produksi sedang digenjot demi menyelesaikan pesanan untuk permintaan awal tahun depan.

“Mainan masih berkutat di SNI wajib yang tertunda karena berdampak pada IKM yang belum siap. Masih dibahas wajib untuk produk tertentu saja,” katanya.

Meskipun proyeksi Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia menargetkan nilai ekspor mainan anak-anak sepanjang 2011 mencapai US$ 500 juta dibanding tahun lalu sebesar US$ 400 juta.
(hen/dnl)

GRATIS! puluhan voucher pulsa! ikuti terus berita dari DetikFinance di Hape-mu.
Ketik REG FIN kirim ke 3845 (khusus pelanggan Indosat Rp.1300/hari)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca Juga :
Industri Sepatu Masih Terkendala Bahan Baku Kulit
Investor Sepatu AS Rambah Pabrik di Jawa
AS Berminat Bangun Pabrik Sepatu di RI
Share
Komentar terkini (0 Komentar) · Follower Komentar 0
Baca Komentar Kirim Komentar
Komentar kosong

Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com

October 31, 2011

Toyota Resmi Minta Indonesia

Senin, 31 Oktober 2011
BANJIR THAILAND
Toyota Resmi Minta Indonesia
AFP/Tang Chhin Sothy

Banjir di kota Bangkok menggenangi jalan raya, Minggu (30/10). Usaha Pemerintah Thailand mengatasi banjir terburuk dalam dekade terakhir ini mulai memasuki ranah politik. Hal itu mengingatkan perpecahan yang terjadi di negara tersebut selama lebih dari setahun terakhir.

Jakarta, Kompas – Banjir yang melanda Thailand sejak Juli telah menggenangi wilayah seluas 1,6 juta hektar atau sekitar 24 kali luas DKI Jakarta. Sejumlah kegiatan industri, seperti otomotif dan suku cadang otomotif serta peralatan elektronik, di Thailand kini berhenti berproduksi.

Banjir yang menelan korban 381 orang tewas ini juga praktis melumpuhkan kegiatan perekonomian di Thailand. Sedikitnya tujuh kawasan industri yang menjadi pusat produksi otomotif dan suku cadang otomotif serta cip komputer dan peralatan elektronik tergenang dan berhenti berproduksi.

Indonesia berpeluang menjadi pilihan realokasi sejumlah basis produksi, seperti otomotif dan suku cadang otomotif. Apalagi, banjir di Thailand masih akan berlangsung beberapa bulan. Namun, sejumlah pelaku industri menekankan perlunya persiapan infrastruktur di negeri ini.

Presiden Direktur Toyota-Astra Motor Johnny Darmawan, di Jakarta, menegaskan, pihak Toyota sudah meminta secara resmi kepada pihak Toyota di Indonesia untuk menggantikan Thailand. ”Sekarang tergantung dari kesiapan kita. Kalau enggak siap, ya kesempatan itu lewat begitu saja,” katanya.

Menurut Johnny, saat ini hampir semua merek mobil bergantung ke Thailand. ”Negeri Gajah Putih” tersebut ditunjuk sebagai pemasok komponen dan completely built-up (CBU), khususnya jenis sedan. ”Jadi, begitu banjir meluluhlantakkan industri otomotif, dampaknya sangat terasa,” ujarnya.

Banjir di Thailand membuat pasokan komponen untuk industri mobil dalam negeri terhambat. Bukan hanya itu, pasokan CBU juga berkurang karena sebagian pabrik juga berhenti berproduksi. Ada 5-10 persen komponen Toyota yang diambil dari Thailand. Sampai hari ini, pihaknya masih memanfaatkan stok yang ada. ”Akhir Oktober ini, pasokan komponen mulai tersendat. Dampak seriusnya baru terasa bulan depan,” ujarnya.

Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor Joko Trisanyoto mengatakan, selain komponen, pihaknya juga bergantung pada pasokan CBU, khususnya untuk mobil sedan. Hampir semua jenis sedan Toyota diproduksi di Thailand. Setiap bulan rata-rata pengiriman ke Indonesia mencapai 4.000 unit.

”Untuk CBU Toyota, pabrik di Thailand berhenti beroperasi hingga 20 November nanti. Minggu ini adalah pengiriman terakhir ke Indonesia sebanyak 1.000 unit. Artinya, minggu depan kami tidak lagi mendapatkan kiriman. Kami hanya bisa jual stok sampai habis,” tuturnya.

Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purnajual Honda Prospect Motor, mengatakan bahwa banjir di Thailand seharusnya memberikan pembelajaran bagi kalangan industri untuk segera melokalisasi produksi komponen ke Indonesia. Hal tersebut tentunya butuh dukungan pemerintah berupa sarana infrastruktur yang memadai.

Akhir pekan lalu, Jonfis menegaskan, ”Belum ada informasi jelas mengenai dampak lebih lanjut dari banjir di Thailand. Akses ke pabrik masih tertutup. Yang pasti mengirimkan kira-kira 800 unit mobil Honda City, Civic, dan Accord tertunda sampai waktu yang tidak dapat diperkirakan.”

Pihak Honda Motor Co, seperti dikutip Reuters, Minggu menegaskan, telah menutup pabrik mereka di Thailand untuk sedikitnya enam bulan ke depan. Kondisi ini akan memukul sekitar 3 persen dari total penjualan Honda di seluruh dunia.

Sementara itu, Kepala Corporate Secretary Office PT Krama Yudha Tiga Berlian Intan Vidiasari mengatakan, Mitsubishi Motors pun telah mengumumkan penangguhan produksi di pabrik Thailand pada 18-29 Oktober 2011. Pihaknya masih tetap memonitor situasi di Thailand untuk segera memulai kembali produksi.

Sementara itu, Presiden Samsung Electronics dari Korea, Jun Dong-soo, menegaskan, banjir telah melumpuhkan produksi cip komputer laptop. ”Produksi laptop bakal terpukul sampai kuartal pertama tahun depan,” ujar Jun Dong-soo, seperti dikutip Reuters, Minggu (30/10). Thailand merupakan produsen cip komputer nomor dua dunia.

Kondisi Bangkok

Sampai hari Minggu, banjir yang melanda Bangkok, ibu kota Thailand, yang berpenduduk 12 juta jiwa itu, sedikit susut tertolong pasang surut di Teluk Thailand, tempat bermuara Sungai Chao Phraya, sekitar 20 kilometer selatan Bangkok. Sebelumnya, wilayah kota Bangkok yang berada di tepian aliran Sungai Chao Phraya digenangi air sampai ketinggian 2,5 meter.

”Semuanya bergantung pada laut pasang dan juga bagaimana karung pasir membendung luapan banjir,” ujar Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra di Bangkok, kemarin. Sejauh ini sebagian wilayah Bangkok terhindar dari banjir terburuk dalam beberapa dekade ini.

”Keadaan akan segera pulih sekalipun ancaman belum sepenuhnya berlalu,” ujar Yingluck, yang baru dua bulan menjadi perdana menteri. Laut pasang diperkirakan akan cukup tinggi pada hari Senin ini, dibandingkan pada hari Sabtu dan Minggu.

Banjir yang terburuk dalam setengah abad terakhir ini memaksa dua juta penduduk Thailand mengungsi. Provinsi Pathum Thani dan Provinsi Ayutthaya sedikit di utara Bangkok yang merupakan lokasi sejumlah pusat industri dilaporkan lumpuh total.

(OSA/LKT/MAS/ENY/REUTERS/PPG)

October 31, 2011

Medco Melepas Blok Anaguid

Senin,
31 Oktober 2011
Medco Melepas Blok Anaguid
Blok Lain Sedang Dijajaki

Jakarta, Kompas – PT Medco Energi Internasional Tbk menyelesaikan penjualan hak partisipasi sebesar 20 persen di Konsesi Durra dan hak partisipasi sebesar 40 persen dalam Anaguid Exploration Permit. Nilai penjualan blok ini mencapai 56 juta dollar AS.

Langkah korporasi itu dilakukan agar perseroan itu lebih fokus kepada aset atau wilayah kerja minyak dan gas bumi yang dioperasikan langsung oleh perusahaan tersebut.

Menurut Direktur Utama MedcoEnergi Lukman Mahfoedz, Minggu (30/10), di Jakarta, penandatanganan perjanjian jual beli saham (PJBS) untuk menjual seluruh modal saham yang ditempatkan pada Medco Tunisia Anaguid Limited (Medco Anaguid) selaku pemegang hak partisipasi di Konsesi Durra dan Anaguid Exploration Permit, dengan nilai 58 juta dollar AS, telah dilakukan.

Penandatanganan perjanjian itu dilaksanakan antara Medco Tunisia Holding Ltd, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh perseroan, dengan OMV (Tunesien) Production GmbH, yang merupakan operator Blok Anaguid dan anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh OMV Aktiengesellschaft (OMV) pada 14 September 2011.

Sebelumnya, MedcoEnergi mengakuisisi sebanyak 40 persen ekuitas hak partisipasi di Blok Anaguid dari Anadarko Tunisia Anaguid Company pada tahun 2007.

Program eksplorasi di Blok Anaguid telah menghasilkan dua penemuan hidrokarbon dari sumur Durra-1 dan Mona-1. Adapun McNaughton DeGolyer melaksanakan sertifikasi cadangan itu pada tahun 2010 sebesar 1,5 million barrels of oil equivalent (MMBOE).

”Aset kami di Tunisia ini dioperasikan oleh OMV Austria yang memiliki hak partisipasi sebesar 60 persen. Medco selanjutnya akan konsentrasi kepada aset yang dioperasikan oleh Medco sendiri,” kata dia.

Tak akan berdampak

Lukman Mahfoedz mengklaim, penjualan saham Medco Anaguid tidak akan berdampak terhadap terhadap profil cadangan atau pendapatan potensial perseroan itu.

”Sebaliknya, hal itu menunjukkan strategi baru yang menekankan fokus pada pendanaan dan pengembangan wilayah kerja migas yang dioperasikan langsung oleh MedcoEnergi,” kata dia menegaskan.

Meski demikian, perseroan itu akan tetap mengejar setiap kesempatan yang ada untuk berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan produksi migas lain di wilayah Tunisia.

Manajemen perseroan itu menilai, Tunisia merupakan negara yang menarik untuk berinvestasi dalam bisnis migas, antara lain aturan kontrak bagi hasil produksi (PSC) yang menarik.

Pemerintah setempat juga ikut mendanai biaya pengembangan blok migas yang berada di negara itu.

Saat ini, pihaknya sedang berdiskusi dengan Kementerian Industri dan Teknologi Direktorat Energi Tunisia untuk menjajaki peluang di blok lain, di mana MedcoEnergi dapat menjadi operator secara langsung.

”Kami sedang mengkaji eksplorasi blok migas yang ditawarkan Pemerintah Tunisia. Kami akan bernegosiasi langsung dengan mereka untuk blok-blok itu,” kata Lukman menegaskan.

Fokus eksplorasi

Kepala Sekretaris Korporat MedcoEnergi Cisca Alimin, dalam siaran pers, memaparkan, MedcoEnergi, perusahaan publik di bidang energi, tengah fokus pada eksplorasi dan produksi migas di Indonesia dan beberapa negara di Timur Tengah.

Daerah operasi perseroan itu mencakup Indonesia, dari ujung barat sampai timur, Oman, Yaman, Libya, serta Amerika Serikat bagian Teluk Meksiko.

Perseroan itu juga terlibat dalam usaha hilir dengan memproduksi elpiji, perdagangan dan distribusi minyak solar, serta memproduksi bioetanol untuk industri.

Perusahaan itu juga terlibat dalam bisnis ketenagalistrikan yang menghasilkan sekitar 1.500 megawatt.

Mereka juga memasuki kegiatan eksplorasi serta produksi gas metana batubara, pertambangan batubara, pipa gas dan distribusi, serta jasa eksplorasi dan produksi migas. (EVY)

October 30, 2011

Jangan Tunda Kalibaru

Kebiasaan menerima “pelicin” project, jadi sulit bekerja sesuai prosedur dan bersih !

Minggu, 30 Oktober 2011
PELABUHAN
Jangan Tunda Kalibaru
Beberapa bulan silam, sejumlah pejabat eselon II di Kementerian Pekerjaan Umum mengisahkan lawatan mereka ke Jepang, negara yang selama ini dikenal acap kali memberi pinjaman lunak.

Ada inovasi dan terobosan yang dapat dipelajari. Kemampuan teknik sipil untuk pekerjaan konstruksi praktis sudah dikuasai bangsa ini. Tidak hanya para kontraktor. Sebagian besar birokrat kita juga bicara ”satu bahasa” dengan ahli teknik Jepang. Maklum, banyak birokrat kita menyandang gelar master teknik dari sejumlah universitas kelas dunia.

Hanya saja, ketika berkeliling ke banyak kantor dan markas pimpinan proyek di Jepang, ditemukan kejanggalan umum. ”Tidak ada tabel progres proyek” gugat para pejabat PU itu.

”Tak perlu tabel. Kalau ditentukan tender bulan September, maka tender pasti bulan itu. Bila bulan Desember ada ground- breaking, maka pekerjaan dimulai juga bulan Desember,” jawab pihak Jepang.

Konsistensi dan keberanian mengeksekusi proyek yang tak dimiliki di negeri ini. Akibatnya, infrastruktur kita bagai bumi dan langit dibandingkan dengan Jepang.

Ketiadaan infrastruktur pula yang menyebabkan kita ”gagap” saat harus merebut porsi industri dari Thailand, yang kini dilanda banjir. Pelabuhan kumuh dan minim alat kerja.

Pada 26 April, ditunda tender kereta ekspres Bandara Internasional Soekarno-Hatta hingga kuartal I-2012. Pada awal Oktober 2011, tender ulang jalur rel double-double track (DDT) Manggarai hingga Cikarang (32 kilometer).

Memang ada prosedur. Ada kehati-hatian supaya tak berujung di bui. Namun, apakah sepadan sikap tadi dengan tidak terbangunnya infrastruktur yang membuat begitu beratnya perjalanan menuju Soekarno-Hatta?

Pekan ini, kembali ditundanya jadwal tender Terminal Kalibaru di Pelabuhan Tanjung Priok. Diusulkan ekstra 4-6 bulan supaya investor sanggup menyiapkan dokumen tender.

Padahal, perluasan Priok sangat mendesak. Dengan 6 juta twenty foot equivalent units (TEU) per tahun, misalnya, Tanjung Priok hanya seruas kuku Pelabuhan Singapura dengan 25 juta TEU per tahun.

Sudah bukan masanya menunggu kesiapan investor. Kalibaru juga sudah didengungkan bertahun-tahun. Jenuhnya kapasitas Tanjung Priok juga sudah diprediksi lama. Studi dari Jepang pun dapat diunduh dari internet.

Kementerian Koordinator Perekonomian, sebagai agen percepatan Rencana Induk Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), perlu paham, negara ini dalam kondisi darurat infrastruktur. Jangan menunda-nunda lagi.

Tegasnya, bila ada investor seperti PT Pelindo II yang siap membangun pada akhir tahun, maka terbitkan peraturan presiden tersendiri. Terlebih bila ada indikasi kebuntuan tender.

Belum lagi, RJ Lino, Direktur Utama Pelindo II, menegaskan, sudah ada uang di tangan. Lalu menunggu apa? Buat apa berlari-lari di tempat? Capek! (HARYO DAMARDONO)

October 30, 2011

PT DI Targetkan Produksi 12 Pesawat CN Per Tahun

Ayo maju terus PT DI !!

PT DI Targetkan Produksi 12 Pesawat CN Per Tahun
28 Oktober 2011

Ada 4 tipe pesawat angkut yang akan diproduksi PT DI yaitu : CN-295, CN-235, CN-212, dan CN-219. (photo : Militaryphotos)

Target 12 Pesawat per Tahun

BANDUNG – PT Dirgantara Indonesia (PT DI) optimistis mampu memproduksi 12 pesawat jenis CN untuk memenuhi kebutuhan pasar Asia Pasifik. Kesiapan ini berdasar kemampuan dan pengalaman yang dimiliki tenaga ahli perusahaan yang berbasis di Bandung tersebut menggarap pesawat jenis itu,termasuk CN-235.

Direktur Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana mengungkapkan, produksi CN-295 akan terlebih dulu dibuat di pabrik Airbus Military Industry di Spanyol. Selain untuk melatih teknisi, langkah tersebut diambil untuk memberi kesempatan bagi PT DI mempersiapkan investasi bahan baku dan alat.

Baru kemudian produksi bisa dilakukan di Indonesia. “Nantinya, PT DI akan bertanggung jawab pada proses final essambly CN-295 dengan komposisi bahan baku 50% oleh PT DI dan 50% oleh Airbus Military. Namun, untuk membuat CN-295, PT DI juga masih membutuhkan bahan baku dari negara lain. Seperti engine dari Kanada,avionik dari Amerika Serikat, dan beberapa komponen lain dari Spanyol dan negara lain, ”jelasnya.

Menurut dia,membuat CN- 295 nyaris sama dengan membuat CN-235. Yang membedakan adalah CN-295 lebih panjang tiga meter. Adapun produksi CN-295 pesanan Kementerian Pertahanan (Kemhan) sendiri tidak ada perbedaan mendasar dengan struktur CN sejenis. Perbedaan hanya terdapat pada struktur tempat duduk yang di buat memanjang mengikuti panjang pesawat sehingga bisa membawa 70 pasukan serta barang dalam jumlah besar.

Seperti diberitakan sebelumnya, perusahaan pesawat terbang berplat merah itu secara resmi memulai kerja sama dengan Airbus Military pesawat CN-295. Pada tahap awal, PT DI akan memproduksi sembilan pesawat CN-295 untuk memenuhi pesanan TNI AU dengan nilai kontrak mencapai USD325 juta.

Perjanjian kerja sama produksi CN-295 antara PT DI dan Airbus Military disaksikan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden berharap kerja sama ini menjadi tonggak kebangkitan perusahaan yang pernah jaya di masa kepemimpinan BJ Habibie. Andi menggariskan, kerja sama PT DI dengan Airbus Military bukan hanya pada produksi dan pemasaran CN-295, tapi juga pada beberapa tipe CN lainnya, CN-235, CN-212–200, dan CN-219.

Dia optimistis empat tipe pesawat tersebut akan diserap pasar karena tiap tipe memiliki kelebihan berdasarkan kebutuhan suatu negara. Negara yang butuh pesawat dengan daya angkut kecil tapi lincah bisa memesan CN-219 dengan kapasitas 19 penumpang atau CN-212–200 dengan kapasitas 24 penumpang. Sementara bila kebutuhannya lebih besar lagi, bisa memesan CN-235 (42 penumpang) atau CN-295 (70 penumpang).

“Tapi kita akan lebih fokus memasarkan tipe CN-219.Selain investasinya tidak terlalu besar, hanggar yang kami miliki juga cukup untuk memproduksi beberapa pesawat sekaligus,” tegas dia. Ekonom dari Univesitas Padjadjaran Acuviarta Kurtubi mengatakan, pesanan sembilan pesawat CN-295 oleh Kemhan akan sangat membantu PT DI untuk bangkit dari keterpurukan sejak beberapa tahun silam.

Terlebih, dalam kurun waktu beberapa waktu ke depan, pemerintah akan membelanjakan sekitar Rp150 triliun untuk keperluan alat utama sistem senjata (alutsista). Peluang tersebut semestinya dimanfaatkan BUMN dalam negeri. “Namun, karena yang dijual adalah pesawat, pemerintah tetap harus campur tangan. Seperti halnya yang dilakukan AS.Penjualan pesawat tempur dilakukan pada pembicaraan tingkat tinggi,” jelasnya.

Salah satu hal yang bisa dikerjakan Pemerintah Indonesia adalah dengan menyertakan penjualan pesawat pada paket kerja sama ekonomi dengan negara lain seperti Afrika.

(Seputar Indonesia)

Baca juga :

PTDI Patok Produksi 250 Unit Pesawat CN295
26 Oktober 2011

BANDUNG: PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menargetkan bisa memproduksi 200 unit hingga 250 unit pesawat CN295, proyek baru bersama Airbus Militery Industry untuk membidik pasar di Asia Pasifik.

Tahap pertama diproduksi sebanyak 9 unit untuk memenuhi pesanan dari Kementerian Pertahanan senilai US$325 juta yang ditargetkan selesai pada semester I 2014.

Dirut PTDI Budi Santoso mengatakan target produksi itu sangat realistis dengan menjadikan seluruh permintaan di pasar domestik untuk sipil dan militer sebagai pasar yang akan dipenuhi melalui produk CN295 yang merupakan pesawat multifungsi.

“Untuk memenuhi pesanan itu, proses produksi tidak menjadi persoalan lagi karena sudah ada suntikan dana cash melalui APBN 2012 senilai Rp1 triliun,” katanya sesuai peresmian proyek pesawat baru itu oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di pabriknya di Bandung, hari ini.

Selain pesanan dari TNI, lanjutnya, produk anyar itu juga sudah dipesan Korsel sebanyak empat unit.

Sementara itu, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan kontrak pesanan CN295 senilai US$325 juta merupakan bagian dari rencana pembelian alutsista periode 2009-2014 yang disiapkan Rp150 triliun.

Menurut dia, pemerintah terus memberdayakan produk alutsista yang diproduksi oleh industri dalam negeri untuk mendukungan pengembangan industri strategis nasional.

Penuhi komitmen

Dia mengharapkan PTDI bisa memenuhi komitmen produksi sembilan pesawat itu pada semester I 2014.

Dia mengatakan pemerintah ingin PTDI dengan industri strategis lain bisa melakukan kebijakan-kebijakan yang inovatif dan menguntungkan supaya bisa kembali berkembang.

PTDI dengan Airbus Militery Industry yang menjadi mitra kolaborasinya untuk mengembangan tipe pesawat baru itu telah menandatangani nota kesepahaman memproduksi bersama sekaligus pemasaran ke kawasan Asia Pasifik.

Nota itu ditandatangani dihadapan Presiden Yudhoyono dalam acara kunjungan ke pabrik itu untuk meresmikan proyek produksi pesawat tersebut. (bsi)

(Bisnis Indonesia)

October 29, 2011

Garuda Minta Terminal Khusus

Investor daily 26 oktober 2011
JAKARTA – PT Garuda Indonesia
Tbk meminta terminal khusus (dedicated
terminal) untuk mendukung operasional
sebagai maskapai internasional.
“Garuda telah meminta kepada PT
Angkasa Pura II untuk menjadikan
Terminal 2E di Bandara Soekarno-Hatta
(Soetta) sebagai terminal khusus
untuk penerbangan internasional kami,”
kata Direktur Niaga Garuda Indonesia
Agus Priyanto di Jakar ta,
Selasa (25/10).
Agus menjelaskan, BUMN penerbangan
itu telah bergabung dengan
Skyteam Global Alliance sejak November
2010. Sedangkan implementasi penuh
kerja sama ini dilakukan pada 2012.
Namun, hingga kini, dukungan kepada
Garuda belum sepenuhnya diperoleh,
terutama dari sisi infrastruktur
bandara. “Untuk menjadi maskapai
global, kami butuh dedicated terminal.
Kami menginginkan Terminal 2E
Bandara Soetta menjadi dedicated terminal,
sehingga operasional penerbangan
internasional kami bersama
aliansi Skyteam bisa menyatu dan efisiensi
pun tercapai,” jelas dia.
Menurut Agus, semua maskapai dunia
yang tergabung dalam Skyteam
Global Alliance memiliki dedicated terminal
di negara asalnya. Adanya dedicated
terminal untuk Garuda dan anggota
Skyteam di Bandara Soetta ini
membuat Indonesia bisa sejajar dengan
negara lain, minimal seperti Singapura.
“Sekarang operasional kami dengan
maskapai lain anggota Skyteam terpisah,
kami di Terminal 2E dan 2F. Padahal
anggota Skyteam, yakni KLM,
China Airlines, Saudi Arabian Airlines,
China Eastern, dan Korean Airlines,
di Terminal 2D. Konekting kami dengan
anggota Skyteam tak maksimal,
ini yang bikin tak efisien,” ungkap dia.
Dalam rencana Garuda pascabergabung
dengan Skyteam, kata Agus, Terminal
2E jadi basis operasional penerbangan
internasional Garuda dengan
anggota Skyteam. Sedangkan Terminal
2F tetap jadi basis penerbangan
domestik Garuda. Maskapai anggota
Skyteam yang menempati Terminal 2D
di-swap dengan maskapai non-Garuda
yang menempati Terminal 2E.
“Untuk jadi maskapai global, efisiensi
dari sisi konekting itu paling penting.
Bagaimana penumpang yang dibawa
KLM bisa langsung dengan mudah
berganti ke Garuda? Ini memang butuh
dukungan penuh dari pengelola bandara
karena selain butuh infrastruktur,
misalnya ada joint lounge, juga guide
diperbanyak misalnya, sebenarnya tak
butuh investasi,” ungkap dia.
Siap Implementasikan
Direktur Utama PT Angkasa Pura
II (AP II) Tri Suriadjie Sunoko mengatakan,
pihaknya siap mengakomodasi
keinginan Garuda Indonesia. AP II
mendukung sepenuhnya langkah Garuda
menjadi maskapai global dengan
bergabung dengan Skyteam Global
Alliance, karena itu juga nantinya bisa
mendongkrak trafik penumpang
internasional melalui Bandara Soetta.
“Terminal 2E dan 2F memang direncanakan
menjadi dedicated terminal
domestik dan internasionall bagi
Garuda Indonesia dan aliansinya. Kami
dan Garuda Indonesia juga sudah
melakukan penandatangan kesepakatan
tersebut,” kata dia, ketika dihubungi
tadi malam.
Namun demikian, implementasi itu
tidak bisa dilakukan secara sekaligus,
melainkan harus bertahap. Keinginan
Garuda Indonesia itu sudah dimasukkan
dalam rencana pengembangan
Bandara Soetta yang kini sudah memasuki
tahap detail engineering design
(DED) dan konstruksi dimulai
kuartal I-2012. Dalam pengembangan
Bandara Soetta, tak hanya melulu
dibangun infrastruktur tapi juga
pembenahan fasilitas, termasuk redistribusi
atau penggunaan terminal.
Pengembangan Bandara Soetta
membutuhkan dana Rp 11,75 triliun.
Sekitar 30% didanai kas internal, sisanya
70% dari pendanaan eksternal,
seperti pinjaman dari bank BUMN
hingga opsi penerbitan obligasi. Pengembangan
mencakup pengembangan
Terminal 1, 2, dan 3, pembangunan
sistem people mover, hingga perluasan
lapangan parkir. (ari)

October 28, 2011

Sembilan perusahaan bakalan IPO

Investor Daily 25 Okt 2011

JAKARTA – Sembilan perusahaan bakal melaksanakan
penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham
hingga akhir 2011. Dengan demikian, jumlah emiten baru
tahun ini bisa mencapai 26 atau melampaui target Bursa Efek
Indonesia (BEI) sebanyak 25 emiten. Sampai saat ini, emiten
yang telah melangsungkan IPO sebanyak 17 perusahaan.
Data Badan Pengawas Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) hingga 24
Oktober menyebutkan, sembilan calon emiten
itu antara lain PT Golden Energy Mines, PT
ABM Investama, PT Atlas Resources, PT Visi
Media Asia, PT Cardig Aero Services, dan PT
Greenwood Sejahtera. (Lihat tabel)
“Semua perusahaan itu berencana listing
sebelum akhir 2011,” kata Kepala Biro Penilaian
Keuangan Perusahaan (PKP) Sektor Jasa
Bapepam-LK Gonthor Ryantori Azis kepada
Investor Daily di Jakarta, Senin (24/10).
Hal serupa juga dikatakan oleh Kepala Biro
PKP Sektor Riil Bapepam-LK Annis Baridwan.
Menurut dia, pihaknya tengah memproses
pernyataan praefektif IPO Saranacentral
Bajatama serta pernyataan efektif IPO Atlas
Resources dan Golden Energy. “Sampai saat
ini belum ada IPO yang mundur,” ujar Annis.
Sementara itu, berdasarkan publikasi calon
emiten dan para penjamin emisi (underwriter),
nilai IPO sembilan perusahaan hingga
akhir 2011 bisa mencapai Rp 14,3 triliun. Dengan
demikian, total nilai IPO 26 perusahaan
sepanjang tahun ini sekitar Rp 26,6 triliun.
Adapun sampai saat ini nilai IPO 17
perusahaan sebesar Rp 12,3 triliun.
Tahun ini, PT Garuda Indonesia Tbk
(GIAA) tercatat sebagai IPO terbesar dengan
nilai emisi Rp 4,75 triliun. Disusul IPO PT
Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) senilai Rp
3,48 triliun.
Sedangkan dari sembilan rencana IPO
hingga akhir 2011, dua perusahaan batubara
yaitu PT Golden Energy Mines (Grup Sinarmas)
dan PT ABM Investama (Grup Trakindo)
juga akan IPO dengan nilai signifikan. Golden
Energy membidik dana Rp 2-3 triliun dan
ABM Investama mengincar Rp 2,5-4,5 triliun.
Direktur Utama BEI Ito Warsito juga menegaskan,
sampai saat ini rencana IPO calon
emiten masih on track. Dia optimistis target
25 IPO tahun ini bisa tercapai. “Tidak ada calon
emiten yang menunda IPO, meskipun kondisi
pasar masih belum menentu,” tegas dia.
Menurut Ito, kondisi pasar dengan fluktuasi
tinggi hanya akan memengaruhi target harga
IPO. Sebab, underwriter akan menentukan
harga sesuai permintaan pasar. “Calon emiten
tentu mengharapkan harga tertinggi. Namun,
harga tetap ditentukan oleh pasar,” kata Ito.
Tahun depan, Ito memperkirakan kondisi
pasar tidak jauh berbeda dengan tahun ini.
Karena itu, BEI tetap menargetkan 25 emiten
baru pada 2012. Dia juga yakin minat emiten
menggelar penawaran umum terbatas (rights
issue) tetap tinggi.

Rights Issue & Obligasi
Sementara itu, berdasarkan data
Bapepam-LK, sebanyak tiga emiten
akan rights issue hingga akhir 2011.
Tiga emiten itu adalah PT Panin Financial
Tbk, PT Myoh Technology
Tbk, dan PT Central Omega Resources
Tbk.
Masing-masing emiten tersebut
menargetkan perolehan dana Rp
499,2 miliar, Rp 529,5 miliar, dan Rp
983,7 miliar. Dengan demikian, total
nilai rights issue yang tersisa hingga
akhir 2011 mencapai Rp 2,01 triliun.
(Lihat tabel).
Di sisi lain, sebanyak enam perusahaan
akan menerbitkan obligasi hingga
akhir tahun ini. Enam perusahaan
itu di antaranya PT Clipan Finance Indonesia
Tbk, PT Bank Himpunan Saudara
Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk,
dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Total emisi surat utang korporasi
itu mencapai Rp 4,75 triliun.
“Target pencatatan obligasi-obligasi
tersebut tahun ini, tapi baru Clipan
Finance yang telah mendapat pernyataan
praefektif,” kata Gonthor.
Emiten Optimistis
Presiden Komisaris PT Visi Media
Asia Tbk (VIVA) Anindya Bakrie optimistis
kondisi pasar yang fluktuatif
tidak terlalu memengaruhi rencana
perseroan untuk menggelar IPO saham.
“Kami telah memikirkan hal ini
secara baik, terutama dengan kinerja
perseroan yang sudah cukup bagus,”
kata dia.
Menurut Anindya, di tengah fluktuasi
pasar dalam 18 bulan terakhir,
harga saham di industri media justru
naik 10 kali lipat.
Hal senada juga disampaikan Presiden
Direktur Visi Media Erick Thohir.
Menurut dia, prospek industri media
sangat bagus, terutama dengan
meningkatnya para pengguna media.
Visi Media adalah induk usaha ANTV,
TV One, dan situs berita vivanews.
com.
Secara terpisah, Direktur Utama
PT Cardig Aero Services Tbk Nurhadijono
Nurjadin juga yakin IPO perseroan
bisa sukses. Sebab, menurut dia,
respons investor terhadap saham perseroan
masih bagus, terutama dari
investor asing.
“Target kami, saham perdana perseroan
bisa diserap oleh investor institusi
hingga 95%, sedangkan investor
ritel 5%,” kata Nurhadijono.
Cardig Aero bergerak di bidang penyediaan
jasa industri penerbangan,
termasuk bongkar muat (ground
handling), pengurusan kargo, makanan
dan minuman dalam penerbangan,
serta keamanan dan pemeliharaan
pesawat.
Diskon Harga
Direktur Utama Bahana Securities
Eko Yuliantoro mengakui, kondisi pasar
yang masih volatile tentu memengaruhi
IPO. Jika dibandingkan dalam
kondisi normal, harga saham perdana
saat ini perlu didiskon. Hal itu
penting untuk meminimalisasi risiko.
“Para underwriter harus benarbenar
mampu mengkaji, apakah perusahaan
yang akan IPO bakal mendapatkan
respons positif dari pasar
atau tidak? Tapi, bukan berarti semua
IPO harus diskon harga,” ujar Eko.
Sementara itu, Direktur Eksekutif
Danatama Makmur Vicky Ganda
Saputra mengatakan, kesuksesan IPO
di tengah kondisi pasar yang sangat
fluktuatif adalah kinerja calon emiten
itu sendiri.
“Yang paling penting adalah industri
perusahaan yang akan IPO. Sebaik
apapun perusahaan itu, tapi industrinya
buruk, maka IPO tidak
akan berhasil,” kata Vicky.
Selain itu, menurut dia, perusahaan
yang akan IPO harus ditunjang oleh
potensi pertumbuhan ke depan. Dengan
demikian, emiten dan investor
saling diuntungkan.
IHSG Naik Tajam
Pada perdagangan kemarin, indeks
harga saham gabungan (IHSG) kembali
menembus level 3.700. IHSG ditutup
naik tajam 86,1 poin (2,3%) ke
posisi 3.706,7. Investor asing membukukan
beli bersih (net buying) sebesar
Rp 405,3 miliar.
Menurut Kepala Riset Universal
Broker Indonesia Satrio Utomo, kenaikan
indeks kemarin dipengaruhi
oleh ekspektasi hasil pertemuan KTT
Eropa pada Rabu. Meski belum ada
keputusan, investor masih menunggu
keputusan yang diharapkan bisa menyelesaikan
masalah Eropa.
Secara teknikal, menurut Satrio,
IHSG masih berada dalam tren naik
dalam jangka pendek hingga panjang.
Hal itu terlihat sejak IHSG menembus
level double bottom 3.580.
“Jika melihat teknikal, IHSG masih
berpeluang menembus 3.900 hingga
4.000 pada akhir tahun. Kondisi ini
akan menguntungkan perusahaan
yang hendak masuk pasar modal,”
ujar dia.
Gempa Turki
Regu penolong tampak ambil bagian dalam operasi penyelamatan korban
dari reruntuhan bangunan setelah gempa mengguncang Ercis, timur Turki
pada 24 Oktober 2011. Mereka mencari korban selamat dari gempa kuat
yang menewaskan 217 orang. Ratusan orang dikhawatirkan masih terjebak
dalam bangunan yang rusak.
Satrio menegaskan, persoalan krisis
di Yunani dan beberapa negara lain
di Eropa tetap akan membayangi pergerakan
IHSG hingga akhir 2011.
“Eropa merupakan sumber permasalahan
utama di regional. Jika persoalan
ini bisa selesai, penguatan IHSG
bakal mulus,” tutur dia.
Sementara itu, di dalam negeri, kinerja
emiten diperkirakan masih akan
baik hingga akhir tahun. Kondisi tersebut
bisa ikut menopang kinerja
IHSG. Namun, pelemahan rupiah cukup
menekan kinerja keuangan perusahaan
yang memiliki utang berdenominasi
dollar AS.
Di lain pihak, Head of Technical
Analyst Batavia Prosperindo Sekuritas
Billy Budiman merevisi target IHSG
hingga akhir 2011 menjadi 3.800, dari
sebelumnya 4.200. Sebab, menurut
dia, faktor pemangkasan peringkat
negara-negara di Eropa akan menjadi
sentimen negatif.
“Tapi IPO calon emiten terutama
yang mendekati akhir tahun dapat
tertolong oleh aksi window dressing.
Sedangkan dalam jangka pendek,
pasar akan dipengaruhi oleh sentimen
positif laporan keuangan kuartal III,
kestabilan rupiah, dan hasil rapat KTT
Eropa,” ujar Billy. (iin/c11/c12)

October 28, 2011

Antara Dan Kertas Leces Tak Dapat PMN

Antara Dan Kertas Leces Tak Dapat PMN
Oleh Ahmad Puja Rahman Altiar
Kamis, 27 Oktober 2011 | 22:31 WIB

JAKARTA: Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memandang tidak perlu menggelontorkan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) 2012 kepada Perum LKBN Antara dan PT Kertas Leces (Persero).

Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mengatakan komite revitalisasi dan restrukturisasi memutuskan hanya PT PAL, PT Pindad, PT Industri Kapal Indonesia (IKI), PT Dirgantara Indonesia (DI), PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), dan PT Garam.

“Setelah komite mempelajari, Kami memandang PT Kertas Leces dan Antara tidak perlu dapat PMN,” tuturnya dihadapan anggota Komisi VI DPR RI dalam rapat kerja malam ini.

Menurutnya, dengan kepemimpinan yang baru, Antara tidak membutuhkan suntikan modal dari pemerintah.

Terlebih lagi, keuangan perseron dipandang cukup baik. Adapun Kertas Leces, Dahlan mengatakan, telah dua kali mendapatkan PMN sebelumnya tetapi kinerja perseroan tidak kunjung membaik. “Meski BUMN Saya sering ke pabrik kertas leces Tapi tidak yakin masalah leces selesai dengan PMN,” ujarny

October 28, 2011

PT Pertamina dan PT PLN Sepakat Bersinergi

Jumat,
28 Oktober 2011
INFRASTRUKTUR GAS
PT Pertamina dan PT PLN Sepakat Bersinergi

Jakarta, Kompas – PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) sepakat bersinergi membangun infrastruktur gas alam cair di kawasan timur Indonesia. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan gas bagi pembangkit listrik di daerah itu sehingga biaya produksi listrik dapat ditekan.

Terkait hal itu, PT Pertamina dan PT PLN menandatangani nota kesepahaman proyek pengembangan sistem transportasi dan terminal penerima gas alam cair di kawasan timur Indonesia dan revitalisasi industri Aceh, Kamis (27/10), di Jakarta.

Nota kesepahaman itu terdiri atas pokok-pokok perjanjian jual-beli gas hasil regasifikasi gas alam cair untuk pembangkit listrik di kawasan timur Indonesia antara PT Pertamina Gas (Pertagas) Niaga dan PT PLN serta perjanjian usaha patungan PT Pertamina Gas dan PT Indonesia Power.

Penandatanganan nota kesepahaman proyek gas alam cair itu dilakukan Direktur Energi Primer PT PLN Nur Pamudji, Direktur Utama PT Pertagas Gunung Sardjono Hadi, Direktur Utama PT Pertagas Niaga Harjana Kodiyat, dan Direktur Produksi Indonesia Power Mustiko Bawono.

PT Pertagas Niaga dan PT PLN menyepakati jual-beli gas pada proyek ini akan dilakukan antara PT Pertagas Niaga dan PT PLN. Harga jual gas pada proyek ini masih pada tahap negosiasi, tetapi PT Pertamina telah menetapkan batas keuntungan (margin) untuk gas yang dijual itu. ”Formula harga LNG (gas alam cair) sesuai perkembangan harga di pasaran,” kata Gunung.

Ada 11 lokasi proyek yang akan dikembangkan untuk menerima pasokan gas hasil regasifikasi gas alam cair mulai kuartal ketiga tahun 2013. Ke-11 lokasi adalah Bontang, Tanjungbatu, Samberah, Batakan, dan Balikpapan di Kalimantan Timur; Pesanggaran di Bali; Tello dan Jeneponto di Sulawesi Selatan; Pomala di Sulawesi Tenggara; Minahasa di Sulawesi Utara; dan Halmahera di Maluku Utara.

Kebutuhan gas alam cair untuk 11 lokasi itu sekitar 0,93 juta ton per tahun selama 10 tahun. Gas alam cair akan dipasok dari Bontang, Donggi-Senoro di Sulawesi Tengah, Salawati di Papua Barat, dan Simenggaris di Kalimantan Timur.

Pihak yang bertanggung jawab untuk transportasi dan meregasifikasikan gas alam cair adalah perusahaan patungan PT Pertagas dan Indonesia Power.

”Jadi, PT Pertamina yang memasok gas dan PT PLN sebagai pengguna gas. Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur gas, PT PLN dan PT Pertamina membentuk perusahaan patungan,” kata Nur Pamudji.

Gunung menjelaskan, total kebutuhan investasi untuk mengangkut gas alam cair itu mencapai 450 juta dollar AS atau Rp 3,989 triliun.

Wakil Presiden Senior Gas PT Pertamina Nanang Untung menyatakan, sinergi PT PLN dan PT Pertamina itu diharapkan dapat mendukung penggunaan sumber energi yang lebih efisien, bersih, ramah lingkungan, dan menurunkan subsidi bahan bakar. (EVY)

Facebook
Twitter
Email
Print

KOMENTAR
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.