Archive for ‘whos who’

November 21, 2016

PROFIL CEO PERTAMINA :Jurus Efisiensi Hulu-Hilir

keren Pak Dwi.. cocok untuk jadi presiden  atau menteri BUMN!

..  Selama ini Pertamina menjadi sapi perah buat gerombolan rentenir dan elit politik negeri ini..  Dahulu Level Manajer – General Manajer  Pertamina    yang bisa menjilat kepentingan gerombolan rentenir  bisa menjadi  tajir abis,  bisa tiap hari main golf ( dibayarin mitra Pertamina tentunya), mobil mewah dan rumah  top !  Semoga di birokrasi pertamina lapisan rentenir itu sudah  masukan kotak semua oleh pak Dwi.

 

EKONOMI > ENERGI > JURUS EFISIENSI HULU-HILIR

PT Pertamina (Persero) mengumumkan laba 2,83 miliar dollar AS atau Rp 36,8 triliun. Pencapaian triwulan III-2016 itu melampaui sejumlah perusahaan minyak dan gas lain. Apa kuncinya? Ternyata, sekitar 1,6 miliar dollar AS di antaranya disumbangkan oleh efisiensi perusahaan.

Laba Pertamina memang melampaui perusahaan migas lain, seperti Exxon Mobil (2,65 miliar dollar AS), Total (1,98 miliar dollar AS), dan Chevron (1,28 miliar dollar AS). Selain itu, juga melampaui Petronas milik Malaysia yang labanya sebesar 300 juta dollar AS.

Berikut ini petikan wawancara Kompasdengan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto di ruang kerjanya.

Semua perusahaan migas juga menerapkan hal yang sama di situasi harga minyak rendah sekarang ini. Kenapa pencapaian Pertamina lebih tinggi?

Semua perusahaan pasti bicara efisiensi. Akan tetapi, pada saat orang sudah berada di level efisiensi yang tinggi, menemukan peluang efisiensinya (yang baru), kan, terbatas. Jadi begini, kalau misalnya indeks efisiensi mereka sudah di angka 7 naik ke 9, kan, cuman dua poin. Kalau di Pertamina dari 3 ke 9, kan, besar lonjakannya. Itu salah satu faktor kalau kita bicara komparasi dalam hal efisiensi.

Pertanyaannya kenapa Pertamina lebih bagus? Itu karena Pertamina terintegrasi dari hulu sampai hilir. Pertamina ada di Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, maka ritel kita besar. Berbeda mungkin dengan Petronas di Malaysia yang jumlah penduduknya tidak banyak, maka hilirnya enggak banyak. Kalau ditanya, apa yang menunjang di samping efisiensi? Itu karena kekuatan hilir. Jadi, bila diringkas, dimulainya efisiensi yang berbeda dan dukungan pasar di hilir yang besar menjadi kekuatan Pertamina saat ini.

Apakah efisiensi sudah maksimum?

Efisiensi belum mencapai titik maksimum. Kalau sekarang digarap di aspek hulu untuk efisiensi, berikutnya efisiensi di hilir. Misalnya, ditentukan harga bahan bakar minyak (BBM) Rp 6.500 per liter, masyarakat yang harus beli. Nah, sampai di sana rantainya sudah efisien atau belum? Misalnya, gas yang rantainya panjang perlu ditata ulang agar efisien. Ini yang akan saya garap ke depan.

Pengadaan minyak mentah dan BBM berkontribusi besar terhadap efisiensi, artinya pembubaran Petral sangat besar pengaruhnya?

Oh, besar sekali. Sangat besar. (Dwi lantas menunjukkan angka-angka “pemborosan” saat Petral berperan dalam pengadaan dan jual beli minyak mentah dan BBM, serta penghematan yang didapat setelah pembubaran Petral).

Saat akan masuk ke Pertamina, Anda melihat Pertamina seperti apa?

Jadi, begitu akan masuk, saya mencoba membandingkan Pertamina dari informasi di internet dan media massa. Di situ terlihat, produktivitas nilai aset Pertamina tidak sebanding dengan produktivitas nilai aset perusahaan lain. Lalu, saya baca komentar orang-orang bahwa Pertamina tidak efisien dan sebagainya. Ketika saya masuk, yang ada dalam pikiran saya adalah saya harus melihat lebih dalam soal efisiensi. Kemudian pada 2013, saya melihat posisi aset Pertamina sepertiga dari aset Petronas. Tetapi, dari sisi laba, laba Pertamina sepersepuluh dari laba Petronas. Ini artinya produktivitas aset tidak sebaik di sana.

Adakah perlawanan saat menerapkan efisiensi?

Pasti. Misalnya, dari sisi sentralisasi pengadaan di luar hidrokarbon dan BBM, pengadaan di direktorat masing-masing. Dalam pengamatan kami, yang melakukan studi, sampai ada perbedaan harga 40 persen untuk barang yang sama. Diputuskan pengadaan harus terpusat, yang selama ini di setiap unit. Ada perlawanan, tetap saya putuskan terpusat.

Perlawanan dari luar?

Tentu ada. Mereka yang selama ini mendapat keuntungan tentu resisten. Kirim pesan singkat (SMS) mengkritik dan sebagainya. Biasa kritik-kritik semacam itu. Itu karena mereka tidak paham saja.

Bagaimana menyeimbangkan Pertamina sebagai perusahaan yang harus membukukan laba dan tugas menjalankan kewajiban melaksanakan pelayanan publik (PSO)?

Pertama, Pertamina harus bermain di area biaya atau efisiensi. Harga di pembeli sudah ditentukan, harga jual juga sudah ditentukan pemerintah. Bagaimana menyederhanakan organisasi dan birokrasi. Yang kedua, mengembangkan bisnis. Laba per satuan volume, maka volume harus ditingkatkan, bisa di hilir dan hulu. Kalau di hilir dalam negeri, pangsa pasar kita sudah 90 persen. Kalau harga rendah, orang akan membeli lebih banyak. Maka, kita harus go international di hilir untuk bisa menaikkan volume tadi.

Menteri Keuangan pernah berkata, dengan menyelesaikan masalah di PLN, Pertamina, dan Kemenkeu, dapat mengurangi 50 persen masalah negara. Tanggapan Anda?

Beliau melihat, pelaku besar di perekonomian Indonesia, seperti Pertamina dan PLN, berada dalam posisi efisiensi yang bagus, maka urusan negara beres. Pertamina bisa mengirim BBM semurah mungkin, PLN bisa menghasilkan listrik semurah mungkin. Demikian juga masalah gas terselesaikan, pasti industri tumbuh dan ekonomi akan jalan. Apabila semua efisien, hal yang tidak benar tidak akan terjadi.

November 21, 2016

Chappy Hakim Jadi Presdir Freeport

Koran Tempo

SENIN, 21 NOVEMBER 2016

JAKARTA – Freeport-McMoRan Inc menunjuk bekas Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Chappy Hakim sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia. Chappy akan menggantikan posisi Maroef Sjamsoeddin yang mengundurkan diri sejak Januari lalu.

Vice President Corporate Communications Freeport Indonesia, Riza Pratama, memberikan konfirmasi ihwal hal tersebut. “Pak Chappy Hakim akan ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia,” kata dia, kemarin.

Riza menyatakan penunjukan tersebut dilakukan setelah Freeport berkonsultasi dengan pemerintah Indonesia. “Saat ini sedang dalam proses untuk memperoleh persetujuan resmi dari pemegang saham,” katanya.

Informasi pemilihan Chappy bermula dari beredarnya interoffice memorandum dari President and Chief Executive Officer Freeport-McMoRan, Richard C. Adkerson. Dalam memo bertanggal 19 November 2016 itu, ia menyatakan, “Dengan gembira saya mengumumkan bahwa Chappy Hakim akan ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia.”

Chappy bukan orang baru di Freeport. Alumnus Akabri Udara 1971 itu telah diangkat sebagai penasihat senior Freeport Indonesia sejak Agustus 2016. Adkerson juga menyebutkan berbagai prestasi Chappy, sehingga layak menduduki posisi direktur utama perusahaan tambang tembaga dan emas di Papua itu. Di antaranya sebagai Ketua Tim Nasional Evaluasi Keselamatan dan Keamanan Transportasi serta staf ahli Menteri Perhubungan. “Lebih dari 15 buku tentang penerbangan dan pertahanan telah dihasilkannya,” kata Adkerson.

Namun, dalam bisnis pertambangan, Chappy dinilai masih minim pengalaman. Pengamat energi dari Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan, “Chappy tidak punya pengalaman di bisnis Freeport. Kontaknya juga terbatas. Bagaimana ia menangani isu Freeport terkait dengan divestasi, pembangunan smelter, ekspor konsentrat, dan lain-lain?”

Chappy belum memberi tanggapan atas penunjukan dirinya tersebut. Dia tidak merespons panggilan telepon atau membalas pesan pendek yang dikirimkan. PINGIT ARIA

July 20, 2016

Jadi Kepala BNPT, Ini Sepak Terjang Suhardi Alius  

SELASA, 19 JULI 2016 | 17:53 WIB

Jadi Kepala BNPT, Ini Sepak Terjang Suhardi Alius  

Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional, Suhardi Alius, termasuk dalam enam nama usulan calon Kapolri dari Kompolnas. Ia pernah menjabat menjadi Kapolda Jawa Barat. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.COJakarta – Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membenarkan kabar mengenai penunjukan Komisaris Jenderal Suhardi Alius sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Sebelumnya, posisi tersebut ditempati Jenderal Tito Karnavian, yang saat ini dipilih menjadi Kepala Polri.

Suhardi saat ini menjabat Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional atau Lemhannas. Sebelumnya, dia menjabat Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Suhardi digeser saat situasi antara Mabes Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi kembali memanas. Dia digantikan Komisaris Jenderal Budi Waseso.

Lulus dari Akademi Kepolisian pada 1985, karier Suhardi cukup lancar. Mengawali karier dengan menjadi penyidik Utama Direktorat II Bareskrim Polri, ia kemudian didaulat menjadi Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat pada 2004.

Setahun kemudian, pria yang lahir pada 10 Mei 1962 di Jakarta ini dipindahkan ke Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya dan, pada tahun yang sama, dia kembali dipindahkan ke Koordinator Sekretaris Pribadi Pimpinan (Koorsprim) Polri. Setelah empat tahun mengabdi kepada Koorsprim, dia dimutasikan ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) sebagai direktur.

Komisaris Jenderal Suhardi Alius
Akademi Kepolisian 1985

Karier
Kepala Polres Metro Depok 2002
Wakil Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya 2003
Kepala Polres Metro Jakarta Barat 2004
Direktur Reserse Kriminal Polda Metro Jaya 2005
Koordinator Sekretaris Pribadi Pimpinan Polri 2005
Direktur Minwa PTIK 2009
Direktur Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal 2009-2010
Wakapolda Metro Jaya 2011
Kepala Divisi Humas Polri 2012
Kepala Polda Jawa Barat 2013
Kepala Bareskrim Polri 2013
Sekretaris Utama Lemhannas 2015

Kekayaan
2013: Rp 5,688 miliar
2014: Rp 5,741 miliar

TIM TEMPO

February 15, 2016

PROFIL GROUP CEO GRAB ANTHONY TAN

Solusi untuk Asia Tenggara

Aksesibilitas transportasi lokal masih menjadi persoalan bagi sejumlah negara di Asia Tenggara. Grab menawarkan solusi atas problem transportasi melalui layanan berbasis dalam jaringan atau daring. Kini, bisnis itu kian tumbuh dengan 1,5 juta pengguna aplikasi per hari.

Sejak diluncurkan pada 2012, Grab berevolusi dari aplikasi sederhana untuk pemesanan taksi menjadi perusahaan penyedia layanan transportasi darat. Model usaha transportasi berkembang menjadi penyewaan kendaraan pribadi (GrabCar), ojek (GrabBike), carpooling(GrabHitch), dan layanan pemesanan kurir (GrabExpress).

Layanan Grab kini menjangkau 28 kota di Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam dengan lebih dari 200.000 pengemudi dan diunduh pada 11 juta perangkat. Penduduk Asia Tenggara yang berjumlah 620 juta orang, melebihi populasi penduduk Uni Eropa dan Amerika Utara, menjadi fokus pasar Grab. Peluang pasar ditaksir senilai 25 miliar dollar AS untuk layanan transportasi taksi, mobil, dan sepeda motor.

Group CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan memaparkan harapan dan targetnya dalam wawancara dengan Kompas dan beberapa media dari Indonesia, akhir Januari lalu, di Singapura. Wawancara dilakukan di sela-sela peluncuran penggantian merek Grab Taxi menjadi Grab.

Anthony (34) meyakini, kemampuan membaca problem lokal telah mendorong bisnis layanan berbasis aplikasi itu tumbuh pesat. Sejak pertengahan 2015, jumlah pengguna Grab di Asia Tenggara rata-rata tumbuh 35 persen per bulan untuk layanan GrabCar dan 75 persen untuk GrabBike. Pertumbuhan pasar di Indonesia tergolong paling pesat.

Bersama koleganya yang juga pendiri Grab, Tan Hooi Ling, Anthony telah mengumpulkan dana pengembangan bisnis 700 juta dollar AS pada periode April 2014 hingga Agustus 2015. Dana investasi itu dihimpun antara lain dari perbankan, China Investment Coporation asal Tiongkok, Vertex Ventures Holdings (Grup Temasek), Tiger Global (Singapura), dan Hillhouse Capital (Hongkong).

Bagi laki-laki kelahiran Malaysia itu, investasi dalam riset, pengembangan, dan teknologi konsisten dilakukan untuk menghasilkan efisiensi. Melalui efisiensi, modal besar, dan teknologi, Grab berkomitmen menghadirkan pilihan transportasi yang mengedepankan keamanan konsumen dan pengemudi.

Grab bahkan membidik target untuk mendominasi pasar Asia Tenggara.

Demikian petikan wawancara dengan Anthony Tan.

Mengapa Anda fokus menggarap Asia Tenggara sebagai pasar utama?

Asia Tenggara adalah rumah kami. Saya pernah tinggal di Thailand, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Ini adalah pasar yang kami pahami. Pasar di mana kami bekerja sama dengan pemerintah untuk berinovasi dalam industri. Saya percaya filosofi bahwa berpikir lokal akan menang. Kami mempelajari karakter masyarakat lokal untuk menyelesaikan problem lokal. Kami mengupayakan bisnis ini bisa mempercepat penyelesaian problem transportasi lebih cepat. Kami tidak hanya membantu komunitas, tetapi juga membantu kota. Pada masa depan, yang dibutuhkan hanya perangkat telepon seluler. Lalu, tentukan ke mana mau pergi. Kami selalu ingin berkolaborasi dengan pemerintah untuk dapat memecahkan masalah lokal bersama-sama. Yang terpenting dalam bisnis ini adalah, apakah kami memiliki jejaring, sejauh mana kami memahami persoalan lokal, dan memiliki orang-orang terbaik untuk memecahkan problem lokal di bidang transportasi.

Beberapa negara di Asia Tenggara berbenah dalam hal infrastruktur dan transportasi. Bagaimana Anda melihat problem lokal transportasi?

Kami fokus pada hal yang berbeda di setiap negara. Misalnya, kondisi Indonesia berbeda dengan Singapura. Tingkat pembangunannya berbeda. Di Singapura, semua terkait dengan kecepatan. Semua orang tidak punya waktu, serba tergesa-gesa. Di Indonesia, masyarakat lebih peduli terhadap harga, penggunaan GrabCar lebih banyak. Maka, kami harus mencari solusi untuk transportasi yang lebih murah. Kami berupaya memberi opsi lebih terhadap transportasi masyarakat.

Bisnis ini mengutamakan keamanan. Pengemudi kami semuanya memiliki surat izin mengemudi dan asuransi supaya aman berkendara. Kami juga membantu mereka dalam pembiayaan kendaraan. Kami yakin jika pengemudi bisa meningkatkan kualitas kendaraan menjadi lebih baik, keamanan berkendara juga lebih terjamin. Kualitas kendaraan yang lebih baik berarti keamanan lebih terjaga. Kami percaya jika kami peduli terhadap pengemudi, pengemudi juga akan peduli kepada penumpang.

Ada kalangan yang menyebutkan, Grab melakukan perang harga dengan kompetitor. Apakah ada subsidi tarif?

Saat ini, kami tidak mau berkomentar soal tarif. Buat kami, ini bukan hanya soal subsidi (tarif), melainkan bagaimana meningkatkan pelayanan. Konsumen adalah bos kami. Kami berupaya mengoptimalkan teknologi dan penggunaan data ilmiah untuk membawa kemajuan bisnis. Itu sebabnya kami membanguninternational engineering center di tiga negara, yakni Seattle (Amerika Serikat), Beijing (Tiongkok), dan Singapura. Kami berupaya menerapkan efisiensi sehingga pengemudi bisa menarik lebih banyak penumpang dan menghasilkan uang meskipun dengan tarif lebih rendah. Jika pengemudi melayani 10 konsumen setiap hari, tidak perlu ada subsidi tarif. Kekuatan teknologi menjadi inti.

Melalui efisiensi, kami memperoleh pendapatan berkali-kali lipat. Kami ingin menyerap lebih banyak tenaga kerja, membentuk komunitas yang hebat, melakukan investasi lebih banyak, dan mempekerjakan orang-orang berbakat. Bagi para investor, mereka tidak berpikir investasi jangka pendek 5-10 tahun, tetapi jangka panjang sampai 30-50 tahun.

Tantangan apa yang dihadapi?

Bisnis kami untuk jangka panjang dan tantangannya bagaimana kami memenuhi itu. Kami berupaya agar sarana kami bisa diakses semua kalangan, termasuk kaum disabilitas, orang berkebutuhan khusus, lansia, dan pengguna kursi roda. Kami berusaha mencari solusi yang tepat untuk mengatasi ini. Kami juga harus memastikan tidak ada pihak yang merasa ditinggalkan, termasuk mitra kami, yaitu pengemudi, penumpang, dan komunitas. Transportasi harus bisa diakses semua orang. Bagaimana membuat Asia Tenggara menjadi kawasan yang lebih baik.

Apakah Anda pernah memanfaatkan Grab saat berkunjung ke Indonesia?

Saat berkunjung ke Jakarta, saya melihat kemacetan luar biasa sampai 3-4 jam. Untuk menuju Bandara Soekarno-Hatta, saya sering naik GrabBike menuju jalan tol. Dari pintu tol, (perjalanan) dilanjutkan dengan GrabCar.

December 18, 2015

Tokoh Antikorupsi Terpental

JUM AT, 18 DESEMBER 2015

 Tokoh Antikorupsi Terpental

JAKARTA – Tiga calon pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi dari kalangan internal, yakni Busyro Muqoddas, Johan Budi Sapto Pribowo, dan Sujanarko, kalah dalam pemungutan suara pemilihan komisioner KPK periode 2015-2019 yang digelar Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, kemarin. Busyro, yang pernah menjadi Ketua KPK, hanya mendapat 2 suara. Sedangkan Johan, yang menjadi pelaksana tugas Wakil Ketua KPK, memperoleh 25 suara. Adapun Sujanarko, Direktur Pembinaan Jaringan Kerja Sama Antar-Komisi KPK, memungut 3 suara.

Sebanyak 54 anggota Komisi Hukum yang berhak memilih lima nama menjatuhkan pilihan kepada bekas Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Agus Rahardjo sebagai Ketua KPK yang baru. Ia mendapatkan 53 suara, diikuti calon dari kepolisian, Staf Ahli Sosial Politik Kapolri, Inspektur Jenderal Basaria Panjaitan, yang memperoleh 51 suara.

Tiga nama lain adalah Alexander Marwata, hakim ad hoc Tipikor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (46 suara); Thony Saut Situmorang, Staf Ahli Kepala Badan Intelijen Negara (37 suara); serta Laode Muhammad Syarif, dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar (37 suara). “Pemilihan ini sudah melalui proses yang transparan,” kata pemimpin sidang pleno, Azis Syamsuddin, kemarin.

Pengamat antikorupsi menilai terjungkalnya para pejuang antikorupsi sebagai calon pimpinan KPK merupakan awan kelabu pemberantasan korupsi.”Kiamat aja pemberantasan korupsi,” kata peneliti dari Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, Hifdzil Alim, kemarin.

Hifdzil menyesalkan salah satu pemimpin KPK yang terpilih setuju lembaga itu bisa menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan dan mendukung penyadapan seizin ketua pengadilan. “Calon seperti itu tidak pas untuk lembaga sekelas KPK,” ujar dia.

Pakar hukum tata negara Refly Harun dan Saldi Isra mengatakan hasil voting itu menunjukkan DPR tak ingin memperkuat KPK. “Yang dipilih adalah orang-orang yang bisa ditundukkan,” ujar Refly.

Saldi mengatakan lima orang terpilih itu merupakan orang yang setuju terhadap revisi Undang-Undang KPK. Ia menduga persetujuan tersebut adalah salah satu strategi para calon untuk mengakomodasi keinginan DPR. “Tugas mereka sekarang bukan lagi menghadapi DPR, tapi memberantas korupsi,” kata dia.

Peneliti dari Indonesia Corruption Watch, Aradilla Caesar, meminta lima komisioner terpilih memperjuangkan nasib penyidik Novel Baswedan yang terus tersandera kriminalisasi oleh bekas korpsnya.

Johan, kemarin, berucap syukur karena tak terpilih. “Sepertinya doa istri saya terkabul,” kata dia. Ia berharap pimpinan KPK jilid IV ini bisa menjaga marwah komisi antirasuah itu. “Sistem di KPK sudah jalan, tinggal melanjutkan,” ujarnya.FAIZ NASHRILLAH | LINDA TRIANITA | EGI ADYATAMA | TRI ARTINNING PUTRI | DESTRIANITA K. | FRANSISCO ROSARIANS | ISTIQOMATUL HAYATI

December 15, 2015

Ciliandra Fangiono, Masih Muda Tapi Sandang Triliuner No 1 Indonesia

Thursday, December 10, 2015       14:09 WIB

 

JAKARTA – Muda dan kaya. Mungkin kalimat tersebut tepat ditujukan bagi Ciliandra Fangiono. Ya, dia adalah triliuner paling muda di Indonesia.

Ciliandra Fangiono masuk dalam jajaran 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Di antara ke-50 orang terkaya di Tanah Air, Ciliandra adalah triliuner termuda, dengan usia 39 tahun.

Dilansir Forbes, Kamis (10/12/2015), kekayaan Ciliandra berasal dari perusahaan yang memimpin bisnis minyak kelapa sawit di Indonesia, First Resources Ltd. Perusahaannya tersebut berhasil menghasilkan total kekayaan USD1,3 miliar atau setara Rp17,34 triliun.

Dia memulai usahanya dengan meneruskan bisnis keluarga. KemUdian, setelah perusahaan berada di bawah kepemimpinannya, terjadi peningkatan aset dan keuntungan.

Ciliandra sukses mengelola First Resources, yang beroperasi lebih dari 190.000 hektare perkebunan kelapa sawit dan 12 pabrik kelapa sawit di provinsi Riau, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat di Indonesia.

Bahkan, First Resources berencana untuk investasi USD130 juta agar usahanya terus tumbuh. Dana tersebut dialokasikan untuk memelihara perkebunan serta meningkatkan kapasitas penggilingannya.

Pria beranak dua tersebut, menjalankan bisnis bersama dengan saudara laki-lakinya Sigih dan ayah mereka, Martias, sejak 23 tahun yang lalu.

Kesuksesan Ciliandra juga tidak lepas dari pengetahuan dan latar belakangnya yang memiliki gelar sarjana ekonomi dari Cambridge University. Kemudian, dia menghabiskan beberapa tahun bekerja sebagai staf pada divisi investasi bank di Meryl Lynch di Singapura.
http://economy.okezone.com/read/2015/12/10/320/1264661/ciliandra-fangiono-masih-muda-tapi-sandang-triliuner-no-1-indonesia

December 6, 2015

Gurita Usaha Juragan Muda

TOPIK
SABTU, 05 DESEMBER 2015

 Gurita Usaha Juragan Muda

Meski berlabel food and beverage, bisnis mereka melebihi jualan makanan dan minuman. Para anak muda ini menawarkan tren baru, tempat pembeli berkumpul, berkudapan, sekaligus bergaya.

Kebanyakan dari mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan kuliner atau perhotelan. Namun insting para pengusaha belia itu menangkap dengan tepat selera pasar. Walhasil, usaha mereka menggurita. “Simpel saja, saya anak muda yang tahu apa yang diinginkan anak muda,” kata Mikail Mirdad, 29 tahun, pendiri Biko Group. Berikut ini gambarannya.

1. Biko Group

Lima tahun yang lalu, tidak ada yang mengenal mereka. Namun keputusan trio Mikael Mirdad, Agung Prayudi, dan Freggy Effendi membuka Beer Garden di Kemang pada 2010 membuat Biko Group melambung.

Kini, ada empat cabang Beer Garden. Biko juga melebarkan sayap dengan membuka warung kopi, Kopitiam Tan, di Kawasan Niaga Terpadu Sudirman, Jakarta Selatan, dan bar ala Hong Kong, Pao-Pao, di Senopati, Jakarta Selatan. Pekan ini, mereka meresmikan Fujin, restoran Jepang dengan menu andalan teppanyaki dan wiski di Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan.

Mikael mengatakan akan membuka satu rumah makan lagi dalam waktu dekat. Dia tak ragu mengambil kesempatan karena melihat potensi bisnis food and beverage yang masih akan terus berkembang. “Kami pernah balik modal hanya dalam tiga bulan,” ujarnya.

Berdiri: 2012 (diresmikan sebagai grup)
Pemilik: Mikael Mirdad, Agung Prayudi dan Freggy Effendi
Jaringan: Beer Garden (di Kemang, SCBD, Wahid Hasyim, Radio Dalam), Pao-Pao, Kopitiam Tan, dan Fujin

2. Union Group

Grup ini berasosiasi dengan dua hal: Union dan red velvet. Union tersebar di Pondok Indah Mall, Plaza Indonesia, dan Grand Indonesia. Mereka restoran pertama yang menyajikan kue red velvet yang merah merona tersebut.

Berdiri: 2012
Pemilik: Jennifer Karjadi, Winfred Hutabarat, Andrew Santoso, dan kawan-kawan
Jaringan: Union, Benedict, Caffe Milano, Canteen, Casa, Cork&Screw, E&O, Loewy, dan Union Deli

3. Potato Head Group

Jaringan besutan Ronald Akili dan Jason Gunawan ini memang belum sebanyak dua grup di atas. Namun Potato Head Group telah berekspansi ke Singapura. Potato Head Beach Club di Bali diakui sebagai satu destinasi wisata terbaik di dunia oleh situs wisata Conde Nast Traveler.

Berdiri: 2009
Pemilik: Ronald Akili dan Jason Gunawan
Jaringan: Potato Head di Jakarta, Bali, dan Singapura

4. Polaris Noble

Devina Stefani, 23 tahun, punya mimpi mendirikan 100 kafe. Mengapa kopi? Menurut dia, Indonesia menghasilkan kopi berkualitas wahid, tetapi warganya sulit menikmatinya. Maka dia menciptakan Yellow Truck yang membidik pasar mahasiswa. Ada juga kafe Traffique di Jalan Hang Tuah, Jakarta Selatan. Di bawah bendera Polaris Noble, Devina telah melebarkan sayap sampai ke Solo.

Berdiri: 2012
Pemilik: Devina Stefani
Jaringan: Traffique, Yellow Truck Bandung (3 lokasi), Yellow Truck Solo

5. OPCO

Senior dan penggebrak. Berdiri sejak 2000 lewat Manna Lounge di Taman Ria Senayan, jaringannya menyebar. Embassy di Taman Ria menjadi satu pencapaian tersukses mereka.

Satu resep OPCO untuk bertahan adalah menjalin kemitraan seperti yang mereka lakukan dengan Malaikat Widjaja di Warung Tinggi. “Antara inovasi dan konsistensi, saya memilih konsistensi,” kata Aditya Aryasena, salah satu direktur OPCO.

Berdiri: 2000
Jaringan: Portico, Domain, Embassy, Yellowfin, Stark House, Warung Tinggi, House of Beer, Urbanite Asia, Tokio Bowl, Mr Chuan, H5

6. Ismaya Group

Ismaya menjadi ikon dinasti bisnis anak muda Indonesia. Dimotori Bram Hendrata, Christian Rijanto, dan Brian Sutanto, mereka memimpin pasar dengan 23 restoran dan bar. Mereka juga melebarkan sayap ke katering dan event organizer.

Berdiri: 2003
Pendiri: Bram Hendrata, Christian Rijanto, dan Brian Sutanto
Jaringan: Blowfish, Fook Yew, Pizza e Birra, Skye, Sushigroove, The People’s Cafe, Dragonfly di Graha BIP, Kitchennete, Public Markette, Djournal, Social House, Tokyo Belly, Colette and Lola, Puro
Lainnya: Ismaya Catering dan Ismaya Live

DINI PRAMITA

October 19, 2015

Ini Dia 10 Keluarga Terkaya di Asia, Li Ka-shing Tak Masuk

keluarga Salim, Riady dan Widjaja.. nggak masuk rangking top 10 yang terkaya di Asia?

SENIN, 19 OKTOBER 2015 | 04:44 WIB

Ini Dia  10 Keluarga Terkaya di Asia, Li Ka-shing Tak Masuk

Li Ka-shing. AP/Kin Cheung

TEMPO.CO , Jakarta: Majalah Forbes baru saja merilis daftar 50 orang terkaya di Asia dari 10 negara. Majalah bisnis dan finansial Amerika Serikat ini mendapuk pemilik perusahaan elektronik Korea Selatan, Samsung Grup, Byung Chull, sebagai keluarga paling kaya di Asia. Keluarga Byung Chull memiliki kekayaan sekitar US$ 26,6 miliar atau Rp 358,5 triliun.

Seperti dilansir dari China Daily NewsForbes menyebutkan beberapa kriteria untuk bisa masuk dalam daftar keluarga tertajir di Asia, yakni harta kekayaan harus mencakup tiga generasi.

Miliader Hong Kong, Li Ka-shing, yang beberapa waktu lalu bertengger di posisi puncak orang terkaya di Asia, kali ini absen. Forbes tak memasukkan Li karena daftar kekayaan keluarga ini tidak sampai generasi ketiga. Meski anak-anak Li aktif dalam mengelola bisnis keluarga, cucu-cucunya tidak.

Berikut 10 keluarga terkaya di Asia.

1. Keluarga Lee (Byung-Chull)
Kekayaan bersih: US$ 26,6 miliar
Pundi kekayaan: Samsung
Asal: Korea Selatan

2. Keluarga Lee (Shau-kee)
Kekayaan bersih: US$ 24,1 miliar
Pundi kekayaan: Henderso Development
Asal: Hong Kong, Cina

3. Keluarga Ambani
Kekayaan bersih: US$ 21,5 miliar
Pundi kekayaan: Reliance Group
Asal: India

4.Keluarga Chearavanont
Kekayaan bersih: US$ 19,9 miliar
Pundi kekayaan: Charoen Pokphan (CP) Group
Asal: Thailand

5. Keluarga Kwok
Kekayaan bersih: US$ 19,5 miliar
Pundi kekayaan: Sun Hung Kai & Co
Asal: Taiwan, Cina

6. Keluarga  Kwek/Quek
Kekayaan bersih: US$ 18,9 miliar
Pundi kekayaan: Hong Leong Group
Asal: Malaysia

7. Keluarga  Premji
Kekayaan bersih: US$ 17 miliar
Pundi kekayaan: Wipro
Asal: India

8. Keluarga Tsai (Wan-Tsai)
Kekayaan bersih: US$ 15,1 miliar
Pundi kekayaan: Cathay Financial
Asal: Taiwan Cina

9. Keluarga Hinduja
Kekayaan bersih: US$ 15 miliar
Pundi kekayaan: Hinduja Group
Asal: Inggris

10. Keluarga Mistry
Kekayaan bersih: US$ 14,9 miliar
Pundi kekayaan: Shapoorji Pallonji Group
Asal: India

SETIAWAN ADIWIJAYA

October 6, 2015

Kisah Sukses Jenderal-jenderal TNI di Dunia Bisnis

NasionalSenin, 05/10/2015 16:15

LIPUTAN KHUSUS
Reporter: Abraham Utama, CNN Indonesia

Kisah Sukses Jenderal-jenderal TNI di Dunia Bisnis

Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri (tengah). (Detikcom/Ari Saputra)

Jakarta, CNN Indonesia — Hidup baru dimulai di akhir usia 50-an. Itulah yang terjadi pada sejumlah pensiunan atau purnawirawan jenderal Tentara Nasional Indonesia. Sebab menanggalkan seragam dinas kemiliteran ternyata bukan akhir karier mereka.
Begitu resmi menyandang status sebagai warga sipil di usia 58, para mantan perwira tinggi itu ramai dipinang konglomerat untuk didudukkan menjadi petinggi di perusahaan mereka.
Setelah Reformasi 1998, setidaknya tiga dari enam mantan Panglima TNI menjadi petinggi di beberapa perusahaan. Jenderal Purnawirawan Endriartono Sutarto misalnya saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama Bank Pundi. 
Sebelumnya ketika pensiun pada 2006, Endriartono terpilih menjadi Komisaris Utama Pertamina. Lepas dari Pertamina, menurut situs Bank Pundi, Endriartono pada Maret 2010 menjabat sebagai Ketua Komite Remunerasi dan Nominasi di bank yang didirikan tahun 1993 itu. Lima bulan kemudian, ia diangkat menjadi Ketua Komite Audit Bank Pundi.
Laksamana Purnawirawan Agus Suhartono mengikuti jejak Endriartono. Agus saat ini menjabat Presiden Komisaris PT Tambang Batubara Bukit Asam, perusahaan pelat merah yang bermarkas di Tanjung Enim, Sumatra Selatan.
Ada juga Marsekal Purnawirawan Djoko Suyanto, yang setelah menggantung seragam kemiliterannya, sempat menjadi komisaris independen di PT Adaro. Sampai saat dipilih menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan pada tahun 2009, barulah Djoko mundur dari perusahaan batu bara milik Edwin Soeryadjaya itu.
Tahun ini, usai tak lagi menjadi pejabat negara, Djoko kembali ke dunia usaha. Dia, sebagaimana tercatat pada situs PT Bursa Efek Indonesia, pada 17 Maret membuat surat pernyataan bersedia diangkat menjadi Presiden Komisaris dan Komisaris Independen PT Chandra Asri Petrochemical. 
Pada daftar riwayat hidup yang diunggah di situs PT Chandra Asri, Djoko juga tercatat pernah menjadi komisaris di PT Lestari Asri Jaya, perusahaan yang mengelola hutan tanaman industri dan berafiliasi dengan Barito Pasific Group milik Prajogo Pangestu. 
Sesungguhnya tak hanya mantan panglima TNI yang berkarier di dunia usaha setelah berstatus purnawirawan. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Purnawirawan Subagyo Hadi Siswoyo, berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Biasa PT Berau Coral Energy tertanggal 29 Juni 2013, diangkat sebagai komisaris perusahaan itu. 
Sekitar setahun kemudian, Juli 2014, Subagyo mundur dari PT Berau Coral Energy. Selanjutnya awal tahun ini ia dilantik Presiden Jokowi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Jenderal Purnawirawan Luhut Binsar Pandjaitan agak berbeda. Dia mendirikan sendiri perusahaannya, PT Toba Sejahtera, yang bergerak di bidang batubara dan pertambangan, minyak dan gas, pembangkit tenaga listrik, serta perkebunan dan kehutanan.
Anak perusahaan Toba Sejahtera, PT Toba Bara Sejahtera, mengangkat mantan Kepala Staf Umum TNI Letnan Jenderal Purnawirawan Suaidi Marasabessy sebagai direktur utama.  
Sementara Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri yang mengakhiri pengabdiannya di TNI sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, saat ini menjabat Komisaris Utama Bank Artha Graha.
Saat berbincang dengan CNN Indonesia pertengahan September, Kiki mengatakan sempat juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT International Timber Corporation Indonesia Kartika Utama.
“Setelah bisnis TNI AD direstrukturisasi, masih ada beberapa mantan perwira tinggi yang menjadi komisaris di perusahaan-perusahaan yang sahamnya pernah dimiliki Yayasan Kartika Eka Paksi,” ujar Kiki di Jakarta.
Yayasan Kartika Eka Paksi yang disebut Kiki itu didirikan oleh para purnawirawan TNI Angkatan Darat pada era Soeharto. Nama yayasan diambil dari semboyan TNI AD, Kartika Eka Paksi, yang berarti “Burung perkasa dengan satu cita-cita mulia.”
Pilihan Redaksi

GELIAT TNI MEMBANGUN ARMADA MARITIM JOKOWI

ANGGARAN EMAS LEGIUN PENOPANG POROS MARITIM

JOKOWI MINTA TNI JADI KEKUATAN MARITIM HEBAT DI ASIA TIMUR

Dipercaya korporasi
Kecenderungan sejumlah mantan perwira tinggi TNI yang aktif di beberapa perusahaan, tak aneh di mata Kiki. Menurut dia, dari sekian banyak perwira tinggi TNI yang pensiun, yang memilih berkarier di dunia bisnis terhitung sedikit.
“Yang menjadi komisaris bisa dihitung dengan jari. Itu pun karena ada kepercayaan dari perusahaan,” ucap Kiki.
Fenomena jenderal di jajaran pejabat tinggi perusahaan tak hanya terjadi di Indonesia. Kiki menyebut mantan Panglima Angkatan Bersenjata Australia, Jenderal Sir Peter John Cosgrove. 
Cosgrove yang saat ini menjadi penghubung Australia dan Kerajaan Inggris dengan status gubernur jenderal, sempat menjadi bagian dari direksi Qantas, maskapai penerbangan Australia.
“Mantan-mantan kepala staf angkatan darat Singapura juga menjadi CEO (chief executive officer) di pelbagai perusahaan,” kata Kiki.
Simak Fokus: Armada Maritim Jokowi
Meski demikian, Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti justru mempertanyakan alasan sejumlah perusahaan menempatkan mantan perwira tinggi TNI di posisi vital bisnis mereka.
“Apakah betul mereka mempunyai keahlian sesuai bidang yang digeluti perusahaan? Atau mereka justru dimanfaatkan perusahaan untuk memuluskan usaha melalui jalur tertentu seperti mengamankan pembebasan lahan atau mempermudah perizinan,” ujar Poengky.
Jika kecurigaan-kecurigaannya benar, kata Poengky, maka sesungguhnya ada ketidakprofesionalan di situ.
“Purnawirawan jenderal dengan keahlian bertempur kok direkrut menjadi komisaris perusahaan tambang. Di sana ia akan bertempur dengan siapa?” ucap Poengky.
Kiki berpendapat, ada dua hal yang membuat sejumlah pensiunan perwira tinggi TNI dilirik perusahaan-perusahaan, yakni kedisiplinan dan kepemimpinan. 
Maka bagi para jenderal itu, new life begins at 58.

September 8, 2015

Inilah Anggota Lembaga Ekonomi Presiden Jokowi

Yaaa  ampun Jok, yang duduk di KEN kok kualitasnya “gawat ” gini ya..

Oleh : | Selasa, 8 September 2015 | 03:26 WIB

B

Inilah Anggota Lembaga Ekonomi Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM – Presiden Joko Widodo dikabarkan bakal membentuk lembaga baru. Tugasnya memberikan saran, masukan, informasi di bidang ekonomi. Tak beda jauh dengan Komite Ekonomi Nasional (KEN) di era SBY.

Menurut sumber INILAHCOM, Presiden Jokowi menunjuk dipimpin Sutrisno Bachir untuk memimpin lembaga tersebut.

Ya, wajarlah kalau presiden menunjuk Mas Tris, sapaan akrab Sutrisno Bahir. Pengusaha yang dikenal sebagai pendiri Ika Muda Grup ini, adalah pendukung Jokowi dalam pilpres 2014.

Okelah, soal SB tak ada masalah. Lalu siapakah anggota KEN yang bakal mendampingi Sutrisno Bachir?

Masih menurut sumber, sejumlah ekonom, akademisi serta pelaku usaha, disebut-sebut bakal masuk lembaga tersebut adalah Aviliani, Hendri Saparini, Aries Mufti (Masyarakat Ekonomi Syariah), Putri Kusumawardani, Sudhamek Agung (Garuda Food), Haryadi Sukamdani (Sahid Grup), Firmansyah, Tony Prasetyantono dan Dradjat Wibowo.

Saat ini, pemerintahan Jokowi-JK menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat. Baik itu dari internal maupun eksternal. Tak salah bila peran banyak pihak diperrlukan. Namun komando tertinggi tetap di tangan presiden. Kita tunggu saja perkembangan. [ipe]

– See more at: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2235850/inilah-anggota-lembaga-ekonomi-presiden-jokowi#sthash.Byz24fhz.dpuf