Posts tagged ‘Africa Middle East biz’

February 9, 2013

Pemerintah Dorong Ekspor ke Nigeria

iya asal jangan impor “narkoba” dari Nigeria juga.

Sabtu,09 Februari 2013

PERDAGANGAN

Jakarta, Kompas – Pemerintah mendorong kalangan swasta dan badan usaha milik negara untuk memanfaatkan pasar di Nigeria. Peluang ekspor ke negara kaya minyak di Afrika tersebut sangat terbuka lebar.

”Nigeria adalah negara dengan penduduk terbesar di Afrika, 170 juta orang. Pasar di sana meningkat terus dan kita pun bisa meningkatkan ekspor ke Nigeria,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Jumat (8/2), di halaman Istana Negara, Jakarta.

Hal tersebut disampaikan Hatta seusai mengikuti pertemuan pagi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pertemuan juga diikuti Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyant, serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.

Dalam pertemuan, Presiden Yudhoyono menceritakan situasi Nigeria yang dikunjungi beberapa hari lalu. Selain Nigeria, negara yang juga didatangi rombongan Presiden Yudhoyono dalam lawatannya, yaitu Liberia, Mesir, serta Arab Saudi.

Menurut Hatta, ternyata ada 17 perusahaan Indonesia yang telah berinvestasi di Nigeria. Mereka bergerak di berbagai jenis usaha, antara lain mi instan, farmasi, petrokimia, minyak dan gas bumi (migas). ”Presiden Nigeria akan datang kemari. Ia akan melakukan kerja sama yang bernilai besar,” ucapnya.

Hatta mengungkapkan, Nigeria adalah negara kaya minyak. Oleh karena itu, Indonesia sudah seharusnya menjalin hubungan baik dengan Nigeria sehingga berpeluang lebih baik untuk memperoleh hak pengelolaan ladang minyak di negara itu.

Namun, hal yang paling penting dan mendesak adalah memanfaatkan pasar Nigeria yang besar sebagai tujuan ekspor produk Indonesia.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia Derom Bangun, ikut dalam rombongan Presiden Yudhoyono ke Nigeria. Derom memanfaatkan kunjungan tersebut untuk bertemu sejumlah pengusaha dan peneliti di Nigeria dan Pantai Gading. Dari hasil pertemuan tersebut, dia mendapatkan informasi kebutuhan pasar Nigeria tersebut.

Derom mengemukakan, Indonesia berpeluang mengisi kebutuhan pasar minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Nigeria. Nigeria baru memproduksi sekitar 400.000 ton CPO dari kebutuhan 2 juta ton per tahun.

”Saat ini bea masuk CPO di Nigeria 35 persen. Ada kisah sukses, investor pabrik semen Nigeria mendapatkan kemudahan mengimpor semen untuk menutupi kekurangan produksi sampai kebutuhan lokal terpenuhi. (Kisah sukses) ini dapat memperluas pasar ekspor jika investor Indonesia bisa mendapatkannya juga,” kata Derom. Indonesia merupakan produsen CPO terbesar dunia yang menghasilkan sedikitnya 26 juta ton tahun 2012 dari kebun seluas 8,9 juta hektar. (ATO/HAM)

Advertisements
August 12, 2012

Adhi Karya Hengkang Garap Proyek di Timur Tengah

Bisnis sama timur tengah :  tata cara bisnis kuno dan Tidak prefesional. 

 Whery Enggo Prayogi – detikfinance

Rabu, 21/12/2011 17:56 WIB

Jakarta – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) memastikan keluar dari penjajakan proyek-proyek infrastruktur di Timur Tengah. Perseroan beranggapan tata cara berbisnis di sana sangat kuno dan tidak profesional.

“Timur Tengah tidak diteruskan. Karena lingkungan, tata cara bisnis yang kuno. Tidak prefesional. Stop project. Selesai,” kata Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (21/12/2011).

Ia menambahkan, sebagai penggantinya perseroan tengah menjajaki proyek infrastruktur di Asia Tenggara. Namun Kiswo belum menyebut secara detail proyek incarannya.

Jangka pendek, perseroan tetap fokus pada lima lini bisnis, mencakuo Engineering Procurement Contract (EPC) berupa power plant serta minyak dan gas, juga ada proyek infrastruktur khususnya Independent Power Producer (IPP), jalan tol dan properti.

Tahun ini, perseroan membidik kontrak baru senilai Rp 13,34 triliun, sudah termasuk didalamnya proyek bersama sebesar Rp 2,07 triliun. Proyek infrastruktur mengambil porsi terbesar, dengan nilai Rp 8,4 triliun. Kemudian Rp 4,6 triliun EPC. Sisanya Rp 200 miliar properti dan Rp 100 miliar real estate.

Direktur Operasional perseroan Sumardiono menegaskan, proyek EPC yang sudah ditangan Rp 3,8 triliun. Diantaranya pembangunan gas plant di Blora, power plant 2×100 MW di Kalimantan Timur.

“Target kita Rp 4,6 triliun. Masih ada penambahan Rp 800 miliar. Kita masih ada di bulan September, dua proyek PLTU. Nilainya di atas Rp 1 (triliun),” tegas Sumardiono.

Tahun depan, perseroan menargetkan kontrak Rp 13,5 triliun, dengan porsi proyek infrastruktur Rp 10,4 triliun, EPC Rp 2,7 triliun, properti Rp 300 miliar, real estate Rp 100 miliar.

“2012, intinya kami akan lebih fokus. Pada produk berdasarkan risiko. EPC, fokus pada power plant dan oil & gas,” imbuh Kiswo.

May 28, 2012

Indonesia Diajak Berkiprah di Afrika

Senin,
28 Mei 2012
KAWASAN
Indonesia Diajak Berkiprah di Afrika

Pascal S Bin Saju

Benua Afrika tidak hanya terkenal dengan sepak bolanya. Di sini ada beragam sumber daya potensial bernilai ekonomis untuk kemaslahatan kita bersama. Beragam pula kekayaan budayanya. Mari kita ke Afrika!”

Lebih kurang begitulah ajakan Ketua Grup Duta Besar dan Korps Diplomat Afrika di Indonesia Alice Mageza dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (25/5). Duta Besar Zimbabwe itu hadir bersama beberapa duta besar, wakil duta besar, dan diplomat senior dari 10 negara Afrika.

Para duta besar, wakil duta besar, dan diplomat itu berasal dari Zimbabwe, Somalia, Sudan, Mesir, Maroko, Afrika Selatan, Mozambik, Aljazair, Tunisia, Libya, dan Nigeria, serta konsul Ceyhelles. Semua berbicara dengan optimistis tentang situasi dan kondisi riil Afrika.

Pertemuan yang diikuti jamuan malam di Hotel Grand Melia itu digelar terkait peringatan ke-49 Hari Afrika. Momen ini mengenang hari lahirnya Organisasi Persatuan Afrika (OAU)—kini berubah nama menjadi Uni Afrika (AU)—pada 25 Mei 1963 di Etiopia. Kali ini, Hari Afrika 2012 bertema Meningkatkan Perdagangan Intra-Afrika.

Peringatan hari Afrika tidak saja dilakukan para diplomat Afrika di Indonesia, tetapi juga di belahan lain dunia. Di Dublin, Irlandia, dan Los Angeles, Amerika Serikat, misalnya, Hari Afrika dirayakan dengan meriah dan beragam.

Tema yang diusung, ”Meningkatkan Perdagangan Intra-Afrika”, menurut Mageza sangat relevan. Tema itu selaras dengan pertumbuhan ekonomi Afrika yang signifikan pada 2011. Ekonomi negara Afrika tumbuh rata-rata 5-6 persen, bahkan tumbuh dua kali lipat di beberapa negara.

Optimistis

Hari Afrika merefleksikan aspirasi rakyat Afrika secara kolektif untuk membebaskan diri dari belenggu perbudakan kolonial. Kini, Hari Afrika diperingati untuk meningkatkan kesadaran politik di seluruh dunia agar lebih optimistis tentang kondisi nyata Afrika.

Bagi Afrika dan warganya, Hari Afrika adalah peringatan persamaan sejarah perbudakan dan kolonialisme, tanda berbagi warisan sejarah dan budaya, simbol persaudaraan dalam perjuangan untuk kemajuan dan perdamaian.

Poin terpenting dari Hari Afrika adalah sebagai momen untuk berefleksi. Afrika adalah benua yang kerap dipandang identik dengan kemiskinan yang melelahkan, kematian akibat kelaparan, laporan tentang kusutnya korupsi, tragedi perang saudara, dan perdagangan ilegal.

Menurut kaum pesimistis, tidak ada bayangan solusi atas wajah malang Afrika. Laporan terbaru tentang kudeta militer di Mali dan Guinea-Bissau, konflik lintas batas antara Sudan dan Sudan Selatan, dan perang saudara yang tak pernah berakhir di Kongo memperkokoh julukan benua yang terabaikan.

Belum lagi soal kelompok garis keras di Tanduk Afrika, yakni Al Shabab di Somalia dan Boko Haram di Nigeria, yang memberi citra buruk kawasan. Begitu pula dengan aksi perompak Somalia yang menggetarkan jalur perdagangan laut internasional di kawasan itu.

Para duta besar Afrika di Indonesia, yang diwakili 11 kedutaan, berusaha menjelaskan kepada publik Indonesia tentang sisi positif benua itu. Duta Besar Somalia Mohamud Olow Barow menegaskan, Somalia saat ini sudah mampu mengalahkan Al Shabab berkat bantuan tentara Uni Afrika.

Sumber daya alam di benua termiskin itu adalah tambang emas yang luas, yang tak pernah berhenti menggoda predator luar dan antek mereka di dalam kawasan. Afrika mengandung 99 persen cadangan krom dunia, 85 persen platinum, 70 persen tantalite, 68 persen kobalt, dan 54 persen emas. Belum lagi ladang minyak yang signifikan dan cadangan gas yang besar.

Benua ini juga mengandung uranium, mangan, intan, dan deposit bauksit dalam jumlah yang sangat tinggi. Kayu, rotan, dan kekayaan hutan lainnya menambah daya tarik. Termasuk cadangan besar air bawah tanah yang ditemukan di beberapa bagian benua kering itu.

Kini, Hari Afrika pantas dirayakan. Untuk merayakan keragaman dan kebersamaan, budaya dan identitas, sejarah dan warisan, prestasi dan keunggulan, serta potensi dan janji.

Kurang dari setengah abad silam, kecuali Etiopia dan Liberia, seluruh benua adalah wilayah kolonial. Masyarakatnya menjadi sasaran penghinaan dan pembunuhan yang disebabkan kekuatan asing, tapi ironisnya mengaku sebagai demokratis dan beradab. Asimilasi, perbedaan warna kulit , dan apartheid adalah contoh kejahatan mengerikan pemerintahan kolonial di Afrika.

Berkat keberanian tegas dan tekad yang mantap, ke-54 negara di benua itu mengibarkan bendera nasional mereka sendiri dan menyanyikan lagu kebangsaan nasional mereka hari ini. Jejak-jejak kolonialisme menjadi peluang yang relatif jauh lebih besar untuk memetakan penyebab kemajuan untuk dan oleh mereka sendiri.

Afrika menumbuhkan harapan. Antara tahun 2000 dan 2010 enam dari sepuluh negara yang paling cepat berkembang berada di Afrika, dan Angola tumbuh lebih cepat dari yang lain. Tingkat kemiskinan menurun sekitar 1 persen per tahun.

Kesempatan pendidikan telah diperluas dan lebih banyak anak perempuan di sekolah, seperti terjadi di Somalia. Barow mengaku Somalia adalah negara Afrika paling menjunjung hak perempuan. Mereka berkesempatan sekolah dan menduduki jabatan penting di pemerintah.

Tahun 2010 Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia. Bahkan, tak pernah terpikirkan ketika Angola mengalirkan uang minyak ke Portugal tahun 2011 untuk membantu negara bekas penjajahnya itu dari kehancuran ekonomi.

Pada Juli 2009 Presiden Amerika Serikat Barack Obama memilih Ghana sebagai ”anak emas” demokrasi, ditandai kunjungan beberapa bulan setelah menjabat. Namun, Ghana tidak sendirian dalam mengembangkan demokrasi dan pemerintahan yang baik di benua itu.

Pemilu bebas dan adil Senegal baru-baru ini direkam sebagai pesta demokrasi yang sukses. Botswana, negara terkorup di Afrika, menurut Transparansi Internasional, telah menjadi teladan demokrasi belakangan ini.

Hari Afrika telah menjadi fenomena global. Afrika diaspora dan mereka yang berbagi visi Afrika yang damai dan sejahtera telah membuatnya demikian. Barow berbicara tentang begitu gencarnya Jepang, Korea Selatan, India, dan China menerobos daerah investasi dan pasar potensial.

Adapun Indonesia, yang menjadi tempat terselenggaranya Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, masih sebagai penonton. Para duta besar mengundang investor Indonesia, juga pemerintahnya hadir di Afrika. Investasi, nilai ekspor, dan impor Indonesia ke dan dari Afrika masih kecil dibandingkan empat negara Asia tadi.

April 12, 2012

Kerja Sama RI-Afsel Fokus Lima Proyek Besar

Kamis,
12 April 2012
BILATERAL
Kerja Sama RI-Afsel Fokus Lima Proyek Besar
Cape Town, Kompas – Kerja sama ekonomi Indonesia dengan Afrika Selatan difokuskan pada lima proyek besar. Kelima proyek besar itu meliputi pertambangan batubara, ritel, jasa minyak dan gas, jasa konstruksi, serta pelumas.

”Kami berharap tindak lanjut dari misi dagang ini adalah lima proyek yang konkret,” kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi dalam pertemuan Forum Bisnis Indonesia-Afrika Selatan (Afsel) di Hotel Westin, Cape Town, Afsel, Rabu (11/4).

Wartawan Kompas Subur Tjahjono melaporkan, forum bisnis dipandu Presiden Kamar Dagang dan Industri Cape Town Joe Emeran. Beberapa pengusaha yang ikut serta di antaranya adalah Ketua Komite Afrika Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Mintardjo Halim, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia Adhi S Lukman, Ketua Umum Gabungan Eksportir Kopi Indonesia Hutama Sugandhi, dan Asisten Manager Overseas Marketing Lubricants Business Unit Nugroho Setyo Utomo.

Kepada para pengusaha Cape Town, Bayu memaparkan kemajuan ekonomi Indonesia, termasuk pertumbuhan ekonomi tahun 2011 sebesar 6,5 persen dan sudah berstatus layak investasi.

Anggota Parlemen Nasional Afsel, Shaik Shaheed Esau, dalam forum bisnis itu menegaskan, Afsel terbuka bagi investor. Dengan masuk Afsel, terbuka pula pintu ke negara Afrika lainnya. ”Malaysia dengan Petronas sudah masuk, kenapa Indonesia tidak?” kata Esau.

Sejumlah isu yang berkembang dalam dialog adalah soal bagaimana infrastruktur di Indonesia, pariwisata, serta bagaimana Indonesia bersaing dengan barang China yang masuk ke Afsel dengan harga murah.

Soal persaingan dengan China itu, Bayu menjelaskan, semua negara bersaing dengan produk China yang murah. ”Namun, harga bukan satu-satunya. Kualitas dan diferensiasi produk juga penting, misalnya produk makanan Indonesia bersertifikat halal,” kata Bayu.

Tahun 2011, nilai perdagangan Indonesia dan Afsel mencapai 2,1 miliar dollar AS. Nilai itu naik 78,93 persen dibandingkan dengan nilai perdagangan tahun 2010, yakni 1,1 miliar dollar AS.

Ekspor Indonesia ke Afsel tahun 2011 senilai 1,4 miliar dollar AS, sedangkan impor 705,7 juta dollar AS. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus 730,8 juta dollar AS

September 30, 2011

Pemerintah jajaki pasar ekspor ke Nigeria dan Ghana

Dari Kontanonline 30 September 2011
link : http://industri.kontan.co.id/v2/read/1317352642/78744/Pemerintah-jajaki-pasar-ekspor-ke-Nigeria-dan-Ghana
Jumat, 30 September 2011 | 10:17 oleh Dani Prasetya
DIVERSIFIKASI EKSPOR
Pemerintah jajaki pasar ekspor ke Nigeria dan Ghana

JAKARTA. Kementerian Perdagangan menjajaki pasar ekspor ke Nigeria dan Ghana. Kebijakan ini untuk mendiversifikasi pasar ekspor Indonesia sebagai antisipasi krisis ekonomi global.

Pada 25- 28 September lalu, Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar bersama sejumlah pelaku usaha telah berkunjung ke Nigeria dan Ghana. Salah satu alasan memilih Nigeria lantaran pemerintahan baru di sana berniat mentransformasikan kebijakan nasional untuk menekan ketergantungan aktivitas ekonomi terhadap minyak bumi dan gas.

“Untuk mencapai hal itu, Nigeria berniat mendorong kerjasama ekonomi dengan negara-negara berkembang lainnya,” ujar Mahendra dalam siaran persnya, Jumat (30/9).

Selain itu, Kementerian Perdagangan menilai, Nigeria merupakan negara berpenduduk terbesar di Afrika. Bahkan, Nigeria menjadi motor penggerak Economic Community of West African States (ECOWAS) yang terdiri dari 15 negara Afrika Barat termasuk Ghana yang menjadi motor ekonomi kedua terbesar di kawasan itu.

Nilai perdagangan Indonesia-Nigeria pada 2010 mencapai US$ 1,2 miliar atau meningkat 72,9% dibanding US$ 716,2 juta pada 2009. Sementara ekspor Indonesia ke Nigeria yang seluruhnya nonmigas, tercatat sebesar US$ 316,9 juta atau naik 52,8% dari 2009. Sayangnya porsi impor Indonesia masih jauh lebih besar mencapai US$ 921,6 juta yang hampir seluruhnya berupa impor minyak dan gas.

March 27, 2011

Libya Has $70 Billion to Invest—and No Takers

Libya Has $70 Billion to Invest—and No Takers

Private equity firms such as California’s Colony Capital once courted Libyan investments, but backed off before the war broke out

https://i1.wp.com/images.businessweek.com/mz/11/14/600/1114_mz_23econlibya.jpgA policeman in Tripoli on Mar. 20 Yang Guang/Xinhua/Eyevine/Redux

By Jason Kelly and Jesse Westbrook

Several years ago, Libya was primed to dole out some of the billions the oil state held in cash during its time as an international pariah. When the country made its way back into the West’s good graces, private equity managers shined their wingtips, straightened their ties, and headed for Tripoli, eager for a slice of the estimated $70 billion controlled by the Libyan Investment Authority.

“It was the spot that everyone was soliciting as both investor and investee, thinking this was the foothold for Northern Africa and the closest oil producer to Italy and France,” says Thomas J. Barrack Jr., chairman of Santa Monica (Calif.) private equity firm Colony Capital. “They were rising from decades of isolation and economic sanctions and needed everything.”

One of Libyan leader Muammar Qaddafi’s sons, Saif Al-Islam, came to the U.S. in 2008, attending a lunch hosted by Blackstone Group (BX) Chairman Stephen A. Schwarzman at the billionaire’s Park Avenue apartment. Donald Marron, who once ran Paine Webber and is now chairman of private equity firm Lightyear Capital, also had the younger Qaddafi for lunch. It was all aboveboard, complete with U.S. diplomatic security. Neither Blackstone nor Lightyear would comment.

Those managers and others who didn’t land a Libyan account likely are breathing sighs of relief that nothing came of those meetings. Barrack tried to pull off a deal with the Libyan Investment Authority in 2007, when ownership of Libya’s oil refiner, Tamoil, was transferred to the fund. Colony sought to buy Tamoil’s refineries outside of Libya in Germany, Italy, Switzerland, and elsewhere, as well as more than 3,000 of its Tamoil filling stations across Europe. Colony dropped its $6.1 billion bid in March 2008, citing lack of information about the assets and other financial data. Colony has no Libyan ambitions now. “Libya is too confusing, and it’s too dangerous,” says Barrack. “There is no transparency, no leadership, no infrastructure, and no clear signal from the West as to what is the strategy or end game.” Calls to the Libyan Investment Authority were not picked up.

Other financial industry veterans forged links with the Libyans before the recent fighting started. Former Bear Stearns executive Frederic Marino started an $800 million hedge fund with seed capital from Qaddafi’s government. Three calls to Marino were unreturned.

London-based FM Capital Partners, founded in 2009 with financing from a smaller Libyan sovereign wealth fund, was preparing to raise money from other outside investors this year for the first time, according to two people briefed on the plans who declined to be identified because the firm is private. Those plans may have to be postponed because other governments have frozen Qaddafi’s assets.

Libyan money is a “huge hindrance” to soliciting new investors, says Don Steinbrugge, managing partner of Agecroft Partners, a Virginia consultant to hedge funds and investors. “Once there is a transition to a more stable government, their asset base should be a positive in helping them build the business,” he adds.

The bottom line: Hedge funds and private equity firms will have to wait for the war’s end before they resume their pursuit of Libya’s billions.

 

March 22, 2011

Suriah Ajak BUMN RI Bangun 500 Pencakar Langit

Selasa, 22/03/2011 17:14 WIB
Suriah Ajak BUMN RI Bangun 500 Pencakar Langit
Ramdhania El Hida – detikFinance

Ilustrasi


Jakarta – BUMN di sektor karya diajak untuk membangun 500 gedung pencakar langit di Suriah. Jika ada BUMN yang berminat, maka pemerintah Suriah akan melakukan penunjukkan langsung tanpa tender.

Demikian disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai bertemu Wakil Perdana Menteri Suriah, Abdullah Al Dardari di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (22/3/2011).

“Mereka akan membangun 500 tower building. Apabila Indonesia berminat, maka akan tunjuk langsung, tak perlu tender karena mereka legalnya begitu,” jelas Hatta.

Dikatakan Hatta, BUMN harusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Karena nantinya, selain proyek pencakar langit, perusahaan Indonesia juga bisa mendapatkan proyek infrastruktur lain seperti jalan tol.

“Saya melihat peluang-paluang. Kita bisa kirimkan perusahaan-perusahaan dan tenaga kerja kita di sana. Saya tidak ingin peluang ini sia-sia seperti dulu Kuwait menawarkan hal serupa tapi kita agak terlambat merespon dan peluang itu diisi orang lain,” tuturnya.

Hatta mengatakan, Suriah dalam 5 tahun ke depan akan membelanjakan anggaran US$ 18 miliar untuk pembangunan infrastruktur di dalam negerinya. Karena itu mereka mengajak kontraktor di Indonesia yaitu BUMN karya.

(vis/hen)

March 18, 2011

Tiga Perusahaan RI Tarik Diri dari Libya

Tiga Perusahaan RI Tarik Diri dari Libya
Editor: Erlangga Djumena
Kamis, 17 Maret 2011 | 07:30 WIB
Dibaca: 7007Komentar: 0

Reuters
Para pemberontak lari guna mencari perlindungan saat pesawat tempur Khadafy mengebom kota Ras Lanuf yang kaya minyak di Libya, Selasa (8/3/2011).
JAKARTA, KOMPAS.com — Krisis politik yang berkepanjangan di Libya membuat tiga perusahaan asal Indonesia yang beroperasi di negara tersebut terpaksa menarik diri. Krisis politik Libya juga dikhawatirkan meluas ke negara Timur Tengah lainnya, yang bisa berakibat buruk bagi neraca perdagangan Indonesia.

”Tiga perusahaan yang sudah mengumumkan menarik diri dari Libya adalah Wijaya Karya, Medco, dan Pertamina. Pertimbangannya karena situasi sudah tidak kondusif. Para pekerja dari Indonesia juga sudah dipulangkan,” kata Fachry Thaib, perwakilan Kadin di Timur Tengah, dalam diskusi bersama antara kamar dagang dan industri, eksportir, dan Kementerian Perdagangan, di Jakarta, Rabu (16/3/2011).

Menurut dia, meskipun ketiga perusahaan tersebut telah menarik diri, mereka tetap berkomitmen kembali beroperasi di Libya jika situasinya sudah membaik. ”Mereka tidak punya pilihan karena kalau tetap dilanjutkan risikonya sangat besar,” katanya.

Djoko Rianto, perwakilan dari Wijaya Karya, mengatakan, pihaknya resmi menarik diri dari Libya 20 Februari lalu. Di Libya, Wijaya Karya tengah menyelesaikan proyek mal terbesar di negara tersebut. Proyek senilai 10 juta dollar AS tersebut mulai dikerjakan akhir Oktober 2010.

Sesuai rencana, pembangunan mal ditargetkan selesai akhir Juni tahun ini. ”Namun, karena pasokan material tersendat dan situasi keamanan yang tidak memungkinkan, kami memilih untuk menghentikan sementara,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber juga menyatakan khawatir jika krisis politik di Timur Tengah terus meluas. Hal itu karena kawasan itu adalah daerah yang sedang berkembang, dan menjadi tujuan ekspor alternatif bagi Indonesia.

Direktur Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan, neraca perdagangan ke 22 negara di Timur Tengah tahun 2010 tercatat 15,4 miliar dollar AS. (ENY)

Sent from Indosat BlackBerry powered by

February 22, 2011

A guide to Gaddafi’s ‘famously fractious’ family

WikiLeaks cables: A guide to Gaddafi’s ‘famously fractious’ family
US embassy cables shed light on Gaddafi family – including son Saif al-Islam, who vowed in TV address to eradicate enemies

Share
5149

Ian Black, Middle East editor
guardian.co.uk, Monday 21 February 2011 19.06 GMT
Article history

Muammar Gaddafi presides over a ‘dysfunctional’ family of eight offspring, WikiLeaks cables reveal. Photograph: Sabri Elmhedwi/EPA
The leader of the Libyan revolution presides over a “famously fractious” family that is powerful, wealthy, dysfunctional and marked by internecine struggles, according to US diplomatic cables released by WikiLeaks. The documents shed light on how his eight children – among whom rivalries have sharpened in recent years – his wife and Gaddafi himself lead their lives.

Muammar Gaddafi

The patriarch, now 68, was described by US ambassador to Tripoli, Gene Cretz, in 2009 as a “mercurial and eccentric figure who suffers from severe phobias, enjoys flamenco dancing and horseracing, acts on whims and irritates friends and enemies alike.” Gaddafi has an intense dislike or fear of staying on upper floors, and prefers not to fly over water, the cables add.

Safiya (nee Farkash)

Gaddafi’s second wife travels by chartered jet in Libya, with a motorcade of Mercedes vehicles waiting to pick her up at the airport to take her to her destination, but her movements are limited and discreet. Hosted a banquet in the Bab al-Azizia compound on the occasion of the anniversary of the revolution that was festive but not extravagant. Hails from Benghazi, the centre of the rebellion in eastern Libya.

Saif al-Islam

Second-eldest son. Presumed heir-apparent in recent years who warned of civil war when he addressed the nation on Sunday night. A trained engineer who promotes political and economic reform and backed NGOs under the aegis of the International Charitable Gaddafi Foundation. Has PhD from the London School of Economics.

“Saif al-Islam’s high-profile role as the public face of the regime to the west has been a mixed blessing for him. Has bolstered his image but many Libyans view him as self-aggrandising and too eager to please foreigners,” the US embassy said.

Escorted the convicted Lockerbie bomber Abdelbaset al-Megrahi home to die in August 2009 “and persisted in his hard-partying, womanising ways, a source of concern in a socially conservative country like Libya”. Cables claim at odds with siblings Muatassim, Aisha, Hannibal, and Sa’adi.

Sa’adi

Third-eldest son. “Notoriously ill-behaved Sa’adi has a troubled past, including scuffles with police in Europe (especially Italy), abuse of drugs and alcohol, excessive partying, travel abroad in contravention of his father’s wishes Former professional footballer (a single season with Perugia in Italy’s Serie A league, he owns a significant share of al-Ahli, one of the two biggest soccer teams in Libya, and has run Libya’s football federation). An engineer by training, Sa’adi was briefly an officer in a special forces unit.

Used troops under his control to affect the outcome of business deals. Owns a film production company. Reported to have been involved in crushing the protests in Benghazi.

Muatassim

Fourth-eldest son. Father’s national security adviser and until recently a rising star. In 2008 he asked for $1.2bn (£739m) to establish a military or security unit akin to that of his younger brother, Khamis. Lost control of many of his personal business interests between 2001 and 2005 when his brothers took advantage of his absence to put in place their own partnerships. Described as “not very bright” by Serbian ambassador. Gets on badly with Saif al-Islam.

Hannibal

Chequered history of unseemly behavior and public scuffles with authorities in Europe and elsewhere. Arrest in Geneva over alleged beating his servants led to bilateral spat with Switzerland, in which Swiss were forced to back down under threat of withdrawal of Libyan investments.

In December 2009, police were called to Claridge’s hotel in London after staff heard a scream from Hannibal’s room. Aline Skaf, now his wife, was found to have suffered facial injuries but charges were not brought after she maintained she had sustained the injuries in a fall. Fifth eldest son.

Khamis

Gaddafi’s sixth son and the “well-respected” commander of a special forces unit – 32nd battalion or Khamis brigade that effectively serves as a regime protection unit and was reportedly involved in suppressing unrest in Benghazi. Trained in Russia.

Aisha

Daughter who mediates in family disputes ands runs NGO. Reported to have financial interests in a private clinic in Tripoli, one of two trustworthy facilities that supplement the unreliable healthcare available through public facilities. Lionel Richie was flown to Libya several years ago to sing at her birthday celebration. A younger adopted daughter, Hanna, was killed in the US bombing of Tripoli in 1986.

Muhammad

The eldest son, but by Gaddafi’s first wife. Heads the Libyan Olympic committee that now owns 40% of the Libyan Beverage Company, currently the Libyan joint venture Coca-Cola franchisee. Also runs general post and telecommunications committee.

Saif al-Arab

Least publicly known of the eight children. Reportedly lives in Munich, where it is claimed he pursues ill-defined business interests and spends much time partying.

Like all the Gaddafi children and favourites is supposed to have income streams from the national oil company and oil services subsidiaries. A seventh son, Milad Abuztaia, is an adopted nephew.

February 21, 2011

Medco Belum Berencana Evakuasi Karyawan di Libya

Senin, 21/02/2011 17:46 WIB
Medco Belum Berencana Evakuasi Karyawan di Libya
Angga Aliya – detikFinance

Foto: Dok detikFinance

Jakarta – PT Medco Energi International Tbk (MEDC) belum akan mengevakuasi karyawannya yang saat ini berada di Libya. Sementara sejumlah perusahaan migas di Libya sedang berupaya mengevakuasi karyawannya yang ada di tempat tersebut.

“Kami masih melakukan monitor untuk perkembangan terakhir di sana (Libya). Semua karyawan kami masih di sana, kami belum akan evakuasi,” kata Sekretaris Perusahaan Medco, Cisca Alimin ketika dihubungi detikFinance, Senin (21/2/2011).

Ia menyatakan, situasi di tempat eksplorasi perseroan di Libya tidak terlalu mengkhawatirkan. Dengan demikian, perseoran masih akan terus melakukan pengawasan lebih lanjut sebelum mengambil langkah selanjut.

“Kami monitor terus situasi di sana, kalau ada perkembangan lanjutan pasti akan kami umumkan,” tambahnya.

Sayangnya, ia tidak menyebut jumlah karyawan Medco yang berada di negeri yang kaya akan minyak tersebut. Namun, jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang karyawan perseroan di dalam negeri.

“Kami kan belum mulai produksi, masih eksplorasi. Jadi tidak terlalu banyak karyawan di sana (Libya),” ujarnya.

Tahun lalu, Medco mengalokasikan dana sebesar US$ 78 juta untuk kegiatan eksplorasi di blok 47 Libya. Medco dan partnernya mengebor lima sumur yang terdiri dari tiga sumur ekplorasi dan dua appraisal.

Dana untuk mengebor masing-masing sumur sekitar US$ 8 juta. Tahun lalu, Medco dan mitranya sudah mengebor 21 sumur di sana yang terdiri dari 17 sumur eksplorasi dan 4 sumur appraisal.

Sejumlah perusahaan asing yang beroperasi di Libya sudah siap-siap melakukan evakuasi. Seperti dikutip dari AFP, Senin (21/2/2011), perusahaan migas asal Inggris, British Petroleum (BP), sedang melakukan berbagai persiapan untuk mengevakuasi beberapa stafnya yang berada di Libya.

“Kami hanya mengawasi situasi (di Libya) dan membuat persiapan untuk mengevakuasi staf dan keluarganya dalam beberapa hari ke depan,” kata juru bicara BP.

Raksasa migas itu memiliki sekitar 140 staf di Libya, kebanyak berada di Tripoli. Sekitar 40 diantaranya merupakan staf asing.

Beberapa karyawan yang sudah siap dievakuasi merupakan para pengebor di Libya bagian barat, Ghadames. Namun, rencana evakuasi ini terpaksa ditunda.

“Butuh waktu yang sangat lama untuk mencapai produksi, kami bahkan belum mengebor satu sumur pun di sana,” jelasnya.

Krisis di Libya tersebut juga telah membuat harga minyak mentah dunia melambung tinggi. Pada perdagangan Senin di pasar London, minyak Brent melonjak hingga level US$ 105 per barel.

Seperti diketahui, situasi di Libya saat ini semakin tak terkendali. Para demonstran telah menguasai sejumlah pangkalan militer, senjata dan tank-tank tempur. Putra pemimpin Libya, Muammar Khadafi, Saif al-Islam Gaddafi pun mengingatkan, perang saudara di negeri itu akan menghancurkan kekayaan minyak Libya.

Puluhan orang dikabarkan tewas karena situasi yang semakin memanas itu. Alhasil, harga minyak mentah dunia kembali melonjak seiring memanasnya situasi tersebut.